Keanekaragaman serangga yang terperangkap pada tumbuhan kantong semar (Nepenthes spp.: Nepenthaceae) di Gunung Samarinda, Aceh Barat Daya, Aceh, Indonesia
Diversity of insects trapped in pitcher plants (Nepenthes spp.: Nepentheceae) in Gunung Samarinda, Aceh Barat Daya, Aceh, Indonesia
Downloads
Pitcher plants Nepenthes spp. are insectivorous plants capable of trapping and digesting insects as an additional nutrient sources. Research on insects trapped in the pitchers of Nepenthes plants has been conducted in several regions of Indonesia. Unfortunately, similar research has never been reported in the Southwest Aceh region. This study aims to analyze the diversity and composition of insects trapped in the pitchers of Nepenthes plants in Gunung Samarinda Village, Southwest Aceh, Aceh, Indonesia. The research was conducted using the exploratory method with purposive sampling from January to July 2024, along the path leading to the oil palm plantation. Insect samples were collected from every Nepenthes plant found at the research location and were identified to the species level. The results showed that a total of 1,740 individuals, belonging to 18 species, 12 families, and 6 insect orders, were found in the Nepenthes pitchers. The three most dominant insect species were Aedes aegypti (Linnaeus) (36.21%), Tetramorium marginatum Forel (16.90%), and Anoplolepis gracilipes Smith (13.33%). The highest insect diversity was found in pitcher of Nepenthes rafflesiana, followed by N. gracilis, and N. ampullaria. However, there was no significant difference in insect composition among the Nepenthes species. These findings indicate that Nepenthes spp. at the research site function as natural traps for insects, with a dominance of certain species. The presence of Nepenthes in its habitat can play a role in the ecosystem balance, particularly in the interaction between insectivorous plants and insect communities.
Downloads
PENDAHULUAN
Kantong semar (Nepenthaceae: Nepenthes) merupakan tumbuhan unik dan langka yang sering dijadikan sebagai tanaman hias (Goh et al., 2020). Nepenthes merupakan tumbuhan tropis yang ditemukan di Asia Tenggara, Seychelles, Madagaskar, dan Australia (Moran et al., 2010). Tahun 2021 tercatat 80 spesies, atau sekitar 44% dari total 181 spesies Nepenthes, ditemukan di Indonesia (Mansur et al., 2021). Sebanyak 39 spesies Nepenthes telah dilaporkan berasal dari pulau Sumatera (Hernawati et al., 2022).
Kantong semar dikategorikan sebagai tumbuhan insektivora yang mampu mencerna serangga yang terperangkap dalam organ berbentuk kantong pada ujung daun (Mansur, 2012); (Anastasia et al., 2018); (Putir et al., 2022) untuk memenuhi kebutuhan proteinnya (Handayani, 2005); (Muryanto & Putri, 2023). Organ kantong pada tumbuhan kantong semar memiliki bentuk unik dan beranekaragam dalam ukuran dan warnanya.
Nepenthes memiliki mekanisme unik dalam menjebak mangsa, yaitu menggunakan nektar dan warna kantong yang mencolok (Bennett & Ellison, 2009); (Farre et al., 2015); (Handayani, 2022). Dinding kantong Nepenthes terdapat kelenjar lilin yang membuat bibir kantong menjadi licin sehingga serangga terperangkap ke dalam kantong (Atikah et al., 2021). Bagian dalam kantong Nepenthes terdapat enzim pencerna yang berperan untuk mengurai mangsa yang terperangkap dan dijadikan sebagai nutrisi (Susanti & Yamin, 2017). Tumbuhan ini dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan ekstrim dengan tingkat keasaman tinggi dan kandungan unsur hara minim yang pada umumnya tumbuhan lain sulit hidup (Handayani, 2021).
Penelitian terkait serangga yang terperangkap dalam kantong tumbuhan Nepenthes di Indonesia sudah pernah dilakukan, di antaranya (Panda & Gunawan, 2017) melaporkan terdapat 8 famili serangga yang terperangkap dalam kantong tumbuhan N. gracilis di area Kanal Eks PT. SSI Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah. (Atikah et al., 2021) melaporkan 6 famili serangga yang terperangkap pada kantong atas dan kantong bawah N. rafflesiana di Sungai Koran Resort, Sebangau Hulu, Kalimantan. (Tarigan et al., 2024) melaporkan bahwa terdapat 10 famili serangga yang ditemukan dalam kantong tumbuhan Nepenthes di Kabupaten Aceh Singkil. Penelitian tentang keanekaragaman serangga yang terperangkap dalam tumbuhan Nepenthes di Aceh, khususnya di Aceh Barat Daya, belum pernah dilaporkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan keanekaragaman serangga yang terperangkap pada kantong tumbuhan Nepenthes spp. di Desa Gunung Samarinda, Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh, Indonesia.
BAHAN DAN METODE
Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian dilakukan pada Januari–Juli 2024 di Desa Gunung Samarinda, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya, Aceh, Indonesia. Lokasi berada di sekitar jalan menuju perkebunan kelapa sawit, dengan koordinat 3°57’48.9”LU, 96°39’41.1”BT (Gambar 1). Ketinggian lokasi penelitian berkisar 1–500 m dpl. Berdasarkan data iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi penelitian memiliki iklim tropis dengan rata-rata curah hujan 3.228–4.912 mm/tahun dan suhu 29 °C. Lokasi penelitian didominasi tanah berbatu dan berpasir yang miskin unsur hara. Vegetasi didominasi dengan tumbuhan semak, perdu, paku-pakuan, dan tumbuhan Melastoma malabathricum.
Pengambilan data tumbuhan kantong semar (Nepenthes)
Penelitian ini dilakukan dengan metode jelajah di lokasi penelitian. Sampel diambil menggunakan metode purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan (Nanik & Setyaningsih, 2007). Penelusuran dilakukan dengan berjalan mengikuti jalur yang telah ditentukan serta berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar. Setiap individu Nepenthes yang ditemukan di lapangan difoto menggunakan kamera, kemudian diamati secara langsung dengan mengamati karakter morfologinya (Azra et al., 2023). Karakter tersebut dicatat dan dideskripsikan. Tumbuhan kantong semar yang ditemukan juga dihitung jumlahnya serta dicatat warna dan diukur panjang kantongnya. Identifikasi Nepenthes spp. dilakukan berdasarkan (Cheek & Jebb, 2013); (Lam & Tan, 2020).
Gambar 1.Lokasi penelitian Aceh Barat Daya Titik merah merupakan lokasi ditemukan Nepenthes dan pengambilan sampel serangga yang terperangkap didalamnya.
Pengambilan data serangga
Pengambilan sampel serangga dilakukan secara langsung dari setiap kantong Nepenthes yang mengandung cairan dan serangga di dalamnya. Cairan dari kantong dituangkan ke dalam botol sampel melalui saringan berukuran 25 μm. Serangga yang tertinggal pada kertas saring kemudian diambil dan diawetkan menggunakan alkohol 70%, lalu disimpan dalam botol sampel. Setiap botol diberi label yang mencantumkan informasi Nepenthes dan lokasi pengambilan sampel. Pengamatan serangga dilakukan di bawah mikroskop stereo, dokumentasi dilakukan menggunakan kamera optilab di laboratorium Biosistematika dan Ekologi Hewan (BEH), Departemen Biologi, FMIPA, IPB University, Bogor. Identifikasi serangga dilakukan berdasarkan (McAlpine et al., 1987); (Borror et al., 1992); (Bolton, 1994); (Goulet & Huber, 1993); dan (Capinera et al., 2008).
