<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.3 20210610//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.3/JATS-journalpublishing1-3.dtd"><article xml:lang="id" dtd-version="1.3" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/" article-type="research-article"><front><journal-meta><journal-id journal-id-type="issn">2089-0257</journal-id><journal-title-group><journal-title>Jurnal Entomologi Indonesia</journal-title><abbrev-journal-title>J Entomol Indones</abbrev-journal-title></journal-title-group><issn pub-type="epub">2089-0257</issn><issn pub-type="ppub">1829-7722</issn><publisher><publisher-name>Perhimpunan Entomologi Indonesia</publisher-name></publisher></journal-meta><article-meta><article-id pub-id-type="doi">10.5994/jei.22.3.209</article-id><title-group><article-title>Dinamika populasi dan interaksi populasi Scirpophaga incertulas (Walker) dengan Cnaphalocrosis medinalis (Guénee) pada pertanaman padi di Karawang, Jawa Barat</article-title><subtitle>The population dynamic and interaction Scirpophaga incertulas (Walker)’s with Cnaphalocrosis medinalis (Guenee) in rice plantation in Karawang, West Java</subtitle></title-group><contrib-group><contrib contrib-type="author"><contrib-id contrib-id-type="orcid">https://orcid.org/0009-0007-7179-9015</contrib-id><name><surname>Anggraeni</surname><given-names>Flavia Devi</given-names></name><address><country>Indonesia</country><email>flaviadevi98@gmail.com</email></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-1"></xref><xref ref-type="corresp" rid="cor-0"></xref></contrib><contrib contrib-type="author"><name><surname>Anwar</surname><given-names>Ruly</given-names></name><address><country>Indonesia</country></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-2"></xref></contrib><contrib contrib-type="author"><name><surname>Ratna</surname><given-names>Endang Sri</given-names></name><address><country>Indonesia</country></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-2"></xref></contrib></contrib-group><contrib-group><contrib contrib-type="editor"><name><surname>Sudarsono</surname><given-names>Hamim</given-names></name><address><country>Indonesia</country></address></contrib></contrib-group><aff id="AFF-1"><institution content-type="dept">Program Studi Agroteknologi, Fakultas Agroteknopreneur dan Agraria</institution><institution-wrap><institution>Universitas Nusa Bangsa</institution><institution-id institution-id-type="ror">https://ror.org/03n5w2v49</institution-id></institution-wrap><addr-line>Jalan Kh. Sholeh Iskandar, Bogor 16166</addr-line><country country="ID">Indonesia</country></aff><aff id="AFF-2"><institution content-type="dept">Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian</institution><institution-wrap><institution>Institut Pertanian Bogor</institution><institution-id institution-id-type="ror">https://ror.org/05smgpd89</institution-id></institution-wrap><addr-line>Jalan Kamper Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680</addr-line><country country="ID">Indonesia</country></aff><author-notes><corresp id="cor-0">Corresponding author: Flavia Devi Anggraeni, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Agroteknopreneur dan Agraria, Universitas Nusa Bangsa, Jalan Kh. Sholeh Iskandar, Bogor 16166, Indonesia.  Email: <email>flaviadevi98@gmail.com</email></corresp></author-notes><pub-date publication-format="electronic" date-type="pub" iso-8601-date="2025-12-29"><day>29</day><month>12</month><year>2025</year></pub-date><pub-date date-type="collection" iso-8601-date="2025-11-30" publication-format="electronic"><day>30</day><month>11</month><year>2025</year></pub-date><volume>22</volume><issue>3</issue><fpage>209</fpage><lpage>218</lpage><history><date date-type="received" iso-8601-date="2025-8-26"><day>26</day><month>8</month><year>2025</year></date><date date-type="accepted" iso-8601-date="2025-11-27"><day>27</day><month>11</month><year>2025</year></date></history><permissions><copyright-statement>Hak Cipta (c) 2025</copyright-statement><copyright-year>2025</copyright-year><copyright-holder>Perhimpunan Entomologi Indonesia</copyright-holder><license license-type="open-access" xlink:href="https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/"><ali:license_ref xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/">https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/</ali:license_ref><license-p>Artikel ini berlisensi  Creative Commons Attribution 4.0 International License.</license-p></license></permissions><self-uri xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/view/955" xlink:title="Dinamika populasi dan interaksi populasi Scirpophaga incertulas (Walker) dengan Cnaphalocrosis medinalis (Guénee) pada pertanaman padi di Karawang, Jawa Barat">Dinamika populasi dan interaksi populasi Scirpophaga incertulas (Walker) dengan Cnaphalocrosis medinalis (Guénee) pada pertanaman padi di Karawang, Jawa Barat</self-uri><abstract><p>Larva <italic>Scirpophaga incertulas </italic>(Walker) seringkali menyerang tanaman padi pada fase vegetatif tumpang tindih dan berkompetisi dengan larva <italic>Cnaphalocrosis medinalis </italic>(Guénee) di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah populasi, nisbah kelamin, dan interaksi spesies <italic>S. incertulas </italic>dan <italic>C. medinalis </italic>pada lahan yang sama. Penelitian dilakukan di Kecamatan Rawamerta, Karawang, Jawa Barat. Populasi ngengat dikoleksi menggunakan perangkap lampu plastik mika berperekat, dan dimulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB selama tiga hari berseling saat ketika puncak penerbangan ngengat di fase persemaian, anakan maksimum, dan padi bunting. Interaksi populasi antar spesies <italic>S. incertulas </italic>dan <italic>C. medinalis </italic>diperoleh dari pengamatan gejala kerusakan tanaman padi di lahan percobaan. Gejala serangan kedua spesies diamati dua minggu sekali, dimulai dari tanaman berusia 14 HST hingga 70 HST. Total populasi ngengat <italic>S. incertulas </italic>dan <italic>C. medinalis </italic>yang terperangkap berturut-turut paling tinggi 68 individu pada fase anakan maksimum dan 29 individu pada fase persemaian dengan nisbah kelamin 1:2,55 dan 1,8:1. Hasil analisis regresi linier berganda antara intensitas serangan <italic>S. incertulas </italic>dengan umur tanaman terhadap serangan <italic>C. medinalis </italic>diperoleh hubungan negatif antar variabel, ditunjukkan dengan persamaan Y = 0,1012- 0,0239X<sub>1</sub>-0,001124X<sub>2</sub>. Interaksi serangan <italic>S. incertulas </italic>terhadap <italic>C. medinalis </italic>dikategorikan sebagai amensalisme</p></abstract><kwd-group><kwd>amensalisme</kwd><kwd>interaksi populasi</kwd><kwd>nisbah kelamin</kwd><kwd>perangkap lampu</kwd><kwd>simbiosis</kwd></kwd-group><custom-meta-group><custom-meta><meta-name>File created by JATS Editor</meta-name><meta-value><ext-link xlink:title="JATS Editor" ext-link-type="uri" xlink:href="https://jatseditor.com">JATS Editor</ext-link></meta-value></custom-meta><custom-meta><meta-name>issue-created-year</meta-name><meta-value>2025</meta-value></custom-meta></custom-meta-group></article-meta></front><body><sec><title>PENDAHULUAN</title><p>Padi merupakan salah satu komoditassumber utama pangan masyarakat Indonesia. Pada tahun 2023, telah terjadi penurunan produksi hasil GKG sebesar 767.890 ton dibandingkan dengan tahun sebelumnya <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-9">(Statistik, 2023)</xref>. Dalam meningkatkan hasil produksi tanaman padi, terdapat berbagai kendala yang mempengaruhi praktik budi daya. Salah satunya akibat serangan OPT, khususnya serangga hama. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">(Kartohardjono et al., 2009)</xref>. </p><p>Salah satu hama yang menjadi perhatian petani adalah hama penggerek batang padi. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-8">(Tanaman, 2022)</xref> melaporkan bahwa OPT yang banyak menyerang tanaman padi ialah penggerek batang padi dan tikus. Terdapat empat jenis penggerek batang padi yang umum ditemukan salah satunya, yakni hama penggerek batang padi kuning <italic>Scirpophaga incertulas</italic> (Walker) <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-17">(Hadi et al., 2015)</xref>. <italic>Scirpophaga incertulas</italic> merupakan salah satu spesies hama penggerek yang umum ditemukan di negara penghasil beras <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Abdullah &amp; Mokhtar, 2024)</xref>, dan <italic>S. incertulas</italic> merupakan spesies yang banyak mendominasi di berbagai ekosistem persawahan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-17">(Hadi et al., 2015)</xref>. Larva <italic>S. incertulas</italic> menyerang tanaman padi pada berbagai fase tanaman dan menyebabkan intensitas serangan yang tinggi sehingga spesies ini digolongkan sebagai hama utama tanaman padi <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-10">(C.A.B.I., 2021)</xref>.  Selama stadia vegetatif berlangsung, larva <italic>S. incertulas</italic> menyerang titik tumbuh tanaman padi sehingga anakan mati. Gejala mati anakan ini umumnya dikenal dengan sebutan sundep. Pada stadia generatif, gejala serangan ditandai dengan munculnya malai hampa yang tegak, yang umumnya dikenal dengan sebutan beluk <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-15">(Gautam et al., 2020)</xref>; <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-34">(Uguy et al., 2020)</xref> melaporkan bahwa tingkat serangan S. incertulas di Kabupaten Minahasa Tenggara berkisar 5,4% hingga 15,4%, sedangkan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-5">(Bahar et al., 2020)</xref> melaporkan bahwa intensitas serangan S. incertulas pada beberapa varietas di Kabupaten Bandung pada fase vegetatif dan generatif mencapai lebih dari 14% dan 14,44%. Tingkat fekunditas yang tinggi menyebabkan kehadiran hama ini sulit untuk dikendalikan. