Aspek parasitologi Sarcoptes scabiei var. hominis

Parasitological aspects of Sarcoptes scabiei var. hominis

Authors

  • Sri Wahdini Program Studi Doktor Ilmu Biomedik, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Indonesia; Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Indonesia
  • Saleha Sungkar Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.5994/jei.20.3.275

Keywords:

biology of mite, human, Sarcoptes scabiei var. hominis, scabies

Abstract

Sarcoptes scabiei (Dee Geer) is the mite that causes scabies or mange. The mites live in the skin layers of humans and mammals. Nowadays, S. scabiei is classified according to their hospes and S. scabiei that lives in human is called Sarcoptes scabiei var. hominis. Controlling and eradicating human scabies, especially at the community level, requires understanding scabies as a pathogen and its interaction with humans. This paper discusses the biology of S. scabiei var. hominis and the interactions between mites and humans as hosts.

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Sarcoptes scabiei (De Geer) adalah tungau penyebab skabies atau sarkoptosis yang merupakan salah satu penyakit kulit yang sangat menular. Skabies di manusia juga dikenal oleh masyarakat sebagai gudik, kudis, gatal agogo atau budukan.S. scabiei adalah ektoparasit obligat yang hidup dan bereproduksi di lapisan epidermis kulit manusia, hewan liar, hewan peliharaan, dan ternak.Skabies berdampak terhadap kesehatan dan kesejahteraan hewan serta manusia sehingga menimbulkan kerugian secara ekonomi, penurunan produktivitas, bahkan meningkatkan risiko terserang penyakit lain (Currier et al., 2011)

Skabies di manusia umumnya disebabkan oleh infestasi S. scabiei var hominis, walaupun varietas lain yang menginfestasi atau hidup di hewan dapat menginfestasi kulit manusia, namun hanya bertahan selama beberapa minggu (Niedringhaus et al., 2015) Sampai saat ini skabies di manusia menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara yang menyebabkan 400 juta individu sakit setiap tahunnya(Organization, 2019) Pada tahun 2017, World Health Organization (WHO) menetapkan skabies sebagai penyakit tropis terabaikan (neglected tropical disease) dengan target eliminasi pada tahun 2030 (El-Moamly, 2021) (Organization, 2019)

Di Indonesia data prevalensi skabies bervariasi dan prevalensi tinggi umumnya ditemukan di lingkungan dengan tingkat hunian yang padat dengan kontak erat berulang antara penghuni, seperti pondok pesantren (Ratnasari & Sungkar, 2014) Prevalensi skabies di Indonesia sebesar 5,60–12,95% (RI, 2016) dan prevalensi skabies pada anak yang tinggal di sekolah berasrama dilaporkan bervariasi dari 7,5% (Wahdini et al., 2019) sampai 76,9% (Schneider et al., 2023) sehingga menempati angka tertinggi dibandingkan dengan negara lain. Tantangan pengendalian dan pemberantasan skabies di suatu kelompok populasi terkait dengan rendahnya pengetahuan mengenai skabies dan higenitas personal, sulitnya diagnosis secara klinis maupun etiologi, tatalaksana yang harus dilakukan dengan pendekatan kelompok (Engelman et al., 2019) dan adanya risiko penularan dari hewan (Kumar et al., 2023)(Moroni et al., 2022) Artikel ini membahas mengenai S. scabiei var. hominis ditinjau dari biologi tungau dan interaksi antara tungau dan manusia sebagai hospes.

KLASIFIKASI

S .scabiei termasuk Filum Arthropoda, Subfilum Chelicerata, Kelas Arachnida, Sub kelas Acariformes (Acarina), Ordo Acarina, Subordo Astigmata atau Sarcoptiformes (bersama dengan tungau debu rumah Dermatophagoides farinae, D. pteronyssinus dan Euroglyphus maynei), Superfamili Sarcoptoidea dan Famili Sarcoptidae bersama dengan banyak tungau mamalia ektoparasit lainnya (Psoroptidae dan Cnemidocoptidae). Arachnida adalah kelas arthropoda dengan delapan kaki dan bagian tubuhnya terdiri atas segmen perut dan area kepala. Ordo Acarina (atau Acari) termasuk tungau dan caplak, terdiri atas banyak spesies yang penting secara ekonomi dan medis karena bersifat parasit bagi manusia, hewan piaraan atau liar, tanaman, dan makanan. Sub-ordo Astigmata adalah kelompok hewan yang bergerak relatif lambat, tungau dengan integumen sklerotik tipis dan tidak memiliki spirakel atau sistem trakea. Hewan kelompok ini memiliki tiga family, yaitu Sarcoptidae, Psoroptidae, dan Cnemidocoptidae. Famili Sarcoptidae memiliki ciri kaki dan kapitulum pendek, sebaliknya Psoroptidae memiliki kaki dan kapitulum panjang serta ukuran parasit yang lebih besar dibandingkan dengan Sarcoptidae, sedangkan Cnemidocoptidae (atau Knemidocoptidae) adalah parasit burung. Keluarga Sarcoptidae mencakup tiga genus, yaitu Sarcoptes, Notoedres, dan Trixacarus yang kesemuanya merupakan parasit di mamalia (Zhang, 2013)

S. scabiei dibagi menjadi beberapa varietas berdasarkan habitat atau hospesnya/inangnya. Setiap varietas memiliki tingkat spesifisitas inang yang tinggi atau host specific, namun tingkat kemampuan infestasi silang yang berbeda-beda (Arlian & Morgan, 2017)(, 2000).

