Statistik demografi Menochilus sexmaculatus (Fabricius) (Coleoptera: Coccinellidae) pada Aphis craccivora Koch (Hemiptera: Aphididae)
Demographic statistic of Menochilus sexmaculatus (Fabricius) (Coleoptera: Coccinellidae) on Aphis craccivora Koch (Hemiptera: Aphididae)
Downloads
Information on demographic statistics of Menochilus sexmaculatus (Fabricius) on Aphis craccivora Koch is important for the development of more effective and environmentally friendly pest control strategies. The objective of this experiment was to determine the demographic statistics (survival, fecundity, growth rate, reproductive rate, length of life), biological and morphometric of M. sexmaculatus on A. craccivora prey. A total of 15 pairs of M. sexmaculatus adult obtained from broad bean fields in Situgede, Bogor were reared in cages containing 3 polybags of broad bean plants (infested with A. craccivora as food for adult). One hundred eggs (6 egg batches) were collected from the cages and reared in plastic containers (top diameter 6.7 cm, bottom diameter 4.9 cm, height 6.3 cm) per 1 egg batch. Larvae that emerge from the egg are separated individually into 1 container and reared until the adult produced eggs again and died. Mean values and standard deviations of 5 demographic statistical parameters were determined using the Jacknife method. Survival probability and paternity were presented as curves. M. sexmaculatus had a mean body size of 7.32 × 5.94 mm for males and 8.63 × 6.98 mm for females. M. sexmaculatus has potential as a control agent for the pest A. craccivora. This potential is supported by its high reproductive ability (R0 35.72 ± 1,10 individuals/female/generation and GRR 128.85 ± 3.02 individuals/generation), fast population growth rate (r 0.20 ± 0.002 individuals/female/day), T which is 18.16 ± 0.04 days.
Downloads
PENDAHULUAN
Hama kutudaun Aphis craccivora Koch merupakan salah satu hama yang sering ditemukan pada tanaman kacang panjang. Serangan hama ini dimulai sejak fase vegetatif hingga generatif. Menurut (Ziyadah, 2016) pada umur 7 hari setelah tanam (HST) hama kutudaun sudah dapat ditemukan dengan populasi awal yang masih rendah, yaitu sekitar 0,15 individu per rumpun tanaman. Populasi kutudaun mulai bertambah ketika tanaman mencapai umur 25 HST dan sudah berkoloni. Seiring dengan bertambahnya usia tanaman, hama A. craccivora terus mengalami peningkatan populasi sehingga dibutuhkan pengendalian.
Musuh alami yang perannya cukup penting pada suatu ekosistem dan sering ditemukan di pertanaman, salah satunya adalah Coccinellid predator. Menurut (Apriliyanto & Setiawan, 2014) mengatakan bahwa musuh alami yang mampu menurunkan populasi A. craccivora pada tanaman kacang panjang adalah golongan serangga predator, yaitu kumbang kubah Coccinellidae. Coccinellid predator adalah kelompok musuh alami yang dapat dimanfaatkan dalam pengendalian hayati karena jumlah spesiesnya yang besar dan distribusinya yang kosmopolitan (Efendi et al., 2013). Keberadaan predator dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengendalikan populasi hama secara alami. Salah satu serangga predator yang sering ditemui pada banyak komoditas adalah kumbang Menochilus sexmaculatus (Fabricius). Predator ini memiliki kemampuan sebagai agens pengendali hayati dan mampu memangsa beberapa spesies kutudaun, seperti A. craccivora (Routray et al., 2016), Aphis gossypii (Glover) (Venkanna et al., 2021), Myzus persicae (Sulzer) (Zhao et al., 2015), Toxoptera citricida (Kirkaldy) dan Lipaphis erysimi (Kaltenbach) (Safeer et al., 2024). M. sexmaculatus dapat ditemukan pada tanaman kacang panjang karena terdapat salah satu mangsanya, yaitu hama A. craccivora. Selain memangsa kutudaun, spesies M. sexmaculatus memiliki kisaran mangsa yang cukup luas, yaitu dapat memangsa kutu kebul, kutu perisai, dan kutu putih (Efendi, 2017).
Keberhasilan predator dalam menekan populasi hama dapat diketahui dari karakteristik populasinya, seperti tingkat pertumbuhan, stadia perkembangan, dan fekunditas predator tersebut (Yu et al., 2013). Salah satu langkah awal dalam mempelajari perkembangan suatu populasi serangga adalah dengan mengetahui aspek-aspek demografinya. Menurut (Zhao et al., 2015) pengujian demografi terhadap M. sexmaculatus dapat dilihat dari masa perkembangannya sehingga dapat diketahui karakteristiknya untuk pengendalian hayati. Penelitian demografi yang telah dilakukan oleh (Singh et al., 2022)melaporkan jika laju pertambahan intrinsik M. sexmaculatus pada kutudaun A. gossypii, yaitu 0,18 individu/ betina/hari, selain itu juga penelitian yang dilakukan oleh (Safeer et al., 2024) menunjukkan laju pertambahan intrinsik M. sexmaculatus pada kutudaun Diuraphis noxia, yaitu 0,21 individu/betina/hari. Kedua penelitian tersebut memperlihatkan bahwa predator M. sexmaculatus memiliki nilai laju intrinsik yang berbeda-beda pada mangsa dan kondisi lingkungan yang juga berbeda. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa M. sexmaculatus memiliki kemampuan berkembang biak lebih cepat dan dengan jumlah yang lebih banyak sehingga berpotensi untuk mengendalikan populasi A. gossypii dan D. noxia dengan lebih efektif. Dalam upaya pemanfaatan M. sexmaculatus sebagai agens hayati maka diperlukan banyak informasi mengenai tingkat pertumbuhannya pada koloni A. craccivora. Penelitian mengenai statistik demografi kumbang M. sexmaculatus pada mangsa A. craccivora belum diteliti, terutama pada suhu pemeliharaan yang tinggi, yaitu di rumah kaca. Tujuan percobaan ini adalah menentukan statistik demografi (peluang hidup (kesintasan), keperidian (fekunditas), tingkat pertumbuhan, laju reproduksi, lama hidup), biologi dan morfometrik dari M. sexmaculatus pada mangsa A. craccivora.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga Oktober 2023 di rumah kaca Proteksi Tanaman Cikabayan, IPB University.
