Keanekaragaman beserta karakteristik habitat Famili Panorpidae (Ordo: Mecoptera) di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung
Diversity and habitat characteristic of Panorpidae family (Order: Mecoptera) in Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung
DOI:
https://doi.org/10.5994/jei.19.3.213Keywords:
abundance, city forest, population distribution, PanorpidaeAbstract
Mecoptera is a primitive and minor order of insects with nine families, including Panorpidae. Research on Panorpidae in Indonesia is lacking, especially regarding its habitat. Thus, the purpose of this study was to observe the diversity and habitat characteristics of Panorpidae. The study was conducted at Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung from March to April 2023. The survey method was conducted at plots in three area blocks: the utilization block, the protection block, and the collection block. Panorpidae were collected by hand and sweeping net and then identified based on morphological characteristics. Temperature, humidity, light intensity, and vegetation where Mecoptera are found are identified and recorded. This study collected one genus (Neopanorpa) and five species found in the protection block (there were five species) and the utilization block (there were three species) while none in the collection block. The Penorpidae population was higher at the Protection block than at the Utilization block. Generally, Panorpidae was found in broad-leaf vegetation such as Clidemia sp. and Datura sp., with a canopy that is not too dense. The level of diversity and evenness of both areas was medium. Humidity positively affects the diversity and abundance of Panorpidae, while temperature and light intensity have negative effects. This research shows that Panorpidae likes damp places protected by bush vegetation and under not too dense canopy.
Downloads
PENDAHULUAN
Mecoptera merupakan serangga primitif dan salah satu serangga minor yang memiliki 9 famili dengan 38 genus dan memiliki lebih dari 650 spesies (Tong et al., 2018) serta tersebar luas di semua wilayah geografis, kecuali Antartika. Secara klasifikasi, kesembilan famili dari Mecoptera adalah Apteropanorpidae, Meropidae, Eomeropidae, Choristidae, Nannochoristidae, Boreidae, Bittacidae, Panorpidae, dan Panorpodidae (Wang & Hua, 2022).
Panorpidae merupakan salah satu famili dari Mecoptera yang terdapat di Indonesia. Habitat Panorpidae adalah hutan yang lembap(Hu et al., 2019)(Tan & Hua, 2009) dengan ketinggian sekitar 0–3.000 m dpl(Wang & Hua, 2020)(Wang & Hua, 2022) Panorpidae biasa ditemukan di tumbuhan herba berdaun lebar yang dinaungi oleh pepohonan. Beberapa spesies dapat ditemukan di vegetasi perbatasan hutan, namun ada juga yang ditemukan di dalam hutan yang lebih lembap(Byers, 2009) Genus Leptopanorpa dan Neopanorpa dari Famili Panorpidae merupakan Mecoptera endemik Indonesia yang tersebar di pulau Jawa dan Sumatera (Bicha, 2018)(Hu & Hua, 2020)(Miao et al., 2018)(Wang & Hua, 2020)(Penny & Byers, 1979)
Panorpidae memiliki peran yang sangat beragam di ekosistem, di antaranya sebagai detritivor (Ortloff et al., 2016) polinator (Bicha, 2018)(Mishin, 2022) sebagai serangga bioindikator perubahan lingkungan karena kepekaannya terhadap perubahan iklim (Wang & Hua, 2022) Walaupun memiliki fungsi ekologis penting (Su et al., 2023) penelitian tentang Mecoptera, terutama Panorpidae di Indonesia masih jarang dilakukan, terutama serangga ini sangat penting bagi indikator ekologi, serta belum ada penelitian tentang keberadaan Panorpidae di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura Djuanda) Bandung Ir. H. Djuanda. Tahura Djuanda merupakan salah satu kawasan hutan sekunder yang berada di Kota Bandung, Jawa Barat, terdapat riparian ecosystem, ekosistem hutan alam, dan hutan tanaman, yaitu Pinus merkusii, dengan potensi keanekaragaman hayati yang melimpah, mulai dari flora endemik maupun invasif, dan fauna terutama serangga. Topografi kawasan ini juga didominasi oleh daerah yang curam dan terjal, serta jenis tanah andosol dan latosol yang cukup peka terhadap erosi (Rahmafitria & Hindayani, 2022) Berdasarkan tipe vegetasi dan kondisi lingkungan, Tahura Djuanda berpotensi menjadi habitat dari Panorpidae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keane- karagaman jenis Panorpidae beserta karakteristik habitatnya di kawasan Tahura Djuanda.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Maret–April 2023 di Tahura Djuanda Bandung yang secara geografis berada pada 107°30’ BT dan 6°52’ LS, menggunakan metode survei pada tiga blok kawasan, yaitu blok pemanfaatan, blok perlindungan, dan blok koleksi. Batasan wilayah pada blok pemanfaatan adalah 17 ha, blok perlindungan 31 ha, dan blok koleksi 4 ha Gambar 1. Batasan wilayah tersebut merupakan konversi 10% dari total luasan wilayah pada masing-masing blok (Utami & Putra, 2020)
