Perbandingan aktivitas harian dua spesies lebah tanpa sengat di Sulawesi Barat

Comparison of daily activities of two species stingless bees in West Sulawesi

Authors

  • Phika Ainnadya Hasan Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Sulawesi Barat, Indonesia
  • Andi Gita Maulidyah Indraswari Suhri Jurusan Pendidikan Biologi, Universitas Patompo, Indonesia
  • Alexander Kurniawan Sariyanto Putera Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Sulawesi Barat, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.5994/jei.21.1.41

Keywords:

foraging behavior, pollinator, Tetragonula sapiens, Wallacetrigona incisa

Abstract

Stingless bees are spread across several islands in Indonesia, including Sulawesi. There have been no reports of daily activity of stingless bees in West Sulawesi Province. Therefore, this study aims to identify types of stingless bees in West Sulawesi, measure their daily activities, and their relationship with environmental parameters. The research was conducted in the highlands (Taupe Village, Mamasa Regency, 1,340 m dpl) and the lowlands (Mirring Village, Polewali Mandar Regency, 63 m dpl). Daily activity data collected which includes the activities in and out of the nest, carrying pollen, and throwing away rubbish. Daily activity observations use the scan sampling method. The results of the research show that the type of bee in Taupe Village is Wallacetrigona incisa (Sakagami & Inoue), while in Mirring Village is Tetragonula sapiens (Cockerell). There was no significant difference in the daily activity of W. incisa in the highlands and T. sapiens in the lowlands (P > 0.05). Significant differences were seen between the activities of leaving and entering the nest and the activities of carrying pollen and throwing away rubbish (P < 0.05). Wind speed is an environmental parameter that influences pollen-carrying activity in T. sapiens in the lowlands (r = 0.83; P = 0.002). Environmental parameters greatly influenced the daily activity of W. incisa at 12.00 pm, with an influence of 93% (P < 0.05). The results of this study indicate that differences in the type and habitat of bees and environmental factors cause differences in the daily activity of stingless bees.

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Lebah tanpa sengat (stingless bee) merupakan kelompok serangga sosial dengan pembagian peran yang jelas, yaitu pekerja, ratu, dan jantan. Lebah pekerja bertugas mencari makanan, merawat, dan membangun sarang. Lebah ratu bertugas untuk bertelur, sedangkan lebah jantan bertugas untuk mengawini ratu (Lamerkabel, 2011). Setiap hari lebah pekerja akan mengunjungi bunga untuk mengumpulkan nektar dan serbuk sari (pollen), sehingga keberadaan lebah dan tanaman berbunga merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Lebah tanpa sengat mengunjungi bunga pisang (Musa sp.) yang berbentuk bulat lonjong, bunga manggis (Garcinia sp.) yang berbentuk telur terbalik, dan bunga tomat (Lycopersicum sp.) yang memiliki anthercone. Beberapa jenis bunga juga dikunjungi dengan tujuan diambil nektar, polen atau resinnya (Tahir et al., 2021). Hal penting dari bunga bagi lebah tanpa sengat adalah jarak bunga tersebut dari sarang. Hal ini berkaitan dengan jarak terbang dan efisiensi energi bagi lebah. (Riendriasari et al., 2022) melaporkan bahwa lebah tanpa sengat mengunjungi bunga yang berjarak 800 meter dari sarang.

Lebah tanpa sengat memulai aktivitas saat fajar dan berhenti saat petang (Nugroho & Soesilohadi, 2015). Aktivitas tersebut meliputi keluar-masuk sarang, membawa polen, nektar, resin, dan membuang sampah (Yustia et al., 2017). Aktivitas lebah tanpa sengat dipengaruhi oleh iklim mikro, yaitu suhu dan kelembaban udara, intensitas cahaya, dan kecepatan angin (Ramdoni & Karyati, 2021). Iklim mikro dapat berbeda antar topografi, waktu pengamatan bahkan habitat (Karyati & M, 2016)(Fajri & Ngatiman, 2017). Variasi topografi tersebut dapat dijumpai di Provinsi Sulawesi Barat.

(Maryanto et al., 2012) melaporkan bahwa terdapat tujuh tipe ekosistem di Sulawesi Barat, yaitu ekosistem pegunungan, ekosistem hutan dataran rendah, ekosistem karst, ekosistem mangrove, ekosistem sungai, ekosistem padang lamun, dan ekosistem terumbu karang. Meskipun ketujuh ekosistem tersebut belum banyak dieksplorasi, penelitian ini hanya melakukan eksplorasi pada dua tipe ekosistem, yaitu ekosistem hutan pegunungan dan ekosistem hutan dataran rendah. Hal tersebut karena morfologi dan karakteristik habitat lebah tanpa sengat dapat dipengaruhi oleh ketinggian (Putra et al., 2016) Selain itu, keanekaragaman jenis lebah tanpa sengat di Provinsi Sulawesi Barat juga masih terbatas.(Sayusti et al., 2021) melaporkan bahwa jenis lebah tanpa sengat di Sulawesi Barat adalah Tetragonula sapiens (Cockerell), T. fuscobalteata, (Cameron) dan T. clypearis (Friese). (Suhri et al., 2023) melaporkan terhadap spesies lebah tanpa sengat endemik Sulawesi di Sulawesi Barat, yaitu Wallacetrigona incisa(Inoue et al., 1984).