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">(Kartohardjono et al., 2009)</xref> melaporkan bahwa rata-rata fekunditas ngengat berkisar 47–64 butir/kelompok, dengan tingkat fertilitas mencapai 45,58% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-4">(Anggraeni et al., 2025)</xref>. Hal ini dapat dikaitkan dengan jumlah populasi dan nisbah kelamin dari ngengat dewasa <italic>S. incertulas</italic>. Oleh karena itu, monitoring aktivitas ngengat perlu dilakukan untuk mengetahui keberadaan populasi dan nisbah kelaminnya.</p><p>Agroekosistem tanaman padi merupakan tempat terjadinya berbagai interaksi antar berbagai jenis individu dan inangnya <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-20">(Irwanto &amp; Gusnia, 2021)</xref>. Selain <italic>S. incertulas</italic>, hama pelipat daun <italic>Cnaphalocrosis medinalis</italic> (Guénee) dianggap menjadi hama potensial yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">(Kartohardjono et al., 2009)</xref>; <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-6">(Bhatt et al., 2018)</xref> melaporkan bahwa serangan <italic>C. medinalis</italic> biasanya hanya terjadi pada fase vegetatif padi. Larva hama pelipat daun merupakan larva perusak daun, yang berpotensi mengurangi proses fotosintesis daun, hal ini karena larva memakan klorofil daun dan hanya menyisakan bagian epidermisnya saja <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">(Kartohardjono et al., 2009)</xref>. Kelimpahan populasi hama dan tingkat serangan <italic>C. medinalis</italic> relatif sangat bervariasi bergantung pada ketersediaan inangnya, <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-24">(Kumar et al., 1996)</xref> pernah melaporkan bahwa serangan <italic>C. medinalis</italic> di Bihar, India berkisar 1,4– 33,2%. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-31">(Sholahuddin et al., 2023)</xref> melaporkan bahwa di Klaten, Jawa Tengah tingkat serangan <italic>C. medinalis</italic> paling tinggi terjadi ketika 9 dan 12 MST mencapai 31–40,2%. Selain itu, <xref rid="BIBR-13" ref-type="bibr">(Dien &amp; Kandowangko, 2017)</xref> juga melaporkan bahwa intensitas serangan oleh larva <italic>C. medinalis</italic> di Kabupaten Minahasa berkisar 4% hingga 34%. Kemampuan ngengat dewasa <italic>C. medinalis</italic> dalam menghasilkan telur sangat tinggi. Satu ngengat dewasa betina dapat menghasilkan 300 butir telur. Oleh karena itu, monitoring ngengat <italic>C. medinalis</italic> perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah populasi dan nisbah kelaminnya. Monitoring aktivitas ngengat <italic>S. incertulas</italic> dan <italic>C. medinalis</italic> dapat dilakukan untuk mengetahui total populasi dan nisbah kelaminnya. Ngengat <italic>S. incertulas</italic> dan <italic>C. medinalis</italic> dikategorikan sebagai serangga nokturnal. Serangga nokturnal umumnya memiliki ketertarikan cahaya yang tinggi sehingga monitoring dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap lampu <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-29">(Ramadhan et al., 2020)</xref>. Menurut <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-38">(Yunus et al., 2011)</xref>, penggunaan lampu perangkap dapat digunakan untuk memantau aktivitas terbang ngengat dewasa.</p><p>Keberadaan populasi kedua hama tersebut seringkali tumpang tindih pada satu ekosistem yang sama. Seperti yang pernah dilaporkan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-14">(Febriano et al., 2024)</xref> bahwa keberadaan <italic>S. incertulas</italic> dan <italic>C. medinalis</italic> ditemukan pada lokasi agroekosistem yang sama. Pertumbuhan populasi serangga yang tumpang tindih dengan serangga lainnya dapat menyebabkan terjadinya berbagai interaksi yang didukung oleh berbagai faktor antar populasinya <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-20">(Irwanto &amp; Gusnia, 2021)</xref>. Seperti yang pernah dinyatakan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-25">(Kwon &amp; Nam, 2000)</xref> bahwa adanya koeksistensi antara dua atau lebih spesies serangga pada inang yang sama dapat memicu terjadinya interaksi, seperti persaingan (kompetisi), gangguan fisik, dan gangguan oviposisi. Keberadaan interaksi antara serangga dapat menjadi faktor penting pada kelimpahan dan dinamika populasi, serta mendorong persebaran dan distribusi spesies <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-36">(Weyl, 2011)</xref>. Penelitian mengenai interaksi serangga- serangga dan inang pernah beberapa kali dilakukan sebelumnya. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-25">(Kwon &amp; Nam, 2000)</xref> melakukan penelitian mengenai kebiasaan makan dua jenis serangga yang memiliki tanaman inang Rubex sp., dan menyatakan bahwa kebiasaan makan dari salah satu spesies dapat menekan keberadaan spesies lain pada tanaman tersebut. Di Indonesia, belum banyak informasi penelitian yang mencakup interaksi dua serangga herbivora pada tanaman inang yang sama khususnya tanaman padi. Terdapat dua jenis serangga herbivor yang umum ditemukan menyerang tanaman padi. Oleh karena itu, penelitian mengenai interaksi hama <italic>S. incetulas</italic> dan <italic>C. medinalis</italic> perlu dilakukan untuk memudahkan pengelolaannya.</p><p>Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah mengkaji jumlah populasi dan nisbah kelamin <italic>S. incertulas</italic> dan <italic>C. medinalis</italic>. Selain itu, penelitian ini bertujuan dalam menganalisis jenis interaksi antara <italic>S. incertulas</italic> terhadap hama putih palsu (<italic>C. medinalis</italic>). Hasil kajian penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan, menjadi acuan dalam persiapan pengelolaan populasi kedua jenis hama, pengendaliannya di lapangan, serta kebutuhan penelitian berikutnya.</p></sec><sec><title>BAHAN DAN METODE</title><sec><title>Waktu dan tempat</title><p>Percobaan lapang dilakukan di Desa Cibadak, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang pada titik koordinat 6°14’18” LS dan 107°22’59” E BT dengan suhu lingkungan berkisar 27–28 °C, kelembaban 97– 99%, dan curah hujan 37,3–64,5 mm.</p></sec><sec><title>Monitoring populasi dan nisbah kelamin <italic>S. incertulas</italic> serta <italic>C. medinalis</italic></title><p>Percobaan ini menggunakan desain rancangan acak kelompok (RAK) dua faktor dengan jenis ngengat sebagai faktor utama dan perbedaan fase padi sebagai faktor kedua yang menghasilkan 12 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak 4 kali (<xref ref-type="table" rid="table-1">Table 1</xref>).</p><p>Total populasi ngengat diperoleh dengan melakukan pemasangan perangkap lampu yang terdiri atas lembaran-lembaran plastik mika berperkat berukuran 20 cm × 21 cm dengan tinggi rangka kawat 40 cm. Lembaran plastik mika diposisikan pada empat sudut diagonal dari pusat lampu neon LED berbentuk batang dengan panjang 32 cm dan daya sebesar 60-watt setara dengan 800 lm. Perangkap lampu digantung dan disandingkan sesuai dengan ketinggian kanopi padi.</p><p>Periode penangkapan dilakukan pada periode lunar di tiga fase pertumbuhan tanaman padi mengikuti pola pertanaman padi serempak yang dilakukan petani yang disesuaikan dengan periode bulan purnama yang diasumsikan sebagai periode penerbangan tertinggi dari kedua spesies. Ketiga stadium tanaman padi yang digunakan, yakni stadium persemaian dengan bibit padi berumur 14 sampai 21 hari setelah tebar benih, kemudian stadium anakan maksimum berumur 30 sampai 40 hari setelah tanam (HST), dan stadium padi bunting berumur 40 sampai 60 HST. Perangkap lampu dinyalakan selama dua jam, dimulai pukul 19.00 sampai pukul 21.00 WIB sesuai dengan waktu dimulainya aktivitas ngengat nokturnal. Ngengat kedua spesies yang tertangkap kemudian dipisah berdasarkan jenis kelaminnya. Jenis kelamin ngengat <italic>S. incertulas </italic>dan <italic>C. medinalis </italic>dapat dibedakan berdasarkan karakter morfologi eksternal, terutama ukuran tubuh dan pola sayap. <italic>Scirpophaga incertulas </italic>jantan umumnya memiliki ukuran tubuh yang relatif lebih kecil serta menunjukkan variasi pola sayap yang lebih kompleks, meliputi keberadaan bercak atau garis halus yang tampak jelas pada permukaan sayap. Sementara, <italic>S. incertulas </italic>betina cenderung berukuran lebih besar dan memiliki sayap yang hampir tidak bercorak sehingga tampil lebih seragam dan pucat dibandingkan dengan jantan.</p><table-wrap id="table-1" ignoredToc=""><label>Table 1</label><caption><p>Two-factor randomized block design treatment between three rice stage and various trapped moth in trap</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th valign="top" align="left" colspan="1">No</th><th align="left" colspan="1" valign="top"><p>Fase pertanaman padi </p><p>(<italic>Rice stage</italic>)</p></th><th valign="top" align="left" colspan="1"><p>Ngengat tertangkap </p><p>(<italic>Caught moth</italic>)</p></th></tr></thead><tbody><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">1</td><td colspan="1" rowspan="4" valign="top" align="left"><p>Fase persemaian </p><p>(Seedling phase)</p></td><td colspan="1" valign="top" align="left"><italic>S. incertulas</italic> jantan (<italic>Male S. incertulas</italic>)</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">2</td><td valign="top" align="left" colspan="1"><italic>S. incertulas</italic> betina (<italic>Female S. incertulas</italic>)</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">3</td><td valign="top" align="left" colspan="1"><italic>C. medinalis</italic> jantan (<italic>Male C. medinalis</italic>)</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">4</td><td valign="top" align="left" colspan="1"><italic>C. medinalis</italic> betinan (<italic>Female C. medinalis</italic>)</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">5</td><td rowspan="4" valign="top" align="left" colspan="1"><p>Fase anakan maksimum</p><p><italic>(Maximumtilleringphase</italic>)</p></td><td