Analisis data
Keanekaragaman serangga yang terperangkap pada kantong Nepenthes spp. dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H’), indeks kemerataan (E), dan Indeks dominansi (D) (Magurran, 1988) menggunakan perangkat lunak R (R Core Team 2023). Jumlah individu dan spesies serangga yang terperangkap dalam kantong setiap spesies Nepenthes disajikan dalam bentuk diagram Sankey menggunakan R (R Core Team 2023). Analisis lanjutan dilakukan dengan analysis of similarity (ANOSIM) untuk melihat perbedaan komposisi serangga antar spesies Nepenthes. Hasilnya divisualisasikan menggunakan non-metricmultidimensional scaling (NMDS) yang dijalankan dengan perangkat lunak R (R Core Team 2023).
HASIL
Spesies Nepenthes yang ditemukan di lokasi penelitian
Tiga spesies Nepenthes dengan total 126 kantong ditemukan tumbuh di kawasan yang berbatasan langsung dengan permukiman warga dan perkebunan kelapa sawit di Desa Gunung Samarinda, Kabupaten Aceh Barat Daya. Spesies tersebut adalah Nepenthes rafflesiana (45 kantong atas dan 28 kantong bawah), N. gracilis (35 kantong), dan N. ampullaria (18 kantong) (Gambar 2). Ketiga spesies ini secara alami tumbuh di habitat terbuka yang terpengaruh oleh aktivitas manusia. Keberadaannya di lokasi penelitian menunjukkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan akibat pembukaan lahan.
Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan, N. rafflesiana memiliki habitus liana dengan tinggi mencapai lebih dari 2–15 m yang merambat di atas pohon. N. rafflesiana memiliki dua jenis kantong, yaitu kantong atas dan kantong bawah. Kantong atas berbentuk seperti terompet dengan ujung bawah yang melengkung ke atas dengan warna dasar kantong hijau terang, serta corak bintik-bintik merah keunguan pada bagian dalam kantong. Panjang kantong berkisar 20–30 cm. Mulut kantong bulat hingga bulat telur, sedikit miring. Peristom tebal dan memanjang dengan tepi bergelombang serta berwarna merah kecoklatan. Penutup berbentuk lonjong, mengarah ke atas dan tidak sepenuhnya menutupi mulut katong (Gambar 2A). Pada kantong bawah, kantong berbentuk lebih bulat menyerupai kendi. Panjang kantong bawah berkisar 17–24 cm. Warna dasar kantong merah keunguan dengan corak bintik-bintik hijau kekuningan. Peristom lebih lebar dan tebal, dengan tepi bergerigi tajam. Sepasang sayap lebar terlihat jelas menonjol di bagian depan kantong. Penutup kantong berukuran besar membentang kedepan, dan tidak menutup mulut kantong sepenuhnya (Gambar 2B). Nepenthes rafflesiana memiliki ciri khas pada bentuk kantong yang memiliki ukuran lebih besar dari spesies Nepenthes lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan N. gracilis yang ditemukan di lokasi penelitian hanya ditemukan keberadaan kantong atas dan memiliki tinggi antara 2–5 m. Kantong atas N. gracilis berbentuk lonjong di bagian bawah dan memanjang silindris di bagian atas. Panjang kantong sebesar 5–7 cm. Warna kantong didominasi hijau terang tanpa corak mencolok. Mulut kantong berbentuk bulat dengan peristom yang datar dan tidak bergerigi. Tutup kantong berbentuk bulat dan melebar, dengan permukaan atas bercak kemerahan. Kantong tidak memiliki sepasang sayap, namun hanya tampak garis pada bagian depan kantong (Gambar 2C).
Sementara itu hasil penelitian di lapangan, spesies N. ampullaria merupakan spesies kantong semar yang paling jarang ditemukan selama penelitian. Spesies ini memiliki tinggi kurang dari 1 m. Spesies ini memiliki kantong berbentuk oval menyerupai guci. Panjang kantong berkisar 6,5–8,5 cm. Peristom tebal, melengkung ke arah dalam, dan bagian tepinya memiliki struktur bergerigi halus. Warna kantong didominasi hijau tua dengan corak merah keunguan yang menyebar pada permukaan luar. Tutup kantong berbentuk lanset dan mengarah ke belakang sehingga tidak menutupi mulut kantong secara penuh (Gambar 2D). Seluruh karakteristik ini diamati langsung pada individu yang ditemukan di lapangan.
Keanekaragaman dan komposisi serangga yang terperangkap dalam kantong tumbuhan Nepenthes
Serangga yang dikoleksi dari 126 kantong Nepenthes yang mewakili tiga spesies tumbuhan Nepenthes di lokasi penelitian, dengan total 1.740 individu yang tergolong dalam 18 spesies, 11 famili, dan 6 ordo. Keenam ordo tersebut adalah Orthoptera, Coleoptera, Diptera, Hymenoptera, Mantodea, dan Lepidoptera (Tabel 1). Nepenthes rafflesiana memiliki jumlah individu serangga, jumlah spesies, dan jumlah famili tertinggi dibandingkan dengan N. gracilis, dan N. ampullaria. Keanekaragaman serangga (H’) tertinggi juga ditemukan pada N. rafflesiana, diikuti oleh N. gracilis, dan N. ampullaria. Namun, N. rafflesiana menunjukkan dominansi terendah, yang mengindikasikan distribusi serangga di kantongnya lebih merata.
Ordo Hymenoptera merupakan kelompok yang paling dominan secara keseluruhan, dengan spesies dari Famili Formicidae, seperti semut Anoplolepis gracilipes Smith dan Tetramorium marginatum Forel menjadi kontributor utama jumlah individu terbesar. Selain itu, Ordo Diptera, terutama spesies Aedes aegypti (Linnaeus), juga menunjukkan dominansi signifikan di semua spesies Nepenthes. Secara keseluruhan, perbedaan struktur kantong, seperti ukuran kantong, bentuk peristom, dan warna kantong, pada masing-masing spesies Nepenthes diduga mempengaruhi keragaman dan dominansi serangga yang terperangkap, meskipun kondisi lingkungan di masing-masing spesies tidak menunjukkan adanya perbedaan.
Terdapat lima spesies serangga dari 3 famili serangga berbeda ditemukan pada ketiga spesies Nepenthes, yaitu A. aegypti, A. gracilipes, Drosophilla melanogaster Meigen, Diacamma intricatum (Smith), dan Locusta migratoria (Linnaeus) (Gambar 3). Hal ini menggambarkan bahwa ketiga spesies tumbuhan tersebut memiliki daya tarik yang sama bagi beberapa spesies serangga.