Sampling dan identifikasi Mecoptera
Sampling dilakukan dengan metode survei pada setiap blok pengamatan. Setiap blok pengamatan ditentukan tiga plot dan setiap plot terdapat 6 subplot. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan hand collecting dan sweeping net (Wang & Hua, 2022) yang dilakukan pada pagi hingga sore hari, yaitu pada pukul 09.00–16.00 WIB. Pada waktu tersebut Panorpidae sedang aktif mencari makan, mencari pasangan, dan beterbangan di antara tumbuhan (Su et al., 2023) Spesimen Panorpidae diambil satu individu dari setiap spesies yang ditemukan untuk diamati karakteristik morfologinya. Pengamatan awal dapat dilihat dari corak sayap pada Panorpidae, tempat ditemukan, dan bentuk genitalnya. Spesimen yang ditemukan kemudian dimasukan ke dalam gelas plastik (botol spesimen) yang sudah berisi kapas dengan etanol 70% dan diberi label nama spesimen, habitat, dan tanggal pengambilan spesimen untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut. Parameter lingkungan, seperti suhu udara, intensitas cahaya, kelembapan udara, kecepatan angin. Vegetasi yang ditemukan Panorpidae diukur ketinggiannya dengan menggunakan meteran, serta diidentifikasi dengan cara melakukan verifikasi kepada tenaga ahli.
Identifikasi jenis Mecoptera dilakukan dengan mengamati karakteristik morfologi, seperti bentuk dan warna rostrum, warna pronotum, warna mesodan metanotum, corak pada sayap, warna kaki, warna tergum dan sterna, warna pleura, dan bentuk hingga warna genital(Wang & Hua, 2020)(Wang & Hua, 2022) .
Pengamatan karakteristik habitat
Setiap blok dilakukan pengamatan kondisi habitatnya, antara lain jenis vegetasi dan kerapatannya, keberadaan air, serta tutupan tajuk. Selain itu, juga dicatat faktor lingkungannya. yaitu suhu dan kelembapan udara, serta intensitas cahaya.
Analisis data
Analisis data meliputi keanekaragaman jenis dan kemerataan jenis. Keanekaragaman jenis Mecoptera dihitung berdasarkan rumus indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiener (H’) (Gotelli & Colwell, 2011)
\documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle H' = -\sum p_i \ln p_i \end{document}
H’: indeks keanekaragaman Shannon-Weiner; pi: jumlah individu suatu spesies; ni: jumlah individu jenis ke-I; N: total individu.
Hasil yang diperoleh kemudian dikategorikan, apabila H` ≤ 1 = keanekaragaman rendah; 1 <H’ ≤ 3 = keanekaragaman sedang; dan H ’ ≥ 3 = keanekaragaman tinggi.
Gambar 1.Blok pengamatan pada kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.(Observation block in the Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda area.)
Indeks kemerataan (Evenness index) (Wahyuningsih et al., 2019) dihitung menggunakan rumus:
\documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle E = \frac{H'}{\ln S} \end{document}
E: indeks kemerataan ; H’: indeks keanekaragaman;
S: jumlah spesies.
Hasil yang diperoleh kemudian dikategorikan, apabila E < 0,31 = tingkat kemerataan rendah; 0,31 > E > 1 = tingkat kemerataan sedang; dan E > 1 = tingkat kemerataan tinggi.
Analisis multivariat dengan pricipal component analysis (PCA) digunakan untuk mengintepretasikan pola penyebaran dari serangga (tingkat spesies) terhadap faktor lingkungan yang ada pada blok pengamatan. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan program JMP ver. 17.0.0.
HASIL
Karakteristik habitat
Karakteristik pada blok pemanfaatan dan blok perlindungan secara umum memiliki karakteristik habitat yang mirip. Kedua blok pengamatan ini memiliki karakteristik habitat yang hampir sama, yaitu memiliki vegetasi berdaun lebar dengan tutupan tajuk yang cukup rapat, kemudian terdapat aliran airTabel 1.. dengan rata-rata suhu udara berkisar 25,8–26,1 °C, kelembapan udara berkisar 69,4–73,1%, dan intensitas cahaya 1.782–2.625 lux Tabel 2.. Sementara, pada blok koleksi memiliki karakteristik habitat dengan lahan yang lebih terbuka, tidak terdapat aliran air sehingga kawasannya kering, serta tidak terlalu banyak terdapat vegetasi semak dan herba. Akan tetapi, hasil pengamatan faktor lingkungan ternyata tidak terlalu berbeda dengan blok pemanfaatan, yang memiliki suhu udara 26,2 °C, kelembapan udara 64,66%, dan intensitas cahaya 1544 lux.