valign="top" align="left" colspan="1"><italic>S. incertulas</italic> jantan (<italic>Male S. incertulas</italic>)</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">6</td><td valign="top" align="left" colspan="1"><italic>S. incertulas</italic> betina (<italic>Female S. incertulas</italic>)</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">7</td><td valign="top" align="left" colspan="1"><italic>C. medinalis</italic> jantan (<italic>Male C. medinalis</italic>)</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">8</td><td valign="top" align="left" colspan="1"><italic>C. medinalis</italic> betinan (<italic>Female C. medinalis</italic>)</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">9</td><td rowspan="4" valign="top" align="left" colspan="1"><p>Fase padi bunting </p><p>(<italic>Grain filling phase</italic>)</p></td><td valign="top" align="left" colspan="1"><italic>S. incertulas</italic> jantan (<italic>Male S. incertulas</italic>)</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">10</td><td valign="top" align="left" colspan="1"><italic>S. incertulas</italic> betina (<italic>Female S. incertulas</italic>)</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">11</td><td valign="top" align="left" colspan="1"><italic>C. medinalis</italic> jantan (<italic>Male C. medinalis</italic>)</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">12</td><td align="left" colspan="1" valign="top"><italic>C. medinalis</italic> betinan (<italic>Female C. medinalis</italic>)</td></tr></tbody></table></table-wrap><p>Pada ngengat <italic>C. medinalis</italic>, perbedaan morfologi antar jenis kelamin juga tampak secara visual. Ngengat jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan ditandai oleh pola sayap yang lebih beragam, termasuk jumlah dan ketegasan garis pita yang lebih banyak. Sementara, ngengat betinanya memiliki corak sayap yang lebih sederhana, dengan garis pita yang lebih sedikit.</p><p>Setelah dipisahkan, ngengat yang terperangkap kemudian dihitung dan dicatat menggunakan hand tally counter untuk menentukan total populasi ngengat dan nisbah kelaminnya.</p></sec><sec><title>Interaksi <italic>S. incertulas</italic> dan <italic>C. medinalis</italic></title><p>Percobaan ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan intensitas serangan <italic>C. medinalis</italic> dikategorikan sebagai variabel dependen (Y), dan intensitas serangan S. incertulas, dan umur tanaman dikategorikan sebagai variabel bebas (X).</p><p>Intensitas serangan <italic>S. incertulas</italic> dan <italic>C. medinalis</italic> diperoleh pengamatan gejala kerusakan secara langsung yang disebabkan oleh larva <italic>S. incertulas</italic> dan <italic>C. medinalis</italic>. Pengamatan dilakukan pada petak sawah berukuran 10 m × 10 m yang tersebar acak pada lahan persawahan sebesar 1 ha. Pengamatan gejala kerusakan berpusat pada 10 buah titik pengamatan pada masing- masing petakan sawah. Sebanyak 20 rumpun padi pada setiap titik pengamatan diamati gejala kerusakannya. Hasil pengamatan gejala serangan kedua spesies meliputi pengamatan bagian tanaman yang sehat dan terserang. Data serangan kedua hama dipersentase dengan rumus intensitas kerusakan mutlak yang dapat dinyatakan sebagai derajat kerusakan atau serangan</p><p>yang disebabkan oleh serangga:</p><p><inline-formula><tex-math id="math-1"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \text{IS} = \frac{a}{a + b} \times 100\%, \text{ dengan} \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></p><p>IS: intensitas serangan (%); a: jumlah anakan terserang dalam rumpun sampel; b: jumlah anakan sehat dalam rumpun sampel.</p><p>Pengamatan intensitas serangan kedua spesies dilakukan selama tanaman padi berada pada fase vegetatif dengan interval 14 hari sekali dimulai pada tanaman padi berumur 14 hingga 70 HST.</p></sec><sec><title>Analisis data</title><p>Data untuk setiap hasil pengamatan ditabulasikan menggunakan perangkat Microsoft Office 2019. Untuk melihat pengaruh interaksi jenis hama dan fase tanaman padi, data dianalisis menggunakan analisis ragam. Hasil analisis ragam yang menunjukkan adanya pengaruh interaksi, maupun masing-masing faktor secara mandiri maka dilanjutkan dengan uji lanjutan berganda Tukey dengan taraf nyata 95% untuk menentukan pengaruh paling tinggi terhadap populasi kedua spesies.</p><p>Untuk mengetahui perbedaan proporsi nisbah kelamin antara kedua spesies ngengat maka data jumlah populasi dianalisis dengan menggunakan uji chi-square. Apabila nilai p &lt; 0,05 maka perbedaan nisbah kelamin antarspesies dianggap signifikan.</p><p>Untuk melihat jenis interaksi kedua spesies dengan tanaman padi maka data intensitas serangan yang telah diperoleh kemudian ditabulasi dan dihitung menggunakan analisis regresi linier berganda dengan intensitas serangan <italic>S. incertulas</italic> sebagai variabel X<sub>1</sub> dan umur tanaman sebagai variabel X<sub>2</sub> terhadap intensitas serangan <italic>C. medinalis</italic> sebagai variabel Y. Seluruh analisis dilakukan dengan bantuan aplikasi R Studio versi 4.3.1. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(R, 2024)</xref>.</p></sec></sec><sec><title>HASIL</title><sec><title>Monitoring populasi S. incertulas dan <italic>C. medinalis</italic></title><p>Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara jenis hama dan masing-masing fase pertumbuhan padi terhadap total populasi ngengat kedua spesies (p = 0,396; F = 1,085). Secara mandiri, perlakuan tiga fase pertumbuhan padi juga tidak memberikan pengaruhnya terhadap total populasi kedua spesies ngengat (p = 0,525; F = 0,718). Namun, perlakuan jenis hama memberikan pengaruhnya terhadap total populasi ngengat kedua spesies (p = 0,000838; F = 7,494). Hasil analisis uji berganda Tukey menunjukkan bahwa jenis ngengat paling banyak ditemukan ialah ngengat S. incertulas betina sebanyak 102 individu, kemudian ngengat S. incertulas jantan sebanyak 40 individu diikuti oleh ngengat <italic>C. medinalis</italic> jantan sebanyak 45 individu dan total paling rendah, yakni ngengat <italic>C. medinalis</italic> betina sebanyak 25 individu (<xref ref-type="table" rid="table-2">Table 2</xref>).</p></sec><sec><title>Nisbah kelamin S. incertulas dan <italic>C. medinalis</italic></title><p>Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi nisbah kelamin yang signifikan antara <italic>S. incertulas</italic> dan <italic>C. medinalis</italic> (χ² = 23,98; p = 9,7 × 10-7). Total kedua jenis ngengat yang berhasil tertangkap oleh perangkap lampu sebanyak 212 individu yang berasal dari lahan percobaan (<xref ref-type="table" rid="table-3">Table 3</xref>). Total ngengat <italic>S. incertulas</italic> yang terperangkap sebanyak 142 individu, yang terdiri dari ngengat jantan tertangkap sebanyak 40 individu dan ngengat <italic>S. incertulas</italic> betina yang tertangkap, yakni 102 individu sehingga menghasilkan perbandingan nisbah kelamin sebesar 1:2,48 antara jantan dan betina sehingga dapat dinyatakan bahwa keberadaan ngengat betina jauh lebih banyak dibandingkan dengan ngengat jantan. Sementara, jumlah ngengat <italic>C. medinalis</italic> yang tertangkap oleh perangkap lampu sebanyak 70 individu. Total ngengat <italic>C. medinalis</italic> jantan yang tertangkap, yakni mencapai 45 individu, sedangkan total ngengat <italic>C. medinalis</italic> betina yang tertangkap sebanyak 25 individu sehingga menghasilkan perbandingan nisbah kelamin dari ngengat <italic>C. medinalis</italic> ialah 1,8:1 antara ngengat jantan dan betina sehingga dapat dinyatakan bahwa secara biologis, S. incertulas menunjukkan sifat dan keberadaan yang lebih tinggi dibanding <italic>C. medinalis</italic>.</p></sec><sec><title>Interaksi S. incertulas dan <italic>C. medinalis</italic></title><p>Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang signifikan antar intensitas serangan <italic>S. incertulas</italic> dan umur tanaman terhadap kehadiran intensitas serangan <italic>C. medinalis</italic> (<xref ref-type="table" rid="table-4">Table 4</xref>). Dari hasil analisis tersebut dapat dinyatakan bahwa H0 ditolak (F = 101,4; p = 2,2 x 10-16; R2 = 0,1673; df = 2, 997) sehingga menghasilkan persamaan regresi berupa:</p><p>Y = 0,1012 - 0,0239X1 - 0,001124X2, dengan Y: intensitas serangan <italic>C. medinalis</italic>; X<sub>1</sub>: intensitas serangan S. incertulas; X<sub>2</sub>: usia tanaman.</p><p>Secara umum, kedua variabel memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap variabel intensitas serangan <italic>C. medinalis</italic>. Berdasarkan hasil persamaan tersebut, terdapat koefisien regresi variabel X<sub>1</sub> (intensitas serangan <italic>S. incertulas</italic>) yang diperoleh sebesar 0,2390 dengan tanda negatif. Hal ini dapat menjelaskan gambaran hubungan antara serangan <italic>S. incertulas </italic>terhadap <italic>C. medinalis. </italic>Hubungan yang terjadi antara variabel X<sub>1</sub> dan variabel Y berupa hubungan berkebalikan sehingga semakin besar pengaruh serangan <italic>S. incertulas </italic>maka semakin rendah serangan</p><p><italic>C. medinalis </italic>di lapangan (<xref ref-type="fig" rid="figure-1">Gambar 1</xref>). Kemudian, hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien regresi variabel X<sub>2</sub> (umur tanaman padi) yang diperoleh pada percobaan ini sebesar 0,001124 dengan tanda negatif. Hal ini juga dapat menunjukkan hubungan antara umur tanaman padi dengan serangan <italic>C. medinalis</italic>. Koefisien negatif menunjukkan bahwa hubungan yang terjadi antara kedua variabel merupakan hubungan yang berkebalikan seperti yang telah diuraikan sebelumnya (<xref ref-type="fig" rid="figure-1">Gambar 1</xref>). Variabilitas model (R² = 0,1673) menunjukkan bahwa sekitar 16,7% perubahan dalam variabel dependen dapat dijelaskan oleh kedua variabel independen ini, yang meskipun masih terbatas, menunjukkan adanya kontribusi yang berarti dari umur tanaman dan serangan <italic>S. incertulas </italic>terhadap serangan <italic>C. medinalis.