Keanekaragaman kupu-kupu (Lepidoptera: Papilionoidea) di Kawasan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat
Diversity of butterflies (Lepidoptera: Papilionoidae) in the Bodogol Nature Conservation Education Center Area, Gunung Gede Pangrango National Park, West Java
DOI:
https://doi.org/10.5994/jei.20.1.10Keywords:
conservation, forests, species richnessAbstract
Butterflies are a group of insects with high species diversity and are closely related to environmental factors that affect their presence and abundance in a habitat. This study aimed to analyze the diversity and abundance of butterfly populations in PPKA Bodogol, Sukabumi, West Java. Observation of butterflies was carried out using a 700 m long transect method using a camera and sweeping nets along the existing paths in two locations, namely heterogeneous forest and homogeneous forest. Butterfly observations were carried out from 08.00–12.00 in the morning. Based on the research results, 78 species (261 individuals) were found in heterogeneous forests, and 39 species (158 individuals) in homogeneous forests, which belong to 5 families, namely Lycaenidae, Nymphalidae, Papilionidae, Pieridae, and Rionidae. The Nymphalidae is a family that has the highest number of species and individuals compared to other families. The butterfly diversity index in heterogeneous forests was the highest, whereas in homogeneous forests was moderate. The similarity value of butterfly composition is <50%, which means that the composition of butterflies found in the two habitats is not the same. The diversity index of butterflies in heterogeneous forests was higher than in homogeneous forests. There was no significant difference from the Hutchinson test. Species evenness index values in the two habitats showed almost the same value, 0.9 in heterogeneous forests and 0.8 in homogeneous forest. The existence, diversity, and abundance of butterflies in a habitat are closely related to the type of habitat and the abiotic and biotic elements present in it.
Downloads
PENDAHULUAN
Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB) berada di kaki gunung Pangrango dengan ketinggian sekitar 800 m dpl (Wijaya et al., 2014) . PPKAB merupakan tempat pengenalan beragam kekayaan alam dari hutan hujan tropis di Indonesia kepada masyarakat umum yang mulai diperkenalkan pada tahun 1998. Berdasarkan wilayah administratifnya termasuk di dalam wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Di sekitar kawasan ini terdapat beberapa habitat yang berbeda, seperti hutan heterogen (hutan sekunder) dan hutan homogen. PPKAB pada umumya difungsikan sebagai area wisata (Aulia & Syaukat, 2015) , dan sebagai lokasi pendidikan konversi alam yang memiliki jumlah keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna yang melimpah, salah satunya adalah kupu-kupu (Zulkarnain, 2021). Penelitian terkait dengan kupu-kupu di lokasi PPKA Bodogol sebelumnya dipublikasikan oleh (Wijaya et al., 2014) yang menyatakan bahwa respons perilaku kupu dipengaruhi oleh lokasi serta tipe lokasinya.
Hutan heterogen merupakan hutan yang didominasi oleh beragam makhluk hidup yang dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia (Hidup, 2019). Terbentuknya hutan tertentu dapat terjadi akibat adanya deforestasi dan degradasi hutan primer (Wahyuni & Suranto, 2021). Regenerasi hutan primer menyebabkan munculnya tanaman muda yang menggantikan tanaman tua yang rusak atau hilang akibat adanya bencana alam, kebakaran atau penebangan oleh manusia (Heriyanto et al., 2020). Hutan sekunder yang berada di daerah tropis merupakan habitat yang kondusif bagi perkembangbiakkan banyak spesies kupu-kupu (Paramita & Rahmadi, 2020). Hutan homogen merupakan salah satu hutan pinus yang ditemukan di PPKA Bodogol. Keanekaragaman kupu-kupu yang terdapat pada habitat homogen sangat terbatas karena terbatasnya vegetasi yang terdapat pada habitat ini (Panjaitan et al., 2020).
Kupu-kupu (Lepidoptera: Papilionoidea) merupakan serangga yang memiliki sayap bersisik yang berperan sebagai polinator (Handayani & Rahayuningsih, 2022). Secara tidak langsung bermanfaat bagi perkembangbiakkan tanaman, kupu-kupu dianggap sebagai penyedia jasa ekosistem yang juga membantu kelestarian bagi banyak tanaman. Selain sebagai polinator, kupu- kupu juga berperan sebagai bioindikator perubahan lingkungan karena kupu-kupu memiliki sensitifitas yang tinggi.
Perbedaan kelimpahan dan keanekaragaman di suatu habitat dapat berbeda antar habitat karena pengaruh faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik yang mempengaruhi keanekaragaman kupu- kupu, antara lain keberadaan tanaman inang, predator, dan parasitoid (Ngatimin et al., 2018). Faktor abiotik yang diketahui mempengaruhi keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupu antara lain suhu, kelembaban, curah hujan, dan intensitas cahaya (Sagwe et al., 2015). Perubahan iklim, peningkatan pembangunan, kerusakan habitat alami sangat berdampak terhadap populasi serangga, termasuk kelompok kupu-kupu (Habel et al., 2019). Perubahan faktor abiotik, munculnya cuaca ekstrim maupun kondisi habitat dapat menyebabkan terjadinya penurunan populasi kupu-kupu, yang tentu dapat terjadi di PPKAB.
Penelitian terkini yang bertujuan untuk mengetahui biodiversitas kupu-kupu di PPKAB dapat menjadi bagian dari kegiatan monitoring serta sebagai pembanding dengan penelitian yang sebelumnya telah dilakukan (Ruslan, 2012) pada tahun 2011. Dengan melakukan penelitian secara berkala, nilai perubahan populasi kupu-kupu dapat diketahui serta dapat dijadikan sebagai informasi dasar guna melakukan upaya konservasi di habitat PPKAB. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis keanekaragaman dan kelimpahan populasi kupu-kupu di PPKA Bodogol, Sukabumi, serta menganalisa pengaruh beberapa faktor abiotik terhadap kelimpahan individu kupu-kupu.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan dari bulan Maret–Juni 2022 di dua lokasi, yaitu hutan heterogen dan hutan homogen yang berada di dalam lingkup kawasan Pusat Pendidikan Konservasi Alam (PPKA) Bodogol, Sukabumi, Jawa BaratGambar 1. Hutan heterogen yang diamati pada lokasi ini memiliki vegetasi yang beragam, yang terdiri atas berbagai tanaman perdu dan pepohonan, sedangkan hutan homogen didominasi oleh tanaman kaliandra dan pinus.