Perbanyakan A. craccivora pada kacang panjang
Benih kacang panjang ditanam menggunakan varietas Kanton Tavi yang didapat secara komersial melalui toko daring. Benih kacang panjang ditanam pada 30 buah polybag berukuran diameter 22 cm dan tinggi 22,5 cm. Polybag diisi dengan campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1:1 sebanyak ¾ polybag. Setiap polybag ditanam 2 benih kacang panjang dan diberi ajir bambu (102 cm × 2 cm) setelah tanaman berumur 1 minggu setelah tanam (MST), agar tanaman kacang panjang dapat merambat. Tanaman dirawat, disiram setiap hari, dan diberi pupuk NPK (16:16:16) dengan dosis 6 g/polybag (Halawa et al., 2021). Pupuk NPK diberikan pada saat benih ditanam dan 4 MST. Benih kacang panjang yang baru, ditanam sebanyak 3 polybag setiap 1 minggu sekali, agar tetap tersedia inang yang segar bagi kutudaun. Setelah tanaman berumur 2 minggu diinfestasikan nimfa dan imago kutudaun A. craccivora yang telah dikumpulkan dari pertanaman kacang panjang di Situgede Bogor. Infestasi kutudaun tersebut dilakukan dengan cara meletakkan 2 helai daun atau 2 polong kacang panjang yang terserang kutudaun, pada daun tanaman kacang panjang yang telah ditanam, kemudian diamkan hingga kutudaun berpindah. Pemeliharaan dilakukan hingga jumlah kutudaun A. craccivora cukup untuk digunakan dalam penelitian.
Pemeliharaan imago M. sexmaculatus
Imago M. sexmaculatus dikumpulkan sebanyak 15 pasang (jantan dan betina) dari pertanaman kacang panjang di Situgede, Bogor. Jika dibandingkan dengan imago betina, imago jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil. Selain itu, imago jantan memiliki ujung abdomen yang lebih lonjong dan imago betina memiliki ujung abdomen yang oval. Selanjutnya imago M. sexmaculatus dipelihara di dalam kurungan yang berukuran 1 m × 1 m × 1 m. Kurungan tersebut terbuat dari pipa PVC AW ½ inci dan kain tule. Imago dipelihara di dalam kurungan yang telah dimasukkan 3 polybag tanaman kacang panjang yang telah diinfestasikan kutudaun A. craccivora. Pemeliharaan imago dilakukan hingga imago betina menghasilkan 100 butir telur.
Pengamatan statistik demografi M. sexmaculatus yang diberi mangsa A. craccivora
Pengamatan statistik demografi M. sexmaculatus dimulai dari stadia telur sampai imago. Pada stadia telur hingga pupa, dipelihara di dalam sebuah wadah plastik (diameter atas 6,7 cm, diameter bawah 4,9 cm, dan tinggi 6,3 cm), yang di atasnya ditutupi dengan kain organdi (12 cm × 12 cm) dan penutup plastik yang telah dilubangi pada bagian atasnya. Pada wadah pemeliharaan di dalamnya dialasi oleh kertas saring (diameter 5 cm).
Telur yang digunakan dalam percobaan ini sebanyak 100 butir telur (6 kelompok telur) yang didapatkan dari kurungan pemeliharaan. Telur tersebut diletakkan perkelompok pada setiap wadah dan dipelihara hingga menetas menjadi larva. Larva yang telah menetas dari telur dipisahkan pada setiap wadah (satu individu per wadah) dan diberi mangsa kutudaun, dengan rincian larva instar I sebanyak 10 kutudaun, instar II 15 kutudaun, instar III 20 kutudaun, dan instar IV 25 kutudaun (Ashwini & Shukla, 2022). Potongan daun (sebagai sumber pakan kutudaun) yang terdapat kutudaunnya dapat dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan larva. Larva diberi mangsa kutudaun dan wadah pemeliharaan dibersihkan setiap hari dari sisa-sisa makanan dan eksuvia kutudaun ataupun larva predator. Apabila kutudaun masih bersisa, kutudaun dapat diganti dengan kutudaun yang baru. Pemeliharaan larva tersebut dilakukan hingga menjadi pupa. Pada stadia pupa tidak perlu diberi kutudaun dan pupa dipelihara hingga menjadi imago.
Seluruh individu predator yang telah berkembang menjadi imago dipelihara masing-masing satu pasang di dalam sebuah kurungan yang terbuat dari mika yang berbentuk tabung (diameter 22 cm dan tinggi 71,5 cm) agar dapat melakukan kopulasi. Pada kurungan tersebut di dalamnya terdapat tanaman kacang panjang yang berumur 3 minggu yang telah terinfestasi kutudaun sebagai mangsa imago predator. Setiap 2 hari sekali tanaman kacang panjang diganti, agar kutudaun selalu tersedia bagi imago-imago yang dipelihara. Pada bagian atas kurungan ditutupi dengan kain organdi (30 cm × 30 cm) agar udara dapat masuk kedalam kurungan. Setiap imago betina diamati masa praoviposisi, oviposisi, dan pascaoviposisinya. Telur yang berhasil diletakkan oleh imago betina dihitung. Pengamatan dilakukan hingga seluruh (30 individu) imago mati. Individu-individu yang berhasil hidup dan berganti stadia selama pengamatan, diamati setiap hari dan dicatat dalam sebuah tabel kehidupan (life table). Pengamatan neraca kehidupan ini dilakukan dengan pengukuran parameter suhu dan kelembaban harian dengan menggunakan hygrotermometer
Pengamatan biologi dan morfometrik M. sexmaculatus yang diberi mangsa A. craccivora
Pengamatan biologi M. sexmaculatus di lakukan dengan mengamati morfologi tubuh dan lama hidup pada setiap stadianya. Pengukuran morfometrik dan dokumentasi morfologi pada setiap stadia predator dilakukan dengan menggunakan mikroskop Leica M205C dengan aplikasi perangkat lunak Leica versi 4.4.0. Pengukuran morfometrik dilakukan dengan menggunakan 10 individu predator untuk setiap stadianya yang kemudian hasilnya dirata-ratakan.