</italic></p><table-wrap id="table-2" ignoredToc=""><label>Table 2</label><caption><p>Total populasi dan variasi ngengat terperangkap pada masing-masing fase pertumbuhan padis</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th valign="middle" align="left" colspan="1" rowspan="2"><p>Fase pertumbuhan padi</p><p>(<italic>Rice’sgrowthphase</italic>)</p></th><th valign="middle" align="center" colspan="4">Jenis ngengat terperangkap (<italic>Caught moth variety</italic>)</th><th colspan="1" rowspan="2" valign="middle" align="center"><p>Total</p><p>(Amount)</p></th></tr><tr><th colspan="1" valign="middle" align="center"><italic>S. incertulas </italic>jantan (<italic>S. incertulas male)</italic></th><th align="center" colspan="1" valign="middle"><italic>S. incertulas </italic>betina (<italic>S. incertulas female)</italic></th><th align="center" colspan="1" valign="middle"><p><italic>C. medinalis </italic>jantan</p><p>(C.medinalismale)</p></th><th align="center" colspan="1" valign="middle"><p><italic>C. medinalis </italic>betina</p><p>(C.medinalisfemale)</p></th></tr></thead><tbody><tr><td valign="top" align="left" colspan="1"><p>Persemaian </p><p>(<italic>Seedling phase</italic>)</p></td><td align="center" colspan="1" valign="top">2 ± 0,87</td><td colspan="1" valign="top" align="center">34 ± 6,65</td><td valign="top" align="center" colspan="1">20 ± 3,08</td><td align="center" colspan="1" valign="top">9 ± 1,30</td><td align="center" colspan="1" valign="top">65 a</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">Anakan Maksimum (<italic>Maximum tillering phase</italic>)</td><td align="center" colspan="1" valign="top">25 ± 1,79</td><td valign="top" align="center" colspan="1">43 ± 4,20</td><td colspan="1" valign="top" align="center">14 ± 2,60</td><td valign="top" align="center" colspan="1">9 ± 1,30</td><td align="center" colspan="1" valign="top">91 a</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1"><p>Padi bunting</p><p>(<italic>Grainfillingphase</italic>)</p></td><td align="center" colspan="1" valign="top">13 ± 1,92</td><td valign="top" align="center" colspan="1">25 ± 5,17</td><td valign="top" align="center" colspan="1">11 ± 1,30</td><td valign="top" align="center" colspan="1">7 ± 1,30</td><td align="center" colspan="1" valign="top">56 a</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">Total (<italic>Amount</italic>)</td><td align="center" colspan="1" valign="top">40 b</td><td valign="top" align="center" colspan="1">102 a</td><td align="center" colspan="1" valign="top">45 b</td><td colspan="1" valign="top" align="center">25 b</td><td align="center" colspan="1" valign="top"></td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>Angka yang diikuti huruf kecil berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Tukey pada taraf 5% (P&lt;0.05). <italic>(Numbers followed by different lowercase letters in the same column indicate that significally different according to the Tukey test at the 5% significance level (P&lt;0.05).</italic></p></table-wrap-foot></table-wrap><table-wrap ignoredToc="" id="table-3"><label>Table 3</label><caption><p>Total populasi ngengat <italic>Scirpophaga incertulas </italic>dan <italic>Cnaphalocrosis medinalis </italic>pada pertanaman padi</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th valign="top" align="left" colspan="1"><p>Spesies</p><p>(<italic>Species</italic>)</p></th><th align="center" colspan="1" valign="top"><p>Jantan (individu)</p><p>(Male(individual))</p></th><th valign="top" align="center" colspan="1"><p>Betina (individu)</p><p>(Female(individual))</p></th><th valign="top" align="center" colspan="1"><p>Total populasi (individu)</p><p>(Populationamount(individual))</p></th></tr></thead><tbody><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">S. incertulas</td><td align="center" colspan="1" valign="top">40 ± 1,87</td><td colspan="1" valign="top" align="center">102 ± 4,82</td><td valign="top" align="center" colspan="1">142</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">C. medinalis</td><td valign="top" align="center" colspan="1">45 ± 4,49</td><td valign="top" align="center" colspan="1">25 ± 1,78</td><td colspan="1" valign="top" align="center">70</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">Total (<italic>Amount</italic>)</td><td colspan="1" valign="top" align="center">85</td><td align="center" colspan="1" valign="top">127</td><td valign="top" align="center" colspan="1">212</td></tr></tbody></table></table-wrap><table-wrap id="table-4" ignoredToc=""><label>Table 4</label><caption><p>Hasil analisis regresi linier berganda antara serangan <italic>Scirpophaga incertulas, </italic>usia tanaman terhadap serangan</p><p>Cnaphalocrosis medinalis</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th valign="top" align="left" colspan="1">Model</th><th colspan="1" valign="top" align="center">Estimate</th><th colspan="1" valign="top" align="center">Std error</th><th align="center" colspan="1" valign="top">t value</th><th valign="top" align="center" colspan="1">Pr (&gt;|t|)</th></tr></thead><tbody><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">(<italic>intercepts</italic>)</td><td valign="top" align="left" colspan="1">0,1012</td><td valign="top" align="left" colspan="1">0,0080880</td><td valign="top" align="left" colspan="1">25,399</td><td valign="top" align="left" colspan="1">&lt;2e-16</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Intensitas serangan <italic>S. incertulas</italic> (<italic>S. incertulas attack</italic>)</td><td valign="top" align="left" colspan="1">-0,0239</td><td valign="top" align="left" colspan="1">0,0207649</td><td valign="top" align="left" colspan="1">-2,336</td><td colspan="1" valign="top" align="left">&lt;2e-16</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">Umur tanaman (<italic>Plant’s age</italic>)</td><td valign="top" align="left" colspan="1">-0,001124</td><td colspan="1" valign="top" align="left">0,0001655</td><td align="left" colspan="1" valign="top">-13,799</td><td align="left" colspan="1" valign="top">&lt;2e-16</td></tr></tbody></table></table-wrap></sec></sec><sec><title>PEMBAHASAN</title><p>Keberadaan populasi ngengat <italic>S. incertulas</italic> khususnya ngengat betina cenderung lebih tinggi dibandingkan ngengat <italic>C. medinalis</italic>. Kelimpahan populasi <italic>S. incertulas</italic> seringkali muncul pada bulan-bulan yang sama dengan waktu percobaan dilakukan seperti pada bulan April hingga September, seperti yang pernah dilaporkan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-2">(Ali et al., 2020)</xref> bahwa kelimpahan tertinggi ngengat <italic>S. incertulas </italic>terjadi antara bulan April dan Juni dan juga dari bulan Agustus hingga November. Pemerangkapan di lokasi percobaan menunjukkan bahwa kemunculan larva <italic>S. incertulas </italic>pada satu anakan tidak dibersamai oleh kehadiran <italic>C. medinalis</italic>. Namun, kemunculan lebih dulu larva <italic>C. medinalis </italic>pada satu anakan padi seringkali disusul dengan keberadaan larva <italic>S. incertulas</italic>. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan spesies <italic>S. incertulas </italic>tidak banyak dipengaruhi oleh spesies <italic>C. medinalis </italic>sehingga kehadiran <italic>S. incertulas </italic>menjadi perhatian bagi petani di Desa Cibadak, Kabupaten Karawang.</p><fig id="figure-1" ignoredToc=""><label>Gambar 1</label><caption><p>Hubungan antara serangan larva <italic>Scirpophaga incertulas </italic>terhadap serangan larva <italic>Cnaphalocrosis medinalis.</italic></p></caption><graphic mime-subtype="png" mimetype="image" xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/download/955/641/8602"><alt-text>Image</alt-text></graphic></fig><fig id="figure-1" ignoredToc=""><label>Gambar 2</label><caption><p>Hubungan antara umur tanaman terhadap serangan larva <italic>Cnaphalocrosis medinalis</italic></p></caption><graphic mime-subtype="png" mimetype="image" xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/download/955/641/8603"><alt-text>Image</alt-text></graphic></fig><p>Tingginya populasi spesies <italic>S. incertulas</italic> juga menjadikan daerah tersebut sebagai daerah endemik <italic>S. incertulas</italic> sesuai yang pernah dilaporkan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-32">(Suharto &amp; Usyati, 2005)</xref>. Faktor yang dapat mempengaruhi tekanan satu jenis hama terhadap hama lainnya meliputi kemampuan bereproduksi dan sistem feromonnya. Serangga mengeluarkan berbagai jenis feromon dengan fungsi yang berbeda-beda seperti epideictic pheromone oleh ngengat betina <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-23">(Klowden, 2004)</xref>. Menurut <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-33">(Tewari et al., 2014)</xref> epideictic pheromone merupakan salah satu senyawa semiokimia yang dikeluarkan oleh ngengat betina guna menghindari adanya peletakkan telur pada inang yang sama oleh betina dari spesies lain, feromon ini diduga dikeluarkan ketika ngengat <italic>S. incertulas</italic> meletakkan telur pada permukaan daun padi, dan menyebabkan ngengat <italic>C. medinalis</italic> enggan untuk meletakkan telur di lokasi yang sama. Pada percobaan ini, populasi ngengat betina <italic>S. incertulas</italic> lebih tinggi dibandingkan dengan betina <italic>C. medinalis</italic> sehingga menyebabkan berkurangnya lokasi peletakkan telur bagi ngengat <italic>C. medinalis</italic> betina karena tingginya populasi ngengat betina <italic>S. incertulas</italic>. Secara tidak langsung terjadi penekanan populasi spesies <italic>C. medinalis</italic> pada generasi berikutnya.