Pengamatan kupu-kupu
Pengamatan kupu-kupu dilakukan dengan metode transek sepanjang 700 m dengan pengamatan 10 m kiri dan kanan transek (Lang et al., 2016) mengunakan kamera dan sweeping net di sepanjang jalur yang ada di dua lokasi, yakni hutan heterogen dan hutan homogen. Di hutan heterogen dilakukan pengamatan di jalur Rasamala, Kanopi, dan Aprika. Di lokasi hutan homogen dilakukan juga pengamatan di tiga jalur, yaitu Cipadaranten, Cikaweni, dan Jalur Gombongkoneng sebanyak 2 kali (2 hari yang berbeda) dengan interval 15 hari antar pengamatan sehingga total pengamatan sebanyak 12 kali. Pengamatan kupu-kupu di- lakukan mulai pukul 08.00 hingga pukul 12.00.
Gambar 1.A: peta PPKA Bodogol sebagai lokasi penelitian (tanda panah); B: titik koordinat di lokasi penelitian PPKA Bodogol(A:research location at PPKA Bodogol Sukabumi, West Java. B: coordinate point at the PPKA Bodogol)
Pada pengamatan, kupu-kupu yang telah diketahui spesiesnya dicatat nama spesies dan jumlah individunya. Sementara, kupu-kupu yang belum diketahui spesiesnya diambil gambar, namun apabila sulit akan ditangkap menggunakan jaring serangga untuk kemudian diambil gambarnya lalu diidentifikasi.
Pengukuran faktor abiotik lingkungan
Faktor lingkungan yang diamati pada penelitian ini adalah suhu udara, kelembapan udara (hygrometer), intensitas cahaya (lux meter), dan kecepatan angin (anemometer) yang diukur pada setiap waktu pengamatan. Pengamatan faktor abiotik ini dilakukan di dalam plot dengan luasan 20 m × 20 m yang terdapat pada masing-masing jalur pengamatan yang berbeda.
Analisis data
Indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu. Indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu dihitung dengan menggunakan indeks keaneka-ragaman Shannon-Wiener (H’).
\documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle H' = -\sum p_i \ln p_i, \text{ dengan } p_i = \frac{n_i}{N} \end{document} , dengan
H’: indeks keanekaragaman Shannon-Wiener;
Pi: proporsi kelimpahan jenis;
ni: jumlah individu ke- I;
N: jumlah total individu.
Sementara, untuk membedakan nilai indeks keanekaragaman pada masing-masing habitat, digunakan uji Hutchinson (Magurran, 1988) yang bertujuan untuk melihat perbedaan indeks yang nyata.
\documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \text{Var}(H') = \frac{\sum p_i (\ln p_i)^2 - (\sum p_i \ln p_i)^2}{N} - \frac{S-1}{2N^2} \end{document} , dengan
Var: varians, yaitu perbedaan keanekaragaman
jenis antar hutan; S: jumlah jenis satu hutan.
Indeks kemerataan (E). Kemerataan jenis kupu- kupu pada suatu habitat dapat dihitung dengan menggunakan rumus indeks kemerataan (Evenness index). \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle E = \frac{H'}{In S} \end{document} , dengan
E: indeks kemerataan jenis; H’: Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener;
S: jumlah jenis yang ditemukan (kekayaan jenis).Kelimpahan, frekuensi, dan indeks nilai penting (INP). Nilai kelimpahan relatif (KR) dan frekuensi relatif (FR) menggunakan rumus sebagai berikut (Fachrul, 2012) :
\documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle KR = \frac{\text{Jumlah individu suatu jenis}}{\text{Jumlah individu seluruh jenis}} \times 100\% \end{document}
Nilai frekuensi relatif (FR) ditetapkan meng-gunakan rumus:
\documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle KR = \frac{\text{Frekuensi individu suatu jenis}}{\text{Jumlah individu seluruh jenis}} \times 100\% \end{document}
Pengaruh faktor abiotik dengan jumlah individu kupu-kupu. Analisis multivariate pada kelimpahan dan kekayaan kupu-kupu terhadap faktor abiotik kecepatan angin, intensitas cahaya, kelembaban, dan suhu dilakukan dengan metode generalized linear model (glm) mengunakan perangkat lunak R ver. 4.2.2
HASIL
Kelimpahan dan keanekaragaman kupu-kupu Di kawasan hutan heterogen ditemukan 78 spesies dari 261 individu, sedangkan di habitat hutan homogen ditemukan sebanyak 39 spesies dari 158 individuTable 1. yang termasuk ke dalam 5 famili, yaitu Lycaenidae, Nymphalidae, Papilionidae, Riodinidae, dan PieridaeTable 1.. Pada penelitian ini, Nymphalidae ditemukan dengan jumlah spesies dan individu tertinggi di masing-masing habitat, yaitu hutan heterogen (43 spesies, 141 individu), hutan homogen (17 spesies, 85 individu)Table 1..
Indeks keanekaragaman yang didapatkan pada dua habitat penelitian dapat dilihat pada Table 1., yang menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman spesies kupu-kupu pada hutan heterogen lebih tinggi (H’ = 3,9) dibandingkan dengan indeks keanekaragaman pada hutan homogen (H’= 3,2). Kemudian, dilakukan uji Hutchinson yang menunjukkan bahwa keanekaragaman kupu-kupu pada hutan homogen tidak berbeda nyata dengan keanekaragaman kupu-kupu di hutan heterogen (thitung<ttabel). Nilai indeks kemerataan hutan heterogen sebesar 0,9 dan pada hutan homogen sebesar 0,8.