Varietas S. scabiei antara lain S. scabiei var. hominis (hospes manusia), S. scabiei var. canis (hospes anjing dan dapat menginfestasi mamalia lain, seperti kucing, babi, rubah, kelinci), S. scabiei var. suis (hospes babi), S. scabiei var. bovis(hospes ternak), S. scabiei var. equi (hospes kuda), S. scabiei var. ovis (hospes domba), dan S. scabiei var. caprae (hospes kambing) (Niedringhaus et al., 2019)Walaupun S. scabiei hidup di satu hospes, namun dapat terjadi transmisi S. scabiei antar hewan atau dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Infestasi S. scabiei hewan di manusia menimbulkan durasi penyakit yang singkat berupa dermatitis sementara, tidak menular ke manusia lain, dan dapat sembuh sendiri. Sifat host specific menyebabkan satu varietas S. scabiei hanya dapat hidup di satu jenis hospes tertentu dan tidak dapat berkembangbiak jika S. scabiei berada di hospes lain (Niedringhaus et al., 2015) Sampai saat ini belum ada kesepakatan formal yang dicapai mengenai taksonomi berdasarkan karakteristik morfologi dan genetik, kecuali bahwa semua varian S. scabiei adalah spesies yang berbeda secara genetik. Akan tetapi, deteksi molekuler S. scabiei dengan penanda gen mikrosatelit dan DNA mitokondria secara konsisten dapat menentukan spesifisitas S. scabiei berdasarkan geografis atau hospes (Niedringhaus et al., 2019).

Mekanisme yang mendasari spesifisitas tersebut adalah interaksi dan adaptasi parasit dengan hospes, seperti faktor fisik, kimia, ketersediaan nutrisi, bau, dan respons imun (, 2000)(Sungkar, 2016)(Pallesen et al., 2020) Kemampuan tungau hidup di hospes tertentu dipengaruhi perubahan dan perbedaan ekspresi gen tungau. Sementara proses adaptasi mencakup perubahan secara morfologi, perilaku, dan kemampuan menghindar dari respons imun hospes dengan menghasilkan imunomodulator yang dapat menekan respons imun hospes. Secara morfologi S. scabiei var canis memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan S. scabiei var. hominis karena tungau harus bergerak di kulit anjing yang dipenuhi folikel tempat tumbuhnya bulu (Kumar et al., 2023).

MORFOLOGI

S. scabiei berwarna putih krem dengan kaki dan mulut skerotik coklat serta tidak memiliki mata. Secara anatomi struktur tubuh S. scabiei terdiri atas kepala (gnathosoma) dan badan (idiosom). Gnathosoma yang merupakan kapitalum atau daerah mulut yang terletak di anterior terdiri atas chelicerata dan pedipalps yang pendek dan gemuk. kelisera memiliki chelicerae, yaitu sepasang organ pelengkap untuk makan yang terdiri atas atas bagian yang tidak bergerak sebagai landasan dan bagian yang bergerak seperti prinsip pisau lipat yang berfungsi untuk mengambil, menjepit atau menggenggam. Sedangkan pedipalp merupakan badan sensori yang memiliki sensor kimia dan sensor taktil, berfungsi untuk menemukan makanan dan memberikan persepsi terhadap kondisi lingkungan S. scabiei adalah tungau yang tidak memiliki mata (Arlian & Morgan, 2017)(, 2000)(Gopinath & Karthikeyan, 2020)

Bagian badan atau idiosom yang merupakan area abdomen S. scabiei berbentuk oval lebar seperti kura-kura, rata di bagian ventral dan cembung di bagian dorsal. Bagian idiosom dapat dibagi menjadi regio anterior yang disebut podosom dan regio posterior di belakang tungkai disebut opistosom. Bagian yang merupakan pasangan kaki pertama dan kedua disebut propodosom. Bagian yang memanjang dimulai dari belakang hingga posterior badan disebut histerosom. Stadium dewasa jantan atau betina memiliki empat pasang kaki yang ukurannya pendek, terlihat gemuk dan terletak di sisi ventral abdomen, yaitu dua pasang kaki depan dibagian anterior dan dua pasang kaki belakang di bagian posterior (Arlian & Morgan, 2017).

Kaki I dan II yang merupakan dua pasang kaki depan terletak dekat genatosom dan bagian ujungnya berbentuk seperti bel yang berfungsi sebagai pengisap (sucker) untuk melekat. Kedua pasang kaki depan ini dapat dilihat dari sisi ventral atau dorsal tungau karena posisi dan ukurannya melebihi batas anterior-lateral propodosom. Sedangkan kaki III dan IV yang merupakan dua pasang kaki belakang hanya dapat dilihat dari sisi ventral karena ukuran dan posisinya tidak melebihi batas lateral opistosom. Kaki III dan IV betina dan kaki III jantan ujungnya membentuk untaian panjang seperti rambut (setae). Sedangkan kaki IV tungau jantan memiliki struktur seperti kaki depan(Niedringhaus et al., 2019)(Arlian & Morgan, 2017)(Pallesen et al., 2020)(Yoshimura et al., 2009) Alat reproduksi tungau betina berbentuk celah (papilla sanggama) di bagian posterior/dorsal sedangkan alat reproduksi tungau jantan berbentuk huruf Y yang terletak di antara pasangan kaki IV. Anus tungau jantan dan betina terletak di bagian ujung posterior abdomen (Niedringhaus et al., 2019)(Sungkar, 2016)