Walaupun aktivitas lebah Tetragonula telah dilaporkan oleh beberapa penelitian(Jannah, 2021)(Yustia et al., 2017), namun belum ada penelitian aktivitas harian lebah tanpa sengat di Sulawesi Barat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis lebah tanpa sengat, mengukur aktivitas harian lebah tanpa sengat, dan hubungan antara parameter lingkungan dan aktivitas harian lebah tanpa sengat di Sulawesi Barat. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi bagi masyarakat yang membudidayakan lebah tanpa sengat.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan tempat penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Juli–Agustus 2023 di dua lokasi. Lokasi pertama adalah Desa Taupe, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat. Desa Taupe terletak pada titik koordinat 119°20’58.55” BT 2°55’34.08” LS dengan ketinggian 1.340 m dpl. Desa ini merupakan dataran tinggi serta salah satu desa penyangga pada Taman Nasional Gandang Dewata (TNGD). Lokasi kedua adalah Desa Mirring, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Desa Mirring terletak pada titik koordinat 119°25’44.72” BT 3°27’17.68” LS dengan ketinggian 63 m dpl. Desa ini merupakan dataran rendah Gambar 1.

Identifikasi jenis lebah tanpa sengat

Koleksi sampel lebah tanpa sengat dilakukan di dua habitat pada masing-masing lokasi penelitian. Di dataran tinggi (Desa Taupe) koleksi sampel dilakukan di stup budi daya dan di batu pinggir sungai, sedangkan di dataran rendah (Desa Mirring) koleksi sampel dilakukan di stup budi daya dan di pondasi bangunan. Koleksi menggunakan metode basah, yaitu menangkap 10 individu lebah lalu dimasukkan ke dalam botol berisi alkohol 70%. Sampel selanjutnya diidentifikasi dengan membandingkan sampel dengan spesimen koleksi Museum Zoologicum Bogoriense, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bogor. Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan morfologi lebah pada setiap lokasi penelitian.

Pengamatan aktivitas harian lebah tanpa sengat

Pengamatan aktivitas harian meliputi jumlah individu lebah tanpa sengat yang keluar dan masuk sarang, membawa polen, serta membuang sampah. Lebah yang membawa polen teramati dari korbikula yang berwarna putih/kuning/jingga, sedangkan lebah yang membuang sampah termati dari mandibel yang menggigit sesuatu(Yustia et al., 2017). Pengamatan dilakukan terhadap 1 koloni lebah setiap jam menggunakan metode scan sampling (Martin & Bateson, 1993) dengan interval waktu 5 menit setiap jam mulai pukul 07.00–16.00. Total jumlah koloni yang diamati adalah 20 koloni lebah pada masing-masing lokasi penelitian. Koloni yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari sarang alami (batang pohon) yang selanjutnya dipindahkan ke lokasi budi daya. Lokasi budi daya tersebut mulai menghasilkan madu sejak tahun 2019. Satu koloni dapat berisi sekitar 1.000 lebah pekerja (Inoue et al., 1984).

Pengamatan jenis pakan lebah tanpa sengat

Gambar 1.Peta lokasi penelitian di dataran tinggi dan rendah.(Map of research locations in the high and lowlands).

Pengamatan jenis pakan lebah tanpa sengat dilakukan dengan mengidentifikasi polen yang diperoleh dari tungkai belakang lebah (corbicula). Lebah yang memiliki korbikula yang besar ditangkap pada pintu masuk sarang menggunakan pinset. Jumlah lebah yang ditangkap adalah 5 individu pada masing-masing lokasi penelitian. Lebah tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam botol sampel berisi alkohol 70% untuk diidentifikasi. Identifikasi polen dilakukan dengan membuat preparat polen dengan metode asetolisis (Erdtman, 1954). Identifikasi polen dilakukan dengan mengamati ukuran dan bentuk polen dengan merujuk pada (Priambudi et al., 2021), (Nuraini & Sukmawati, 2020), (Prasetyo et al., 2022) dan (Nugroho & Soesilohadi, 2014). Hasil identifikasi tersebut selanjutnya dikonfirmasi dengan ada atau tidaknya jenis tanaman berbunga tersebut di sekitar sarang. Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif.

Pengukuran parameter lingkungan

Parameter lingkungan yang diukur meliputi suhu dan kelembaban udara menggunakan termometer, intensitas cahaya menggunakan luxmeter, dan kecepatan angin menggunakan anemometer. Pengukuran dilakukan setiap jam selama pengamatan aktivitas harian berlangsung di setiap lokasi penelitian.

Analisis data

Data aktivitas harian lebah dianalisis dengan dua cara, yaitu membandingkan aktivitas harian antar lebah di kedua lokasi penelitian dan membandingkan antar aktivitas harian lebah. Keduanya menggunakan uji ANOVA yang dilanjutkan dengan uji beda nyata pada program SPSS 27. Data parameter lingkungan dianalisis dengan tiga cara, yaitu mengetahui hubungan setiap parameter lingkungan (uji principal component analysis), hubungan setiap parameter lingkungan dengan setiap aktivitas harian lebah (uji korelasi pearson), serta hubungan parameter lingkungan dan aktivitas harian lebah disetiap waktu pengamatan (uji regresi linear berganda). Uji PCA dilakukan pada program MINITAB 16, sedangkan uji pearson dan regresi berganda pada program SPSS 27.

HASIL

Hasil identifikasi jenis lebah tidak bersengat di Sulawesi Barat

Identifikasi jenis lebah tanpa sengat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jenis antara lebah di dataran tinggi dan dataran rendah. Lebah tanpa sengat di dataran tinggi merupakan jenis W. incisa, sedangkan di dataran rendah merupakan jenis T. sapiens. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lebah di dataran tinggi memiliki ukuran tubuh yang lebih besar (±5 mm) dengan warna hitam diseluruh tubuh, sedangkan lebah di dataran rendah memiliki tubuh yang lebih kecil (±3 mm) dengan sayap yang lebih tipis sehingga terlihat berwarna lebih terang Gambar 2..