Famili (Family) |
Spesies (Species) |
Jumlah individu (Number of individual) |
|
|---|---|---|---|
|
Heterogen (Heterogeneous) |
Homogen (Homogeneous) |
||
Lycaenidae |
Allotinus sarrastes Fruhstorfer |
2 | - |
Allotinus unicolor Fruhstorfer |
1 | 7 | |
Arhopala centaurus Fabricius |
1 | - | |
Catochrysops strabo Fabricius |
1 | - | |
Chilades pandava Horsfield |
1 | - | |
Eooxylides tharis Geyer |
8 | - | |
Loxura atymnus Stoll |
1 | - | |
Jamides alecto C Felder |
5 | 6 | |
Jamides celeno Cramer |
16 | 17 | |
Jamides pura Moore |
3 | 3 | |
Lampides boeticus Linnaeus |
2 | - | |
Neopithecops lucifer Rober |
3 | - | |
Petrelaea dana de Niceville |
6 | - | |
Pithecops dionisius Boisduval |
1 | 1 | |
Pithecops corvus Fruhstorfer |
1 | - | |
Prosotas dubiosa Semper |
3 | - | |
Zeltus amasa Hewitson |
7 | - | |
Candalides xanthospilos Hubner |
- | 1 | |
Miletus sp. |
- | 7 | |
Prosotas gracilis Rober |
- | 3 | |
Riodinidae |
Abisara savitri Savitri |
- | 2 |
Nymphalidae |
Chersonesia rahria Moore |
5 | - |
Cethosia hypsea Doubleday |
1 | - | |
Cupha erymanthis Drury |
1 | - | |
Cyrestis nivea Zinken-Sommer |
2 | - | |
Danaus chrysippus Linnaeus |
1 | - | |
Discophora sondaica Boisduval |
1 | - | |
Doleschallia bisaltide Cramer |
1 | - | |
Elymnias hypermnestra Linnaeus |
3 | 1 | |
Erites argentina Butler |
5 | 8 | |
Euploea camaralzeman Butler |
2 | - | |
Euploea mulciber Cramer |
6 | - | |
Euploea radamanthus Fabricius |
1 | - | |
Euthalia aconthea Cramer |
1 | - | |
Faunis canens Stichel |
7 | 10 | |
Hypolimnas bolina Linnaeus |
2 | - | |
Hypolimnas misippus Linnaeus |
1 | - | |
Ideopsis juventa Cramer |
1 | - | |
Lasippa monata Weyenbergh |
2 | - | |
Lethe confusa Aurivilius |
6 | 3 | |
Lexias dirtea Fabricius |
3 | - | |
Melanitis phedima Cramer |
1 | - | |
Mycalesis horsfieldi Moore |
2 | - | |
Mycalesis janardana Moore |
7 | 12 | |
Mycalesis mineus Linnaeus |
9 | 3 | |
Mycalesis moorei Hubner |
2 | 13 | |
Mycalesis sudra C & R Felder |
1 | - | |
Neorina crhishna Westwood |
4 | 4 | |
Neptis clinia Moore |
2 | - | |
Neptis hylas Linnaeus |
1 | - | |
Neptis miah Moore |
1 | - | |
Neptis vikasi Horsefield |
5 | - | |
Parantica aspasia Fabricius |
5 | - | |
Pantoporia hordonia Stoll |
2 | 1 | |
Symbrenthia hypatia Wallace |
1 | - | |
Tanaecia iapis Godart |
6 | - | |
Tanaecia trigerta Moore |
1 | - | |
Stibochiona coresia Hubner |
1 | - | |
Ypthima baldus Fabricius |
13 | 7 | |
Ypthima nigricans Snellen |
5 | - | |
Ypthima pandocus Hubner |
11 | - | |
Ypthima philomela Linnaeus |
6 | - | |
Zeuxidia luxerii Hubner |
2 | - | |
Nymphalidae sp. 1 |
1 | - | |
Euthalia monina Fabricius |
- | 2 | |
Lethe europa Fabricius |
- | 4 | |
Melanitis leda Linnaeus |
- | 2 | |
Nymphalidae sp.2 |
- | 1 | |
Tanaecia japis Moore |
- | 11 | |
Ypthima horsfieldi Moorei |
- | 2 | |
Zeuxidia luxuri Hubner |
- | 1 | |
Papilionidae |
Papilio demolion Cramer |
1 | - |
Papilio memnon Linnaeus |
3 | 2 | |
Papilio nephelus Boisduval |
3 | - | |
Papilio polytes Linnaeus |
2 | - | |
Troides helena Linnaeus |
6 | 2 | |
Papilio sp. |
- | 1 | |
Pieridae |
Appias lyncida Cramer |
2 | 1 |
Appias olferna Swinhoe |
2 | 1 | |
Catopsilia pomona Fabricius |
2 | 4 | |
Catopsilia pyranthe Linnaeus |
2 | 1 | |
Catopsilia scylla Linnaeus |
1 | - | |
Cepora judith Fabricius |
3 | 1 | |
Delias belisama Cramer |
1 | - | |
Eurema alitha C & R Felder |
1 | - | |
Eurema blanda Boisduval |
1 | 5 | |
Eurema hecabe Linnaeus |
18 |
2 | |
Eurema sari Horsefield |
7 | 4 | |
Leptosia nina Fabricius |
1 | - | |
Gandaca harina Horsefield |
2 | - | |
Belenois java Fruhstorfer |
- | 1 | |
Delias hyparate Linnaeus |
- | 1 | |
Jumlah famili (Number of families) |
4 | 4 | |
Jumlah spesies (Number of species) |
78 |
39 | |
Jumlah individu (Number of individual) |
261 |
158 | |
Indeks keanekaragaman (Diversity index) (H’) |
3,9 |
3,2 | |
Indeks kemerataan (Evenness index) (E) |
0,9 |
0,8 | |
Berdasarkan nilai INP, ditemukan beberapa spesies dengan jumlah tinggi di hutan heterogen, antara lain Jamides celeno (Cramer) (11%), Ypthima baldus (Fabricius) (8,4%), Ypthima pandocus (Moore) (7,7%), dan Eurema hecabe (Linnaeus) (11%). Sementara, di hutan homogen, beberapa spesies dengan nilai INP yang tinggi antara lain J. celeno (19,4%), Mycalesis janardana Moore (14,7%), Mycalesis moorei Hübner (14,5%), dan Faunis canens Hübner (14,7%).