Tungau dewasa jantan berukuran lebih kecil dibandingkan dengan tungau betina Ukuran tungau dewasa jantan, yaitu panjang 200–240 μm, lebar 150–200 μm, sedangkan tungau dewasa betina berukuran panjang 330–450 μm,lebar 250–350 μm(Arlian & Morgan, 2017)(Dey, 2018) Stadium telur berbentuk agak lonjong terlihat keputih-putihan dan mengkilap, dengan ujung sedikit meruncing dan ukurannya 150–190 μm × 90–120 μm. Stadium larva memiliki tiga pasang kaki yang terdiri atas dua pasang di bagian depan dan sepasang di bagian belakang. Warna larva putih krem kecoklatan dengan ukuran 20–200 μm × 80–250 μm. Nimfa memiliki empat pasang kaki, namun ukuran nimfa lebih kecil daripada tungau dewasa. Nimfa tidak memiliki kaki yang lengkap karena tidak ada ujung seperti bantalan dan setae seperti tungau dewasa. Ukuran tubuh nimfa adalah 30–210 μm × 130–260 μm(Setyaningrum et al., 2016)

SIKLUS HIDUP

Gambar 1.Sarcoptes scabiei dewasa jantan dan betina.(Male and female Sarcoptes scabiei adults)

Gambar 2.Penampakan tungau Sarcoptes scabiei di bawah mikroskop dengan pembesaran 100× dari bahan kerokan kulit. A: telur (yang ditunjuk garis panah biru); B: stadium dewasa.(Appearance of Sarcoptes scabiei mites from skin scrapings under a microscope at 100× magnification. A: eggs (indicated by the blue arrow); B: adult stage.)

S. scabiei mengalami tahap perkembangan keseluruhan atau metamorfosis lengkap di tubuh hospes yaitu telur, larva, protonimpa, tritonimpa, dan dewasa. Siklus hidup S. scabiei dimulai ketika tungau betina gravid berpindah dari penderita skabies ke orang sehat. Tungau betina menggali terowongan sambil meletakkan 2–3 telur setiap harinya. Masa hidup tungau dewasa betina mencapai 4–6 minggu sehingga total telur yang dapat dihasilkan semasa hidupnya sekitar 40-50 butir(Arlian & Morgan, 2017)(Sungkar, 2016)Telur diletakkan memanjang membentuk garis horizontal sesuai jalur terowongan yang digali oleh tungau betina. Telur akan menetas setelah 3-5 hari menjadi larva dan dari sekian banyak telur yang dihasilkan, tidak lebih dari 10% yang akan menetas. Larva bermigrasi ke permukaan kulit di area kerutan kulit atau folikel rambut. Selanjutnya, larva menggali liang baru di area stratum korneum yang masih utuh menghasilkan terowongan pendek dan dangkal agar larva mudah keluar untuk makan dan mengganti kulit tubuhnya(Sungkar, 2016) Terowongan ini hampir tidak terlihat dan disebut sebagai moulting pounch (kantung untuk berganti kulit)(Man et al., 2020) Dua sampai empat hari kemudian larva S. scabiei berganti kulit untuk berubah menjadi protonimfa. Kemudian protonimfa akan berganti kulit lagi menjadi tritonimfa dan menjadi tungau dewasa jantan atau betina setelah empat sampai tujuh hari. Larva dan nimfa biasanya dapat ditemukan di dalam moulting pounch atau di folikel rambut. Setelah dewasa, tungau akan segera keluar dari moulting pounch ke permukaan kulit untuk mencari area stratum korneum yang masih utuh dan membuat terowongan baru(Arlian & Morgan, 2017)(Sungkar, 2016)(Fimiani et al., 1997)(Thomas et al., 2020) Tungau dewasa jantan hidup selama 1-2 hari dan akan mati setelah melakukan perkawinan. Tungau jantan dewasa jarang ditemukan di permukaan kulit, karena berada di dalam lubang sempit sampai siap untuk kawin. Setelah siap kawin, tungau jantan dewasa akan mencari tungau betina dewasa yang berada di dalam moulting pounch. Perkawinan terjadi ketika tungau jantan dewasa melakukan penetrasi ke dalam moulting pounch berisi tungau betina dewasa fertile dan terjadi sekali selama hidupnya. Tungau dewasa betina yang mengandung telur akan meninggalkan moulting pounch dan berada di permukaan kulit sampai menemukan tempat yang cocok atau berpindah ke hospes baru untuk menggali terowongan permanen agar dapat meletakkan telur dan siklus di atas akan berulang kembali. Perkembangan siklus hidup S.scabiei dari fase telur-larva-nimfa dan dewasa memerlukan waktu 9-15 hari, bahkan ada yang melaporkan paling cepat 7 hari sampai 21 hari.(Arlian & Morgan, 2017)(Sungkar, 2016)(Thomas et al., 2020) Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh sulitnya mengamati dan mengikuti perkembangan tungau langsung dari bawah kulit manusia, perbedaan suhu dan kelembapan saat pengamatan dilakukan atau pengamatan dilakukan di hospes yang berbeda (Arlian & Morgan, 2017)

PATOGENESIS SKABIES

Tungau dewasa betina berjalan di atas permukaan kulit dengan kecepatan kira-kita 2,5 cm per menit sampai menemukan lokasi yang sesuai untuk membuat terowongan(Sunderkötter et al., 2021) Tungau tidak menyukai daerah kulit yang banyak mengandung kelenjer pilosebaseus dan lebih menyukai kulit lembut, memiliki lapisan korneum tipis, dan berlipat-lipat seperti area kulit pergelangan tangan, sela-sela jari, dan area genitalia(Gopinath & Karthikeyan, 2020) (Gopinath & Karthikeyan, 2020) . 2Dalam waktu 30 menit setelah berpindah, tungau betina dewasa akan menggali stratum korneum yang berada di lapisan epidermis kulit (Sunderkötter et al., 2021) Tungau dewasa betina membutuhkan lipid yang terkandung di lapisan epidermis yaitu dari kelompok asam lemak jenuh (pentanoat, heksanoat, oktanoat, laurat, pentadekanoat, dan stearat), asam lemak tak jenuh (oleat, linoleat, dan arakidonat), metil ester asam lemak, kolesterol, squalen, dan tripalmitin (Gopinath & Karthikeyan, 2020).