Hasil aktivitas harian lebah tanpa sengat di Sulawesi Barat

Aktivitas keluar sarang. Rata-rata jumlah individu lebah yang memulai aktivitas keluar sarang pada pukul 07.00 lebih banyak pada lebah T. sapiens di dataran rendah (rata-rata 100 individu) daripada W. incisa di dataran tinggi (rata- rata 17 individu). Puncak aktivitas lebah keluar sarang terjadi lebih cepat pada lebah T. sapiens di dataran rendah, yaitu rata-rata 186 individu pada pukul 08.00, sedangkan lebah W. incisa di dataran tinggi puncak aktivitas keluar sarang baru terjadi pada pukul 09.00 dengan rata-rata 205 individu. Setelah puncak terjadi, aktivitas keluar dari sarang pada lebah W. incisa di dataran tinggi menunjukkan penurunan hingga pukul 16.00 (rata-rata 34 individu). Hal yang berbeda terjadi pada lebah T. sapiens di dataran rendah. Setelah puncak terjadi, aktivitas keluar sarang lebah mengalami peningkatan kembali pada pukul 16.00 (rata-rata 142 individu)Tabel 1..

Gambar 2. Identifikasi jenis lebah di dataran tinggi (A) dan dataran rendah (B).(Identification of bee types in the highlands (A) and lowlands (B)).

Aktivitas masuk sarang. Rata-rata jumlah individu yang masuk ke dalam sarang pada pukul 07.00 lebih tinggi pada lebah T. sapiens di dataran rendah (rata-rata 112 individu) daripada lebah W. incisa di dataran tinggi (rata-rata 68 individu). Hasil tersebut sama dengan aktivitas keluar sarang. Perbedaan terjadi antara puncak aktivitas masuk sarang dengan puncak aktivitas keluar sarang. Pada puncak aktivitas masuk ke dalam sarang, lebah W. incisa di dataran tinggi tetap terjadi pada pukul 09.00 dengan rata-rata 206 individu, sedangkan pada lebah T. sapiens di dataran rendah terjadi lebih lambat, yaitu pada pukul 16.00 dengan rata- rata 155 individuTabel 1..

Aktivitas mengumpulkan polen. Tingginya aktivitas keluar dari sarang pada lebah T. sapiens di dataran rendah pukul 07.00 sesuai dengan tingginya rata-rata jumlah individu lebah yang membawa polen (rata-rata 29 individu). Puncak aktivitas membawa polen pada lebah W. incisa di dataran tinggi terjadi pada pukul 11.00 (rata-rata 105 individu) yang selanjutnya mulai menurun hingga pukul 16.00 (rata-rata 4 individu). Pada lebah T. sapiens di dataran rendah puncak aktivitas membawa polen terjadi pada pukul 09.00 (rata-rata 48 individu) yang selanjutnya juga mulai menurun hingga pukul 16.00 (rata-rata 10 individu)Tabel 1..

Aktivitas membuang sampah. Lebah W. incisa di dataran tinggi belum menunjukkan aktivitas membuang sampah pada pukul 7.00, sedangkan lebah T. sapiens di dataran rendah teramati 1 individu. Puncak aktivitas membuang sampah lebah W. incisa di dataran tinggi terjadi pukul 11.00 (rata-rata 36 individu), sedangkan lebah T. sapiens di dataran rendah terjadi pada pukul 09.00 (rata-rata 14 individu). Aktivitas membuang sampah mengalami penurunan hingga pukul 16.00 pada kedua lebah di masing-masing lokasi penelitian Tabel 1.. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sampah yang dibuang oleh lebah berupa polen yang sudah rusak, rangka telur, bahkan bangkai tubuh lebah.

Waktu

(Time)

Aktivitas harian lebah (Daily activities of bees)

Keluar sarang

(Out of the nest)

Masuk sarang

(Enter the nest)

Membawa polen

(Carrying pollen)

Membuang sampah

(Throwing rubbish)

A

B A

B

A

B

A B

07.00

17 100

68

112

12

29

0

1

08.00

151 186

104

112

25

29

0

1

09.00

205 103

206

125

28

48

3

14

10.00

173 52

74

75

88

25

35

9

11.00

142 104

118

89

105

6

36

5

12.00

142 95

118

138

86

5

20

7

13.00

142 70

118

61

11

8

3

5

14.00

46 73

113

82

5

7

5

11

15.00

30 55

62

62

15

4

16

3

16.00

34 142

84

155

4

10

0

5

Rata-rata

(Average)

108,2 ±

43,519*

98 ±

32,104*

109,8 ±

68,989*

99,7 ±

40,998*

37,9 ±

39,073*

17,1 ±

14,820*

11,8 ±

14,250*

6,1 ±

4,228*

Tabel 1.Rata-rata aktivitas harian lebah Wallacetrigona incisa di dataran tinggi dan Tetragonula sapiens di dataran rendah(Average daily activity of Wallacetrigona incisa at high altitudes and Tetragonula sapiens at low altitudes)

Berdasarkan data aktivitas keluar dan masuk sarang, membawa polen serta membuang sampah diketahui bahwa tidak ada perbedaan nyata aktivitas harian antara lebah W. incisa dataran tinggi dan T. sapiens di dataran rendah Tabel 1.. Namun, jika perbandingan aktivitas harian lebah dilakukan tanpa melihat jenis lebahnya maka aktivitas keluar dan masuk sarang berbeda nyata dengan aktivitas membawa polen dan membuang sampah Tabel 2.. Hal ini diartikan bahwa lebah lebih sering melakukan aktivitas keluar dan masuk sarang daripada membawa polen dan membuang sampah. Puncak rata-rata seluruh aktivitas harian lebah W. incisa di dataran tinggi terjadi pukul 09.00, sedangkan T. sapiens di dataran rendah terjadi lebih cepat yaitu 08.00Gambar 4..