Hubungan faktor abiotik dengan kelimpahan dan kekayaan kupu-kupu
Berdasarkan hasil analisis GLM pada hutan heterogen, intensitas cahaya, kecepatan angin, dan kelembaban mempengaruhi kelimpahan kupu-kupuTabel 2. Sementara pada hutan homogen, kecepatan angin dan kelembapan yang mempengaruhi kelimpahan kupu-kupu.
Hasil analisis GLM juga menunjukkan bahwa kekayaan spesies kupu-kupu di hutan heterogen dipengaruhi oleh kecepatan angin dan intensitas cahaya, sedangkan di hutan homogen kecepatan angin mempengaruhi kekayaan spesies kupu-kupuTabel 2.
Hasil pengamatan parameter lingkungan, menunjukkan bahwa hutan heterogen memiliki kecepatan angin 0,23 m/detik, intensitas cahaya 6530 lux, kelembaban udara 74,32%, dan suhu rata-rata 25,90 °C, sedangkan hutan homogen memiliki kecepatan angin 0,22 m/detik, intensitas cahaya 2836 lux, kelembaban udara 79,21%, dan suhu rata-rata 25,31 °C.
PEMBAHASAN
Di PPKA Bodogol, khususnya pada habitat hutan heterogen ditemukan sebanyak 78 spesies dari 261 individu kupu-kupu, sedangkan di habitat hutan homogen ditemukan sebanyak 39 spesies dari 158 individu. Jumlah spesies dan individu kupu-kupu yang ditemukan pada kedua habitat diketahui bervariasi. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan faktor biotik dan abiotik yang terdapat pada masing-masing habitat. Jika dilihat dari kondisi habitat berdasarkan pengamatan pada lokasi sekitar pengambilan data, habitat heterogen memiliki vegetasi yang lebih bervariasi daripada habitat hutan homogen. Menurut (Rahayu et al., 2013)
|
Faktor abiotik (Abiotic factor) |
Hutan heterogen (Heterogeneous forest) |
Hutan homogen (Homogeneous forest) |
Total (Hutan homogen + heterogen) (homogeneous + heterogeneous forest) | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
|
Kelimpahan (Abundance) |
Kekayaan (Richness) |
Kelimpahan (Abundance) |
Kekayaan (Richness) |
Kelimpahan (Abundance) |
Kekayaan (Richness) |
|
P-value |
P-value |
P-value |
P-value |
P-value |
P-value |
|
|
Kecepatan angin (Wind speed) |
0,010* |
0,0022** |
0,0092** |
0,0496* |
0,000040*** |
0,000141*** |
|
Cahaya (Light) |
0,0086** |
0,0199* |
0,0716 |
0,2674 |
0,000112*** |
0,00108** |
|
Kelembapan (Humidity) |
0,0438* |
0,0959 |
0,0239* |
0,0993 |
0,0908 |
0,097850 |
|
Suhu (Temperature) |
0,073 |
0,1254 |
0,2478 |
0,6017 |
0,4856 |
0,20069 |
vegetasi yang beragam pada suatu habitat memiliki ketersedian pakan yang lebih beragam dibandingkan dengan hutan homogen sehingga jumlah spesies dan individu kupu-kupu lebih banyak ditemukan di hutan heterogen. (Vu et al., 2015), menyatakan bahwa hutan homogen merupakan salah satu tipe habitat yang memiliki keanekaragaman kupu-kupu yang terbatas karena rendahnya keanekaragaman tanaman di habitat ini.
Berdasarkan jumlah individu dan spesies per famili yang ditemukan di kedua tipe habitat diketahui bahwa Famili Nymphalidae memiliki jumlah spesies dan individu yang terbanyak. Tingginya jumlah individu dan spesies dari Famili Nymphalidae dapat dipengaruhi oleh adanya vegetasi yang terdiri atas banyak tanaman berbunga (sumber daya pakan bagi bunga) maupun tanaman pakan bagi larva (Lestari et al., 2018). Selain itu, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan(Kyerematen et al., 2018), menunjukkan bahwa anggota famili ini terdiri atas banyak spesies dalam Lepidoptera sehingga famili ini lebih banyak dibandingkan dengan famili lainnya.
Nilai indeks keanekaragaman kupu-kupu yang ditemukan di habitat hutan heterogen tergolong tinggi (H’ = 3,9), sedangkan di habitat hutan homogen tergolong sedang (H’ = 3,2). Hasil uji Hutchinson keanekaragaman jenis kupu-kupu di dua habitat menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata. Nilai indeks kemerataan kupu-kupu yang ditemukan di habitat hutan heterogen bernilai 0,9 dan sebesar 0,8 di habitat hutan homogen. Nilai yang didapat menunjukan bahwa nilai kemerataan spesies yang didapat mendekati 1. Menurut(Fachrul, 2012) jika nilai kemerataan spesies semakin besar maka penyebaran spesies kupu-kupu tersebut merata. Berdasarkan penelitian yang dilakukan(Ruslan, 2012), diketahui bahwa tingginya nilai indeks kemerataan kupu-kupu pada kedua habitat ini menunjukkan tidak adanya dominasi spesies kupu-kupu tertentu.