</p><p>Tekanan <italic>S. incertulas</italic> terhadap <italic>C. medinalis</italic> juga didukung oleh kondisi iklim yang optimum dan ketersediaan makanan yang cukup bagi <italic>S. incertulas</italic>. Petani di daerah ini umumnya melakukan sistem tanam monokultur dan seringkali memiliki perbedaan jadwal tanam dengan jarak cukup jauh sehingga sumber makan <italic>S. incertulas</italic> akan selalu tersedia dan memudahkan migrasi antar lokasi. Selain itu, rendahnya populasi ngengat <italic>C. medinalis</italic> diduga berkaitan dengan pola perilakunya. Ngengat <italic>C. medinalis</italic> betina umumnya bermigrasi pasca-eklosi dan mendeteksi nutrisi sekitarnya berkurang. Larva yang berhasil hidup di sekitar lahan dengan sumber nutrisi yang relatif berkurang akibat kompetisi pakan cenderung memiliki tingkat fekunditas rendah sehingga ngengat terbang dan bermigrasi menuju sumber inang lain <xref rid="BIBR-16" ref-type="bibr">(Guo et al., 2019)</xref>. </p><p>Nisbah kelamin <italic>S. incertulas</italic> yang diperoleh menandakan bahwa komposisi ngengat betina jauh lebih banyak dibanding dengan jantannya. Rasio nisbah kelamin yang diperoleh serupa dengan yang pernah dilaporkan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-7">(Bhutto et al., 2015)</xref> bahwa keberadaan populasi ngengat betina <italic>S. incertulas</italic> cenderung lebih tinggi dengan perbandingan 1:4,32 antara ngengat jantan dan ngengat betina. Hal serupa juga pernah dilaporkan oleh Nayak et al. 2023, bahwa nisbah kelamin <italic>S. incertulas</italic> dari populasi pupa yang dikumpulkan dari lahan adalah 1:1,35. Ini menunjukkan bahwa dalam satu lokasi percobaan, jenis kelamin ngengat <italic>S. incertulas</italic> memiliki kecenderungan bias betina. Kemudian, nisbah kelamin ngengat <italic>C. medinalis</italic> yang diperoleh menandakan bahwa populasi ngengat jantan lebih tinggi dibandingkan dengan ngengat betina. Hal serupa juga pernah dilaporkan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-24">(Kumar et al., 1996)</xref> bahwa perbandingan nisbah kelamin ngengat <italic>C. medinalis</italic> yakni 1,38:1 dengan populasi <italic>C. medinalis</italic> jantan lebih tinggi dibandingkan dengan ngengat betina.</p><p>Jika membandingkan nisbah kelamin dari kedua jenis serangga, masing-masing menunjukkan bahwa kedua spesies memiliki pola demografi jenis kelamin yang sangat berbeda, yang dapat mencerminkan perbedaan strategi reproduksi, mobilitas, dan dinamika populasi mereka. Rasio jantan yang lebih tinggi pada <italic>C. medinalis</italic> (1,8:1) menunjukkan bahwa potensi reproduksi betina (yang sering menjadi kunci dalam peningkatan populasi) mungkin terbatas oleh ketersediaan betina. Hal ini diduga kuat disebabkan oleh perilaku migrasi ngenget betina <italic>C. medinalis</italic>, seperti yang pernah dilaporkan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-16">(Guo et al., 2019)</xref> bahwa ngengat betina lebih banyak tertangkap ketika ngengat tengah melakukan proses migrasi dari lahan lainnya. Sebaliknya, bias betina pada S. incertulas (1:2,55) menunjukkan bahwa jumlah calon telur yang dihasilkan ngengat betina akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan serangga dengan bias jantan sehingga berdampak mempercepat pertumbuhan populasi apabila didukung oleh kondisi lingkungan sesuai. Dengan demikian, strategi pengendalian untuk kedua spesies hama dapat mempertimbangkan rasio nisbah kelamin ini. Seperti melakukan pemantauan ngengat betina secara khusus pada <italic>S. incertulas</italic> atau melakukan pengelolaan hama terpadu dengan cara menargetkan ngengat jantan pada <italic>C. medinalis</italic> sebagai upaya memutus siklus reproduksi.</p><p>Hubungan antara <italic>S. incertulas</italic>, <italic>C. medinalis</italic> dan tanaman padi terikat dengan kebiasaan makan dan relung ekologinya (niche) <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-11">(Catling &amp; Islam, 1995)</xref>. Siklus hidup <italic>S. incertulas</italic> cenderung tidak banyak dipengaruhi oleh proses pertambahan umur tanaman padi <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-18">(Hassan, 2016)</xref>. Larva <italic>S. incertulas</italic> dapat menggerek tanaman pada berbagai fase tanaman padi selama kondisi lingkungannya mendukung proses pencarian makanan. Pada fase vegetatif maupun generatif, larva tetap menggerek batang tanaman sehingga menyebabkan gejala sundep dan beluk. Begitu larva <italic>S. incertulas</italic> menetas, larva turun ke bagian pangkal batang tanaman padi. Larva kemudian melakukan penetrasi pada bagian luar batang dan masuk ke dalamnya, menjadikan bagian pangkal tanaman (titik tumbuh) sebagai titik awal serangan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-30">(Sanyal et al., 2025)</xref>. Namun, bagi <italic>C. medinalis</italic>, keberadaan larva <italic>S. incertulas</italic> memberi dampak negatif terhadap populasinya. Gejala sundep yang ditimbulkan oleh serangan <italic>S. incertulas</italic> menyebabkan perubahan fisiologis dan anatomi yang signifikan pada jaringan batang padi, terutama akibat terputusnya jaringan pembuluh yang berperan dalam distribusi air dan nutrisi <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-28">(MM. et al., 2022)</xref>. Kondisi tersebut berdampak tidak hanya pada tanaman, tetapi juga pada organisme lain yang memanfaatkan tanaman yang sama sebagai inang, termasuk larva <italic>C. medinalis</italic>. Ketika gejala sundep terjadi bersamaan dengan kemunculan serangan <italic>C. medinalis</italic>, kondisi tanaman yang sudah mengalami stres fisiologis mengakibatkan perubahan kadar nutrisi daun serta meningkatnya akumulasi senyawa pertahanan seperti fenol dan lignin <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-39">(Zhao et al., 2024)</xref>.</p><p>Peningkatan mekanisme pertahanan tersebut menurunkan kualitas pakan bagi larva <italic>C. medinalis</italic>, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan dan menurunkan tingkat kelangsungan hidup larva <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-26">(Quan et al., 2020)</xref>. Kondisi serupa dapat terjadi pada tanaman yang terinfestasi S. incertulas sehingga jaringan daun menerima aliran nutrisi yang lebih rendah dan kandungan air yang menurun, dan tidak lagi ideal bagi perkembangan larva <italic>C. medinalis</italic>. Dengan demikian, interaksi yang ditunjukkan oleh kedua spesies merupakan amensalisme. Menurut <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-12">(Chong et al., 2022)</xref> amensalisme merupakan suatu bentuk interaksi yang terjadi pada dua spesies, dengan kondisi salah satu spesies merugikan spesies lainnya. Namun, spesies tersebut tidak mendapat manfaat maupun kerugian dari kehadiran spesies lain di sekitarnya. Oleh karena itu, keberadaan <italic>S. incertulas</italic> pada fase yang bersamaan dengan serangan <italic>C. medinalis</italic> dapat dianggap sebagai interaksi tidak langsung antar spesies yang bersifat antagonis. Fenomena ini diduga dapat mengurangi potensi ledakan populasi C. medinalis karena kondisi inang yang memburuk menghambat keberhasilan reproduksi dan pertumbuhan larva C. medinalis. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan satu spesies dapat memodifikasi kondisi lingkungan yang memengaruhi spesies lainnya <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">(Heong &amp; Hardy, 2020)</xref>.</p><p>Selain dampak signifikan yang ditimbulkan oleh keberadaan larva <italic>S. incertulas</italic> terhadap serangan <italic>C. medinalis</italic>, pertambahan umur tanaman juga memberi pengaruh bagi siklus hidup <italic>C. medinalis</italic>. Serangan C. medinalis dapat menyebabkan kerusakan daun dan mengganggu fotosintesis pada padi sehingga mengurangi performa tanaman <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-35">(Wang et al., 2020)</xref>. Namun, ketika umur tanaman semakin tua, kerentanan terhadap hamanya menurun. Hal ini disebabkan oleh struktur jaringan tanaman yang lebih matang sehingga larva <italic>C. medinalis</italic> sulit untuk makan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-3">(Alinia et al., 2000)</xref>. Seiring bertambahnya umur, tanaman padi mengalami perubahan morfologis dan fisiologis yang berdampak langsung pada kemampuan serangga herbivora untuk makan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">(Heong &amp; Hardy, 2020)</xref>. Pada fase vegetatif awal, jaringan daun padi cenderung lebih lunak, kandungan air lebih tinggi, dan konsentrasi senyawa pertahanan tanaman relatif rendah. Kondisi tersebut mendukung aktivitas makan larva <italic>C. medinalis</italic> sehingga intensitas serangan biasanya lebih tinggi pada fase vegetatif tanaman <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-39">(Zhao et al., 2024)</xref>. Namun, ketika umur tanaman semakin tua, tingkat kerentanan terhadap serangan <italic>C. medinalis</italic> cenderung menurun. Hal ini diduga disebabkan oleh struktur jaringan tanaman yang semakin matang, terutama penebalan dinding sel dan peningkatan kandungan lignin serta silika pada jaringan epidermis daun, yang menghambat proses pengunyahan dan pencernaan larva <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-37">(Yoshida et al., 1969)</xref>;<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-21">(A et al., 2022)</xref>. Selain faktor struktur jaringan, tanaman yang lebih tua juga menunjukkan peningkatan aktivitas metabolit sekunder seperti fenol, flavonoid, dan tanin yang berfungsi sebagai senyawa pertahanan kimia terhadap herbivora <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-39">(Zhao et al., 2024)</xref>. Kandungan senyawa ini dapat menurunkan efisiensi pencernaan larva dan mempengaruhi lama pergantian instar sehingga populasi <italic>C. medinalis</italic> sulit berkembang optimal pada tanaman yang sudah memasuki fase generatif. Oleh sebab itu, semakin tua umur tanaman padi maka serangan <italic>C. medinalis</italic> akan semakin menurun.