Blok (Block) |
Luas (Area) | Deskripsi habitat (Habitat description) |
|---|---|---|
|
Blok pemanfaatan (Utilization block) |
175,308 ha |
Terdapat vegetasi berdaun lebar, di antaranya Calliandra sp., Clidemia sp., dan Datura sp. dengan tutupan tajuk yang agak tertutup. Terdapat aliran air yang tidak terlalu deras dan cenderung tidak mengalir. Memiliki vegetasi semak yang cukup banyak. (Broadleaf vegetation has a relatively closed canopy cover, including Calliandra sp., Clidemia sp., and Datura sp. There is water flow that is light enough and tends not to flow. It has quite a lot of shrub vegetation). |
|
Blok perlindungan (Protection block) |
308,614 ha |
Terdapat vegetasi berdaun lebar, di antaranya Calliandra sp., Clidemia sp., dan Datura sp. dengan tutupan tajuk yang lebih tertutup. Terdapat aliran air yang tidak terlalu deras dan cenderung tidak mengalir. Memiliki vegetasi semak yang sangat banyak. (Broadleaf vegetation, including Calliandra sp., Clidemia sp., and Datura sp., has a more closed canopy cover. There is water flow that is light enough and tends not to flow. Has a lot of shrub vegetation). |
|
Blok koleksi (Collection block) |
44,471 ha |
Lahan terbuka dan tidak terdapat aliran air. Selain itu, kawasan terlalu kering dan vegetasi semak serta herba sangat sedikit. (The area is open, and there are no watercourses. In addition, the site is too dry, with very few shrubs and herbaceous vegetation). |
Blok (Block) |
Suhu udara (Temperature) (°C) |
Kelembapan udara (Humidity) (%) |
Intensitas cahaya (Light intencity) (lux) |
|---|---|---|---|
Blok pemanfaatan (Utilization block) |
26,1 |
69,40 |
1.782 |
Blok perlindungan (Protection block) |
25,8 |
73,10 |
2.625 |
Blok koleksi (Collection block) |
26,2 |
64,66 |
1.544 |
Keanekaragaman dan kelimpahan Ordo Mecoptera
Mecoptera hanya ditemukan pada blok pemanfaatan dan blok perlindungan. Di sisi lain, blok koleksi merupakan area yang lebih terbuka dan kering, dengan vegetasi semak dan herba yang lebih sedikit, walaupun suhu dan kelembapan udara serta intensitas cahaya kurang lebih sama dengan blok lainnya.
Berdasarkan hasil identifikasi, seluruh Mecoptera yang ditemukan termasuk pada Famili Panorpidae dan Genus Neopanorpa. Jumlah individu dan jenis terbanyak ditemukan di blok perlindungan, yaitu sebanyak 32 individu dari lima jenis, yaitu Neopanorpa sp1, Neopanorpa sp2, Neopanorpa sp3, Neopanorpa sp4, dan Neopanorpa sp5Tabel 3.. Pada blok pemanfaatan ditemukan 22 individu dari 3 jenis, yaitu Neopanorpa sp1, Neopanorpa sp2, dan Neopanorpa sp3.
Komunitas Panorpidae pada blok perlindungan memiliki indeks keanekaragaman dan kemerataan Panorpidae lebih tinggi dibandingkan dengan blok pemanfaatan. Kedua blok tersebut memiliki keanekaragaman dan kemerataan Panorpidae yang sama, yaitu termasuk dalam kategori sedang Tabel 3..
Morfologi Neopanorpa sp.
Umumnya Neopanorpa memiliki organ notal di abdomen tergum 3 dan organ postnotal di abdomen tergum 4, sayap hialin yang berwarna kuning tua atau kuning pucat. Setiap spesies memiliki corak sayap yang berbeda dan beberapa tidak memiliki corak sayap. Genital Neopanorpa jantan umumnya berbentuk bulat, sedangkan pada betina lempeng subgenital berbentuk oval dengan emarginasi berbentuk V.
Neopanorpa sp1 Tabel 4.. memilliki rostrum yang panjang dan ramping berwarna cokelat tua, pronotum, meta-mesonotum berwarna hitam, sayap hialin berukuran 12 mm berwarna cokelat tua. Pita apikal tidak lengkap dengan akhir tanda sampai R5, pita pterostigmal tidak lengkap dan terhubung dengan cabang basal. Pterostigmal menghubungkan pita pterostigmal dengan pita apikal. Neopanorpa sp1 memiliki pleura dan kaki berwarna putih krem pada bagian fermur, dan berwarna kehitaman di bagian tibia dan tarsus. Spesies yang didapat adalah betina yang memiliki bentuk lempeng genital oval berwarna cokelat kemerahan dengan cerci berbetuk V.