Dominasi kupu-kupu berdasarkan kelimpahan relatif (KR), frekuensi relatif (FR), dan indeks nilai penting (INP) kupu-kupu yang ditemukan di hutan heterogen ditemukan pada spesies J. celeno, Y. baldus, Y. pandocus, dan E. hecabe. Di hutan homogen, kelimpahan dan frekuensi ditemukan tinggi ialah J. celeno, M. janardana, M. moorei, F. canens. Jamides celeno merupakan spesies dengan kelimpahan tertinggi di kedua habitat, baik heterogen maupun homogen. Jamides celeno merupakan salah satu spesies yang termasuk ke dalam Famili Lycaenidae. Selain keberadaan hostplant dan foodplant, keberadaan spesies Lycaenidae dengan jumlah banyak, dapat disebabkan juga oleh daya adaptasi yang tinggi serta mudah berkembang biak di kedua habitat (Nurjanah, 2021). Berdasarkan publikasi yang dilakukan sebelumnya, terdapat beberapa tanaman yang menjadi hostplant bagi spesies ini di antaranya, beberapa spesies yang termasuk ke dalam Famili Fabaceae, Caesalpinaceae, Meliaceae dll. (Eastwood et al., 2005) yang diduga terdapat di wilayah penelitian. Eurema hecabe merupakan salah satu spesies terbanyak kedua yang masuk ke dalam Famili Pieridae yang ditemukan di habitat heterogen. Salah satu inang dari larva E. hecabe yang ditemukan di lokasi penelitian ini adalah Mimosa pudica yang ditemukan dalam jumlah cukup banyak di habitat heterogen yang mendukung keberadaan spesies kupu-kupu ini ditemukan dalam jumlah banyak. Spesies terbanyak berikutnya yang ditemukan di habitat hutan heterogen adalah Y. baldus dan Y. pandocus yang termasuk ke dalam Famili Nymphalidae. Sebagian besar spesies dari Famili Nymphalidae bersifat polifag yang memiliki kisaran inang yang banyak sehingga dapat ditemukan dalam jumlah yang tinggi (Sabran et al., 2021).
M. janardana dan M. moorei merupakan kedua spesies yang termasuk dalam Famili Nymphalidae yang umum ditemukan di habitat hutan pegunungan atau habitat heterogen (Sari & Dahelmi, 2016). Faunis canens adalah salah spesies dari Famili Nymphalidae lainnya yang umumnya diketahui memiliki tanaman inang, yaitu palem- paleman yang merupakan tanaman inang bagi larva spesies ini (Leong, 2011). Karena bersifat polifag, spesies kupu-kupu yang termasuk dalam Famili Nymphalidae memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi.Selain itu, juga ditemukan salah satu spesies kupu-kupu yang hampir punah, yaitu Troides helena (Linnaeus). Spesies kupu-kupu ini termasuk ke dalam Famili Papilionidae yang berukuran besar yang ditemukan pada dataran rendah dan habitat hutan pegunungan. Selain di pulau Jawa, kupu-kupu ini juga ditemukan tersebar di Sumatra, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi hingga bagian utara Malaysia, dan India. Spesies ini termasuk dilindungi oleh Undang-undang Republik Indonesia (PP no. 7 tahun 1999, UU no. 5 tahun 1990) dan masuk dalam CITES Appendiks II (Mardiana et al., 2010). Selain tingkat perburuan yang cukup tinggi, faktor abiotik, seperti musuh alami parasitoid Ooencyrtus, predator Oecophylla, dan Megaselia juga berpengaruh terhadap keberhasilan hidup dari spesies ini (Bulkini, 2019).
Dari nilai kelimpahan individu yang terdapat pada , diketahui bahwa sebanyak 50% jenis kupu-kupu yang ditemukan di habitat heterogen lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan kategori lainnya. Jika dilihat dari kategori kelimpahan relatifnya di kedua habitat, menunjukkan bahwa kelimpahan sebagian besar jenis kupu-kupu termasuk dalam kategori sedang dan cukup banyak. Hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya tanaman perdu/tanaman herba berbunga yang ditemukan cukup merata di kedua habitat. (Sumah & Apriniarti, 2019), menyatakan bahwa keberadaan tanaman perdu yang berbunga merupakan sumber pakan utama penghasil nektar yang menjadi sumber pakan bagi imago kupu- kupu.
Hasil pengamatan pada penelitian ini ditemukan sebanyak 419 individu (92 spesies) yang jumlahnya sangat berbeda dengan pengamatan yang dilakukan oleh(Ruslan, 2012) pada tahun 2011, yaitu 3.864 individu, 132 spesies. Perbedaan hasil pengamatan ini dapat disebabkan oleh perbedaan waktu pengamatan. Penelitian pada tahun 2011 dilakukan selama 5 bulan, sedangkan pada tahun 2021, pengamatan hanya dilakukan selama 4 bulan. Selain itu, adanya pengaruh lain juga dapat mempengaruhi penurunan kupu- kupu yang ditemukan di antaranya adanya peningkatan pembangunan serta perluasan lahan pertanian maupun perkebunan yang menyebabkan kehilangan habitat atau degradasi habitat (Goulson, 2019). Selain itu, peningkatan suhu, gangguan antropogneik, peningkatan penggunaan pestisida juga dapat menyebabkan penurunan populasi serta punahnya spesies kupu-kupu tertentu(Warren et al., 2021).
Berkaitan dengan faktor abiotik, diketahui bahwa faktor abiotik, seperti intensitas cahaya (6530 lux), kecepatan angin (0,23 m/detik), dan kelembaban (74,3 %) mempengaruhi kupu-kupu di hutan heterogen. Pada saat melakukan pengamatan di hutan heterogen, kondisi abiotik tersebut berada pada kondisi yang kondusif sehingga jumlah kupu-kupu yang ditemukan pada hutan heterogen diketahui lebih tinggi dibandingkan dengan hutan homogen. Intensitas cahaya merupakan salah satu faktor abiotik yang dibutuhkan oleh kupu-kupu untuk menghangatkan tubuhnya guna meningkatkan proses metabolisme dalam tubuhnya(Pahman et al., 2022). Tingginya intensitas cahaya juga berkaitan dengan keterbukaan habitat yang menjadikan habitat tersebut sebagai lokasi yang kondusif bagi tumbuhan herba dan perdu yang merupakan tumbuhan inang bagi kupu-kupu untuk tumbuh dan berkembang dengan baik (Aprilia et al., 2020). Keberadaan tumbuhan inang dan pakan bagi kupu-kupu merupakan faktor penting yang berkaitan dengan kehadiran kupu-kupu di suatu habitat.