Gambar 3.Siklus hidup Sarcoptes scabieidari telur menjadi tungau dewasa selama 9–15 hari.(The life cycle of Sarcoptes scabiei, from egg to adult mites, takes 9–15 days)

Tungau masuk ke dalam kulit dan membuat terowongan dengan permukaan yang sedikit terangkat dari kulit sehingga terlihat di permukaan kulit sebagai garis tipis yang berkelok-kelok dengan panjang dapat mencapai lebih dari 1 cm.. Warna terowongan bervariasi tergantung lokasi, warna kulit, dan kebersihan penderita. Di area penis, bokong, siku, dan lutut akan tampak pucat (Sunderkötter et al., 2021)(Thomas et al., 2020). Tungau betina menggali terowongan terutama di waktu malam sambil meletakkan 2–3 telur setiap harinya sehingga menyebabkan timbulnya papul di permukaan kulit hospes (Thomas et al., 2020)

Berbagai sel efektor bawaan juga terdeteksi di sekitar area kulit tempat tungau hidup sebagai respons terhadap S. scabiei seperti eosinofil, sel mast, basofil, makrofag, neutrofil, dan sel dendriti(Xu et al., 2022) Secara klinis peningkatan eosinofil menimbulkan lesi kulit eksematosa dan rasa gatal melalui produksi IL-31 yang merangsang sel saraf (Radonjic-Hoesli et al., 2021) Kulit yang terinfestasi S. scabiei menimbulkan lesi kulit papul dan terowongan yang secara histologi terlihat banyak sel eosinofil, sel T, monosit, makrofag, dan sel mast, sehingga menyerupai reaksi alergi kronis (Mohy et al., 2019) Pasca infestasi dan perkembangbiakan tungau, manusia merasakan keluhan gatal dan timbul iritasi atau lesi di kulit akibat reaksi hipersensitivitas terhadap tungau dan produknya

Setelah dibuahi tungau dewasa betina akan terus membuat dan memperluas terowongan di kulit dengan panjang atau kedalaman 0,5-5 mm per hari (Sungkar, 2016) Rata-rata manusia yang terinfestasi memiliki 10 hingga 20 tungau di tubuhnya pada waktu tertentu dengan sebaran tungau yang tidak merata di setiap lokasi lesi atau kelainan kulit (Richards, 2021)Pada kelompok lansia jumlah tungau sekitar 50-250 tungau, sedangkan pada skabies krustosa jumlah tungau dapat mencapai ribuan(Sunderkötter et al., 2021)(Castro et al., 2018)

DAYA TAHAN HIDUP DAN TRANSMISI S.scabiei

Gambar 4.Area kulit yang disukai oleh Sarcoptes scabiei. A: pergelangan tangan; B: sela jari (Sungkar 2016).(Areas of skin preferred by Sarcoptes scabiei. A: wrist; B: between fingers (Sungkar 2016).AB)

S. scabiei memiliki sifat ektotermik, yaitu suhu tubuhnya dapat berubah-ubah mengikuti suhu lingkungan tempat tinggalnya. Tungau hanya berpindah dengan cara merayap karena S. scabiei tidak dapat terbang atau melompat(, 2000) Penularan skabies terjadi secara langsung maupun tidak langsung dan keduanya terjadi dengan mudah. Penularan secara langsung terjadi akibat tungau dari pasien pindah ke individu lain yang sehat melalui kontak langsung kulit ke kulit yang terjadi dalam waktu lama yaitu minimal 15-20 menit. Penularan tidak terjadi melalui berjabatan tangan atau berpelukan dalam waktu singkat(Arlian & Morgan, 2017)(Browne et al., 2022) Meskipun tidak memiliki mata, S. scabiei menggunakan rangsangan bau dan suhu untuk mengenali tubuh hospes. Penularan langsung misalnya saat seseorang tidur di kasur yang sama, ibu yang menyusui atau merawat bayinya, atau saat seseorang melakukan hubungan seksual dengan penderita skabies sehingga skabies termasuk salah satu penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasi(Arlian & Morgan, 2017)(Sungkar, 2016) Penularan tidak langsung atau penularan melalui lingkungan terjadi apabila tungau melekat di barang-barang seperti handuk, selimut, atau tempat tidur yang dipakai oleh penderita kemudian dipakai bersama oleh orang sehat. Penularan ini terjadi karena tungau memiliki kemampuan bertahan hidup dalam waktu singkat di luar hospesnya(Browne et al., 2022) Hal tersebut dapat mengakibatkan penularan terjadi secara cepat dalam sebuah keluarga maupun dalam sebuah komunitas yang tinggal di lingkungan padat penghuni seperti pengungsian, penjara atau asrama dengan penghuni kamar yang padat dan kontak erat dalam waktu lama (Gopinath & Karthikeyan, 2020) Selain cara dan durasi kontak, risiko penularan juga berbanding lurus dengan jumlah tungau di tubuh penderita (Sungkar, 2016)