Gambar 2.Spesies Nepenthes A: N. rafflesiana kantong atas; B: N. rafflesiana kantong bawah; C: N. gracilis; D: N. ampullaria
| Ordo | N. rafflesiana (N = 73) |
N. gracilis (N = 35) |
N. ampullaria (N = 18) |
Total (N = 126) |
Persentase (%) |
|---|---|---|---|---|---|
| Famili | |||||
| Species | |||||
| Orthoptera | |||||
| Acrididae | |||||
| Locusta migratoria | 36 | 6 | 3 | 45 | 2,59 |
| Grylidae | |||||
| Gryllidae sp. | 7 | 0 | 0 | 7 | 0,40 |
| Zebragrillus witoto | 6 | 0 | 0 | 6 | 0,34 |
| Coleoptera | |||||
| Carabidae | |||||
| Pheropsophus verticalis | 12 | 0 | 1 | 13 | 0,75 |
| Pericalus sp. | 10 | 0 | 0 | 10 | 0,57 |
| Diptera | |||||
| Culicidae | |||||
| Aedes aegipty | 340 | 215 | 75 | 630 | 36,21 |
| Aedes albopictus | 108 | 3 | 0 | 111 | 6,38 |
| Drosophilidae | |||||
| Drosopila melanogaster | 21 | 0 | 0 | 21 | 1,21 |
| Hymenoptera | |||||
| Formicidae | |||||
| Camponotus maculatus | 53 | 0 | 0 | 53 | 3,05 |
| Camponotus tanaemyrmex | 19 | 35 | 0 | 54 | 3,10 |
| Diacamma intricatum | 129 | 63 | 14 | 206 | 11,84 |
| Anoplolepis gracillipes | 169 | 45 | 18 | 232 | 13,33 |
| Tetramorium marginatum | 154 | 85 | 55 | 294 | 16,90 |
| Mutilidae | |||||
| Mutilidae sp. | 14 | 3 | 0 | 17 | 0,98 |
| Vespidae | |||||
| Ropalidia fasciata | 16 | 3 | 0 | 19 | 1,09 |
| Tenthredinoidea | |||||
| Tenthredinoidea sp. | 0 | 5 | 0 | 5 | 0,29 |
| Mantodea | |||||
| Mantidae | |||||
| Mantis sp. | 10 | 4 | 0 | 14 | 0,80 |
| Lepidoptera | |||||
| Pyralidae | |||||
| Pyralidae sp. | 3 | 0 | 0 | 3 | 0,17 |
| Jumlah ordo | 6 | 4 | 4 | 6 | |
| Jumlah famili | 11 | 7 | 4 | 11 | |
| Jumlah individu | 1107 | 467 | 166 | 1.740 | |
| Jumlah spesies | 17 | 11 | 6 | 18 | |
| Indeks Shannon Wienner (H’) | 2,13 | 1,59 | 1,27 | 2,02 | |
| Indeks kemerataan (E) | 0,75 | 0,66 | 0,71 | 0,69 | |
| Indeks dominansi (D) | 0,16 | 0,27 | 0,33 | 0,98 | |
Berdasarkan diagram Sankey, terdapat asosiasi serangga yang berbeda-beda pada ketiga spesies Nepenthes yang diteliti (Gambar 4). Nepenthes rafflesiana, yang memiliki dua tipe kantong, yaitu kantong atas dan kantong bawah, menunjukkan keragaman serangga yang lebih tinggi. Kantong atas pada N. rafflesiana memerangkap lebih banyak serangga, seperti nyamuk A. aegypti dan A. albopictus (Skuse) (Culicidae), semut dari Famili Formicidae (D. intricatum, A. gracilipes, Camponotus maculatus (Fabricius), dan T. marginatum), serta serangga lain, seperti L. migratoria (Acrididae), Pheropsophus verticalis (Dejean) (Carabidae), Rompalidia fasciata (Fabricius) (Vespidae), dan D. melanogaster (Drosophilidae). Selain itu, terdapat juga serangga dari Famili Mutilidae, Pompilidae, dan Pyralidae. Sebaliknya, kantong bawah N. rafflesiana didominasi oleh serangga dari Famili Formicidae, seperti D. intricatum dan C. maculatus, serta serangga dari Famili Gryllidae, seperti Zebragrillus witoto dan spesies Gryllidae sp.
Nepenthes gracilis, yang hanya memiliki kantong atas, lebih banyak memerangkap serangga dari Famili Culicidae, yaitu nyamuk A. aegypti dan A. albopictus. Kantong atas N. gracilis juga menangkap serangga dari Famili Formicidae, seperti D. intricatum, A. gracilipes, Camponotus tanaemyrmex Ashmead, dan T. marginatum, serta serangga dari ordo lain, seperti L. migratoria (Acrididae), Mantis sp. (Mantidae), dan R. fasciata (Vespidae), serta Mutilidae. Nepenthes ampullaria, yang hanya memiliki kantong bawah, cenderung menangkap lebih sedikit serangga, dengan spesies yang terperangkap antara lain semut dari Famili Formicidae, seperti D. intricatum, A. gracilipes, dan T. marginatum, serta serangga dari ordo Mantidae (Mantis sp.) dan larva nyamuk A. aegypti.
Diagram Sankey ini menunjukkan bahwa kantong pada tumbuhan Nepenthes memengaruhi jumlah dan keragaman serangga yang terperangkap. Kantong atas cenderung lebih efektif dalam memerangkap lebih banyak spesies serangga, sedangkan kantong bawah meskipun ada, hanya menangkap serangga dalam jumlah yang lebih sedikit. N. rafflesiana, dengan kedua tipe kantong, memiliki keragaman serangga yang lebih tinggi dibandingkan dengan N. gracilis dan N. ampullaria, yang masing-masing hanya memiliki satu tipe kantong.
Gambar 3.Spesies serangga dominan yang berasosiasi dengan tumbuhan Nepenthes rafflesiana, N. gracilis, dan N. ampularia. A: Diacamma intricatum; B: Anoplolepis gracilipes; C: Drosophila melanogaster; D: Aedes aegypti; E: Lacosta migratoria.
Gambar 4.Sankey plot keanekaragaman serangga yang terperangkap dalam tiga spesies kantong tumbuhan Nepenthes
Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan spesies tumbuhan Nepenthes tidak memengaruhi komposisi spesies serangga yang terperangkap di dalamnya (ANOSIM statistik R = 0,02; P = 0,27). Demikian juga, individu kantong yang berbeda juga tidak menunjukkan komposisi serangga berbeda (R = 0,009; P = 0,43). Adanya overlap pada grafik menunjukkan juga bahwa komposisi serangga antar spesies Nepenthes maupun antar kantong individu Nepenthes tidak menunjukkan banyak perbedaan (Gambar 5).