</p><p>Kehadiran dua spesies hama berbeda pada satu hamparan yang sama dapat memengaruhi hasil produktivitas tanaman. Terutama ketika intensitas serangan meningkat. Hal tersebut dapat menurunkan hasil panen dan menyebabkan kerugian yang cukup parah. Penurunan hasil produksi padi akibat serangan larva <italic>S. incertulas</italic> dan <italic>C. medinalis</italic> dapat dikompensasi apabila serangan terjada ketika tanaman memasuki fase vegetatif, namun serangan yang terjadi pada fase generatif sulit untuk dikompensasi dan mengurangi hasil panen. Oleh karena itu, dalam proses pengelolaannya perlu dilakukan kegiatan monitoring secara berkala agar tidak terjadi ledakan populasi. Selain itu, dalam proses pengelolaan hama terpadu, penting untuk memahami dinamika interaksi antarhama dalam satu ekosistem tanaman karena keberadaannya dapat berdampak terhadap perubahan kondisi lingkungan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">(Heong &amp; Hardy, 2020)</xref>. Dalam proses pengendalian hama terpadu pada pertanaman padi secara berkelanjutan, pengendalian kedua hama perlu mempertimbangkan komposisi rasio hama, seperti yang telah diuraikan sebelumnya agar pengelolaan dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Pengelolaan juga perlu mempertimbangkan pertambahan umur dari serangan larva kedua spesies, khususnya <italic>C. medinalis</italic>. Intervensi oleh pihak lain dapat dilakukan ketika tanaman berumur muda agar serangan tidak meluas sehingga menjadi pengendalian yang efektif. Hal ini juga berdampak kepada para petani yang terhindar dari kerugian akibat kehilangan hasil produksi tanaman padi.</p></sec><sec><title>KESIMPULAN</title><p>Jenis ngengat yang paling banyak tertangkap adalah ngengat betina S. incertulas dengan nisbah kelamin 1:2,55 antar jantan dan betina, sedangkan yang paling sedikit adalah ngengat betina <italic>C. medinalis</italic> dengan nisbah kelamin 1,8:1, yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan struktur populasi dan rasio jenis kelamin antarspesies mengindikasikan terjadinya tekanan populasi secara tidak langsung dari <italic>S. incertulas</italic> terhadap <italic>C. medinalis</italic>. Peningkatan intensitas serangan larva S. incertulas dan pertambahan umur tanaman berkorelasi secara negatif terhadap intensitas serangan <italic>C. medinalis</italic> sehingga mencerminkan adanya interaksi amensalisme antar kedua spesies dan inangnya. Oleh karena itu, pada penelitian ini terlihat bahwa petani harus memperhatikan secara khusus pada fase awal kemunculan <italic>S. incertulas</italic> dalam strategi pengendalian hama terpadu karena tekanan spesies ini berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan populasi dan berdampak pada dinamika hama sekunder. Namun demikian, hasil penelitian ini masih terbatas dalam ruang lingkup lokal sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan cakupan spasial dan temporal yang lebih luas untuk memvalidasi pola interaksi antarspesies hama tersebut di berbagai kondisi agroekosistem.</p></sec></body><back><ack><sec><title>UCAPAN TERIMA KASIH</title><p>Penulis mengucapkan terima kasih kepada Abdul Azis SP., MSi., Balai Besar Peramalan Organisme Penganggu Tanaman, Kabupaten Karawang yang telah membantu menyediakan lahan percobaan dan menyediakan data ramalan PBPK di Kab. Karawang sebagai acuan dasar untuk menetapkan waktu pemerangkapan ngengat PBPK pada penelitian ini.</p></sec></ack><ref-list><title>DAFTAR PUSTAKA</title><ref id="BIBR-1"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Overview of yellow rice stem borer, Scirpophaga incertulas in Malaysia</article-title><source>Outlooks on Pest Management</source><volume>35</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Abdullah</surname><given-names>Rasidah S.W.</given-names></name><name><surname>Mokhtar</surname><given-names>Syahirah A.</given-names></name></person-group><year>2024</year><fpage>126</fpage><lpage>131</lpage><page-range>126-131</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1564/v35_jun_08</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-2"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Response of a rice insect pest, Scirpophaga incertulas (Lepidoptera: Pyralidae) in warmer world</article-title><source>BMC Zoology</source><volume>5</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Ali</surname><given-names>M.P.</given-names></name><name><surname>Bari</surname><given-names>M.N.</given-names></name><name><surname>Haque</surname><given-names>S.S.</given-names></name><name><surname>Kabir</surname><given-names>M.M.M.</given-names></name><name><surname>Nowrin</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Choudhury</surname><given-names>T.R.</given-names></name><name><surname>Mankin</surname><given-names>R.W.</given-names></name><name><surname>Hamed</surname><given-names>N.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>1</fpage><lpage>8</lpage><page-range>1-8</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1186/s40850-020-00055-5</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-3"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Effect of plant age, larval age, and fertilizer treatment on resistance of a cry1Ab-transformed aromatic rice to lepidopterous stem borers and foliage feeders</article-title><source>Journal of economic entomology</source><volume>93</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Alinia</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Ghareyazie</surname><given-names>B.</given-names></name><name><surname>Rubia</surname><given-names>L.</given-names></name><name><surname>Bennett</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Cohen</surname><given-names>M.B.</given-names></name></person-group><year>2000</year><fpage>484</fpage><lpage>493</lpage><page-range>484-493</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1603/0022-0493-93.2.484</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-4"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Waktu kritis periode lunar dalam menggambarkan status reproduksi ngengat Scirpophaga incertulas (Walker) pada berbagai fase pertumbuhan padi</article-title><source>Jurnal Entomologi Indonesia</source><volume>22</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Anggraeni</surname><given-names>F.D.</given-names></name><name><surname>Anwar</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Ratna</surname><given-names>E.S.</given-names></name></person-group><year>2025</year><fpage>29</fpage><lpage>40</lpage><page-range>29-40</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.5994/jei.22.1.29</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-5"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Ketahanan beberapa varietas padi terhadap penggerek batang pada ekosistem sawah masukan bahan organik dan anorganik</article-title><source>AGROTEK: Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian</source><volume>4</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Bahar</surname><given-names>N.H.</given-names></name><name><surname>Numba</surname><given-names>S.</given-names></name><name name-style="given-only"><given-names>Abdullah</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>41</fpage><lpage>51</lpage><page-range>41-51</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.33096/agrotek.v4i2.131</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-6"><element-citation publication-type="chapter"><article-title>Pest of rice</article-title><source>Pest and their Management. hlm</source><person-group person-group-type="author"><name><surname>Bhatt</surname><given-names>N.</given-names></name><name><surname>Joshi</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Tiwari</surname><given-names>S.N.</given-names></name></person-group><person-group person-group-type="editor"><name><surname>dalam</surname></name><name name-style="given-only"><given-names>Omkar</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>9</fpage><lpage>49</lpage><page-range>9-49</page-range><publisher-name>Springer Nature Singapore</publisher-name><publisher-loc>Singapore</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-7"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Light trap study to determine emergence and peak of adult moths of yellow rice stem borer &amp; sex ratio study to collect male and female moths under field conditions</article-title><source>Europian Academic Research</source><volume>3</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Bhutto</surname><given-names>A.A.</given-names></name><name><surname>Chandio</surname><given-names>J.I.</given-names></name><name><surname>Ursani</surname><given-names>T.J.</given-names></name><name><surname>Dhiloo</surname><given-names>K.H.</given-names></name><name><surname>Khan</surname><given-names>F.</given-names></name></person-group><year>2015</year><fpage>6068</fpage><lpage>6078</lpage><page-range>6068-6078</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-8"><element-citation publication-type="book"><article-title>Prakiraan Serangan OPT Utama Padi, Jagung dan Kedelai di Indonesia MT. 2022/2023</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Tanaman</surname><given-names>B.B.P.O.P.T.] Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu</given-names></name></person-group><year>2022</year><publisher-name>Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Indonesia</publisher-name><publisher-loc>Jakarta</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-9"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Berita resmi statistik: Luas panen dan produksi padi di indonesia 2023</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Statistik</surname><given-names>B.P.S.] Badan Pusat</given-names></name></person-group><year>2023</year><comment>18 Maret 2024</comment><ext-link xlink:href="https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2023/10/16/2037/luas" ext-link-type="uri">Available from: https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2023/10/16/2037/luas</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-10"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Scirpophaga incertulas (yellow stem borer</article-title><person-group person-group-type="author"><name name-style="given-only"><given-names>C.A.B.I.