Analisis data
Nilai rata-rata dan simpangan baku dari 5 statistik demografi yang meliputi laju reproduksi kotor (GRR), laju reproduksi bersih (R 0 ), laju pertumbuhan intrinsik (r), rataan masa generasi (T), waktu populasi berlipat ganda (DT) ditentukan dengan metode Jacknife. Peluang hidup dan keperidian dari setiap umur disajikan dalam bentuk kurva. Pada tabel neraca kehidupan (life table) yang disajikan terdiri atas: x: kelas umur (stadium) (hari); ax: banyaknya individu yang hidup pada setiap umur pengamatan; lx: proporsi individu yang hidup pada umur x (lx = ax/ao); dx: banyaknya individu yang mati di setiap kelas umur x; qx: proporsi mortalitas pada masing-masing umur (qx = dx /ax); mx: keperidian spesifik individu-individu pada kelas umur x atau jumlah keturunan betina per kapita yang lahir pada kelas umur x; lxmx: banyak keturunan yang dihasilkan pada kelas umur.
Berdasarkan tabel neraca kehidupan kumbang M. sexmaculatus di atas dapat dilanjutkan dengan perhitungan parameter-parameter demografi (Birch, 1948) sebagai berikut:
- Laju reproduksi bersih (R0), dihitung dengan rumus: R0 = ∑ lxmx;
- Laju reproduksi kotor (GRR), dihitung dengan rumus: GRR = ∑ mx;
- Laju pertambahan intrinsik (r), dihitung dengan rumus: ∑ lxmxe – rx =1 dengan r awal = (ln R0) / T;
- Rataan masa generasi (T), dihitung dengan rumus: T = ∑xlxmx / ∑ lxmx;
- Waktu populasi berlipat ganda (DT), dihitung dengan rumus: DT = ln (2)/r.
Pengukuran morfometrik pada 10 individu predator untuk setiap stadianya dirata-ratakan dan disajikan dalam sebuah tabel.
HASIL
Statistik demografi M. sexmaculatus yang diberi mangsa A. craccivora
Kurva peluang hidup (lx) M. sexmaculatus pada Gambar 2 (Figure 2) menunjukkan laju keberhasilan hidup yang rendah (mortalitas tinggi) di awal perkembangan, kemudian laju keberhasilan hidup relatif stabil pada perkembangan selanjutnya sehingga laju keberhasilan hidup M. sexmaculatus pada A. craccivora dapat dikatakan termasuk ke dalam tipe III. Pada kurva keperidian/fekunditas (mx), menunjukkan peletakan telur dengan jumlah tertinggi pada umur 19 hari. Terdapat 5 parameter demografi dengan nilai laju reproduksi bersih (R 0 ), yaitu 35,72 ± 1,10 individu/betina/generasi, laju reproduksi kotor (GRR) sebesar 128,85 ± 3,02 individu/generasi, laju pertambahan intrinsik (r) 0,20 ± 0,002 individu/betina/hari, rataan masa generasi (T) 18,16 ± 0,04 hari, dan waktu populasi berlipat ganda (DT) 3,52 ± 0,04 hari ( Tabel 1 (Table 1)).
Biologi dan morfometrik M. sexmaculatus yang diberi mangsa A. craccivora
Kumbang M. sexmaculatus memiliki tipe metamorfosis holometabola yang terdiri atas tahapan telur, larva, pupa, dan imago (Gambar 2 (Figure 2)). Pada tahap larva mengalami tiga kali pergantian kulit (molting) sehingga tahapan larva dimulai dari larva instar I−IV. Siklus hidup dari M. sexmaculatus yang memangsa A. craccivora, yaitu selama 19,39 hari, pada suhu dan kelembaban rata- rata 33,65 ºC dan 61,59%. Telur yang dihasilkan oleh imago betina berwarna kuning cerah dan tersusun secara berkelompok. Satu kelompok telur terdiri atas 3−20 butir dan diletakkan pada dinding mika, di bawah daun, dan di batang tanaman yang terdapat banyak kutudaun. Larva instar I yang baru menetas dari telur memiliki tubuh yang sangat lunak, berwarna abu-abu muda, dan bersegmen. Pada setiap segmen abdomennya terdapat duri-duri. Alat mulut pada larva bertipe mengigit-menguyah untuk mengoyakkan tubuh mangsa. Lama perkembangan rata-rata 2,13 ± 0,80 hari untuk berganti kulit menjadi instar II (Tabel 2 (Table 2)). Saat memasuki instar II, larva berwarna hitam dan sedikit kekuningan, disertai dengan duri pada setiap segmen tubuhnya. Bagian caput berwarna cokelat dan berukuran lebih kecil dari ruas pertamanya. Lama perkembangan berlangsung rata-rata selama 1,47 ± 0,70 hari (Tabel 2 (Table 2)). Ketika larva memasuki instar III, duri pada setiap segmen semakin panjang dan tajam. Larva instar III memiliki warna tubuh yang hitam pada setiap segmen dan berwarna kuning pada bagian tengah dorsal, lateral segmen ke-4 dan ke-7. Pada stadia ini larva sangat aktif memangsa kutudaun dan memiliki ukuran tubuh 6,99 × 2,86 mm. Kemudian larva memasuki instar IV, dengan ciri-ciri tubuh memiliki corak berwarna kuning yang semakin banyak(Gambar 2 (Figure 2)). Pada saat memasuki stadia prepupa larva akan sedikit makan dan mencari tempat yang sesuai, seperti melekat pada kain organdi, di dinding wadah ataupun bersembunyi di bawah kertas saring. Stadia pupa berlangsung rata-rata selama 2,45 ± 0,56 hari, hingga menjadi imago (Tabel 2 (Table 2)). Imago yang baru keluar dari pupa akan berusaha mengeluarkan diri dari bungkus pupa, imago keluar melalui ujung anterior pupa, dengan mengeluarkan kepalanya terlebih dahulu. Pada imago jantan memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan imago betina, yaitu masing-masing 7,32 mm × 5,94 mm dan 8,63 mm × 6,98 mm (Tabel 3 (Table 3)). Imago melakukan kopulasi rata-rata selama 1−2 hari, kemudian setelah itu imago betina memasuki masa pra-oviposisi selama 2,82 ± 1,01 hari, dan menghasilkan telur/masa oviposisi selama 4,24 ± 1,86 hari. Telur yang dapat dihasilkan oleh 17 imago betina, yaitu sebanyak 1.692 butir telur. Setelah imago betina selesai menghasilkan telur, imago akan memasuki masa pascaoviposisi yang diakhiri dengan kematian, yaitu rata-rata selama 4,29 ± 1,26 hari (Tabel 2 (Table 2)).