Aktivitas harian lebah

(Daily activities of bees)

Rata-rata ± SB

(Mean ± SD)

Keluar sarang (Out of the nest)

103,10 ± 7,21 a

Masuk sarang (Enter the nest)

104,75 ± 7,14 a

Membawa polen (Carrying pollen)

27,50 ± 14,71 b

Membuang sampah (Throwing rubbish)

8,95 ± 4,03 b

Tabel 2.Perbandingan rata-rata total aktivitas harian kedua jenis lebah tidak bersengat(Comparison the average total daily activity of the two stingless bee species)

Parameter lingkungan di Sulawesi Barat

Hasil pengukuran parameter lingkungan menunjukkan bahwa suhu udara, inensitas cahaya dan kecepatan angin lebih tinggi pada dataran rendah (29,29 °C, 89960 lux, 97,79 m/s). Hanya parameter lingkungan kelembaban udara yang lebih tinggi pada dataran tinggi (93,8%)Tabel 3.. Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa semua parameter lingkungan memiliki hubungan yang sama kuatnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai eigenvectors PC1 dan PC2 yang termasuk dalam kategori sedang (0,40–0,59)Tabel 4.Gambar 3. . Hasil korelasi pearson menunjukkan bahwa tidak ada parameter lingkungan yang signifikan mempengaruhi aktivitas harian lebah di dataran tinggi, namun di dataran rendah terdapat kecepatan angin yang signifikan mempengaruhi aktivitas membawa polenTable 5.. Pengaruh tersebut ditunjukkan dengan nilai sangat kuat dengan arah negatif (r = -0,83) sehingga aktivitas membawa polen akan menurun jika kecepatan angin meningkat. Hasil regresi linear berganda menunjukkan bahwa parameter lingkungan sangat mempengaruhi (93%) aktivitas harian lebah pada pukul 12.00 di dataran tinggi, namun tidak pada dataran rendah Table 6.Tabel 7..

Parameter lingkungan

(Environmental parameters)

Wallacetrigona incisa di dataran tinggi (W. incisa in the highlands)

Tetragonula sapiens di dataran rendah (T. sapiens in the lowlands)

Suhu udara (Air temperature) (ºC)

22,17

29,29

Kelembaban udara (Air humidity) (%)

93,8

25,96

Intensitas cahaya (Light intensity) (Lux)

33670

899600

Kecepatan angin (Wind speed) (m/s)

40,98

96,79

Tabel 3.Rata-rata data parameter lingkungan di Sulawesi Barat(Average environmental parameter data in West Sulawesi)

Parameter lingkungan (Environmental parameters)

PC 1

PC 2

PC 3

PC 4

Suhu udara (Air temperature)

0,46

-0,58

-0,43

-0,36

Kelembaban udara (Air humidity)

-0,52

0,30

-0,55

-0,57

Intensitas cahaya (Light intensity)

0,51

0,43

0,38

-0,62

Kecepatan angin (Wind speed)

0,49

0,50

-0,59

0,39

Tabel 4.Nilai eigenvectors rata-rata parameter lingkungan di Sulawesi Barat menggunakan uji principal component analysis(Average eigenvectors of environmental parameters in West Sulawesi using the principal component analysis test component analysis)

Perbedaan hasil yang diperoleh pada setiap uji disebabkan karena perbedaan sumber data yang digunakan. Pada PCA, sumber data yang digunakan adalah data lingkungan dikedua lokasi penelitian. Pada uji korelasi pearson, sumber data yang digunakan adalah data lingkungan dan data aktivitas harian disetiap lokasi penelitian. Pada uji regresi linear berganda, sumber data yang digunakan adalah data lingkungan dan data aktivitas harian disetiap waktu pengamatan pada masing-masing lokasi penelitian.

Hasil identifikasi jenis pakan lebah tanpa sengat di Sulawesi Barat

Gambar 3.Biplot hubungan antar parameter lingkungan menggunakan uji PCA.(Biplot of relationships between environmental parameters using PCA test.)

Parameter lingkungan

(Environmental parameters)

Nilai korelasi pearson (r) aktivitas harian lebah

(Pearson correlation value (r) of daily bee activity)

Keluar sarang

(Out of the nest)

Masuk sarang

(Enter the nest)

Membawa polen

(Carrying pollen)

Membuang sampah

(Throwing rubbish)

Wallacetrigona incisa di dataran tinggi (W. incisa in the highlands)

Suhu udara (Air temperature)

0,26*

-0,20*

0,38*

0,46*

Kelembaban udara (Air humidity)

0,18*

0,05*

0,08*

-0,08*

Intensitas cahaya (Light intensity)

0,30*

0,16*

0,21*

0,18*

Kecepatan angin (Wind speed)

-0,31*

-0,35*

0,21*

0,54*

Tetragonula sapiens di dataran rendah (T. sapiens in the lowlands)

Suhu udara (Air temperature)

-0,13*

-0,04*

-0,37*

0,18*

Kelembaban udara (Air humidity)

0,40*

0,58*

0,50*

0,01*

Intensitas cahaya (Light intensity)

-0,48*

-0,56*

-0,59*

0,07*

Kecepatan angin (Wind speed)

-0,36*

-0,33*

-0,83**

0,01*

Table 5.Hubunganparameter lingkungan terhadap aktivitas harian lebah tidak bersengat di Sulawesi Barat menggunakan uji korelasi (Relationship between environmental parameters and daily activity of stingless bees in West Sulawesi using Pearson correlation test)

Parameter lingkungan

(Environmental

parameters)

Waktu pengamatan

(Observation time)

Aktivitas harian lebah (Daily activities of bees)

Sig.

R

R square

Adjusted R square

07.00

0,29

0,70

0,49

0,24

08.00

0,27

0,96

0,92

0,77

09.00

0,60

0,94

0,88

0,82

10.00

0,69

0,71

0,51

0,44

11.00

0,21

0,97

0,95

0,86

12.00

0,02**

0,97

0,95

0,93

13.00

0,08

0,91

0,83

0,75

14.00

0,53

0,84

0,71

0,13

15.00

0,59

0,80

0,64

0,66

16.00

0,52

0,85

0,72

0,16

Table 6.Hubungan rata-rata parameter lingkungan terhadap rata-rata aktivitas harian lebah Wallacetrigona incisa di dataran tinggi Sulawesi Barat pada setiap waktu pengamatan(Relationship between mean environmental parameters and average daily activity of Wallacetrigona incisa bees in the highlands of West Sulawesi at each observation time)

Parameter lingkungan

(Environmental

parameters)

Waktu pengamatan

(Observation time)

Aktivitas harian lebah (Daily activities of bees)

Sig.