Di luar tubuh hospes S. scabiei dapat bertahan hidup selama 24-36 jam dalam suhu ruangan (21°C) dengan kelembaban 40-80%, namun pada suhu yang lebih rendah (10- 15°C) dengan kelembaban yang lebih tinggi tungau dapat bertahan hidup lebih lama. (Pallesen et al., 2020) menempatkan 30 ekor tungau di cawan petri dalam ruangan bersuhu 23,6°C dengan kelembapan 49%. Hasil observasi setelah 3, 4, 5, 6, 7, 8, 12 jam, dan 3 serta 4 hari adalah pada 3 jam pertama 95% tungau masih hidup kemudian menurun menjadi 75% setelah 8 jam, 60% setelah 12 jam. Pada hari ke-3 hanya 1 tungau yang masih hidup dan pada hari ke-4 semua tungau mati. Sehingga direkomendasikan untuk mengisolasi perlengkapan tidur, pakaian atau barang-barang lain selama 4 hari dalam plastik tertutup di suhu kamar apabila tidak dapat di jemur atau di cuci langsung agar tungau mati (Pallesen et al., 2020) Dalam kondisi lingkungan lembab yang mencapai 97% dan suhu dingin 10°C, tungau dapat bertahan hidup di luar tubuh hospes hingga 19 hari. Tungau mengurangi pengeringan dan menurunkan tingkat metabolisme tubuhnya sehingga agar bisa bertahan hidup (Browne et al., 2022).

Lingkungan dengan suhu hangat akan mengurangi waktu bertahan hidup tungau karena terjadi dehidrasi di tubuh akibat ketidakmampuan tungau menjaga keseimbangan air (Arlian & Morgan, 2017)(Browne et al., 2022) Suhu yang dapat mematikan S. scabiei adalah 49°C (120 °F) dalam 10 menit dan 47,5°C (117,5 °F) dalam 30 menit(Arlian & Morgan, 2017) Kasur, pakaian dan handuk yang digunakan oleh pasien skabies harus dicuci dan dijemur dibawah sinar matahari atau jika memungkinkan dicuci menggunakan air dengan suhu di atas 50°C, atau menggunakan mesin pengering (Sungkar, 2016)Selain pemanasan, metode pembekuan mungkin menjadi pilihan untuk membunuh tungau di barang-barang tertentu seperti boneka atau mainan keras dan barang-barang yang tidak tahan panas. Pembekuan S.Scabiei vac canis di suhu -25 °C dan kelembapan relatif 50% selama 1,5 jam mengakibatkan kematian tungau mencapai 100%. Sedangkan apabila pembekuan dilakukan hanya selama 1 jam, maka 23% tungau bertahan hidup tetapi tidak mampu melakukan penetrasi saat ditempatkan kembali di kulit (Arlian & Morgan, 2017) Oleh karena itu, selain pengobatan penderita juga diperlukan pembersihan lingkungan dan barang-barang pribadi milik penderita untuk memutus siklus hidup tungau.

TRANSMISI ZOONOSIS

Adanya transmisi zoonosis dari hewan ke manusia semakin menyulitkan penanggulangan skabies di masyarakat dan meningkatkan risiko terjadinya outbreaks. Faktor risiko penularan zoonosis adalah kontak dengan hewan peliharaan atau hewan ternak, kondisi tempat tinggal yang padat, dan kebersihan yang buruk. Penularan Sarcoptes scabiei secara zoonosis akan lebih banyak ditemukan di populasi yang kontak dekat dengan hewan, seperti pemilik hewan peliharaan, petani atau peternak, bahkan tenaga kesehatan yang menangani skabies di hewan. Transmisi skabies dari hewan dapat terjadi melalui kontak langsung, tidak langung atau melalui perantara gigitan artopoda lain, seperti Ornithonyssus bacoti(Hirst) (Moroni et al., 2022)(Kumar et al., 2023).

(Bandi & Saikumar, 2013) melaporkan seorang laki-laki datang dengan keluhan gatal hebat dan lesi kulit yang timbul sejak lima hari sebelumnya dan memiliki riwayat kontak fisik erat dengan anjing peliharannya yang terinfestasi skabies. Kelainan kulit yang disebabkan oleh infestasi S. scabiei hewan di manusia dapat menimbulkan gejala penyakit kulit lain, seperti dermatitis, herpes, eksim, dermatitis kontak atau bahkan seperti kelainan akibat gigitan serangga atau disebut juga pseudoskabies (Moroni et al., 2022) Adanya transmisi zoonotik akan mempengaruhi strategi pengendalian skabies di tingkat komunitas. Pengontrolan dan pencegahan skabies di hewan dan manusia merupakan kunci untuk menurunkan penularan zoonotik. Edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, perilaku hidup bersih, dan kewaspadaan terhadap hewan peliharaan atau hewan ternak dengan skabies disertai diagnosis dini, pengobatan tepat, dekontaminasi lingkungan, karantina hewan sakit dan sanitasi lingkungan adalah upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka skabies.

KESIMPULAN

Sarcoptes scabiei adalah tungau penyebab skabies atau kudis yang hidup di stratum korneum kulit manusia dan mamalia. Tungau S. scabiei dibedakan berdasarkan varietas yang menunjukkan hospes tempat hidup tungau dan di manusia disebut sebagai S. scabiei var. hominis. Tungau hidup dan menggali terowongan di lapisan kulit sampai ke stratum spinosum epidermis sehingga timbul respons tubuh yang menyerupai reaksi alergi kronik disertai dengan lesi kulit. Cara transmisi S. scabiei var. hominis antar manusia terjadi secara langsung atau tidak langsung melalui barang-barang disekitar penderita. Kedua cara transmisi tersebut terkait dengan kemampuan S. scabiei var. hominis berjalan dan bertahan hidup sementara di luar kulit manusia.