Gambar 1 (Figure 1).Kurva peluang hidup (lx) dan fekunditas (mx).(Survival rate curve (lx) and fecundity (mx).)
|
Parameter populasi (Population parameters) |
Nilai rata-rata ± SB (Average value ± SD) |
Satuan (Unit) |
|---|---|---|
| GRR | 128,85 ± 3,02 |
Individu/generasi (Individuals/generation) |
| R0 | 35,72 ± 1,10 |
Individu/betina/generasi (Individuals/female/generation) |
| r | 0,2 ± 0,002 |
Individu/betina/hari (Individual/female/day) |
| T | 18,16 ± 0,04 |
Hari (Day) |
| DT | 3,52 ± 0,04 |
Hari (Day) |
PEMBAHASAN
Total siklus hidup dari M. sexmaculatus yang memangsa A. craccivora, yaitu selama 19,39 hari pada suhu dan kelembaban 33,65 ºC dan 61,59%. Berdasarkan penelitian(Ashwini & Shukla, 2022) mengatakan bahwa total siklus hidup dari M. sexmaculatus yang memangsa A. craccivora adalah 32,4 hari pada suhu dan kelembaban 27,18 ºC dan 49,80%. Hal tersebut berbeda karena siklus hidup M. sexmaculatus ditentukan dari faktor lingkungan dan makanan yang dikonsumsi. Menurut (Nyaanga et al., 2012) faktor-faktor, seperti kualitas mangsa dan kondisi lingkungan memiliki pengaruh terhadap aspek biologis kumbang Coccinellid. Semakin tinggi suhu lingkungan maka semakin mempercepat perkembangan kumbang M. sexmaculatus dan semakin rendah suhu lingkungan maka semakin memperlambat perkembangan. Hal tersebut didukung oleh penelitian (Mishra et al., 2021) yang mengatakan bahwa durasi masa hidup selama musim dingin pada M. sexmaculatus lebih lama dan pada musim panas masa hidupnya lebih pendek. Suhu optimum bagi perkembangan Coccinellidae predator, yaitu 25−30 ºC (Dixon, 2000), sedangkan menurut (Iftikhar et al., 2018) M. sexmaculatus sendiri yang memangsa Phenacoccus solenopsis Tinsley pada suhu 24 ºC dan kelembaban 60−70% tingkat kelangsungan hidup dan fekunditas (kemampuan bertelur) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan suhu yang lebih tinggi, seperti 32 ºC dan kelembaban 16−50%. Selain itu juga, siklus hidup pada suhu 24 ºC lebih lama, yaitu 34,87 hari, sedangkan pada suhu 32 ºC selama 21,76 hari. Tabel 1 (Table 1) memperlihatkan perkembangan M. sexmaculatus pada stadia telur-pupa dengan mangsa A. craccivora selama 12,36 hari, tidak jauh berbeda pada penelitian (Alqueza et al., 2024) M. sexmaculatus yang memangsa M. persicae selama 12,21 hari.
Gambar 2 (Figure 2).Siklus hidup Menochilus sexmaculatus.(Life cycle Menochilus sexmaculatus.)
| Masa perkembangan ( Development period ) |
Periode (hari) (Period (days)) |
|||
|---|---|---|---|---|
Min |
Maks |
n |
Rata-rata ± SB ( Mean ± SD ) |
|
| Telur ( Egg ) | 2 |
3 |
100 |
2,35 ± 0,47 |
| Larva instar I ( First instar larvae ) | 1 |
3 |
53 |
2,13 ± 0,80 |
| Larva instar II ( Second instar larvae ) | 1 |
4 |
42 |
1,47 ± 0,70 |
| Larva instar III ( Third instar larvae ) | 1 |
4 |
36 |
1,61 ± 0,64 |
| Larva instar IV ( Fourth instar larvae ) | 1 |
3 |
34 |
2,33 ± 0,63 |
| Total hidup larva ( Total larvae period ) | 5 |
11 | 34 |
7,55 ± 0,40 |
| Pupa (Pupae) | 1 |
3 |
34 |
2,45 ± 0,56 |
| Imago jantan ( Adult male ) | 10 |
13 |
13 |
11,84 ± 1,06 |
| Imago betina ( Adult female ) | 11 |
14 |
19 |
12,47 ± 1,12 |
| Lama hidup ( Length of life ) | ||||
| Pra-oviposisi ( Pre-oviposition ) | 1 |
6 |
17 |
2,82 ± 1,01 |
| Oviposisi ( Oviposition ) | 1 |
9 |
17 |
4,24 ± 1,86 |
| Pasca-oviposisi ( Post-oviposition ) | 2 |
7 |
17 |
4,29 ± 1,26 |
| Imago jantan ( Adult male ) | 5 |
17 |
13 |
10,50 ± 3,61 |
| Imago betina ( Adult female ) | 1 |
16 |
19 |
11,21 ± 3,95 |
Stadia |
Panjang (mm) Length (mm) |
Lebar (mm) Width (mm) |
||||
|---|---|---|---|---|---|---|
Min |
Maks |
Rata-rata ± SB (Mean ± SD) |
Min |
Maks |
Rata-rata ± SB (Mean ± SD) |
|
| Telur (Egg) | 1,21 |
1,75 |
1,50 ± 0,17 |
0,68 |
0,87 |
0,74 ± 0,05 |
|
Larva instar I (First instar larvae) |
1,87 |
2,97 |
2,21 ± 0,31 |
0,72 |
0,94 |
0,79 ± 0,06 |
|
Larva instar II (Second instar larvae) |
3,72 |
6,23 |
4,92 ± 0,79 |
1,01 |
1,42 |
1,18 ± 0,13 |
|
Larva instar III (Third instar larvae) |
2,29 |
11,02 |
6,99 ± 3,20 |
1,29 |
8,76 |
2,86 ± 2,19 |
|
Larva instar IV (Fourth instar larvae) |
11,29 |
14,19 |
12,84 ± 0,86 | 3,10 |
4,34 |
3,72 ± 0,54 |
|
Pupa (Pupae) |
5,70 |
8,80 |
7,24 ± 1,06 |
3,78 |
5,93 |
4,92 ± 0,76 |
|
Imago jantan (Adult male) |
6,67 |
8,66 |
7,32 ± 0,66 |
5,43 |
6,83 |
5,94 ± 0,46 |
|
Imago betina (Adult female) |
7,69 |
9,18 |
8,63 ± 0,43 |
6,23 |
7,77 |
6,98 ± 0,50 |
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan imago yang baru keluar dari pupa memiliki tubuh yang sangat lunak dan seluruh elitra berwarna orange tidak berpola, serta kepalanya yang berwarna hitam dengan sedikit berwarna cokelat muda. Setelah keluar dari bungkus pupa, imago belum aktif melakukan pergerakan dan masih berada disekitar sisa pupa. Warna elitra imago akan berubah ketika telah satu hari keluar dari pupa. Elitra imago akan berubah menjadi warna merah atau cokelat dengan garis hitam ditengah kearah bagian posterior, dan terdapat 2 pasang pita hitam (satu pasang pita terpisah dan satu pasang pita menyatu), serta 1 pasang bintik hitam, sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh (Yudiawati & Pertiwi, 2020). Imago memiliki antena tipe klavat yang terdiri atas bagian scape, pedicel, dan 9 segmen flagel (Pervez & Adhikari, 2021). Pada imago jantan memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan imago betina, yaitu masing- masing 7,32 × 5,94 mm dan 8,63 × 6,98 mm (Tabel 3 (Table 