Neopanorpa sp2 memilliki rostrum yang panjang dan ramping berwarna cokelat kehitaman, pronotum, meta-mesonotum berwarna hitam, sayap hialin berukuran 12–12,5 mm berwarna cokelat tua. Pita apikal banyak tereduksi sehingga tidak lengkap dengan akhir tanda sampai R4, pita pterostigmal tidak lengkap dan terhubung dengan cabang basal. Pterostigmal sedikit meman- jang menuju M4. Pterostigmal menghubungkan pita pterostigmal dengan pita apikal, dan tidak terdapat cabang apikal. Neopanorpa sp3 memilliki rostrum yang panjang dan ramping berwarna cokelat kehitaman, pronotum, meta-mesonotum
Famili (Family) |
Genus |
Spesies (Species) |
Jumlah individu (Number of individual) |
||
|---|---|---|---|---|---|
Blok pemanfaatan (Utilization block) |
Blok perlindungan (Protection block) |
Blok koleksi (Collection block) |
|||
Panorpidae |
Neopanorpa |
Neopanorpa sp1 |
12 |
15 |
- |
Neopanorpa sp2 |
6 |
8 |
- |
||
Neopanorpa sp3 |
4 |
7 |
- |
||
Neopanorpa sp4 |
- | 1 |
- |
||
Neopanorpa sp5 |
- | 1 |
- |
||
Jumlah individu (Number of individual) |
22 |
32 | - | ||
Jumlah spesies (Number of species) |
3 | 5 | - | ||
Indeks Shannon (Shannon index) (H’) |
1,52 |
2,51 | - | ||
Indeks kemerataan (Evenness index) |
0,91 |
0,88 | - | ||
berwarna hitam, sayap hialin berukuran 12 mm berwarna cokelat tua. Pita apikal tidak terlalu banyak tereduksi sehingga lebih nampak coraknya daripada Neopanorpa sp2 dan pita apikal berakhir di R4. Pita pterostigmal tidak lengkap dan terhubung dengan cabang basal. Pterostigmal sedikit memanjang menuju M4, namun lebih pendek daripada Neopanorpa sp2. Pterostigmal menghubungkan pita pterostigmal dengan pita apikal. Tidak terdapat cabang apikal, bintik marginal dan pita basal. Neopanorpa sp3. memiliki pleura dan kaki berwarna putih krem pada bagian fermur, dan berwarna kehitaman di bagian tibia dan tarsus. Genital pada jantan berbentuk bulat, A6–A9 berwarna cokelat oranye. Pada ujung genital A9, gonotilus berwana hitam. Genital pada betina memiliki bentuk lempeng genital oval berwarna cokelat pucat dengan cerci berbetuk V.
Neopanorpa sp4 memilliki rostrum yang panjang dan ramping berwarna cokelat kehitaman, pronotum, meta-mesonotum berwarna hitam, sayap hialin berukuran 11 mm berwarna cokelat tua. Tidak terdapat pita apikal. Pita pterostigmal tidak lengkap dan terhubung dengan cabang basal. Pterostigmal terhubung dengan pita pterostigmal. Tidak terdapat cabang apikal, bintik marginal dan pita basal. Neopanorpa sp4 memiliki pleura dan kaki berwarna putih krem pada bagian fermur, dan berwarna kehitaman di bagian tibia dan tarsus. Genital pada jantan berbentuk bulat, A7–A9 berwarna cokelat oranye, sedangkan A6 berwarna hitam. Pada ujung genital A9, gonotilus berwana hitam.
Neopanorpa sp5 memiliki pleura dan kaki berwarna putih krem kekuningan pada bagian fermur, dan berwarna kehitaman di bagian tibia dan tarsus. Spesies yang didapat adalah betina yang memiliki bentuk lempeng genital oval berwarna cokelat kemerahan dengan cerci berbetuk V. Neopanorpa sp5 memilliki sayap hialin berwarna cokelat tua. Pita apikal tidak lengap dengan akhir di R4. Pita pterostigmal tidak lengkap dan terhubung dengan cabang basal dan cabang apikal. Pterostigmal terhubung dengan pita pterostigmal dan pita apial. Terdapat bintik marginal dan pita basal terpisah menjadi 2 bintik di bagian posterior sayap.