References

  1. Arlian L.G., Morgan M.S.. A review of Sarcoptes scabiei: past, present and future. Parasit Vectors. 2017; 10(297)DOI
  2. Bandi K.M., Saikumar C.. Sarcoptic mange: A zoonotic ectoparasitic skin disease. Journal of Clinical and Diagnostic Research. 2013; 7:156-157. DOI
  3. Browne E., Driessen M.M., Cross P.C., Escobar L.E., Foley J., López-Olvera Niedringhaus, KD Rossi, L Carver, S.. Sustaining transmission in different host species: The emblematic case of Sarcoptes scabiei. BioScience. 2022; 72:166-76.
  4. Castro I., Espinosa J., Granados J.E., Cano-Manuel F.J., Fandos P., Ráez-Bravo A., López-Olvera Soriguer, RC Pérez, J.M.. Characterizing the growth of Sarcoptes scabiei infrapopulations. Experimental and Applied Acarology. 2018; 76:41-52. DOI
  5. Currier R.W., Walton S.F., Currie B.J.. Scabies in animals and humans: History, evolutionary perspectives, and modern clinical management. Annals of the New York Academy of Sciences. 2011; 1230:50-60. DOI
  6. Dey C.. An ancient global disease: Scabies a systematic cross-section. Journal of Parasitic Diseases: Diagnosis and Therapy. 2018; 3:1-3. DOI
  7. El-Moamly A.A.. Scabies as a part of the World Health Organization roadmap for neglected tropical diseases 2021–2030: What we know and what we need to do for global control. Tropical Medicine and Health. 2021; 49(64)DOI
  8. Engelman D., Cantey P.T., Marks M., Solomon A.W., Chang A.Y., Chosidow O., Steer A.C.. The public health control of scabies: Priorities for research and action. The Lancet. 2019; 394:81-92. DOI
  9. Engelman D., Marks M., Steer A.C., Beshah A., Biswas G., Chosidow O.. A framework for scabies control. PLoS Neglected Tropical Diseases. 2021; 15:e0009661DOI
  10. Fimiani M., Mazzatenta C., Alessandrini C., Paccagnini E., Andreassi L.. The behaviour of Sarcoptes scabiei var. hominis in human skin: An ultrastructural study. Journal of Submicroscopic Cytology and Pathology. 1997; 29:105-13.
  11. Gopinath H., Karthikeyan K.. Genital scabies: Haven of an unwelcome guest. Indian Journal of Sexually Transmitted Diseases and AIDS. 2020; 41:10-16. DOI
  12. RI Kemenkes R.I.] Kementrian Kesehatan. Kemenkes RI: Jakarta; 2016.
  13. Kumar S.N., Jabakumar K.A., Ram S.J., Sreekanth G.N.V., Kumar V.J.A.. A review on zoonotic sarcoptes. The Pharma Innovation Journal. 2023; 12:497-501. DOI
  14. Mohy A.A., Aljanaby A.A.J., Al-Hadraawy S.K.. Evaluation of eosinophilic cationic protein and some immunological markers in patients infected with Scabies. Journal of Pure and Applied Microbiology. 2019; 13:1737-1743. DOI
  15. Moroni B., Rossi L., Bernigaud C., Guillot J.. Zoonotic episodes of Scabies: A global overview. Pathogens. 2022; 11(213)DOI
  16. Man E., Price H.P., Hoskins C.. Current and future strategies against cutaneous parasites. Pharmaceutical Research. 2020; 39:631-51. DOI
  17. Niedringhaus V., Ariey F., Izri A., Bernigaud C., Fang F., Charrel R., Foulet F., Botterel F., Guillot J., Chosidow O., Durand R.. Sarcoptes scabiei mites in humans are distributed into three genetically distinct clades. Clinical Microbiol and Infection. 2015; 21:1107-1114. DOI
  18. Niedringhaus K.D., Brown J.D., Sweeley K.M., Yabsley M.J.. A review of sarcoptic mange in North American wildlife. The International Journal for Parasitology: Parasites and Wildlife. 2019; 9:285-297. DOI
  19. Pallesen K., Lassen J.A., Munk N.T., Hartmeyer G.N., Hvid L., Bygum A.. In vitro survival of scabies mites. Clinical and Experimental Dermatology. 2020; 45:712-5. DOI
  20. Radonjic-Hoesli S., Brüggen M.C., Feldmeyer L., Simon H.U., Simon D.. Eosinophils in skin diseases. Seminars in Immunopathology. 2021; 43:393-409. DOI
  21. Ratnasari A.F., Sungkar S.. Prevalensi skabies dan faktor-faktor yang berhubungan di Pesantren X, Jakarta Timur. EJournal Kedokteran Indonesia. 2014; 2:7-12. DOI
  22. Richards R.N.. Scabies: Diagnostic and therapeutic update. Journal of Cutaneous Medicine and Surgery. 2021; 25:95-101. DOI
  23. McGraw-Hill: Boston; 2000.
  24. Schneider S., Wu J., Tizek L., Ziehfreund S., Zink A.. Prevalence of scabies worldwide-An updated systematic literature review in 2022. Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology. 2023; 37:1749-1757. DOI
  25. Setyaningrum Y.I., Amin M., Hastuti U.S., Suarsini E.. Life cycle Sarcoptes scabiei and pathogenicity mite in boarding school Malang, Indonesian. International Journal of ChemTech Research. 2016; 9:384-389.
  26. Sunderkötter C., Wohlrab J., Hamm H.. Epidemiologie, diagnostik und therapie der skabies. Deutsches Arzteblatt International. 2021; 118:695-704. DOI
  27. Sungkar S.. Badan Penerbit FKUI: Jakarta; 2016.
  28. Sungkar S., Wahdini S., Kekalih A., Rilanda R., Angkasa H., Widaty S.. Control of scabies in a boarding school using 5% Permethrin applied on lesion only. ASEAN Journal of Community Engagement. 2022; 6:76-97. DOI
  29. Thomas C., Coates S.J., Engelman D., Chosidow O., Chang A.Y.. Ectoparasites: Scabies. Journal of the American Academy of Dermatology. 2020; 82:533-548. DOI
  30. Wahdini S., Sudarmono P., Wardhana A.W., Irmawati F.P., Haswinzky R.A., Dwinastiti Y.A., Sungkar S.. Penyakit parasitik pada anak sekolah berasrama di Kabupaten Bogor. eJournal Kedokteran Indonesia. 2019; 6:207-211. DOI
  31. Organization W.H.O.] World Health. WHO Informal Consultation on a Framework for Scabies Control. Meeting Report Regional Office for the Western Pacific. 2019.
  32. Xu Y., Xu Z., Gu X., Xie Y., He R., Xu J., Jing B., Peng X., Yang G.. Immunomodulatory effects of two recombinant arginine kinases in Sarcoptes scabiei on host peripheral blood mononuclear cells. Frontiers in Immunology. 2022; 13:1-15. DOI
  33. Yoshimura H., Ohigashi T., Uesugi M., Uesugi K., Higashikawa T., Nakamura R.. Sarcoptes scabiei var. hominis: Three-dimensional structure of a female imago and crusted scabies lesions by X-ray micro-CT. Experimental Parasitology. 2009; 122:268-272. DOI
  34. Zhang Z.Q.. Animal biodiversity: An outline of higher-level classification and survey of taxonomic richness (Addenda 2013. Zootaxa. 2013; 3703:1-82. DOI