Berbeda dengan waktu pengamatan yang dilakukan pada hutan heterogen, pengamatan yang dilakukan pada hutan homogen dilakukan pada saat faktor abiotik, seperti kelembapan (79,21%) dan kecepatan angin (0,22 m/detik) berada dalam kondisi yang tinggi.(Zega et al., 2022), menyatakan bahwa nilai kelembapan yang cukup tinggi tidak kondusif bagi kupu-kupu untuk beraktifitas. Nilai kelembapan yang tergolong kondusif bagi kupu- kupu untuk terbang dan melakukan aktifitas berkisar 46,9 hingga 66,2%(Irsa et al., 2022). Sementara, habitat dengan nilai kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan kupu-kupu sulit untuk menjaga suhu tubuhnya serta, mengeringkan sayapnya (Pahman et al., 2022). Hal ini yang mengakibatkan jumlah kupu-kupu yang ditemukan pada hutan homogen lebih rendah dibandingkan dengan hutan heterogen.
Informasi terkait keanekaragaman kupu- kupu serta faktor yang mempengaruhinya dapat menjadi informasi dasar dalam upaya konservasi habitat kupu-kupu. Konservasi habitat kupu-kupu dapat menjaga keberlanjutan jasa ekosistem yang disediakan oleh kupu-kupu di alam.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini, ditemukan kupu-kupu di hutan heterogen 78 spesies dari 261 individu, di hutan homogen 39 spesies dari 158 individu yang terdiri atas Famili Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycaenidae, dan Rhionidae. Famili Nymphalidae merupakan famili yang tinggi jumlah spesies dan individu dibanding famili yang lain. Nilai indeks kesamaan komposisi kupu-kupu <50%, yang berarti komposisi kupu- kupu yang ditemukan di dua habitat tidak sama. Indeks keanekaragaman kupu-kupu di hutan heterogen tergolong tinggi, sedangkan di hutan homogen tergolong sedang. Dari uji Hutchinson tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Nilai indeks kemerataan dikedua habitat tergolong tinggi. Kelimpahan dan frekuensi kupu-kupu yang ditemukan tinggi di hutan heterogen, ialah J. celeno, Y. baldus, Y. pandocus, E. hecabe. Di hutan homogen, kelimpahan dan frekuensi ditemukan tinggi ialah J. celeno, M. janardana, M. moorei, dan F. canens. Faktor lingkungan yang ditemukan sesuai dengan kehidupan kupu-kupu.
References
- Aprilia I., Setiawan D., Pragustiandi M.I.G., Yustian I.. ZSL Indonesia; 2020.
- Aulia I., Syaukat Y.. Institut Pertanian Bogor: Bogor; 2015.
- Azahra S.D.. Potensi jenis kupu-kupu sebagai bioindikator kondisi lingkungan kawasan perkotaan. Gunung Djati Conference Series 6:102–110. 2021.
- Bulkini A.. Universitas Negeri Surakarta: Surakarta; 2019.
- Hidup Dinas Lingkungan. Kenali hutan dan fungsinya. 2019. Publisher Full Text
- Eastwood R., Kitching R.L., Manh H.B.. Behavioural observation on the early stages of Jamides Celeno (Cramer) (Lycaenidae) at Cat Tien National Park Vietnam: An Obligate Myrmecophile?. Journal of the Lepidopteran Society. 2005; 59:219-222.
- Fachrul M.F.. PT Bumi Aksara: Jakarta; 2012.
- Goulson D.. Insect Declines and Why They Matter. Commisioned by the South West Wildlife Trusts. 2019.
- Habel J.C., Trusch R., Schmitt T., Ochse M., Ulrich W.. Long-term large-scale decline in relative abundances of butterfly and burnet moth species across south-western Germany. Scientific Reports. 2019; 9(14921)DOI
- Handayani A., Rahayuningsih M.. Keanekaragaman jenis kupu-kupu (Papiliono-idea) di Taman Kota Semarang Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa. 2022; 8:43-52. DOI
- Heriyanto N.M., Priatna D., Kartawinata Samsoedin, I.. Struktur dan komposisi hutan di Kawasan Lindung Rantau Bertuah, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Bulletin Kebun Raya. 2020; 23:69-81. DOI
- Irsa F.N., Rahadian R., Hadi M.. Struktur komunitas, keragaman tumbuhan inang, dan status konservasi kupu-kupu (Lepidoptera) di Desa Ngesrepbalong Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal. Jurnal Ilmu Lingkungan. 2022; 20:777-786.
- Kyerematen R., Adu-Acheampong S., Acquah-Lamptey D., Anderson R.S., Owusu E.H., Mantey J.. Butterfly diversity: An indicator for environmental health within tarkwa gold mine, Ghana. Environmental and Natural Resources Research. 2018; 8:69-83. DOI
- Lang A., Bühler C., Dolek M., Roth T., Züghart W.. Estimating sampling efficiency of diurnal Lepidoptera in Farmland. Journal of Insect Conservation. 2016; 20:35-48. DOI
- Leong T.M.. Caterpillars and metamorphosis of the common faun, Faunis canens Arcesilas (Stichel, 1993) in Singapore (Lepidoptera: Nymphalidae: Morphinae. Nature in Singapore. 2011; 4:355-361.
- Lestari V.C., Erawan T.S., Melanie Kasmara, H Hermawan, W.. Keanekaragaman jenis kupu-kupu Familia Nymphalidae dan Pieridae di Kawasan Cirengganis dan Padang Rumput Cikamal Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Jurnal Agrikultura. 2018; 29:1-8. DOI
- Magurran A.E.. Ecological Diversity and Its Measurement. 1988. DOI
- Mardiana A., Atmowidi T., Mohammad A.. Prosiding Seminar Nasional Perhimpunan Entomologi Indonesia Entomologi dalam Perubahan Lingkungan dan Sosial. Perhimpunan Entomologi Indonesia: Perhimpunan Entomologi Indonesia; 2010:527-531.
- Ngatimin S.N.R., Abdullah T., Nasruddin A., Gassa A.. Teknologi Perbanyakan Kupu-kupu di Resort Pattunuang Kabupaten Maros Sulawesi Selatan.Yogyakarta: Leutikaprio. 2018.
- Nurjanah. Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi: Jambi; 2021.