Pengaruh faktor lingkungan terhadap sebaran Mecoptera
Pada penelitian ini, distribusi Neopanorpa dianalisis menggunakan analisis multivariat dengan principal component analysis (PCA) yang dapat dilihat pada Gambar 2.. Hasil analisis multivariat menggunakan PCA menunjukkan Neopanorpa sp1 cenderung dipengaruhi oleh kelembapan udara, dengan kelembapan udaranya cukup tinggi, yaitu pada daerah yang dekat dengan air serta vegetasi semak yang cukup berlimpah. Neopanorpa sp2 dan Neopanorpa sp3 cenderung dipengaruhi oleh suhu udara. Kedua spesies ini ditemukan pada habitat dengan suhu lebih tinggi dibandingkan dengan spesies lainnya, yaitu berkisar 25,1 °C sampai 28,6 °C. Di sisi lain, Neopanorpa sp4 dan Neopanorpa sp5 cenderung dipengaruhi oleh intensitas cahaya, dengan kedua spesies ini lebih menyukai tempat dengan naungan yang lebih rapat, dan hanya ditemukan pada blok perlindungan.
PEMBAHASAN
Pada penelitian ini Panorpidae yang ditemukan hanya dari Genus Neopanorpa. Neopanorpa ditemukan pada kondisi lingkungan yang lembab, tidak terkena sinar matahari langsung, menyukai tempat yang dekat dengan aliran air meskipun beberapa individu ditemukan pada kawasaan yang jauh dari aliran air. Pada blok koleksi tidak ditemukan data sama sekali karena merupakan wilayah terbuka, tidak terlalu dekat aliran air dengan vegetasi semak yang sangat sedikit.
Pada blok pemanfaatan jumlah spesies dan individu yang ditemukan lebih rendah dibandingkan dengan blok perlindungan yang kemungkinan karena blok pemanfaatan merupakan wilayah yang digunakan secara publik dan banyak terdapat aktivitas manusia sehingga memungkinkan sebagai pembatas keberadaan Panorpidae. Ada banyak faktor yang mungkin juga berdampak pada kesesuaian habitat Panorpidae, seperti tutupan vegetasi, kondisi tanah, dan aktivitas manusia (Su et al., 2023) Selain itu juga, pada blok pemanfaatan lebih banyak vegetasi yang tinggi. Vegetasi yang terlalu tinggi membuat Panorpidae sulit mendapat tempat berlindung dan mudah untuk dimangsa oleh predator (Wang & Hua, 2022).
Spesies (Species) |
Sayap (Wings) |
Bentuk dan warna genital (Genital shape and color) |
|---|---|---|
| Image Neopanorpa sp1 |
Image Panjang (Length) = 12 mm |
Image Oval (betina (female)) Cokelat kemerahan (reddish brown) |
| Image Neopanorpa sp2 |
Image Panjang (Length) = 12–12,5 mm |
Image Betina = oval, cokelat pucat (Female = oval, pale brown) Jantan = bulat, cokelat oranye (Male = round, orange brown) |
| Image Neopanorpa sp3 |
Image Panjang (Length) = 12 mm |
Image Betina = oval, cokelat oranye (Female = oval, orange brown) Jantan = bulat, cokelat pucat (Male = round, pale brown) |
| Image Neopanorpa sp4 |
Image Panjang (Length) = 11 mm |
Image Bulat, cokelat oranye (Round, orange brown) |
| Image Neopanorpa sp5 |
Image Panjang (Length) = 11–12 mm |
Image Oval (betina), cokelat kemerahan (Oval (female), reddish brown) |
Gambar 2.PCA dari spesies serangga Neopanorpa berdasarkan faktor lingkungan di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Sp1: Neopanorpa sp1; Sp2: Neopanorpa sp2; Sp3: Neopanorpa sp3; Sp4: Neopanorpa sp4; Sp5: Neopanorpa sp5. Huruf A menunjukkan blok perlindungan, dan B menunjukkan blok pemanfaatan.(PCA of Neopanorpa insect species based on environmental factors in Ir. Forest Park. H. Juanda. Sp1: Neopanorpa sp1; sp2: Neopanorpa sp2, Sp3: Neopanorpa sp3; Sp4: Neopanorpa sp4; Sp5: Neopanorpa sp5. The letter A indicates the protection block, and B indicates the utilization block.)
Blok perlindungan merupakan wilayah yang tidak digunakan oleh pengunjung dan memiliki akses terbatas. Blok perlindungan memiliki kanopi yang tidak terlalu terbuka, namun tidak terlalu tertutup, vegetasi semak yang melimpah dan sangat dekat dengan aliran air, terutama sepanjang jalur plot 1. Vegetasi semak yang subur di bawah kanopi dapat melindungi Panorpidae dari sinar matahari dan predator (Letardi, 2022) Panorpidae banyak ditemukan di vegetasi yang tumbuh pada lereng-lereng pada blok perlindungan. Hasil penelitian (Bicha, 2006) juga menemukan jenis Panorpidae pada hutan di lereng yang curam di Meksiko.