References

Arlian LG, Morgan MS. 2017. A review of Sarcoptes scabiei: past, present and future. Parasit Vectors. 10:297. DOI: https://doi.org/10.1186/s13071-017-2234-1.

Bandi KM, Saikumar C. 2013. Sarcoptic mange: A zoonotic ectoparasitic skin disease. Journal of Clinical and Diagnostic Research. 7:156–157. DOI: https://doi.org/10.7860/JCDR/2012/4839.2694.

Browne E, Driessen MM, Cross PC, Escobar LE, Foley J, López-Olvera JR, Niedringhaus KD, Rossi L, Carver S. 2022. Sustaining transmission in different host species: The emblematic case of Sarcoptes scabiei. BioScience. 72:166–76.

Castro I, Espinosa J, Granados JE, Cano-Manuel FJ, Fandos P, Ráez-Bravo A, López-Olvera JR, Soriguer RC, Pérez JM. 2018. Characterizing the growth of Sarcoptes scabiei infrapopulations. Experimental and Applied Acarology. 76:41–52. DOI: https://doi.org/10.1007/s10493-018-0287-2.

Currier RW, Walton SF, Currie BJ. 2011. Scabies in animals and humans: History, evolutionary perspectives, and modern clinical management. Annals of the New York Academy of Sciences. 1230:50–60. DOI: https://doi.org/10.1111/j.1749-6632.2011.06364.x.

Dey C. 2018. An ancient global disease: Scabies a systematic cross-section. Journal of Parasitic Diseases: Diagnosis and Therapy. 3:1–3. DOI: https://doi.org/10.4066/2591-7846.1000027.

El-Moamly AA. 2021. Scabies as a part of the World Health Organization roadmap for neglected tropical diseases 2021–2030: What we know and what we need to do for global control. Tropical Medicine and Health. 49:64. DOI: https://doi.org/10.1186/s41182-021-00348-6.

Engelman D, Cantey PT, Marks M, Solomon AW, Chang AY, Chosidow O, Steer AC. 2019. The public health control of scabies: Priorities for research and action. The Lancet. 394:81–92. DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(19)31136-5.

Engelman D, Marks M, Steer AC, Beshah A, Biswas G, Chosidow O, et al. 2021. A framework for scabies control. PLoS Neglected Tropical Diseases. 15:e0009661. DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0009661.

Fimiani M, Mazzatenta C, Alessandrini C, Paccagnini E, Andreassi L. 1997. The behaviour of Sarcoptes scabiei var. hominis in human skin: An ultrastructural study. Journal of Submicroscopic Cytology and Pathology. 29:105–13.

Gopinath H, Karthikeyan K. 2020. Genital scabies: Haven of an unwelcome guest. Indian Journal of Sexually Transmitted Diseases and AIDS. 41:10–16. DOI: https://doi.org/10.4103/ijstd.IJSTD_69_17.

[Kemenkes RI] Kementrian Kesehatan RI. 2016. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Jakarta: Kemenkes RI.

Kumar SN, Jabakumar KA, Ram SJ, Sreekanth GNV, Kumar VJA. 2023. A review on zoonotic sarcoptes. The Pharma Innovation Journal. 12:497–501. DOI: https://doi.org/10.22271/tpi.2023.v12.i6q.20666.

Mohy AA, Aljanaby AAJ, Al-Hadraawy SK. 2019. Evaluation of eosinophilic cationic protein and some immunological markers in patients infected with Scabies. Journal of Pure and Applied Microbiology. 13:1737–1743. DOI: https://doi.org/10.22207/JPAM.13.3.48.