</given-names></name></person-group><year>2021</year><comment>diakses 20 Februari 2025</comment><ext-link xlink:href="https://www.cabidigitallibrary.org/doi/abs/10.1079/cabicompendi" ext-link-type="uri">Available from: https://www.cabidigitallibrary.org/doi/abs/10.1079/cabicompendi</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-11"><element-citation publication-type="chapter"><article-title>Studies on the ecology of the yellow stem borer, Scirpophaga incertulas (Walker) (Pyralidae</article-title><source>in deepwater rice in Bangladesh. Crop Protection. 14:57–67</source><person-group person-group-type="author"><name><surname>Catling</surname><given-names>H.D.</given-names></name><name><surname>Islam</surname><given-names>Z.</given-names></name></person-group><year>1995</year><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/0261-2194(95)91113-T</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-12"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>On the existence of positive periodic solution of an amensalism model with Beddington-Deangelis functional response</article-title><source>Wiseas Transaction on Mathematics</source><volume>21</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Chong</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>Chen</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Chen</surname><given-names>F.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>1</fpage><lpage>8</lpage><page-range>1-8</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.37394/23206.2022.21.64</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-13"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Populasi dan serangan Cnaphalocrosis medinalis (Lepidoptera: Pyralidae) pada tanaman padi sawah di Kabupaten Minahasa Tenggara</article-title><source>Eugenia</source><volume>23</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Dien</surname><given-names>M.F.</given-names></name><name><surname>Kandowangko</surname><given-names>D.S.</given-names></name></person-group><year>2017</year><fpage>35</fpage><lpage>40</lpage><page-range>35-40</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.35791/eug.23.1.2017.15413</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-14"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Identifikasi serangga hama pada tanaman padi di Provinsi Bengkulu</article-title><source>Agroqua</source><volume>22</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Febriano</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Sunarti</surname><given-names>Sridanti</given-names></name><name name-style="given-only"><given-names>I.L.</given-names></name></person-group><year>2024</year><fpage>281</fpage><lpage>292</lpage><page-range>281-292</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.32663/ja.v22i2.4891</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-15"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Study on biology of rice yellow stem borer</article-title><source>Journal of Entomology and Zoology Studies</source><volume>8</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Gautam</surname><given-names>C.P.N.</given-names></name><name><surname>Chandra</surname><given-names>U.</given-names></name><name><surname>Veer</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Kaumar</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Yadav</surname><given-names>S.K.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>1786</fpage><lpage>1789</lpage><page-range>1786-1789</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-16"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Cnaphalocrocis medinalis moths decide to migrate when suffering nutrient shortage on the first day after emergence</article-title><source>Insect</source><volume>10</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Guo</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Li</surname><given-names>P.</given-names></name><name><surname>Zhang</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Liu</surname><given-names>X.</given-names></name><name><surname>Zhai</surname><given-names>B.</given-names></name><name><surname>Hu</surname><given-names>G.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>1</fpage><lpage>16</lpage><page-range>1-16</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.3390/insects10100364</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-17"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Populasi penggerek batang padi pada ekosistme sawah organik dan sawah anorganik</article-title><source>Bioma: Berkala Ilmiah Biologi</source><volume>17</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Hadi</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Soesilohadi</surname><given-names>R.C.H.</given-names></name><name><surname>Wagiman</surname><given-names>R.H.</given-names></name><name><surname>Soehardjono</surname><given-names>Y.R.</given-names></name></person-group><year>2015</year><fpage>106</fpage><lpage>117</lpage><page-range>106-117</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.14710/bioma.17.2.106-117</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-18"><element-citation publication-type="book"><article-title>Incidence and management of rice yellow stem borer and rice hispa on rice variety BRRI dhan43. Thesis</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Hassan</surname><given-names>M.M.</given-names></name></person-group><year>2016</year><publisher-name>Sher-e-Bangla Agricultural University Institutional Repository</publisher-name><publisher-loc>Bangladesh</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-19"><element-citation publication-type="book"><article-title>Planthoppers: New threats to the sustainability of intensive rice production systems in Asia</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Heong</surname><given-names>K.L.</given-names></name><name><surname>Hardy</surname><given-names>B.</given-names></name></person-group><year>2020</year><publisher-name>International Rice Research Institute</publisher-name><publisher-loc>Filiphina</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-20"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Keanekaragaman belalang (Orthoptera: Acrididae) pada ekosistem sawah di Desa Banyuasin Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka</article-title><source>Bioscience-Tropic</source><volume>62</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Irwanto</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Gusnia</surname><given-names>T.M.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>78</fpage><lpage>85</lpage><page-range>78-85</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.33474/e-jbst.v6i2.381</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-21"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Silicon-mediated resistance in rice against leaf folder (Cnaphalocrocis medinalis) and yellow stem borer (Scirpophaga incertulas</article-title><source>Journal of Insect Science</source><volume>22</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>A</surname><given-names>Islam M.</given-names></name><name><surname>A</surname><given-names>Hossain M.</given-names></name><name><surname>M</surname><given-names>Rahman M.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>1</fpage><lpage>10</lpage><page-range>1-10</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-22"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Hama Padi Potensial dan Pengendaliannya. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Kartohardjono</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Kertoseputro</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Suryana</surname><given-names>T.</given-names></name></person-group><year>2009</year><comment>24 Desember 2022</comment><ext-link xlink:href="http://www.litbang.pertanian.go.id/special/padi/bbpadi_2009_itp_16.pdf." ext-link-type="uri">Available from: http://www.litbang.pertanian.go.id/special/padi/bbpadi_2009_itp_16.pdf.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-23"><element-citation publication-type="book"><article-title>Endocrine Regulation of Insect Reproduction</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Klowden</surname><given-names>M.J.</given-names></name></person-group><year>2004</year><publisher-name>Springer</publisher-name><publisher-loc>USA</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-24"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Population dynamics of rice leaf folder, Cnaphalocrosis medinalis Guenee., in relation to stage of the crop, weather factors and predatory spiders</article-title><source>Journal of The Entomological Research Society</source><volume>20</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Kumar</surname><given-names>P.</given-names></name><name><surname>Singh</surname><given-names>R.P.</given-names></name><name><surname>Pandey</surname><given-names>S.K.</given-names></name></person-group><year>1996</year><fpage>205</fpage><lpage>210</lpage><page-range>205-210</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-25"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Interaction between insct species feeding on Rumex obtusifolus: The effect of Phlinaenus spumarius feeding on the ecology of Gastrophysa viridula</article-title><source>Korean Journal Ecology adn Environment</source><volume>23</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Kwon</surname><given-names>O.S.</given-names></name><name><surname>Nam</surname><given-names>S.H.