PEMBAHASAN
Kantong pada tumbuhan Nepenthes dikelompokkan berdasarkan posisi kantong, yaitu kantong atas dan kantong bawah. Kantong atas ditemukan pada batang tumbuhan dewasa, bentuk kantong ramping, memanjang, dan berukuran besar. (Khairil et al., 2015) menyatakan kantong atas merupakan hasil modifikasi daun dari tumbuhan dewasa, berukuran lebih besar dari kantong bawah, berbentuk seperti terompet. Hal serupa juga ditemukan dalam penelitian (Simbolon et al., 2021) yang menyatakan bahwa spesies ini memiliki kantong berwarna hijau dan berbentuk, seperti terompet, kantong bawah berwarna hijau, didominasi dengan bercak merah dengan kantong berbentuk kendi. Berdasarkan hasil penelitian kantong atas tumbuhan Nepenthes ditemukan merupakan hasil modifikasi daun tumbuhan roset dan tumbuh di atas permukaan tanah. Kantong bawah umumnya ditemukan pada tumbuhan yang masih muda atau batang yang masih roset, bentuk bagian bawah kantong membulat silindris ke arah atas, dan melebar ke arah peristome (Utari et al., 2023).
Berdasarkan hasil penelitian, tumbuhan N. gracilis yang ditemukan di lokasi penelitian hanya memiliki kantong atas. Hal ini karena tumbuhan yang ditemukan sudah dewasa dan bukan lagi tumbuhan roset. Nepenthes gracilis yang ditemukan di lokasi penelitian memiliki kantong dengan ukuran kecil, berwarna hijau polos, memiliki sayap pada bagian depan kantong, memiliki tutup kantong yang proporsional, dan terdapat motif garis-garis merah pada penutup kantong. Hal ini sejalan dengan penelitian, (Arwindo et al., 2022) menyatakan bahwa N. gracilis memiliki kantong dengan ukuran kecil berwarna hijau, berbentuk seperti tabung berpinggang, bagian bawah kantong membulat, mulut menyempit, dan memiliki sayap. (Armanda & T, 2020) juga melaporkan spesies ini memiliki bentuk kantong seperti gelas, warna hijau kekuningan dengan motif merah, memiliki sayap seperti renda dan memiliki bentuk tutup kantong yang tidak proporsional.
Keanekaragaman serangga yang terperangkap dalam kantong tumbuhan Nepenthes di lokasi penelitian tergolong sedang. Keanekaragaman serangga yang terperangkap berkaitan dengan jumlah spesies dan persebaran tumbuhan Nepenthes (Mansur et al., 2023). Berdasarkan hasil penelitian, N. rafflesiana paling banyak memerangkap jumlah individu serangga (1.107 individu). Hasil ini sejalan dengan penelitian (Lam et al., 2020), pada N. rafflesiana di Singapura, yaitu 160 individu serangga yang termasuk dalam 60 famili dan 16 ordo terperangkap dalam 78 kantong.
Gambar 5.Non-metric multidimensional scaling (NMDS) yang menunjukkan komposisi spesies serangga pada tiga spesies Nepenthes: Nepenthes rafflesiana, Nepenthes gracilis, dan Nepenthes ampullaria.
Perbedaan jumlah serangga yang ditemukan pada ketiga spesies Nepenthes disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ukuran, warna dan corak kantong, bentuk peristome, serta nektar dan aroma yang dihasilkan tumbuhan tersebut (Wong et al., 2021); (Tarigan et al., 2023); (Mansur et al., 2023). Penelitian ini juga mendapatkan larva nyamuk hidup di dalam kantong tumbuhan Nepenthes. (Gaume et al., 2019) menyatakan adanya pakan alami, yaitu plankton dalam cairan di dalam kantong sebagai sumber makanan bagi larva nyamuk. Serangga yang berasosiasi dengan Nepenthes tidak semua menjadi mangsa karena cairan dalam kantong Nepenthes juga dijadikan sebagai habitat bagi larva nyamuk. Nyamuk dewasa meletakkan telurnya pada dinding kantong. Penelitian ini menemukan larva nyamuk dari Famili Culicidae yang masih dalam keadaan aktif (viable), dengan beberapa di antaranya menunjukkan tahap perkembangan menjadi pupa. Beberapa penelitian juga melaporkan berbagai serangga yang terdapat pada kantong Nepenthes dalam bentuk larva dan pupa, yang ditemukan dalam keadaan aktif, dengan kondisi utuh (Mogi, 2010); (Bittleston et al., 2015); (Maysarah & A, 2016). (Handayani, 2021) melaporkan bahwa cairan dalam kantong Nepenthes dijadikan sebagai habitat bagi hewan-hewan kecil, salah satunya larva nyamuk. (Vong et al., 2021) juga melaporkan 5 spesies larva nyamuk pada kantong N. mirabilis var. mirabilis di Songkhla Thailand. Sebagian besar serangga yang ditemukan pada kantong ketiga tumbuhan Nepenthes yang diamati ditemukan sudah mati dengan tubuh yang masih utuh.
Penelitian ini juga menunjukkan hubungan antara semut (Famili Formicidae) dan tumbuhan Nepenthes. (Bazille et al., 2012) melaporkan bahwa semut Camponotus schmitzi (Starcke) berinteraksi dengan tumbuhan N. bicalcarata. (Bauer et al., 2012) juga melaporkan interaksi antara semut dan N. gracilis bahwa Nepenthes menghasilkan nektar sebagai sumber pakan semut, sedangkan Nepenthes mendapatkan nutrisi dari semut yang terperangkap dalam kantong. (Baby et al., 2017) melaporkan Gryllidae juga ditemukan dalam kantong Nepenthes karena ketertarikan terhadap warna pada kantong Nepenthes. Warna kantong Nepenthes juga menarik berbagai spesies serangga, termasuk Zebragrillus witoto(Takeuchi et al., 2015).
Berdasarkan hasil visualisasi data dalam diagram Sankey, N. rafflesiana yang memiliki dua tipe kantong, mampu menjebak serangga dalam jumlah dan keanekaragaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan N. gracilis dan N. ampullaria yang masing-masing hanya memiliki satu tipe kantong. Kantong atas dari N. rafflesiana secara khusus menunjukkan efektivitas lebih besar terhadap serangga terbang, termasuk nyamuk dan semut. Sebaliknya, kantong bawah dari spesies yang sama serta kantong atas dan bawah pada dua spesies lainnya menjebak serangga dalam jumlah lebih sedikit. Perbedaan ini dapat dijelaskan melalui variasi morfologis kantong.
Perbedaan jumlah dan keragaman serangga yang terperangkap pada berbagai spesies kantong Nepenthes ini dapat dijelaskan oleh peran morfologi kantong dalam memengaruhi spesies serangga yang tertarik. Kantong atas dengan ukuran yang lebih besar dan kedalaman yang berbeda cenderung lebih efektif dalam memerangkap beragam spesies serangga dibandingkan dengan kantong bawah. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa bentuk kantong dan mekanisme perangkap pada tumbuhan pemangsa dapat memengaruhi spesies serangga yang terperangkap (Chin et al., 2014).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kantong atas N. rafflesiana lebih efektif dalam menangkap serangga terbang. (Bauer et al., 2015) melaporkan bahwa keberadaan kantong bawah tetap penting karena dapat menangkap serangga yang lebih kecil atau lebih spesifik. Kantong atas cenderung lebih efektif dalam memerangkap lebih banyak spesies serangga, sedangkan kantong bawah lebih sedikit. Nepenthes rafflesiana, dengan dua tipe kantong, memiliki keragaman serangga yang lebih tinggi dibandingkan dengan N. gracilis dan N. ampularia, yang masing-masingnya hanya memiliki satu tipe kantong. Hal ini menunjukkan bahwa kedua tipe kantong (kantong atas dan bawah) pada Nepenthes saling melengkapi dalam strategi pemangsaan, dengan masing-masing berkontribusi terhadap keberagaman dan efisiensi perangkap serangga.