R

R square

Adjusted R square

07.00

0,09

0,99

0,99

0,97

08.00

0,36

0,93

0,87

0,61

09.00

0,17

0,98

0,96

0,90

10.00

0,32

0,94

0,89

0,68

11.00

0,11

0,99

0,98

0.96

12.00

0.26

0,96

0,93

0,78

13.00

0,10

0,99

0,98

0,96

14.00

0,09

0,99

0,99

0,97

15.00

0,09

0,90

0,82

0,73

16.00

0,06

0,99

0,99

0,98

Tabel 7. Hubungan rata-rata parameter lingkungan terhadap rata-rata aktivitas harian lebah Tetragonula sapiens di dataran rendah Sulawesi Barat pada setiap waktu pengamatan(Relationship between mean environmental parameters and mean daily activity of Tetragonula sapiens bees in the lowlands of West Sulawesi at each observation time)

Hasil identifikasi polen menunjukkan bahwa variasi polen yang dikumpulkan oleh lebah T. sapiens di dataran rendah lebih tinggi dibandingkan dengan lebah W. incisa di dataran tinggi. Hanya satu jenis polen yang dijumpai di dataran tinggi, yaitu polen tanaman babandotan (Ageratum conyzoides) dari Famili Asteraceae, sedangkan pada dataran rendah dijumpai beberapa jenis polen, yaitu tanaman kelapa (Cocos nucifera), mangga (Mangifera indica), jagung (Zea mays), pepaya (Carica papaya), dan kacang panjang (Vigna sinensis)Tabel 8..

PEMBAHASAN

Gambar pollen

(Image of pollen)

Famili (Family)

Jenis (Spesies)

Lokasi (Location)

Image

Asteraceae*

Ageratum conyzoides

Dataran tinggi (Highlands)

Image

Arecaceae**

Salacca zalacca

Dataran rendah (Lowlands)

Image

Fabaceae***

Vigna sinensis

Dataran rendah (Lowlands)

Image

Sapindaceae***

Mangifera indica

Dataran rendah (Lowlands)

Image

Caricaceae****

Carica papaya

Dataran rendah (Lowlands)

Image

Graminae****

Zea mays

Dataran rendah (Lowlands)

Tabel 8.Identifikasi polen sebagai sumber pakan lebah tanpa sengat di Sulawesi Barat(Identification of pollen as a food source for stingless bees in West Sulawesi)

Gambar 4.Rata-rata aktivitas lebah tidak bersengat berdasarkan waktu pengamatan.(Average activity of stingless bees by time of observation.)

Penelitian ini berhasil mengidentifikasi dua jenis lebah tanpa sengat di Sulawesi Barat. Keberadaan lebah T. sapiens di dataran rendah Sulawesi Barat (Desa Mirring, Kabupaten Polewali Mandar) merupakan laporan pertama, setelah sebelumnya lebah ini dilaporkan keberadaannya di Desa Batulaya, Kabupaten Polewali Mandar (Sayusti et al., 2021). Oleh karena itu, penelitian ini berhasil menambah data distribusi lebah tanpa sengat di Sulawesi Barat. Lebah W. incisa telah dilaporkan keberadaannya di Desa Taupe, Kabupaten Mamasa (Suhri et al., 2023). Hasil penelitian ini mendukung fakta bahwa W. incisa merupakan stingless bee endemik sulawesi dataran tinggi sebab ditemukan di ketinggian 1.340 m dpl Gambar 1.

Perbedaan jenis lebah tanpa sengat merupakan hal yang penting untuk digaris bawahi dalam penelitian ini Gambar 2.. Perbedaan tersebut diduga merupakan penyebab utama adanya perbedaan aktivitas harian. Perbedaan aktivitas harian antar jenis lebah dilaporkan oleh (Ramdoni & Karyati, 2021) bahwa T. fuscobalteata lebih aktif dibandingkan dengan T. testaceotarsis (Cameron) dan Heterotrigona itama (Cockerell). Puncak aktivitas keluar dan masuk lebah juga dapat dipengaruhi oleh habitat meskipun pada jenis yang sama. Lebah tanpa sengat T. laeviceps di Bogor dilaporkan puncak aktivitas keluar masuk sarangnya terjadi pada pukul 11.00–12.00, sedangkan di Parigi Selatan terjadi pada pukul 8.30–8.40 (Yustia et al., 2017)(Nuraini & Sukmawati, 2020). Perbedaan aktivitas harian juga dapat terjadi antar koloni dalam jenis yang sama, yaitu disebabkan oleh jumlah individu dalam koloni (Hidayat, 2019).

Perbedaan jenis lebah tanpa sengat yang didukung dengan perbedaan ketinggian habitat bersarang diduga menyebabkan perbedaan aktivitas harian. Hal tersebut teramati dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan puncak aktivitas harian. Lebah tanpa sengat T. sapiens di dataran rendah mengalami puncak aktivitas harian lebih cepat (pukul 08.00) daripada W. incisa di dataran tinggi (pukul 09.00) Gambar 4.. Hasil tersebut juga dilaporkan oleh (Alisna, 2017) bawah puncak kunjungan lebah dataran rendah terjadi lebih cepat, yaitu pukul 08.00, dibandingkan dengan lebah dataran tinggi yang terjadi pukul 09.00. Meskipun demikian, perbedaan tersebut tidak signifikan berdasarkan uji ANOVA (P > 0,05)Tabel 1.. Hasil tidak signifikan juga dilaporkan oleh (Alisna, 2017). Perbedaan signifikan ditunjukkan oleh aktivitas keluar dan masuk sarang terhadap aktivitas membawa polen Tabel 2.. Hal tersebut karena penelitian ini hanya mengamati aktivitas membawa polen, padahal lebah tidak bersengat juga mengumpulkan nektar dan resin sebagai sumber pakan dan bahan baku pembuatan sarang. Oleh karena itu, pengamatan aktivitas membawa nektar dan resin merupakan hal yang menarik untuk penelitian selanjutnya.