Panorpidae ditemukan banyak menghinggapi vegetasi semak berdaun lebar, seperti Datura sp. dan Clidemia sp., dan beberapa kali di Calliandra sp. dengan ketinggian 30–70 cm, sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Wang & Hua, 2022)(Byers, 2009)
Secara umum, kisaran yang sesuai untuk Panorpidae, yaitu suhu 21–29 °C dengan kelembapan 60–80% (Bicha, 2015)(Hu & Hua, 2020)(Wang & Hua, 2020)(Wang & Hua, 2022) Menurut (Thornhill, 2016) suhu dan kelembapan dapat mempengaruhi populasi Mecoptera, terutama Panorpidae di suatu habitat. Hal tersebut didukung oleh penelitian (Su et al., 2023) yang mengatakan bahwa Neopanorpa membutuhkan suhu yang rendah dan habitat kelembapan yang tinggi. Apabila terjadi kenaikan suhu pada habitat Panorpidae maka Panorpidae akan bermigrasi ke dataran yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan, vegetasi diduga juga berpengaruh terhadap keberadaan Panorpidae. Meskipun habitat lembap, dekat dengan aliran air, dan tutupan tajuk yang sesuai, namun saat tidak terdapat vegetasi semak atau herba maka populasi Panorpidae cenderung rendah. Hal ini seperti pada blok perlindungan dengan plot yang memiliki tutupan tajuk sedikit dan lebih sejuk, namun vegetasi herba tidak terlalu berlimpah yang menunjukan hasil koleksi Panorpidae lebih rendah dibandingkan pada plot dengan tutupan tajuk sedikit terbuka, tidak terdapat aliran air, namun vegetasi herbanya cukup berlimpah. Penelitian(Bicha, 2019) juga menunjukkan hal yang sama, dimana spesies dari Panorpidae, yaitu Panorpa auripennis Bicha tampaknya terbatas untuk hidup di vegetasi lebat setinggi 1 m yang tumbuh di antara pohon kopi di lereng bukit yang curam di Thailand. Hal tersebut karena sebagian besar aktivitas Panorpidae dilakukan di atas vegetasi semak ataupun herba yang berdaun lebar, seperti mencari makan, melindungi diri sinar matahari, hujan, angin kencang, dan menghindar dari predator (Wang & Hua, 2022)(Su et al., 2023).
KESIMPULAN
Terdapat 5 Genus Neopanorpa (Famili Panorpidae) yang ditemukan di Tahura Djuanda. Keanekaragaman Mecoptera di Tahura Djuanda tergolong sedang, namun tersebar cukup merata. Panorpidae ditemukan di kawasan yang lembab, banyak vegetasi semak, terlindungi dari sinar matahari, kanopi tidak terlalu rapat, dan banyak ditemukan di dekat aliran air.
References
- Bicha W.J.. The scorpionflies (Mecoptera) of Indochina with the description of new species of Bittacus and Neopanorpa. Proceedings of the Entomological Society of Washington. 2015; 117:435-451. DOI
- Bicha W.. New scorpionflies (Mecoptera: Panorpidae) from Jalisco, Michoacán, and Oaxaca, Mexico. Proceedings of the Entomological Society of Washington. 2006; 108:24-34.
- Bicha W.J.. Scorpionflies (Mecoptera: Panorpidae) Collected during project tiger with the description of three new species from Thailand. The Pan-Pacific Entomologist. 2019; 95:49-63. DOI
- Bicha W.J.. Biodiversity of Mecoptera. 2018; 2:705-720. DOI
- Byers G.W.. Encyclopedia of Insects. 2009:611-614. DOI
- Gotelli N.J., Colwell R.K.. Biological Diversity: Frontiers in Measurement and Assessment. Oxford University Press: Oxford University Press; 2011:39-54.