3)). Sementara pada penelitian(Priyadarshani et al., 2016) ukuran betina dan jantan, yaitu masing-masing 6,2 × 4,5 mm dan 4,3 × 3,2 mm dengan total masa hidup betina dan jantan, yaitu 47,3 dan 38 hari. Individu yang berukuran lebih besar dalam suatu spesies dapat berkembang lebih cepat dibandingkan dengan yang lebih kecil (Dixon, 2000). Berdasarkan R(Routray et al., 2016) kumbang jantan berukuran lebih kecil, berbentuk lonjong dan lebih lancip dibagian dorsal, sedangkan pada kumbang betina berukuran relatif lebih besar, lonjong, dan lebih cembung pada bagian dorsal. Imago jantan dan betina yang digabungkan pada kurungan mika akan menyesuaikan diri terlebih dahulu, dengan berjalan atau terbang disekitar tanaman kacang panjang dan menempel pada dinding mika. Pada saat imago jantan dan betina bertemu, imago jantan yang ukurannya lebih kecil akan menaiki bagian dorsal betina dan tungkainya mencengkram elitra imago betina untuk melakukan kopulasi. Imago jantan yang berada di atas tubuh betina akan tetap berada disana dan biasanya betina sambil mencari mangsa ataupun memakan mangsa. Ketika kopulasi ini berlangsung bagian ujung abdomen jantan akan ditempelkan pada ujung abdomen betina sehingga sperma dapat masuk dan disimpan di dalam spermateka betina. (Obata, 1987) mengatakan bahwa terdapat lima langkah perilaku kopulasi pada Harmonia axyridis (Pallas), yaitu mendekati, mengamati (berhenti sejenak pada jarak 0,5 cm dari betina), memeriksa (menyentuh betina dengan antena atau tungkai depan), menaiki, dan upaya untuk berkopulasi dengan cara membengkokkan ujung abdomen ke arah bawah.
Kurva peluang hidup (lx) M. sexmaculatus pada A. craccivora termasuk kedalam tipe III, hasil yang sama juga didapatkan dari penelitian (Efendi, 2017) pada mangsa A. gossyipii. Pada tipe III, mortalitas atau tingkat kematian diawal perkembangan tinggi, yang disebabkan pada stadia telur M. sexmaculatus persentase keberhasilan menetasnya kecil, yaitu hanya 53% dari 100 butir telur. Pada Gambar 2 (Figure 2) (kurva peluang hidup) memperlihatkan telur berhasil menetas di hari ke-3 sebanyak 42 butir dan di hari ke-4 sebanyak 11 butir. Telur yang tidak menetas dapat dipastikan dengan masa inkubasi yang lebih dari satu minggu, telur ini berwarna kuning dan cokelat kehitaman. Telur yang berwarna kuning setelah dilakukan pembedahan, hanya berisi cairan berwarna kuning. Telur yang berisi cairan tersebut disebabkan oleh kurangnya sperma jantan untuk membuahi telur. Menurut(Sudarjat et al., 2020), telur M. sexmaculatus yang tidak menetas diduga karena kegagalan atau sedikitnya jumlah sperma jantan membuahi telur, walaupun sebelumnya telah berkopulasi. Sementara telur yang berwarna cokelat kehitaman setelah dilakukan pembedahan, telur berisi calon larva, dengan perkembangan morfologi tubuhnya yang lengkap, seperti kepala dengan alat mulut, toraks dengan tiga pasang tungkai, dan abdomen. Pada kurva fekunditas (mx) di umur 1−11 hari predator masih mengalami perkembangan dari stadia telur hingga imago terbentuk. Keperidian imago betina dapat dilihat dengan cara menghitung jumlah telur yang dihasilkan setiap harinya. Ketika di hari ke-13 imago jantan dan betina melakukan kopulasi, kemudian kurva menunjukkan peletakan telur pertama, yaitu di umur 16 hari, lalu rataan jumlah telur tertinggi di umur 19 hari, dan peletakan telur berakhir di umur 26 hari.
Nilai GRR yang didapatkan dari penelitian ini, yaitu sebesar 128,85 ± 3,02 individu/generasi, artinya keturunan betina yang dapat dihasilkan dalam satu siklus hidup, yaitu 128,85 individu/ generasi. Sementara nilai R 0 , yaitu 35,72 ± 1,10 individu/betina/generasi. Perbedaan dari R 0 dan GRR, yaitu jika R 0 merupakan jumlah keturunan betina yang dihasilkan oleh induk betina dengan mempertimbangkan mortalitas atau peluang hidup, sedangkan GRR merupakan jumlah keturunan betina yang dihasilkan oleh induk betina tanpa mempertimbangkan mortalitas atau peluang hidup (Susanty et al., 2014). Nilai GRR dan R 0 yang tinggi menandakan bahwa kutudaun A. craccivora merupakan makanan yang sesuai bagi laju reproduksi M. sexmaculatus. Laju pertambahan intrinsik (r) dengan nilai 0,20 ± 0,002 individu/ betina/hari, menunjukkan adanya peningkatan populasi dalam satu hari. Berbeda dengan hasil penelitian(Zhao et al., 2015) M. sexmaculatus yang dipelihara pada mangsa M. persicae dengan nilai r, yaitu 0,16 individu/betina/hari. Nilai laju pertambahan intrinsik yang lebih tinggi pada mangsa A. craccivora dibandingkan dengan mangsa M. persicae dapat memperlihatkan bahwa M. sexmaculatus lebih berpotensi sebagai agens pengendali pada hama A. craccivora. Nilai laju pertambahan intrinsik ini dapat memperkirakan laju peningkatan populasi suatu predator di alam. Berdasarkan penelitian(Cho et al., 2018)laju pertambahan intrinsik kutudaun A. craccivora itu sendiri yang dipelihara pada inang tanaman kacang panjang, yaitu 0,34 individu/betina/ hari, dengan siklus hidup rata-rata 8,42 hari. Hal tersebut mengindikasikan bahwa dengan nilai r yang dimiliki oleh M. sexmaculatus, tingkat populasi hama A. craccivora dapat diimbangi sehingga mampu mengurangi populasi hama tersebut pada tanaman kacang panjang. Berbeda dengan kumbang predator lain, pada penelitian (Costa et al., 2020) laju pertambahan intrinsik dari Stethorus tridens Gordon yang memangsa tungau Tetranychus bastosi Tuttle, Baker & Sales dengan nilai 0,23 individu/betina/hari.