Perbedaan juga teramati pada jumlah individu lebah yang memulai setiap aktivitas harian yang selalu lebih tinggi pada lebah T. sapiens di dataran rendah dibandingkan dengan lebah W. incisa di dataran tinggi. Hal ini diduga karena suhu dan intensitas cahaya di dataran rendah lebih tinggi dibandingkan dengan di dataran tinggi Tabel 3.. Perbedaan tersebut mempengaruhi waktu mekarnya bunga yang akhirnya berdampak pada puncak aktivitas harian lebah. (Hilman et al., 2014) melaporkan bahwa bunga di dataran rendah lebih cepat mekar dibandingkan dengan di dataran tinggi. Intensitas cahaya juga telah dilaporkan memiliki hubungan yang signifikan dengan aktivitas keluar sarang lebah oleh (Yustia et al., 2017). Meskipun dalam penelitian ini terdapat dugaan bahwa parameter lingkungan mempengaruhi aktivitas harian lebah, namun secara umum semua parameter lingkungan sama kuatnya. Hal ini terlihat dari nilai r PC1 dan PC2 pada analisis PCA yang termasuk kategori sedang Tabel 4.Gambar 3..

Dugaan pengaruh parameter lingkungan terhadap aktivitas harian lebah hanya terbukti pada T. sapiens di dataran rendah, sebab terdapat hubungan signifikan antara kecepatan angin dan aktivitas membawa polen dengan arah korelasi negatif Table 5.. Arah korelasi ini diduga berkaitan dengan penggunaan energi yang digunakan oleh lebah selama terbang. Saat kecepatan angin meningkat, suhu udara cenderung menurun. Hal tersebut menyebabkan lebah mengeluarkan energi lebah besar untuk terbang sehingga aktivitas membawa polen akan menurun. Kelimpahan serangga terbang seiring dengan peningkatan kecepatan angin juga dilaporkan oleh (Moller, 2013). Jika dilakukan analisis lebih lanjut antara parameter lingkungan dan aktivitas harian lebah disetiap waktu pengamatan maka hubungan signifikan hanya terjadi pada pukul 12.00 di dataran tinggi Table 6.. Hal tersebut karena pukul 12.00 biasanya turun hujan sehingga aktivitas lebah akan menurun drastis. Hal yang berbeda ditunjukkan oleh dataran rendah yang jarang turun hujan sehingga aktivitas harian dapat tetap tinggi bahkan pada pukul 16.00.

Variasi polen yang dikumpulkan oleh lebah di dataran tinggi dan rendah juga erat kaitannya dengan kondisi tanaman yang berbunga pada saat pengamatan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa di dataran tinggi terdapat banyak tanaman berbunga, namun hasil identifikasi pada korbikula lebah dataran tinggi hanya ditemukan polen tanaman Ageratum conyzoides Tabel 7.. Hal tersebut karena bunga tanaman tersebut banyak ditemukan disekitar sarang lebah sehingga lebah tidak perlu terbang jauh untuk mencari polen dari tanaman lain. Hal tersebut didukung oleh (Sulistia et al., 2016) bahwa Trigona clypearis hanya mengumpulkan polen tanaman berbunga yang berjarak 10–200 meter dari sarang. Hasil yang berbeda dilaporkan oleh (Suhri et al., 2023) pada jenis dan lokasi penelitian yang sama, diketahui bahwa W. incisa mengumpulkan polen dari Famili Lauraceae, Cunoniaceae, Actinidiaceae, Symplocaceae, Rosaceae, Zingiberaceae, Melastomaceae, Primulaceae, Lythraceae, Myrtaceae, Lecythidaceae, Fagaceae, Araucariaceae, Arecaceae, dan Pinaceae. Perbedaan tersebut disebabkan oleh sumber polen yang digunakan. Penelitian (Suhri et al., 2023) menggunakan sumber polen yang tersimpan di dalam sarang, sedangkan penelitian ini menangkap lebah yang membawa polen di pintu masuk sarang. Sehingga sumber polen (Suhri et al., 2023) dapat berasal dari beberapa musim, sedangkan sumber polen penelitian ini merupakan yang terjadi saat penelitian dilakukan. Implikasi penelitian ini adalah jenis dan habitat lebah serta faktor lingkungan merupakan hal penting yang mempengaruhi aktivitas harian lebah.

KESIMPULAN

Kesimpulan penelitian ini adalah jenis lebah tidak bersengat di dataran tinggi Sulawesi Barat adalah W. incisa, sedangkan di dataran rendah adalah T. sapiens. Tidak ada perbedaan signifikan antara aktivitas harian lebah tidak bersengat W. incisa di dataran tinggi dan T. sapiens di dataran rendah (P > 0,05). Kecepatan angin merupakan parameter lingkungan yang mempengaruhi aktivitas membawa polen lebah T. sapiens di dataran rendah. Parameter lingkungan sangat mempengaruhi aktivitas harian lebah W. incisa di dataran tinggi pada pukul 12.00.