Moroni B, Rossi L, Bernigaud C, Guillot J. 2022. Zoonotic episodes of Scabies: A global overview. Pathogens. 11:213. DOI: https://doi.org/10.3390/pathogens11020213.

Man E, Price HP, Hoskins C. 2020. Current and future strategies against cutaneous parasites. Pharmaceutical Research. 39:631–51. DOI: https://doi.org/10.1007/s11095-022-03232-y.

Niedringhaus V, Ariey F, Izri A, Bernigaud C, Fang F, Charrel R, Foulet F, Botterel F, Guillot J, Chosidow O, Durand R. 2015. Sarcoptes scabiei mites in humans are distributed into three genetically distinct clades. Clinical Microbiol and Infection. 21:1107–1114. DOI: https://doi.org/10.1016/j.cmi.2015.08.002.

Niedringhaus KD, Brown JD, Sweeley KM, Yabsley MJ. 2019. A review of sarcoptic mange in North American wildlife. The International Journal for Parasitology: Parasites and Wildlife. 9:285–297. DOI: https://doi.org/10.1016/j.ijppaw.2019.06.003.

Pallesen K, Lassen JA, Munk NT, Hartmeyer GN, Hvid L, Bygum A. 2020. In vitro survival of scabies mites. Clinical and Experimental Dermatology. 45:712–5. DOI: https://doi.org/10.1111/ced.14209.

Radonjic-Hoesli S, Brüggen MC, Feldmeyer L, Simon HU, Simon D. 2021. Eosinophils in skin diseases. Seminars in Immunopathology. 43:393–409. DOI: https://doi.org/10.1007/s00281-021-00868-7.

Ratnasari AF, Sungkar S. 2014. Prevalensi skabies dan faktor-faktor yang berhubungan di Pesantren X, Jakarta Timur. EJournal Kedokteran Indonesia. 2:7–12. DOI: https://doi.org/10.23886/ejki.2.3177.

Richards RN. 2021. Scabies: Diagnostic and therapeutic update. Journal of Cutaneous Medicine and Surgery. 25:95–101. DOI: https://doi.org/10.1177/1203475420960446.

Roberts LS, Janovy Jr J, Schmidte GD. 2000. Roberts’ Foundations of Parasitology. 6th. Ed. Boston: McGraw-Hill.

Schneider S, Wu J, Tizek L, Ziehfreund S, Zink A. 2023. Prevalence of scabies worldwide-An updated systematic literature review in 2022. Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology. 37:1749–1757. DOI: https://doi.org/10.1111/jdv.19167.

Setyaningrum YI, Amin M, Hastuti US, Suarsini E. 2016. Life cycle Sarcoptes scabiei and pathogenicity mite in boarding school Malang, Indonesian. International Journal of ChemTech Research. 9:384–389.

Sunderkötter C, Wohlrab J, Hamm H. 2021. Epidemiologie, diagnostik und therapie der skabies. Deutsches Arzteblatt International. 118:695–704. DOI: https://doi.org/10.3238/arztebl.m2021.0296.

Sungkar S. 2016. Skabies: Etiologi, Patogenesis, Pengobatan, Pemberantasan dan Pencegahan. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Sungkar S, Wahdini S, Kekalih A, Rilanda R, Angkasa H, Widaty S. 2022. Control of scabies in a boarding school using 5% Permethrin applied on lesion only. ASEAN Journal of Community Engagement. 6:76–97. DOI: https://doi.org/10.7454/ajce.v6i1.1083.

Thomas C, Coates SJ, Engelman D, Chosidow O, Chang AY. 2020. Ectoparasites: Scabies. Journal of the American Academy of Dermatology. 82:533–548. DOI: https://doi.org/10.1016/j.jaad.2019.05.109.

Wahdini S, Sudarmono P, Wardhana AW, Irmawati FP, Haswinzky RA, Dwinastiti YA, Sungkar S. 2019. Penyakit parasitik pada anak sekolah berasrama di Kabupaten Bogor. eJournal Kedokteran Indonesia. 6:207–211. DOI: https://doi.org/10.23886/ejki.6.10109.

[WHO] World Health Organization. 2019. WHO Informal Consultation on a Framework for Scabies Control. Meeting Report Regional Office for the Western Pacific, (Manila, 19–21 February 2019). Geneva: World Health Organization.

Xu Y, Xu Z, Gu X, Xie Y, He R, Xu J, Jing B, Peng X, Yang G. 2022. Immunomodulatory effects of two recombinant arginine kinases in Sarcoptes scabiei on host peripheral blood mononuclear cells. Frontiers in Immunology. 13:1–15. DOI: https://doi.org/10.3389/fimmu.2022.1035729.

Yoshimura H, Ohigashi T, Uesugi M, Uesugi K, Higashikawa T, Nakamura R, et al. 2009. Sarcoptes scabiei var. hominis: Three-dimensional structure of a female imago and crusted scabies lesions by X-ray micro-CT. Experimental Parasitology. 122:268–272. DOI: https://doi.org/10.1016/j.exppara.2009.04.015.

Zhang ZQ. 2013. Animal biodiversity: An outline of higher-level classification and survey of taxonomic richness (Addenda 2013). Zootaxa. 3703:1–82. DOI: https://doi.org/10.11646/zootaxa.3703.1.

Published

2024-01-04

How to Cite

Wahdini, S. ., & Sungkar, S. . (2024). Aspek parasitologi Sarcoptes scabiei var. hominis: Parasitological aspects of Sarcoptes scabiei var. hominis. Jurnal Entomologi Indonesia, 20(3), 275. https://doi.org/10.5994/jei.20.3.275
No Related Submission Found