- Hu G.L., Hua Y., Hebert P.D.N., Hua B.Z.. Evolutionary history of the scorpionfly Dicerapanorpa magna (Mecoptera, Panorpidae. Zoologica Scripta. 2019; 48:93-105. DOI
- Hu G.L., Hua B.Z.. Review of the scorpionfly Genus Dicerapanorpa Zhong & Hua (Mecoptera: Panorpidae), with descriptions of two new spesies. European Journal of Taxonomy. 2020; 711:1-13. DOI
- Jiang L., Hua B.Z.. Morphological comparison of the larvae of Panorpa obtusa Cheng and Neopanorpa lui Chou & Ran (Mecoptera: Panorpidae. Zoologischer Anzeiger. 2015; 255:62-70. DOI
- Letardi A.. The new checklist of the Italian fauna: Mecoptera. Biogeographia –The Journal of Integrative Biogeography. 2022; 37:ucl002DOI
- Miao Y., Wang J.S., Hua B.Z.. Molecular phylogeny of the scorpionflies Panorpidae (Insecta: Mecoptera) and chromosomal evolution. Cladistics. 2018; 35:385-400. DOI
- Mishin I.N.. Dynamics of population change, pollinators biodiversity and their role in managing the sustainability of biocenosis. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 2022; 1045(012157)DOI
- Ortloff A., Albornoz S., Romero M., Vivallo G.. Skin artefacts due to post-mortem damage caused by Notiothauma reedi: A insect of forensic importance in forest communities of Chile. Egyptian Journal of Forensic Sciences. 2016; 6:411-415. DOI
- Penny N.D., Byers G.W.. A check-list of the Mecoptera of the world. ACTA Amazonica. 1979; 9:365-388. DOI
- Rahmafitria F., Hindayani P.. Integrasi analisis preferensi visual dan bahaya lanskap dalam perencanaan wisata Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Bandung. Jurnal Lanskap Indonesia. 2022; 14:60-68. DOI
- Su J., Liu W., Hu F., Miao P., Xing L., Hua Y.. The distribution pattern and species richness of Scorpionflies (Mecoptera: Panorpidae. Insects. 2023; 14(332)DOI
- Tan J., Hua B.. Terrobittacus, a new genus of the Chinese Bittacidae (Mecoptera) with descriptions of two new species. Journal of Natural History. 2009; 43:2937-2954. DOI
- Thornhill R.. Competition and coexistence among Panorpa Scorpionflies (Mecoptera: Panorpidae. Ecological Monograph. 2016; 50:179-197. DOI
- Tong X., Zhong W., Hua B.Z.. Copulatory mechanism and functional morphology of genitalia and anal horn of the scorpionfly Cerapanorpa dubia (Mecoptera: Panorpidae. Journal of Morphology. 2018; 279:1532-1539. DOI
- Utami I., Putra. K-Media: Yogyakarta; 2020.
- Wahyuningsih E., Faridah E., Budiadi Syahbudir, A.. Komposisi dan keanekaragaman tumbuhan pada habitat ketak (Lygodium circinatum (Burn. (Sw.) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Hutan Tropis. 2019; 7:92-105.
- Wang J.S., Hua B.Z.. Taxonomy of the Genus Neopanorpa van der Weele, 1909 (Mecoptera, panorpidae) from the oriental region, with the description of two new species. European Journal of Taxonomy. 2019; 543:1-17. DOI
- Wang J.S., Hua B.Z.. Taxonomic revision and phylogenetic analysis of the enigmatic scorpionfly Genus Leptopanorpa MacLachlan (Mecoptera: Panorpidae. Journal of Zoological Systematics and Evolutionary Research. 2020; 58:900-928. DOI
- Wang J.S., Hua B.Z.. A Color Atlas of The Chinese Mecoptera. 2022. DOI
- Wang P.Y., Hua B.Z.. Elevational diversity pattern and allochronic divergence of scorpionflies in the Qinling mountains. Ecological Indicators. 2022; 134(108500)DOI
References
Bicha WJ. 2015. The scorpionflies (Mecoptera) of Indochina with the description of new species of Bittacus and Neopanorpa. Proceedings of the Entomological Society of Washington. 117: 435–451. DOI: https://doi.org/10.4289/0013-8797.117.4.435.
Bicha W. 2006. New scorpionflies (Mecoptera: Panorpidae) from Jalisco, Michoacán, and Oaxaca, Mexico. Proceedings of the Entomological Society of Washington. 108:24–34.
Bicha WJ. 2019. Scorpionflies (Mecoptera: Panorpidae) Collected during project tiger with the description of three new species from Thailand. The Pan-Pacific Entomologist. 95:49–63. DOI: https://doi.org/10.3956/2019-95.2.49.
Bicha WJ. 2018. Biodiversity of Mecoptera. In: Foottit RG, Adler PH (Eds.), Insect Biodiversity: Science and Society. Volume 2. pp. 705–720. Hoboken: Wiley. DOI: https://doi.org/10.1002/9781118945582.ch23.
Byers GW. 2009. Mecoptera: Scorpionflies, Hangingflies. In: Encyclopedia of Insects. pp. 611–614. Elsevier Inc. DOI: https://doi.org/10.1016/B978-0-12-374144-8.00170-3.
Gotelli NJ, Colwell RK. 2011. Estimating species richness. In: Magurran AE, McGill BJ (Eds.), Biological Diversity: Frontiers in Measurement and Assessment. pp. 39–54. New York: Oxford University Press.
Hu GL, Hua Y, Hebert PDN, Hua BZ. 2019. Evolutionary history of the scorpionfly Dicerapanorpa magna (Mecoptera, Panorpidae). Zoologica Scripta. 48:93–105. DOI: https://doi.org/10.1111/zsc.12326.