- Pahman I., Hernawati D., Chaidir D.M.. Studi keanekaragaman kupu-kupu (Papilionoidea) berdasarkan ketinggian di Kawasan Gunung Galunggung Kabupaten Tasikmalaya. Bioscientist: Jurnal Ilmiah Biologi. 2022; 10:818-836. DOI
- Panjaitan R., Drescher J., Buchori D., Peggie D., Harahap I.S., Scheu S., Hidayat P.. Diversity of butterflies (Lepidoptera) across rainforest transformation systems in Jambi, Sumatra, Indonesia. BIODIVERSITAS. 2020; 21:5119-5127. DOI
- Paramita S., Rahmadi A.. IPB Press: Bogor; 2020.
- Rahayu S.E., Tuarita H., Sulisetijono. Laporan Penelitian. LP2M: LP2M; 2013.
- Ruslan H.. Institut Pertanian Bogor: Bogor; 2012.
- Sabran M., Lembah R.R.T., Wahyudi Baharuddin, H Trianto, M Suleman, S.M.. Jenis dan kekerabatan kupu-kupu (Lepidoptera) di Taman Hutan Raya Sulawesi Tengah. Journal of Tropical Biology. 2021; 9:46-55. DOI
- Sagwe R.N., Muya S.M., Maranga R.. Effects of land use pat-terns on the diversity and conservation status of butterflies in Kisii highlands, Kenya. Journal of Insect Conservation. 2015; 19:1119-1127. DOI
- Sari R., Dahelmi Mairawita. Kupu-kupu Pengunjung pada Bunga Semangka (Citrullus lanatus) (THUNB.) Matsum & Nakai di Katapiang Ujuang dan Karambia Ampek, Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi. 2016; 8:35-42. DOI
- Sumah A.S., Apriniarti M.S.. Kupu-kupu Superfamili Papilionoidea (Lepidoptera) di Kawasan CIFOR, Bogor, Indonesia. Jurnal Biologi Tropis. 2019; 19:197-204. DOI
- Vu L.V., Bonebrake T.C., VuMQ Nguyen, N.T.. Butterfly diversity and habitat variation in a disturbed forest in Northern Vietnam. The Pan-Pacific Entomologist. 2015; 91:29-38. DOI
- Wahyuni H., Suranto. Dampak deforestasi hutan skala besar terhadap pemanasan global di Indonesia. Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan. 2021; 6:148-162. DOI
- Warren M.S., Maes D., Swaay C.A.M., Goffart P., Dyck H., Bourn N.A.D., Wynhoff I., Hoare D., Ellis S.. PNAS 118:e2002551117. 2021. DOI
- Wijaya R.P., Diana P., Anggraeni S., Kusyaifah E., Amalia N.. Respons perilaku kupu-kupu pada kanopi bercelah dan kanopi tertutup di Hutan PPKA Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Bioma. 2014; 10:19-23. DOI
- Zega S., Pollo H.N., Koneri R.. Struktur, komposisi kupu-kupu dan tumbuhan pakan imagonya di Air Terjun Rayow Dan Rok-Rok Desa Kembes, Kabupaten Minahasa. Silvarum. 2022; 1:1-6.
- Zulkarnain F.. Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol, tempat edukasi dengan tema hutan hujan tropis. 2021. Publisher Full Text
References
Aprilia I, Setiawan D, Pragustiandi MIG, Yustian I. 2020. Kupu-kupu Sembilang Dangku. ZSL Indonesia.
Aulia I, Syaukat Y. 2015. Analisis Permintaan Ekowisata Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tesis. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Azahra SD. 2021. Potensi jenis kupu-kupu sebagai bioindikator kondisi lingkungan kawasan perkotaan. Gunung Djati Conference Series 6:102–110.
Bulkini A. 2019. Siklus Hidup dan Potensial Reproduksi Kupu-kupu Troides helena di Penangkaran Taman Kupu-kupu Alian Butterfly Park Kebumen, Jawa Tengah. Skripsi. Surakarta: Universitas Negeri Surakarta.
Dinas Lingkungan Hidup. 2019. Kenali hutan dan fungsinya. Tersedia pada: https://dlh.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/kenali-hutan-dan-fungsinya-53 [diakses 04 September 2022].
Eastwood R, Kitching RL, Manh HB. 2005. Behavioural observation on the early stages of Jamides Celeno (Cramer) (Lycaenidae) at Cat Tien National Park Vietnam: An Obligate Myrmecophile? Journal of the Lepidopteran Society 59:219–222.
Fachrul MF. 2012. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Goulson D. 2019. Insect Declines and Why They Matter. Commisioned by the South West Wildlife Trusts.
Habel JC, Trusch R, Schmitt T, Ochse M, Ulrich W. 2019. Long-term large-scale decline in relative abundances of butterfly and burnet moth species across south-western Germany. Scientific Reports 9:14921 DOI: https://doi.org/10.1038/s41598-019-51424-1.
Handayani A, Rahayuningsih M. 2022. Keanekaragaman jenis kupu-kupu (Papiliono-idea) di Taman Kota Semarang Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa 8:43–52. DOI: https://doi.org/10.20886/jped.2022.8.1.43-52.
Heriyanto NM, Priatna D, Kartawinata, Samsoedin I. 2020. Struktur dan komposisi hutan di Kawasan Lindung Rantau Bertuah, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Bulletin Kebun Raya 23:69–81. DOI: https://doi.org/10.14203/bkr.v23i1.7.
Irsa FN, Rahadian R, Hadi M. 2022. Struktur komunitas, keragaman tumbuhan inang, dan status konservasi kupu-kupu (Lepidoptera) di Desa Ngesrepbalong Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal. Jurnal Ilmu Lingkungan 20:777–786.
Kyerematen R, Adu-Acheampong S, Acquah-Lamptey D, Anderson RS, Owusu EH, Mantey J. 2018. Butterfly diversity: An indicator for environmental health within tarkwa gold mine, Ghana. Environmental and Natural Resources Research 8:69–83. DOI: https://doi.org/10.5539/enrr.v8n3p69.
Lang A, Bühler C, Dolek M, Roth T, Züghart W. 2016. Estimating sampling efficiency of diurnal Lepidoptera in Farmland. Journal of Insect Conservation 20:35–48. DOI: https://doi.org/10.1007/s10841-015-9837-7.