Laju pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa predator spesies S. tridens pada T. bastosi memiliki pertambahan populasi yang lebih banyak dibandingkan dengan M. sexmaculatus pada A. craccivora. Rataan masa generasi (T) M. sexmaculatus, yaitu 18,16 ± 0,04 hari, nilai tersebut menunjukkan waktu yang dibutuhkan bagi M. sexmaculatus untuk hidup dalam satu generasinya. Berdasarkan nilai tersebut, diperkirakan bahwa dalam satu tahunnya M. sexmaculatus mampu menghasilkan sebanyak 20 generasi. Menurut(Fitriyana et al., 2015) nilai T yang semakin kecil memperlihatkan bahwa semakin cepat suatu organisme untuk berkembang biak. Penelitian yang dilakukan oleh (Singh et al., 2022) menunjukkan bahwa rataan masa generasi M. sexmaculatus 26,81 hari pada mangsa A. gossypii dengan suhu pemeliharaan 25 ºC. Nilai DT (waktu populasi berlipat ganda) merupakan waktu yang dibutuhkan M. sexmaculatus untuk menambah populasi dua kali lipat dari jumlah sebelumnya, pada penelitian ini waktu yang dibutuhkan hanya 3,52 hari. Semakin rendah waktu berlipat ganda maka akan semakin cepat populasi M. sexmaculatus untuk bertambah dan berkembang.
Kumbang M. sexmaculatus pada mangsa A. craccivora yang dipelihara di rumah kaca dengan suhu dan kelembaban rata-rata 33,65 ºC dan 61,59% memiliki kemampuan atau karakteristik yang mendukung perannya dalam menekan populasi hama. Kumbang ini mampu berkembang dengan cepat dan menghasilkan keturunan yang cukup banyak. Selain itu juga memiliki tingkat adaptif yang tinggi terhadap lingkungan dan sumber daya yang berada disekitarnya sehingga berpotensi sebagai agens pengendali hayati.
KESIMPULAN
Kumbang M. sexmaculatus memiliki ukuran tubuh yang bervariasi, rata-rata imago jantan berukuran 7,32 × 5,94 mm dan betina 8,63 × 6,98 mm. M. sexmaculatus berpotensi sebagai agen pengendali biologis bagi hama A. craccivora. Potensi ini didukung oleh kemampuan reproduksi yang tinggi (R 0 35,72 ± 1,10 individu/betina/ generasi dan GRR 128,85 ± 3,02 individu/ generasi), laju pertambahan populasi yang cepat (r 0,20 ± 0,002 individu/betina/hari), T yaitu selama 18,16 ± 0,04 hari. Kumbang ini juga memiliki peluang hidup tipe III, kemampuan bertelur pada umur 16 hari, dan mampu menekan populasi hama secara efektif, khususnya pada suhu rata-rata 33,65 ºC dan kelembaban 61,59%.
References
- Alqueza M.T.A., Casas G.G., Rondina M.E., Catubis. Comparative growth and development of zigzag ladybird beetle (Cheilomenes sexmaculata) fed with black bean aphids (Aphis fabae) and green peach aphids (Myzus persicae. Thai Journal of Agricultural Science. 2024; 57:1-10.
- Apriliyanto E., Setiawan B.H.. Perkembangan hama dan musuh alami pada tumpangsari tanaman kacang panjang dan pakcoy. Agritech. 2014; 16:98-109. DOI
- Ashwini M., Shukla A.. Biology of zigzag lady-bird beetle, Cheilomenes sexmaculata (Fabricius. Journal of Pharmaceutical Innovation. 2022; 11:813-818.
- Birch L.C.. The intrinsic rate of natural increase of an insect population. Journal of Animal Ecology. 1948; 17:15-26. DOI
- Cho Kim, J Choi, B Seo, B Kim, K Woo, JC Park, C Ahn, J.J.. Thermal effects on the development, fecundity and life table parameters of Aphis craccivora Koch. Korean Journal of Applied Entomology. 2018; 57:261-269. DOI
- Costa J.F., Matos C.H.C., Oliveira C.R.F.D., Santos G.A.D.. Biology and life table of Stethorus tridens fed Tetranychus bastosi on physic nut. Bulletin of Insectology. 2020; 73:111-116.
- Dixon A.F.G.. Cambridge University Press: New York; 2000.
- Efendi A.. Uji Predasi Kumbang Predator Menochilus sexmaculatus Fabr. terhadap Hama Kutu daun Aphis craccivora Koch. 2017.
- Efendi S., Yaherwandi Nelly, N.. pada Ekosistem Pertanaman Cabai di Sumatera Barat. Thesis. Universitas Andalas: Universitas Andalas; 2013.