Hu GL, Hua BZ. 2020. Review of the scorpionfly Genus Dicerapanorpa Zhong & Hua (Mecoptera: Panorpidae), with descriptions of two new spesies. European Journal of Taxonomy. 711: 1–13. DOI: https://doi.org/10.5852/ejt.2020.711.
Jiang L, Hua BZ. 2015. Morphological comparison of the larvae of Panorpa obtusa Cheng and Neopanorpa lui Chou & Ran (Mecoptera: Panorpidae). Zoologischer Anzeiger. 255:62–70. DOI: https://doi.org/10.1016/j.jcz.2015.02.004.
Letardi A. 2022. The new checklist of the Italian fauna: Mecoptera. Biogeographia –The Journal of Integrative Biogeography. 37:ucl002. DOI: https://doi.org/10.21426/B637156506.
Miao Y, Wang JS, Hua BZ. 2018. Molecular phylogeny of the scorpionflies Panorpidae (Insecta: Mecoptera) and chromosomal evolution. Cladistics. 35:385–400. DOI: https://doi.org/10.1111/cla.12357.
Mishin IN. 2022. Dynamics of population change, pollinators biodiversity and their role in managing the sustainability of biocenosis. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science 1045:012157. DOI: https://doi.org/10.1088/1755-1315/1045/1/012157.
Ortloff A, Albornoz S, Romero M, Vivallo G. 2016. Skin artefacts due to post-mortem damage caused by Notiothauma reedi: A insect of forensic importance in forest communities of Chile. Egyptian Journal of Forensic Sciences. 6:411–415. DOI: https://doi.org/10.1016/j.ejfs.2016.06.006.
Penny ND, Byers GW. 1979. A check-list of the Mecoptera of the world. ACTA Amazonica. 9: 365–388. DOI: https://doi.org/10.1590/1809-43921979092365.
Rahmafitria F, Hindayani P. 2022. Integrasi analisis preferensi visual dan bahaya lanskap dalam perencanaan wisata Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Bandung. Jurnal Lanskap Indonesia. 14:60–68. DOI: https://doi.org/10.29244/jli.v14i2.39833.
Su J, Liu W, Hu F, Miao P, Xing L, Hua Y. 2023. The distribution pattern and species richness of Scorpionflies (Mecoptera: Panorpidae). Insects. 14:332. DOI: https://doi.org/10.3390/insects14040332.
Tan J, Hua B. 2009. Terrobittacus, a new genus of the Chinese Bittacidae (Mecoptera) with descriptions of two new species. Journal of Natural History. 43:2937–2954. DOI: https://doi.org/10.1080/00222930903359628.
Thornhill R. 2016. Competition and coexistence among Panorpa Scorpionflies (Mecoptera: Panorpidae). Ecological Monograph. 50:179–197. DOI: https://doi.org/10.2307/1942478.
Tong X, Zhong W, Hua BZ. 2018. Copulatory mechanism and functional morphology of genitalia and anal horn of the scorpionfly Cerapanorpa dubia (Mecoptera: Panorpidae). Journal of Morphology. 279:1532–1539. DOI: https://doi.org/10.1002/jmor.20903.
Utami I, Putra. 2020. Ekologi Kuantitatif: Metode Sampling dan Analisis Data Lapangan. Yogyakarta: K-Media.
Wahyuningsih E, Faridah E, Budiadi, Syahbudir A. 2019. Komposisi dan keanekaragaman tumbuhan pada habitat ketak (Lygodium circinatum (Burn. (Sw.) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Hutan Tropis. 7:92–105.
Wang JS, Hua BZ. 2019. Taxonomy of the Genus Neopanorpa van der Weele, 1909 (Mecoptera, panorpidae) from the oriental region, with the description of two new species. European Journal of Taxonomy. 543:1–17. DOI: https://doi.org/10.5852/ejt.2019.543.
Wang JS, Hua BZ. 2020. Taxonomic revision and phylogenetic analysis of the enigmatic scorpionfly Genus Leptopanorpa MacLachlan (Mecoptera: Panorpidae). Journal of Zoological Systematics and Evolutionary Research. 58:900–928. DOI: https://doi.org/10.1111/jzs.12363.
Wang JS, Hua BZ. 2022a. A Color Atlas of The Chinese Mecoptera. Singapore: Springer Nature Singapore. DOI: https://doi.org/10.1007/978-981-16-9558-2.
Wang PY, Hua BZ. 2022b. Elevational diversity pattern and allochronic divergence of scorpionflies in the Qinling mountains. Ecological Indicators. 134:108500 DOI: https://doi.org/10.1016/j.ecolind.2021.108500.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 Putry Ardyanty, Ana Widiana, Ida Kinasih

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).