Leong TM. 2011. Caterpillars and metamorphosis of the common faun, Faunis canens Arcesilas (Stichel, 1993) in Singapore (Lepidoptera: Nymphalidae: Morphinae). Nature in Singapore 4:355–361.
Lestari VC, Erawan TS, Melanie, Kasmara H, Hermawan W. 2018. Keanekaragaman jenis kupu-kupu Familia Nymphalidae dan Pieridae di Kawasan Cirengganis dan Padang Rumput Cikamal Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Jurnal Agrikultura 29:1–8. DOI: https://doi.org/10.24198/agrikultura.v29i1.16920.
Magurran AE. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. New Jersey: Princeton University Press. DOI: https://doi.org/10.1007/978-94-015-7358-0.
Mardiana A, Atmowidi T, Mohammad A. 2010. Morfologi dan siklus hidup kupu raja Troides izelena Linnaeus (Lepidoptera: Papilionidae) yang dipelihara dalam Penangkaran. Di dalam: Arifin et al. (Eds.) Prosiding Seminar Nasional Perhimpunan Entomologi Indonesia Entomologi dalam Perubahan Lingkungan dan Sosial, (Bogor, 5 Oktober 2004). hlm. 527–531. Bogor: Perhimpunan Entomologi Indonesia.
Ngatimin SNR, Abdullah T, Nasruddin A, Gassa A. 2018. Teknologi Perbanyakan Kupu-kupu di Resort Pattunuang Kabupaten Maros Sulawesi Selatan.Yogyakarta: Leutikaprio.
Nurjanah. 2021. Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu (Lepidoptera) dan Prevalensi Tanaman Inang di Taman Anggrek Sri Soedewi Kota Jambi. Skripsi. Jambi: Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Pahman I, Hernawati D, Chaidir DM. 2022. Studi keanekaragaman kupu-kupu (Papilionoidea) berdasarkan ketinggian di Kawasan Gunung Galunggung Kabupaten Tasikmalaya. Bioscientist: Jurnal Ilmiah Biologi 10:818–836. DOI: https://doi.org/10.33394/bioscientist.v10i2.5742.
Panjaitan R, Drescher J, Buchori D, Peggie D, Harahap IS, Scheu S, Hidayat P. 2020. Diversity of butterflies (Lepidoptera) across rainforest transformation systems in Jambi, Sumatra, Indonesia. BIODIVERSITAS 21:5119–5127. DOI: https://doi.org/10.13057/biodiv/d211117.
Paramita S, Rahmadi A. 2020. Book Series Tropical Studies Volume 1: Potensi dan Permasalahan di Hutan Tropika Lembap dan Lingkungannya Komunikasi. Bogor: IPB Press.
Rahayu SE, Tuarita H, Sulisetijono. 2013. Biodiversitas Kupu-kupu Coban Rondo dan Coban rais Batu Sebagai Data Dasar Usaha Konservasi. Laporan Penelitian. Malang: LP2M.
Ruslan H. 2012. Komunitas Kupu-kupu Superfamili Papilionidea di Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol, Sukabumi, Jawa Barat. Tesis. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Sabran M, Lembah RRT, Wahyudi, Baharuddin H, Trianto M, Suleman SM. 2021. Jenis dan kekerabatan kupu-kupu (Lepidoptera) di Taman Hutan Raya Sulawesi Tengah. Journal of Tropical Biology 9:46–55. DOI: https://doi.org/10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.06.
Sagwe RN, Muya SM, Maranga R. 2015. Effects of land use pat-terns on the diversity and conservation status of butterflies in Kisii highlands, Kenya. Journal of Insect Conservation 19:1119–1127. DOI: https://doi.org/10.1007/s10841-015-9826-x.
Sari R, Dahelmi, Mairawita. 2016. Kupu-kupu Pengunjung pada Bunga Semangka (Citrullus lanatus) (THUNB.) Matsum & Nakai di Katapiang Ujuang dan Karambia Ampek, Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi 8:35–42. DOI: https://doi.org/10.22202/bc.2016.v2i1.1297.
Sumah AS, Apriniarti MS. 2019. Kupu-kupu Superfamili Papilionoidea (Lepidoptera) di Kawasan CIFOR, Bogor, Indonesia. Jurnal Biologi Tropis 19:197–204. DOI: https://doi.org/10.29303/jbt.v19i2.1309.
Vu LV, Bonebrake TC, VuMQ, Nguyen NT. 2015. Butterfly diversity and habitat variation in a disturbed forest in Northern Vietnam. The Pan-Pacific Entomologist 91:29–38. DOI: https://doi.org/10.3956/2014-91.1.029.
Wahyuni H, Suranto. 2021. Dampak deforestasi hutan skala besar terhadap pemanasan global di Indonesia. Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan 6:148–162. DOI: https://doi.org/10.14710/jiip.v6i1.10083.
Warren MS, Maes D, van Swaay CAM, Goffart P, van Dyck H, Bourn NAD, Wynhoff I, Hoare D, Ellis S. 2021. The decline of butterflies in Europe: Problems, significance, and possible solutions. PNAS 118:e2002551117. DOI: https://doi.org/10.1073/pnas.2002551117.
Wijaya RP, Diana P, Anggraeni S, Kusyaifah E, Amalia N. 2014. Respons perilaku kupu-kupu pada kanopi bercelah dan kanopi tertutup di Hutan PPKA Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Bioma 10:19–23. DOI: https://doi.org/10.21009/Bioma10(2).3.
Zega S, Pollo HN, Koneri R. 2022. Struktur, komposisi kupu-kupu dan tumbuhan pakan imagonya di Air Terjun Rayow Dan Rok-Rok Desa Kembes, Kabupaten Minahasa. Silvarum 1:1–6.
Zulkarnain F. 2021. Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol, tempat edukasi dengan tema hutan hujan tropis. Tersedia pada: https://www.tempatwisata.pro/wisata/Pusat-Pendidikan-Konservasi-Alam-Bodogol [diakses 08 September 2022].
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 Hasni Ruslan, Abda'u Satiyo, Yenisbar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).