Analisis ANOSIM pada penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat kesamaan komposisi komunitas serangga yang terperangkap di dalam kantong tiga spesies tumbuhan Nepenthes. Berdasarkan hasil analisis, tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam komposisi serangga antar tiga spesies Nepenthes (Nepenthes rafflesiana, N. gracilis, dan N. ampullaria). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti lokasi yang sama, kesamaan karakteristik lingkungan, dan dominansi ordo serangga tertentu. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Adam et al., 2011) yang melaporkan adanya ketiga spesies Nepenthes berada di lokasi yang sama dengan jarak antar tumbuhan yang relatif dekat. Kondisi ini memungkinkan adanya tumpang tindih habitat yang dihuni oleh spesies serangga yang serupa. (Gilbert et al., 2020) melaporkan bahwa lingkungan tempat ketiga spesies tumbuh memiliki kondisi abiotik, seperti suhu, kelembapan, dan jenis tanah yang serupa. Faktor ini mendukung keberadaan komunitas serangga yang homogen. (Chin et al., 2014). juga menyatakan bahwa serangga yang terperangkap, seperti semut dari ordo Hymenoptera, sering menjadi dominan di habitat ini sehingga dominasi ini mengurangi variasi serangga antar spesies yang berbeda.
Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan dalam komposisi komunitas serangga di tiga tipe kantong Nepenthes, diikuti dengan faktor-faktor abiotik dan biotik yang sama juga sehingga dapat mempengaruhi struktur komunitas serangga di habitat tersebut. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi konservasi Nepenthes beserta ekosistemnya, termasuk interaksinya dengan komunitas serangga yang bergantung pada Nepenthes.
KESIMPULAN
Tiga spesies tumbuhan Nepenthes yang ditemukan di Desa Gunung Samarinda, yaitu N. rafflesiana, N. gracilis, dan N. ampullaria. Serangga ditemukan dalam kantong tiga spesies Nepenthes sebanyak 1.740 individu yang termasuk dalam 18 spesies, 12 famili dan 6 ordo. Keanekaragaman serangga tertinggi yang terperangkap ditemukan pada N. rafflesiana (H’=2,13), diikuti N. gracilis (H’=1,59) dan N. ampullaria (H’=1,27). Tiga spesies serangga yang ditemukan dominan nyamuk A. aegypti, semut O. smaradigna, dan semut T. marginatum. Nyamuk (Culicidae) dan semut (Formicidae) ditemukan pada tiga spesies Nepenthes. Komposisi spesies serangga yang terjebak pada ketiga Nepenthes menunjukkan tidak berbeda nyata.
References
- Adam J.H., Hamid H.A., Juhari M.A.A.. Species composition and dispersion pattern of pitcher plants recorded from Rantau Abang in Marang District, Terengganu State of Malaysia. International Journal of Botany. 2011; 7:162-169. DOI
- Anastasia S., Turnip M., Linda R.. Variasi morfometrik dan pengelompokan spesies kantong semar (Nepenthes spp.) di desa simpang kasturi kecamatan mandor. Jurnal Protobion. 2018; 7:29-36.
- Armanda Anggraeni, T Wahyuni. Population and phenotype characterization of pitcher plant (Nepenthes spp.) in Palawan forest biodiversity park at Central Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province. Media Konservasi. 2020; 25:89-97. DOI
- Arwindo V., Ifadatin S., Rafdinal. Keanekaragaman dan pola distribusi kantong semar (Nepenthes spp.) di Bukit Bentuang Dusun Punti Tapau Kecamatan Entikong Kabupaten Sangau. Journal of Biotechnology and Conservation in Wallacea. 2022; 2:59-70.
- Atikah S., Sunariyati S., Gunawan Edy, Y.. Komposisi serangga yang terperangkap pada kantong atas dan kantong bawah Nepenthes rafflesiana di sungai koran resort, sebangau hulu. Journal of Environment and Management. 2021; 2:206-211. DOI
- Azra O.D., Ifadatin S., Lovadi I., Rafdinal. Hubungan kekerabatan Nepenthes hybrid hasil persilangan alami antara Nepenthes mirabilis (lour) druce dan Nepenthes reindwardtiana miq berdasarkan karakter morfologi. Jurnal Floribunda. 2023; 7:116-123. DOI
- Baby S., Johnson A.J., Zachariah E.J., Hussain A.A.. Nepenthes pitchers are CO2-enriched cavities, that emit CO2 to attract prey. Scientific Report. 2017; 7:1-10. DOI
- Bauer U., Rembold K., Grafe U.. Carnivorous Nepenthes pitcher plants are a rich food source for a diverse vertebrate community. Journal of Natural History. 2015; 50:7-8. DOI
- Bauer U., Giusto D.B., Skepper J., Grafe U.T., Federle W.. With a flick of the lid: a novel trapping mechanism in Nepenthes gracilis pitcher plant. Plos One. 2012; 7:e38951DOI
- Bazille V., Moran J.A., Le M.G., Marshall D.J., Gaume L.. A Carnivorous plant fed by its ant symbiont: A unique multi-faceted nutritional mutualism. PLoS One. 2012; 7:e36179DOI
- Bennett K.F., Ellison M.. Nectar, not color, may lure insects to their death. Biology Letters. 2009; 5:469-472. DOI
- Bittleston L.S., Baker C.C.M., Strominger L.B., Pringle A., Pierce N.E.. Metabarcoding as a tool for investigating arthropod diversity in Nepenthes pitcher plants. Austral Ecology. 2015; 41:120-132. DOI
- Bolton B.. United States of America: America; 1994.
- Borror D.J., Triplehorn C.A., Johnson N.F.. Terjemahan oleh Soetiyono Partosoedjono. Gadjah Mada University Press: Gadjah Mada University Press; 1992.
- Cheek M., Jebb M.. In the Philippines, there is a recircumscription of the Nepenthes alata group (Caryophyllales: Nepenthaceae) with four new species. European Journal of Taxonomy. 2013; 69:1-23. DOI
- Capinera Jhon L., Clercq Patrick. Springer Science and Business Media: Florida; 2008.