- Efendi S., Yaherwandi Nelly, N.. Biologi dan statistik demografi Menochilus sexmaculatus Fabricius (Coleoptera: Coccinellidae) predator Aphis gossypii Glover (Homoptera: Aphididae. Jurnal Floratek. 2017; 12:75-89. DOI
- Fitriyana I., Buchori D., Nurmansyah A., Ubaidillah R., Rizali A.. Statistik demografi Diaphania indica Saunders (Lepidoptera: Crambidae. Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika. 2015; 15:105-113. DOI
- Halawa R., Sitorus B., Sumbayak R.J.. Pengaruh pemberian pupuk NPK 16:16:16 dan pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan produksi kacang panjang (Vigna sinensis L. Jurnal Agrotekda. 2021; 5:121-132. DOI
- Iftikhar A., Aziz M.A., Naeem M., Ahmad M., Mukhtar. Effect of temperature on demography and predation rate of Menochilus sexmaculatus (Coleoptera: Coccinellidae) reared on Phenacoccus solenopsis (Hemiptera: Pseudococcidae. Pakistan Journal of Zoology. 2018; 50:1885-1893. DOI
- Mishra I., Roy S., Mishra B.K.. Comparative biology of three Coccinellid predators on cowpea aphid Aphis craccivora. Indian Journal of Entomology. 2021; 84:541-545. DOI
- Nyaanga J.G., Kamau A.W., Pathak R.S., Tuey R.K.. The effect of different cereal Aphid species on the performance of two Coccinellid predators. Journal of Entomology. 2012; 9:41-49. DOI
- Obata S.. Mating behavior and sperm transfer in the ladybird beetle, Harmonia axyridis Pallas (Coleoptera: Coccinellidae. Applied Entomoloy and Zoology. 1987; 22:434-442. DOI
- Pervez A., Adhikari A.. Functional morphology and characters of five abundant species of ladybirds (Coleoptera: Coccinellidae. Journal of Mountain Research. 2021; 16:135-144. DOI
- Priyadarshani T.D.C., Hemachandra K.S., Sirisena U.G.A., Wijayagunasekara H.N.P.. Developmental biology and feeding efficiency of Menochilus sexmaculatus. 2016. DOI
- Routray S., Prasad K.V.H., Dey D.. Effect of Aphis craccivora Koch. reared on different host plants on the biology of Cheilomenes sexmaculata (Fabricius. Journal Biological Control. 2016; 30:19-24. DOI
- Safeer H.M., Ishfaq A., Mukhtar A., Batool M., Zaka S.M., Tajdar A., Saood A., Shah Z.A., Zaib M.S., Abbas K.. Chemotaxis response andage-stage, two-sex life table of the Cheilomenes sexmaculata (Fabricius) (Coccinellidae: Coleoptera) against different aphid species. PloS One. 2024; 19:1-16. DOI
- Singh N.A., Dabhi M.R., Mohapatra A.R.. Life table of ladybird beetle, Cheilomenes sexmaculata (Fabricius) on cotton Aphid. The Pharma Innovation Journal. 2022; 11:2872-2875.
- Sudarjat Rosmiyati A., T Sunarto, W Kurniawan. Pengaruh komposisi pakan buatan terhadap perkembangbiakan Menochilus sexmaculatus Fabricius (Coleoptera: Coccinellidae. Jurnal Agrikultura. 2020; 31:116-125. DOI
- Susanty S.C., Haneda N.F., Mansur I.. Neraca kehidupan Arthroschista hilaralis pada tanaman jabon (Anthocephalus cadamba Miq. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. 2014; 12:99-104. DOI
- Venkanna Y., Suroshe S.S., Chander S., Kumari S.. Feeding potential and foraging behaviour of Cheilomenes sexmaculata (F.) on the cotton aphid, Aphis gossypii glover. International Journal of Tropical Insect Science. 2021; 41:2431-2442. DOI
- Yudiawati E., Pertiwi S.. Keanekaragaman jenis Coccinellidae pada areal persawahan tanaman padi di Kecamatan Tabir dan di Kecamatan Pangkalan Jambu Kabupaten Merangin. Jurnal Sains Agro. 2020; 5:1-12. DOI
- Yu L.Y., Chen Z.Z., Zheng F.Q., Shi A.J., Guo T.T., Yeh B.H., Chi H., Xu Y.Y.. Demographic analysis, a comparison of the jackknife and bootstrap methods, and predation projection: a case study of Chrysopa pallens (Neuroptera: Chrysopidae. Journal of Economic Entomology. 2013; 106:1-9. DOI
- Zhao J., Li S., Gao X.W., Zhang F., Wang S.. Comparison of life tables of Cheilomenes sexmaculata (Coleoptera: Coccinellidae) under laboratory and greenhouse conditions. Journal of Economic Entomology. 2015; 108:1700-1707. DOI
- Ziyadah K.. Perkembangan Populasi Kutudaun Aphis craccivora Koch (Hemiptera: Aphididae) dan Predatornya pada Pertanaman Kacang Panjang. 2016.
Alqueza MTA, Casas GG, Rondina ME, Catubis. 2024. Comparative growth and development of zigzag ladybird beetle (Cheilomenes sexmaculata) fed with black bean aphids (Aphis fabae) and green peach aphids (Myzus persicae). Thai Journal of Agricultural Science. 57:1–10.
Apriliyanto E, Setiawan BH. 2014. Perkembangan hama dan musuh alami pada tumpangsari tanaman kacang panjang dan pakcoy. Agritech. 16:98–109. DOI: 10.30595/agritech.v16i2.1023.
Ashwini M, Shukla A. 2022. Biology of zigzag lady-bird beetle, Cheilomenes sexmaculata (Fabricius) (Coccinellidae: Coleoptera) on cowpea aphis Aphis craccivora (Koch) (Aphididae: Hemiptera). Journal of Pharmaceutical Innovation. 11:813–818.
Birch LC. 1948. The intrinsic rate of natural increase of an insect population. Journal of Animal Ecology. 17:15–26. DOI: https://doi.org/10.2307/1605.
Cho JR, Kim J, Choi B, Seo B, Kim K, Woo JC, Park C, Ahn JJ. 2018. Thermal effects on the development, fecundity and life table parameters of Aphis craccivora Koch (Hemiptera: Aphididae) on Yardlong Bean (Vigna unguiculata subsp. sesquipedalis (L.)). Korean Journal of Applied Entomology. 57:261–269. DOI: https://doi.org/10.5656/KSAE.2018.08.0.025.
Costa JF, Matos CHC, Oliveira CRFD, Santos GAD. 2020. Biology and life table of Stethorus tridens fed Tetranychus bastosi on physic nut. Bulletin of Insectology. 73:111–116.
Dixon AFG. 2000. Insect Prey Predator Dynamics Ladybird Beetles and Biological Control. New York: Cambridge University Press.
Efendi A. 2017. Uji Predasi Kumbang Predator Menochilus sexmaculatus Fabr. terhadap Hama Kutu daun Aphis craccivora Koch. Skripsi. Jember: Universitas Jember.