References

  1. Alisna R.Y.. Aktivitas Kunjungan Lebah Trigona spp. 2017.
  2. Erdtman G.. Chronica Botanica Company: Waltham; 1954.
  3. Fajri M., Ngatiman. Studi iklim mikro dan topografi pada habitat Parashores malanonan Merr. Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa. 2017; 3:1-12. DOI
  4. Harmiatun Y., Sianipar H., Silalahi M.. Fenologi pembungaan pada tanaman wijaya kusuma (Ephiphylum oxypetalum. Jurnal Pro-Life. 2016; 3:181-194.
  5. Hidayat R.. Aktivitas Terbang Harian dan Mencari Polen Trigona itama di Balai Pelatihan Pemberdaya Masyarakat Sinarmas. 2019.
  6. Hilman Y., Rosliani R., Palupi E.R.. Pengaruh ketinggian tempat pembungaan, produksi dan mutu benih botani bawang merah. Jurnal Hortikultura. 2014; 24:154-161. DOI
  7. Inoue T., Sakagami S.F., Salmah S., Yamane S.. The process of colony multiplication in the Sumatran stingless bee Trigona (Tetragonula) laeviceps. Biotropica. 1984; 16:100-111. DOI
  8. Jannah W.. Universitas Tadulako: Palu; 2021.
  9. Karyati Ardianto S., M Syafrudin. Fluktuasi iklim mikro di Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Jurnal AGRIFOR. 2016; 15:83-92.
  10. Lamerkabel J.S.A.. Mengenal jenis-jenis lebah madu, produk-produk dan cara Budidayanya. LOGIKA: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2011; 9:70-78.
  11. Martin P., Bateson P.. Measuring Behavior. 1993. DOI
  12. Maryanto I., Roemantyo Noerdjito, M.. Kementerian Lingkungan Hidup; 2012.
  13. Moller A.P.. Long-term trends in wind speed, insect abundance and ecology of an insectivorous bird. Ecosphere. 2013; 4:1-11. DOI
  14. Nugroho R.B., Soesilohadi R.C.H.. Aktivitas mencari makan lebah pekerja Trigona sp. Hymenoptera: Apidae) di Gunung Kidul. Biomedika. 2015; 8:37-41. DOI
  15. Nugroho R.B., Soesilohadi R.C.H.. Identifikasi macam sumber pakan lebah Trigona sp. Hymenoptera: Apidae) di Kabupaten Gunungkidul. Biomedika. 2014; 7:42-45.
  16. Nuraini Trianto M., Sukmawati Fajri M.. Keanekaragaman sumber pakan dan perilaku mencari pakan lebah Tetragonula laeviceps (Hymenoptera: Meliponini) di Kecamatan Parigi Selatan. BIO-EDU: Jurnal Pendidikan Biologi. 2020; 5:173-184. DOI
  17. Putra N.S., Watiniasih N.L., Suartini M.. Jenis lebah Trigona (Apidae: Meliponinae) pada ketinggian tempat berbeda di Bali. Jurnal Simbiosis. 2016; 4:6-9.
  18. Prasetyo A., Raffiudin R., Batubara I., Ariyani N.S.. Perilaku mencari polen dan identifikasi polen Tetragonula laeviceps pada dua kebun tanaman obat. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 2022; 27:341-350. DOI
  19. Priambudi A.S., Raffiudin R., Djuita N.R.. Identifikasi tumbuhan sumber polen pada madu lebah Heterotrigona itama dan Tetragonula laeviceps di Belitung. Jurnal Sumberdaya HAYATI. 2021; 7:25-35. DOI
  20. Ramdoni A., Karyati Harmonis. Pola aktivitas keluar masuk sarang tiga jenis lebah kelulut di Kampus Gunung Kelua Universitas Mulawarman. Prosiding SIKMA. 2021; 2:27-36.
  21. Riendriasari S.D., Buchori D., Hidayat P.. Preferensi dan pencarian pakan lebah tanpa sangat pada berbagai tipe penggunaan lahan di Pulau Lombok. Jurnal Entomologi Indonesia. 2022; 19:9-22. DOI
  22. Sayusti T., Raffiudi R., Kahono S., Nagir T.. Stingless bee (Hymenoptera: Apidae) in South and West Sulawesi, Indonesia: Morphology, Nest Structure, and Molecular Characterustics. Journal of Apicultural Research. 2021; 60:143-156. DOI
  23. Suhri A.G.M.I., Kahono S., Syamsir. Distribution, nest architecture, and forage plants of an endemic Wallacean species of stingless bee Wallacetrigona incisa. 2023. DOI
  24. Sulistia M.L., Latifah S., Aji I.M.L., Rini D.S.. Universitas Mataram: Mataram; 2016.
  25. Tahir H., Irundu D., Rusmidin. Jenis tumbuhan sumber pakan lebah (Trigona sp.) di Desa Mirring Polewali Mandar Sulawesi Barat. Jurnal Nusa Sylva. 2021; 21:39-47. DOI
  26. Yustia I.P.J., Nina Aunu R., M.. Ritme aktivitas penerbangan harian Tetragonula laeviceps (Smith) (Hymenoptera: Apidae) di Bogor. Jurnal Entomologi Indonesia. 2017; 14:117-125. DOI

References

Alisna RY. 2017. Aktivitas Kunjungan Lebah Trigona spp. (Hymenoptera: Meliponidae) pada Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) di Dua Ketinggian di Sumatera Barat. Skripsi. Padang: STKIP PGRI Sumatera Barat.

Erdtman G. 1954. An Introduction to Pollen Analysis. Waltham: Chronica Botanica Company.

Fajri M, Ngatiman. 2017. Studi iklim mikro dan topografi pada habitat Parashores malanonan Merr. Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa. 3:1–12. DOI: https://doi.org/10.20886/jped.2017.3.1.1-12.

Harmiatun Y, Sianipar H, Silalahi M. 2016. Fenologi pembungaan pada tanaman wijaya kusuma (Ephiphylum oxypetalum). Jurnal Pro-Life. 3:181–194.

Hidayat R. 2019. Aktivitas Terbang Harian dan Mencari Polen Trigona itama di Balai Pelatihan Pemberdaya Masyarakat Sinarmas. Tesis. Riau: Universitas Islam Riau.