- Chin L., Chung A.Y., Clarke C.. Interspecific variation in prey capture behavior by co occurring Nepenthes pitcher plants: Evidence for resource partitioning or sampling-scheme artifacts?. Plant Signaling & Behavior. 2014; 9:e27930DOI
- Farre A.G., Filella I., Llusia J., Penuelas J.. Relationships among floral VOC emissions, floral rewards and visits of pollinators in five plant species of Mediterranean shrub land. Plant Ecology and Evolution. 2015; 148:90-99. DOI
- Gaume L., Bazille V., Bousses P., G Le, Marshall J.D.. The biotic and abiotic drivers of living diversity in the deadly traps of Nepenthes pitcher plants. Biodiversity and Conservation. 2019; 28:345-362. DOI
- Gilbert K.J., Bittleston L.S., Tong W., Pierce N.E.. Tropical pitcher plants (Nepenthes ) act as ecological filters by altering properties of their fluid microenvironments. 2020; 10(4431)DOI
- Goh H.H., Baharin A., Salleh F., Imadi M., Ravee R., Zakaria W.N.A.W., Noor N.M.. Transcriptome-wide shift from photosynthesis and energy metabolism upon endogenous fluid protein depletion in young Nepenthes ampullaria pitchers. 2020. DOI
- Goulet H., Huber T.J.. Agriculture Canada: Otawa; 1993.
- Handayani T.. Diversity and growth behavior of Nepenthes (pitcher plants) in Tanjung Putting National Park, Central Kalimantan Province. Biodiv. 2005; 6:248-252. DOI
- Handayani T.. Peranan tanaman kantong semar (Nepenthes spp.) dalam kehidupan manusia dan lingkungannya. Gunung Djati Conference Series. 2021; 6:11-18.
- Handayani T.. Interaksi antara tanaman dengan semut: studi kasus pada Nepenthes mirabilis druce di kebun raya bogor. Prosiding SNPBS. 2022; 6:406-412.
- Hernawati H., Zuhud E.A.M., Prasetyo L.B., Soekmadi R.. In the tradition of the kenduri SKO Community of Kerinci. ; 2022. DOI
- Khairil M., Dewantara I., Widiastuti T.. Studi keanekaragaman jenis kanong semar (Nepenthes spp.) di Kawasan hutan bukit beluan Kecamatan Hulu Gurung. Jurnal Hutan Lestari. 2015; 3:259-264.
- Lam W.N., Tan H.T.W.. Lee Kong Chian Natural History Museum, National Univ of Singapore: Singapore; 2020.
- Lam N.W., Yeo H., Lim Y.J.R., Wong H.S., Lam-Phua G.S., Fashing J.N., Neo L., Wang Y.W., Cheong F.L., YCNg Paul, Tan W.T.H.. A comparative exploration of the inquiline and prey species of Nepenthes rafflesiana pitchers in contiguous and fragmented habitat patches in Singapore. Raffles Bulletin of Zoology. 2020; 68:838-858.
- Mansur M.. A Review of Nepenthes (Nepentheceae) in Indonesia. Berita Biologi. 2012; 12:1-7.
- Mansur M., Brearley F.Q., Esseen P.J., Rode-Margono E.J., Tarigan M.R.M.. Ecology of Nepenthes clipeata on Gunung Kelam, Indonesian Borneo. Plant Ecol Divers. 2021; 14:195-203. DOI
- Mansur M., Salamah A., Mirmanto E., O.F Brearley. Diversity, ecology, and conservation status of Nepenthes in west Sumatra province, Indonesia. Biotropia. 2023; 30:220-231. DOI
- Magurran A.. Ecological Diversity and Its Measurement. 1988. DOI
- Maysarah Zuhud A.M.E., A Hikmat. Populasi dan habitat Nepenthes ampullaria jack di Cagar Alam Mandor Kalimantan Barat. Medkon. 2016; 21:125-134. DOI
- McAlpine J.F., Peterson B.V., Shewell G.E., Teskey H.J., Vockeroth Wood, D.M.. Agriculture Canada: Otawa; 1987.
- Merbach M.A., Zizka G., Fiala B., Merbach D., Booth E.E., Maschwitz U.. Why a carnivorous plant cooperates with an ant–selective defense against pitcher-destroying weevils in the myrmecophytic pitcher plant Nepenthes bicalcarata hook.F. Ecotropica. 2007; 13:45-56.
- Mogi M.. Unusual life history traits of Aedes (Stegomyia) mosquitoes (Diptera: Culicidae) inhabiting Nepenthes pitchers. Ann Entomol soc am. 2010; 103:618-624. DOI
- Moran A.J., Hawkins J.B., Gowen E.B., Robbins L.S.. Ion fluxes across the pitcher walls of three Bornean Nepenthes pitcher plant species: flux rates and gland distribution patterns reflect nitrogen sequestration strategies. Journal of Experimental Botany. 2010; 61:1365-1374. DOI
- Muryanto S.B., Putri R.A.. Identifikasi tanaman kantong semar (Nepenthes sp.) terkait fenologynya pada daerah terbuka (panas) di Kawasan bumi perkemahan sobleman wilayah resort wonolelo, taman nasional gunung merbabu. Journal Nusantara Hasana. 2023; 2:164-171.
- Nanik L., Setyaningsih D.. Explorative study of tropical pitcher plants (Nepenthes sp.) types and insects that are trapped inside Sebangau National Park Palangkaraya Central Kalimantan. Journal of Physic Conf. Series. 2007; 795(012062)DOI
- Panda A., Gunawan E.Y.. Komposisi takson tingkat suku serangga yang terperangkap dalam kantong Nepenthes spp. Biotropika. 2017; 5:36-43. DOI
- Putir E.P., Firdara F.E., Nuwa Andreas, J.F.S.. The diversity of kantong semar (Nepenthes spp.) in hampangen educationalforest KHDT, universitas of palang karaya. Jurnal Daun. 2022; 9:177-187. Publisher Full Text | DOI
- Simbolon C., Samiyarsih S., Herawati W.. Kajian anatomi daun dan morfologi Nepenthes spp. Koleksi kebun raya Baturaden Kabupaten Banyumas. Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed. 2021; 3:121-131. DOI
- Susanti T., Yamin M.. Vegetasi komunitas Nepenthes spp. di kawasan hutan kampus institut agama islam negeri sulthan thaha saifuddin jambi. AlKauniyah: Jurnal Biologi. 2017; 10:83-90. DOI
- Takeuchi Y., Chaffron S., Salcher M.M., Inatsugi Kobayashi, JM Diway, B Mering, VC Pernthaler, J Shimizu, K.K.. Bacterial diversity and composition in the fluid of pitcher plants of the genus Nepenthes. Elsevier Syapm. 2015; 38:330-339. DOI
- Tarigan M.R.M., Aziz S., Tanjung I.F., Pary C., Adlini N.M., Jayanti U., Ardianto Ulfa, A.Y.. Morphology and pitcher’s color Nepenthes in Batu Lubang Sibolga area. North Sumatra Province, Indonesia. 2023; 24:1953-1961. DOI
- Tarigan M.R.M., Faisal M., Manalu K., Kairuna Tambunan, SPE Rahmadina, Asy’ari H., Ritoga E.Y.. Morphology of arthropods discovered in pitchers of Nepenthes at Aceh Singkil District, Indonesia. Biodiversitas. 2024; 25:2888-2900. DOI
- Utari N., Sulistijorini Ariyanti, S.N.. Autecology of Nepenthes spp. in Peat Swamp and heath forest pematang gadung, west Kalimantan. Journal Tropical Biodiversity Biotechnology. 2023; 8:1-8. DOI
- Vong V., Noon-Anant N., Ali A., Onsanit S., Thitithanakul S., Pengsakul T.. Larva mosquito (Diptera: Culicidae) abundance in relation with environmental condition of pitcher plants Nepenthes mirabilis var. mirabilis in Songkhla Province, Thailand. Songklanakarin Journal of Science and Technology. 2021; 43:431-438.