Efendi S, Yaherwandi, Nelly N. 2013. Bioekologi Coccinellidae Predator Sebagai Agens Pengendali Hayati Aphididae spp. pada Ekosistem Pertanaman Cabai di Sumatera Barat. Thesis. Padang: Universitas Andalas.
Efendi S, Yaherwandi, Nelly N. 2017. Biologi dan statistik demografi Menochilus sexmaculatus Fabricius (Coleoptera: Coccinellidae) predator Aphis gossypii Glover (Homoptera: Aphididae). Jurnal Floratek. 12:75–89. DOI: https://doi.org/10.22146/jpti.28409.
Fitriyana I, Buchori D, Nurmansyah A, Ubaidillah R, Rizali A. 2015. Statistik demografi Diaphania indica Saunders (Lepidoptera: Crambidae). Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika. 15:105–113. DOI: https://doi.org/10.23960/j.hptt.215105-113.
Halawa R, Sitorus B, Sumbayak RJ. 2021. Pengaruh pemberian pupuk NPK 16:16:16 dan pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan produksi kacang panjang (Vigna sinensis L.). Jurnal Agrotekda. 5:121–132. DOI: https://doi.org/10.30737/agrinika.v5i2.1947.
Iftikhar A, Aziz MA, Naeem M, Ahmad M, Mukhtar. 2018. Effect of temperature on demography and predation rate of Menochilus sexmaculatus (Coleoptera: Coccinellidae) reared on Phenacoccus solenopsis (Hemiptera: Pseudococcidae). Pakistan Journal of Zoology. 50:1885–1893. DOI: https://doi.org/10.17582/journal.pjz/2018.50.5.1885.1893.
Mishra I, Roy S, Mishra BK. 2021. Comparative biology of three Coccinellid predators on cowpea aphid Aphis craccivora. Indian Journal of Entomology. 84:541–545. DOI: https://doi.org/10.55446/IJE.2021.35.
Nyaanga JG, Kamau AW, Pathak RS, Tuey RK. 2012. The effect of different cereal Aphid species on the performance of two Coccinellid predators. Journal of Entomology. 9:41–49. DOI: https://doi.org/10.3923/je.2012.41.49.
Obata S. 1987. Mating behavior and sperm transfer in the ladybird beetle, Harmonia axyridis Pallas (Coleoptera: Coccinellidae). Applied Entomoloy and Zoology. 22:434–442. DOI: https://doi.org/10.1303/aez.22.434.
Pervez A, Adhikari A. 2021. Functional morphology and characters of five abundant species of ladybirds (Coleoptera: Coccinellidae). Journal of Mountain Research. 16:135–144. DOI: https://doi.org/10.51220/jmr.v16i3.14.
Priyadarshani TDC, Hemachandra KS, Sirisena UGA, Wijayagunasekara HNP. 2016. Developmental biology and feeding efficiency of Menochilus sexmaculatus (Coleoptera: Coccinellidae) (Fabricius) reared on Aphis craccivora (Hemiptera: Aphididae) (Koch). Tropical Agricultural Research. 27:115–122. DOI: https://doi.org/10.4038/tar.v27i2.8160.
Routray S, Prasad KVH, Dey D. 2016. Effect of Aphis craccivora Koch. reared on different host plants on the biology of Cheilomenes sexmaculata (Fabricius). Journal Biological Control. 30:19–24. DOI: https://doi.org/10.18311/jbc/30/1/6454.
Safeer HM, Ishfaq A, Mukhtar A, Batool M, Zaka SM, Tajdar A, Saood A, Shah ZA, Zaib MS, Abbas K, et al. 2024. Chemotaxis response andage-stage, two-sex life table of the Cheilomenes sexmaculata (Fabricius) (Coccinellidae: Coleoptera) against different aphid species. PloS One. 19:1–16. DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0289682.
Singh NA, Dabhi MR, Mohapatra AR. 2022. Life table of ladybird beetle, Cheilomenes sexmaculata (Fabricius) on cotton Aphid. The Pharma Innovation Journal. 11:2872–2875.
Sudarjat, Rosmiyati A, Sunarto T, Kurniawan W. 2020. Pengaruh komposisi pakan buatan terhadap perkembangbiakan Menochilus sexmaculatus Fabricius (Coleoptera: Coccinellidae). Jurnal Agrikultura. 31:116–125. DOI: https://doi.org/10.24198/agrikultura.v31i2.28816.
Susanty SC, Haneda NF, Mansur I. 2014. Neraca kehidupan Arthroschista hilaralis pada tanaman jabon (Anthocephalus cadamba Miq). Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. 12:99–104. DOI: https://doi.org/10.20886/jpht.2014.11.2.99-104.
Venkanna Y, Suroshe SS, Chander S, Kumari S. 2021. Feeding potential and foraging behaviour of Cheilomenes sexmaculata (F.) on the cotton aphid, Aphis gossypii glover. International Journal of Tropical Insect Science. 41:2431–2442. https://doi.org/10.1007/s42690-020-00420-4.
Yudiawati E, Pertiwi S. 2020. Keanekaragaman jenis Coccinellidae pada areal persawahan tanaman padi di Kecamatan Tabir dan di Kecamatan Pangkalan Jambu Kabupaten Merangin. Jurnal Sains Agro. 5:1–12. DOI: https://doi.org/10.36355/jsa.v5i2.467.
Yu LY, Chen ZZ, Zheng FQ, Shi AJ, Guo TT, Yeh BH, Chi H, Xu YY. 2013. Demographic analysis, a comparison of the jackknife and bootstrap methods, and predation projection: a case study of Chrysopa pallens (Neuroptera: Chrysopidae). Journal of Economic Entomology. 106:1–9. DOI: https://doi.org/10.1603/EC12200.
Zhao J, Li S, Gao XW, Zhang F, Wang S. 2015. Comparison of life tables of Cheilomenes sexmaculata (Coleoptera: Coccinellidae) under laboratory and greenhouse conditions. Journal of Economic Entomology. 108:1700–1707. DOI: https://doi.org/10.1093/jee/tov178.
Ziyadah K. 2016. Perkembangan Populasi Kutudaun Aphis craccivora Koch (Hemiptera: Aphididae) dan Predatornya pada Pertanaman Kacang Panjang. Thesis. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Copyright (c) 2024 Astrid Mayasari, I Wayan Winasa, Ali Nurmansyah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).