Hilman Y, Rosliani R, Palupi ER. 2014. Pengaruh ketinggian tempat pembungaan, produksi dan mutu benih botani bawang merah. Jurnal Hortikultura. 24:154–161. DOI: https://doi.org/10.21082/jhort.v24n2.2014.p154-161.

Inoue T, Sakagami SF, Salmah S, Yamane S. 1984. The process of colony multiplication in the Sumatran stingless bee Trigona (Tetragonula) laeviceps. Biotropica. 16:100–111. DOI: https://doi.org/10.2307/2387841.

Jannah W. 2021. Aktivitas Terbang dan Musuh Alami Tetragonula laeviceps (Smith, 1857) serta Pemanfaatannya sebagai Media Pembelajaran. Skripsi. Palu: Universitas Tadulako.

Karyati, Ardianto S, Syafrudin M. 2016. Fluktuasi iklim mikro di Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Jurnal AGRIFOR. 15:83–92.

Lamerkabel JSA. 2011. Mengenal jenis-jenis lebah madu, produk-produk dan cara Budidayanya. LOGIKA: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 9:70–78.

Martin P, Bateson P. 1993. Measuring Behavior. Cambridge: Cambridge University Press. DOI: https://doi.org/10.1017/CBO9781139168342.

Maryanto I, Roemantyo, Noerdjito M. 2012. Profil Keanekaragaman Hayati Provinsi Sulawesi Barat. Kementerian Lingkungan Hidup.

Moller AP. 2013. Long-term trends in wind speed, insect abundance and ecology of an insectivorous bird. Ecosphere. 4:1–11. DOI: https://doi.org/10.1890/ES12-00310.1.

Nugroho RB, Soesilohadi RCH. 2015. Aktivitas mencari makan lebah pekerja Trigona sp. (Hymenoptera: Apidae) di Gunung Kidul. Biomedika. 8:37–41. https://doi.org/10.31001/biomedika.v8i1.193.

Nugroho RB, Soesilohadi RCH. 2014. Identifikasi macam sumber pakan lebah Trigona sp. (Hymenoptera: Apidae) di Kabupaten Gunungkidul. Biomedika. 7:42–45.

Nuraini, Trianto M, Sukmawati, Fajri M. 2020. Keanekaragaman sumber pakan dan perilaku mencari pakan lebah Tetragonula laeviceps (Hymenoptera: Meliponini) di Kecamatan Parigi Selatan. BIO-EDU: Jurnal Pendidikan Biologi. 5:173–184. DOI: https://doi.org/10.32938/jbe.v5i3.735.

Putra NS, Watiniasih NL, Suartini M. 2016. Jenis lebah Trigona (Apidae: Meliponinae) pada ketinggian tempat berbeda di Bali. Jurnal Simbiosis. 4:6–9.

Prasetyo A, Raffiudin R, Batubara I, Ariyani NS. 2022. Perilaku mencari polen dan identifikasi polen Tetragonula laeviceps pada dua kebun tanaman obat. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 27:341–350. DOI: https://doi.org/10.18343/jipi.27.3.341.

Priambudi AS, Raffiudin R, Djuita NR. 2021. Identifikasi tumbuhan sumber polen pada madu lebah Heterotrigona itama dan Tetragonula laeviceps di Belitung. Jurnal Sumberdaya HAYATI. 7:25–35. DOI: https://doi.org/10.29244/jsdh.7.1.25-35.

Ramdoni A, Karyati, Harmonis. 2021. Pola aktivitas keluar masuk sarang tiga jenis lebah kelulut di Kampus Gunung Kelua Universitas Mulawarman. Prosiding SIKMA. 2:27–36.

Riendriasari SD, Buchori D, Hidayat P. 2022. Preferensi dan pencarian pakan lebah tanpa sangat pada berbagai tipe penggunaan lahan di Pulau Lombok. Jurnal Entomologi Indonesia. 19:9–22. DOI: https://doi.org/10.5994/jei.19.1.9.

Sayusti T, Raffiudi R, Kahono S, Nagir T. 2021. Stingless bee (Hymenoptera: Apidae) in South and West Sulawesi, Indonesia: Morphology, Nest Structure, and Molecular Characterustics. Journal of Apicultural Research. 60:143–156. DOI: https://doi.org/10.1080/00218839.2020.1816272.

Suhri AGMI, Kahono S, Syamsir. 2023. Distribution, nest architecture, and forage plants of an endemic Wallacean species of stingless bee Wallacetrigona incisa (Apidae: Meliponini) in Sulawesi, Indonesia. Research Square. DOI: https://doi.org/10.21203/rs.3.rs-3373328/v1.

Sulistia ML, Latifah S, Aji IML, Rini DS. 2016. Identifikasi jenis polen sebagai sumber pakan lebah Trigona (Trigona clypearis) di lahan agroforestri. Skripsi. Mataram: Universitas Mataram.

Tahir H, Irundu D, Rusmidin. 2021. Jenis tumbuhan sumber pakan lebah (Trigona sp.) di Desa Mirring Polewali Mandar Sulawesi Barat. Jurnal Nusa Sylva. 21:39–47. DOI: https://doi.org/10.31938/jns.v21i2.339.

Yustia IPJ, Aunu R. Nina M. 2017. Ritme aktivitas penerbangan harian Tetragonula laeviceps (Smith) (Hymenoptera: Apidae) di Bogor. Jurnal Entomologi Indonesia. 14:117–125. DOI: https://doi.org/10.5994/jei.14.3.117.

Published

2024-07-30

How to Cite

Hasan, P. A., Suhri, A. G. M. I., & Putera, A. K. S. (2024). Perbandingan aktivitas harian dua spesies lebah tanpa sengat di Sulawesi Barat: Comparison of daily activities of two species stingless bees in West Sulawesi. Jurnal Entomologi Indonesia, 21(1), 41–53. https://doi.org/10.5994/jei.21.1.41

Issue

Section

Articles