- Wong C., Ling S.Y., Wee S.L.J., Mujahid A., Muller M.. A comparative uhpclc-q/tof-ms-based eco-metabolomics approach reveals temperature adaption of four Nepenthes species. Scientific Reports. 2021; 21(2186)DOI
Adam JH, Hamid HA, Juhari MAA. 2011. Species composition and dispersion pattern of pitcher plants recorded from Rantau Abang in Marang District, Terengganu State of Malaysia. International Journal of Botany. 7:162–169. DOI: https://doi.org/10.3923/ijb.2011.162.169.
Anastasia S,Turnip M, Linda R. 2018. Variasi morfometrik dan pengelompokan spesies kantong semar (Nepenthes spp.) di desa simpang kasturi kecamatan mandor. Jurnal Protobion. 7:29–36.
Armanda, Anggraeni, Wahyuni T. 2020. Population and phenotype characterization of pitcher plant (Nepenthes spp.) in Palawan forest biodiversity park at Central Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province. Media Konservasi. 25:89–97. DOI: https://doi.org/10.29244/medkon.25.1.89-97.
Arwindo V, Ifadatin S, Rafdinal. 2022. Keanekaragaman dan pola distribusi kantong semar (Nepenthes spp.) di Bukit Bentuang Dusun Punti Tapau Kecamatan Entikong Kabupaten Sangau. Journal of Biotechnology and Conservation in Wallacea. 2:59–70.
Atikah S, Sunariyati S, Gunawan, Edy Y. 2021. Komposisi serangga yang terperangkap pada kantong atas dan kantong bawah Nepenthes rafflesiana di sungai koran resort, sebangau hulu. Journal of Environment and Management. 2:206–211. DOI: https://doi.org/10.37304/jem.v2i3.4380.
Azra OD, Ifadatin S, Lovadi I, Rafdinal. 2023. Hubungan kekerabatan Nepenthes hybrid hasil persilangan alami antara Nepenthes mirabilis (lour) druce dan Nepenthes reindwardtiana miq berdasarkan karakter morfologi. Jurnal Floribunda. 7:116–123. DOI: https://doi.org/10.32556/floribunda.v7i3.2023.427.
Baby S, Johnson AJ, Zachariah EJ, Hussain AA. 2017. Nepenthes pitchers are CO2-enriched cavities, that emit CO2 to attract prey. Scientific Report. 7:1–10. DOI: https://doi.org/10.1038/s41598-017-11414-7.
Bauer U, Rembold K, Grafe U. 2015. Carnivorous Nepenthes pitcher plants are a rich food source for a diverse vertebrate community. Journal of Natural History. 50:7–8. DOI: https://doi.org/10.1080/00222933.2015.1059963.
Bauer U, Giusto DB, Skepper J, Grafe UT, Federle W. 2012. With a flick of the lid: a novel trapping mechanism in Nepenthes gracilis pitcher plant. Plos One. 7:e38951. DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0038951.
Bazille V, Moran JA, Le MG, Marshall DJ, Gaume L. 2012. A Carnivorous plant fed by its ant symbiont: A unique multi-faceted nutritional mutualism. PLoS One. 7:e36179. DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0036179.
Bennett KF, Ellison M. 2009. Nectar, not color, may lure insects to their death. Biology Letters. 5: 469–472. DOI: https://doi.org/10.1098/rsbl.2009.0161.
Bittleston LS, Baker CCM, Strominger LB, Pringle A, Pierce NE. 2015. Metabarcoding as a tool for investigating arthropod diversity in Nepenthes pitcher plants. Austral Ecology. 41:120–132. DOI: https://doi.org/10.1111/aec.12271.
Bolton B. 1994. Identification Guide to The Ant Genera of The Word. America: United States of America.
Borror DJ, Triplehorn CA, Johnson NF. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. 6th ed. Terjemahan oleh Soetiyono Partosoedjono. 1992, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Cheek M, Jebb M. 2013. In the Philippines, there is a recircumscription of the Nepenthes alata group (Caryophyllales: Nepenthaceae) with four new species. European Journal of Taxonomy. 69:1–23. DOI: https://doi.org/10.5852/ejt.2013.69.
Capinera, Jhon L, De Clercq, Patrick. 2008. Encyclopedia of Entomology. Florida: Springer Science and Business Media.
Chin L, Chung AY, Clarke C. 2014. Interspecific variation in prey capture behavior by co occurring Nepenthes pitcher plants: Evidence for resource partitioning or sampling-scheme artifacts?. Plant Signaling & Behavior. 9:e27930. DOI: https://doi.org/10.4161/psb.27930.
Farre AG, Filella I, Llusia J, Penuelas J. 2015. Relationships among floral VOC emissions, floral rewards and visits of pollinators in five plant species of Mediterranean shrub land. Plant Ecology and Evolution. 148:90–99. https://doi.org/10.5091/plecevo.2015.963.
Gaume L, Bazille V, Bousses P, Le moguedec G, Marshall JD. 2019. The biotic and abiotic drivers of living diversity in the deadly traps of Nepenthes pitcher plants. Biodiversity and Conservation. 28:345–362. DOI: https://doi.org/10.1007/s10531-018-1658-z.
Gilbert KJ, Bittleston LS, Tong W, Pierce NE. 2020. Tropical pitcher plants (Nepenthes ) act as ecological filters by altering properties of their fluid microenvironments. 10:4431. DOI: https://doi.org/10.1038/s41598-020-61193-x.
Goh HH, Baharin A, Salleh F, Imadi M, Ravee R, Zakaria WNAW, Noor NM. 2020. Transcriptome-wide shift from photosynthesis and energy metabolism upon endogenous fluid protein depletion in young Nepenthes ampullaria pitchers. Scientific Reports.10:1–17. DOI: https://doi.org/10.1038/s41598-020-63696-z.
Goulet H, Huber TJ. 1993. Hymenoptera of The World: An Identification Guide to Families. Otawa: Agriculture Canada.
Handayani T. 2005. Diversity and growth behavior of Nepenthes (pitcher plants) in Tanjung Putting National Park, Central Kalimantan Province. Biodiv. 6:248–252. DOI: https://doi.org/10.13057/biodiv/d060407.
Handayani T. 2021. Peranan tanaman kantong semar (Nepenthes spp.) dalam kehidupan manusia dan lingkungannya. Gunung Djati Conference Series. 6:11–18
Handayani T. 2022. Interaksi antara tanaman dengan semut: studi kasus pada Nepenthes mirabilis druce di kebun raya bogor. Prosiding SNPBS. 6:406–412.
Hernawati H, Zuhud EAM, Prasetyo LB, Soekmadi R. 2022. Utilization and conservation of Nepenthes ampullaria Jack. In the tradition of the kenduri SKO Community of Kerinci, Jambi. Media Konservasi. 27:51–58. DOI: https://doi.org/10.29244/medkon.27.2.51-58.
Khairil M, Dewantara I, Widiastuti T. 2015. Studi keanekaragaman jenis kanong semar (Nepenthes spp.) di Kawasan hutan bukit beluan Kecamatan Hulu Gurung. Jurnal Hutan Lestari. 3:259–264.
Lam WN, Tan HTW. 2020. The Pitcher Plants (Nepenthes Species) of Singapore. Singapore: Lee Kong Chian Natural History Museum, National Univ of Singapore.
Lam NW, Yeo H, Lim YJR, Wong HS, Lam-Phua GS, Fashing JN, Neo L, Wang YW, Cheong FL, Paul YCNg, Tan WTH. 2020. A comparative exploration of the inquiline and prey species of Nepenthes rafflesiana pitchers in contiguous and fragmented habitat patches in Singapore. Raffles Bulletin of Zoology. 68:838–858.
Mansur M. 2012. A Review of Nepenthes (Nepentheceae) in Indonesia. Berita Biologi. 12:1–7.
Mansur M, Brearley FQ, Esseen PJ, Rode-Margono EJ, Tarigan MRM. 2021. Ecology of Nepenthes clipeata on Gunung Kelam, Indonesian Borneo. Plant Ecol Divers 14:195–203. DOI: https://doi.org/10.1080/17550874.2021.1984602.
Mansur M, Salamah A, Mirmanto E, Brearley O.F. 2023. Diversity, ecology, and conservation status of Nepenthes in west Sumatra province, Indonesia. Biotropia. 30:220–231. DOI: https://doi.org/10.11598/btb.2023.30.2.1896.
Magurran A. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. Princeton University Press. Princeton, New Jersey. DOI: https://doi.org/10.1007/978-94-015-7358-0.
Maysarah, Zuhud AME, Hikmat A. 2016. Populasi dan habitat Nepenthes ampullaria jack di Cagar Alam Mandor Kalimantan Barat. Medkon. 21:125–134. DOI: https://doi.org/10.29244/medkon.21.2.125-134.
McAlpine JF, Peterson BV, Shewell GE, Teskey HJ, Vockeroth JR, Wood DM. 1987. Manual of Nearctic Diptera Volume 2. Otawa: Agriculture Canada.
Merbach MA, Zizka G, Fiala B, Merbach D, Booth EE, Maschwitz U. 2007. Why a carnivorous plant cooperates with an ant–selective defense against pitcher-destroying weevils in the myrmecophytic pitcher plant Nepenthes bicalcarata hook.F. Ecotropica. 13:45–56
Mogi M. 2010. Unusual life history traits of Aedes (Stegomyia) mosquitoes (Diptera: Culicidae) inhabiting Nepenthes pitchers. Ann Entomol soc am 103:618–624. DOI: https://doi.org/10.1603/AN10028.
Moran AJ, Hawkins JB, Gowen EB, Robbins LS. 2010. Ion fluxes across the pitcher walls of three Bornean Nepenthes pitcher plant species: flux rates and gland distribution patterns reflect nitrogen sequestration strategies. Journal of Experimental Botany. 61:1365–1374. DOI: https://doi.org/10.1093/jxb/erq004.
Muryanto SB, Putri RA. 2023. Identifikasi tanaman kantong semar (Nepenthes sp.) terkait fenologynya pada daerah terbuka (panas) di Kawasan bumi perkemahan sobleman wilayah resort wonolelo, taman nasional gunung merbabu. Journal Nusantara Hasana. 2:164–171.
Nanik L, Setyaningsih D. 2007. Explorative study of tropical pitcher plants (Nepenthes sp.) types and insects that are trapped inside Sebangau National Park Palangkaraya Central Kalimantan. Journal of Physic Conf. Series 795:012062. DOI: https://doi.org/10.1088/1742-6596/795/1/012062.
Panda A, Gunawan EY. 2017. Komposisi takson tingkat suku serangga yang terperangkap dalam kantong Nepenthes spp. Biotropika. 5:36–43. DOI: https://doi.org/10.21776/ub.biotropika.2017.005.02.1.
Putir EP, Firdara FE, Nuwa, Andreas JFS. 2022. The diversity of kantong semar (Nepenthes spp.) in hampangen educationalforest KHDT, universitas of palang karaya. Jurnal Daun. 9:177–187. DOI: https://DOI.org/10.33084/daun.v9i2.4149.
Simbolon C, Samiyarsih S, Herawati W. 2021. Kajian anatomi daun dan morfologi Nepenthes spp. Koleksi kebun raya Baturaden Kabupaten Banyumas. Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed. 3:121–131. DOI: hhttps://doi.org/10.20884/1.bioe.2021.3.3.4560.
Susanti T, Yamin M. 2017. Vegetasi komunitas Nepenthes spp. di kawasan hutan kampus institut agama islam negeri sulthan thaha saifuddin jambi. AlKauniyah: Jurnal Biologi. 10:83–90. DOI: https://doi.org/10.15408/kauniyah.v10i2.4789.
Takeuchi Y, Chaffron S, Salcher MM, Inatsugi SR, Kobayashi JM, Diway B, Mering VC, Pernthaler J, Shimizu KK. 2015. Bacterial diversity and composition in the fluid of pitcher plants of the genus Nepenthes. Elsevier Syapm. 38:330–339. DOI: https://doi.org/10.1016/j.syapm.2015.05.006.
Tarigan MRM, Aziz S, Tanjung IF, Pary C, Adlini NM, Jayanti U, Ardianto, Ulfa AY. 2023. Morphology and pitcher’s color Nepenthes in Batu Lubang Sibolga area, North Sumatra Province, Indonesia. 24:1953–1961. Biodiversitas. DOI: https://doi.org/10.13057/biodiv/d240403.
Tarigan MRM, Faisal M, Manalu K, Kairuna, Tambunan SPE, Rahmadina, Asy’ari H, Ritoga EY. 2024. Morphology of arthropods discovered in pitchers of Nepenthes at Aceh Singkil District, Indonesia. Biodiversitas. 25:2888–2900. DOI: https://doi.org/10.13057/biodiv/d250710.
Utari N, Sulistijorini, Ariyanti SN. 2023. Autecology of Nepenthes spp. in Peat Swamp and heath forest pematang gadung, west Kalimantan. Journal Tropical Biodiversity Biotechnology. 8:1–8. DOI: https://doi.org/10.22146/jtbb.81351.
Vong V, Noon-Anant N, Ali A, Onsanit S, Thitithanakul S, Pengsakul T. 2021. Larva mosquito (Diptera: Culicidae) abundance in relation with environmental condition of pitcher plants Nepenthes mirabilis var. mirabilis in Songkhla Province, Thailand. Songklanakarin Journal of Science and Technology. 43:431–438.
Wong C, Ling SY, Wee SLJ, Mujahid A, Muller M. 2021. A comparative uhpclc-q/tof-ms-based eco-metabolomics approach reveals temperature adaption of four Nepenthes species. Scientific Reports. 21:2186. DOI: https://doi.org/10.1038/s41598-020-78873-3.
Copyright (c) 2025 Restu Fitria, Tri Atmowidi, Windra Priawandiputra

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).