</given-names></name></person-group><year>2000</year><fpage>175</fpage><lpage>800</lpage><page-range>175-800</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-26"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Comparative transcriptome analysis of the rice leaf folder (Cnaphalocrocis medinalis) under different host conditions</article-title><source>Frontiers in Physiology</source><volume>11</volume><issue>534</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Quan</surname><given-names>P.Q.</given-names></name><name><surname>Nguyen</surname><given-names>T.T.</given-names></name><name><surname>Li</surname><given-names>H.Q.</given-names></name></person-group><year>2020</year><pub-id pub-id-type="doi">10.1186/s12864-020-06867-6</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-27"><element-citation publication-type="journal"><article-title>A Language and Environment for Statistical Computing. R Foundation for Statistical Computing</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>R</surname><given-names>R.Core Team</given-names></name></person-group><year>2024</year><comment>Maret 2023</comment><ext-link xlink:href="https://www.R-project.org/." ext-link-type="uri">Available from: https://www.R-project.org/.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-28"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Incidence and management of rice yellow stem borer (Scirpophaga incertulas</article-title><source>Bangladesh Agricultural Research Journal</source><volume>47</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>MM.</surname><given-names>Rahman</given-names></name><name><surname>MA</surname><given-names>Hossain</given-names></name><name><surname>SK</surname><given-names>Biswas</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>123</fpage><lpage>135</lpage><page-range>123-135</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-29"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Keragaman serangga nokturnal dan peranannya terhadap agroekosistem di Kota Tasikmalaya</article-title><source>Agroscript</source><volume>2</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Ramadhan</surname><given-names>R.A.M.</given-names></name><name><surname>Mirantika</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Septria</surname><given-names>D.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>114</fpage><lpage>125</lpage><page-range>114-125</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.36423/agroscript.v2i2.585</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-30"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>The global incasion risk of rice yellow stem borer Scipophaga incertulas Walker (Lepidoptera: Crambidae) under current and future climate scenarios</article-title><source>Plos</source><volume>20</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Sanyal</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Rao</surname><given-names>A.V.M.S.</given-names></name><name><surname>Timmanna</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Baradevanal</surname><given-names>G.</given-names></name><name><surname>Bal</surname><given-names>S.K.</given-names></name><name><surname>Chandran</surname><given-names>P.R.</given-names></name><name><surname>Singh</surname><given-names>V.K.</given-names></name><name><surname>Ghosh</surname><given-names>P.K.</given-names></name></person-group><year>2025</year><fpage>1</fpage><lpage>18</lpage><page-range>1-18</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1371/journal.pone.0310234</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-31"><element-citation publication-type="chapter"><article-title>Populasi dan intensitas serangan hama putih palsu Cnaphalocrocis medinalis pada sistem tanam jajar legowo padi</article-title><source>Di dalam: Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian UNS</source><volume>7</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Sholahuddin</surname><given-names>Dellachristi V.A.</given-names></name><name><surname>R</surname><given-names>Wijayanti</given-names></name><name><surname>Supriyadi</surname><given-names>Subagiya</given-names></name></person-group><year>2023</year><fpage>1082</fpage><lpage>1091</lpage><page-range>1082-1091</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-32"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>The stem borer infestation on rice cultivars at three planting times</article-title><source>Indonesian Journal of Agricultural Science</source><volume>6</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Suharto</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Usyati</surname><given-names>N.</given-names></name></person-group><year>2005</year><fpage>39</fpage><lpage>45</lpage><page-range>39-45</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.21082/ijas.v6n2.2005.p39-45</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-33"><element-citation publication-type="chapter"><article-title>Use of pheromone in insect pest management, with special attention to weevil pheromone</article-title><source>Integrated Pest Management. Current Concepts and Ecological Perspective</source><person-group person-group-type="author"><name><surname>Tewari</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Leskey</surname><given-names>T.C.</given-names></name><name><surname>Nielsen</surname><given-names>A.L.</given-names></name><name><surname>Pinero</surname><given-names>J.C.</given-names></name><name><surname>Rodriguez~saona</surname><given-names>C.R.R.</given-names></name></person-group><person-group person-group-type="editor"><name><surname>dalam</surname></name><name><surname>Abrol</surname><given-names>Dharam P.</given-names></name></person-group><year>2014</year><fpage>141</fpage><lpage>168</lpage><page-range>141-168</page-range><comment>Elsevier Academic Press. DOI:</comment><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/B978-0-12-398529-3.00010-5</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-34"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Serangan hama penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas Wlk.) pada tanaman padi sawah (Oryza sativa L.) di Desa Liwutung II Kecamatan Pasan, Kabupaten Minahasa Tenggara</article-title><source>Cocos</source><volume>12</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Uguy</surname><given-names>O.J.R.</given-names></name><name><surname>Montong</surname><given-names>V.</given-names></name><name><surname>Kaligis</surname><given-names>J.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>1</fpage><lpage>10</lpage><page-range>1-10</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-35"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Transcriptomic and metabolomic responses of rice plants to Cnaphalocrocis medinalis caterpillar infestation</article-title><source>Insects</source><volume>11</volume><issue>705</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Wang</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>Liu</surname><given-names>Q.</given-names></name><name><surname>Li</surname><given-names>Z.</given-names></name></person-group><year>2020</year><pub-id pub-id-type="doi">10.3390/insects11100705</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-36"><element-citation publication-type="thesis"><article-title>Is more, less?” Insect-insect Interactions in A Biological Control Context Using Water Hyacinth as A Model</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Weyl</surname><given-names>P.</given-names></name></person-group><year>2011</year><publisher-name>Rhodes University</publisher-name><publisher-loc>South Africa</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-37"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Effects of silica and nitrogen supply on some leaf characters of the rice plant</article-title><source>Plant Soil</source><volume>31</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Yoshida</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Navasero</surname><given-names>S.A.</given-names></name><name><surname>Ramirez</surname><given-names>E.A.</given-names></name></person-group><year>1969</year><fpage>48</fpage><lpage>56</lpage><page-range>48-56</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1007/BF01373025</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-38"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Aktivitas ngengat Scirpophaga incertulas di wilayah Kabupaten Klaten</article-title><source>Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia</source><volume>17</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Yunus</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Martono</surname><given-names>E.</given-names></name><name><surname>Wijonarko</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Soesilohadi</surname><given-names>R.C.H.</given-names></name></person-group><year>2011</year><fpage>18</fpage><lpage>25</lpage><page-range>18-25</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-39"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Defense responses of different rice varieties affect growth performance and food utilization of Cnaphalocrocis medinalis larvae</article-title><source>Rice</source><volume>17</volume><issue>9</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Zhao</surname><given-names>X.</given-names></name><name><surname>Xu</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Yang</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>Sun</surname><given-names>T.</given-names></name><name><surname>Ullah</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Zhu</surname><given-names>P.</given-names></name><name><surname>Lu</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>Huang</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Wang</surname><given-names>Z.</given-names></name><name><surname>Lu</surname><given-names>Z.</given-names></name><name><surname>Guo</surname><given-names>J.</given-names></name></person-group><year>2024</year><pub-id pub-id-type="doi">10.1186/s12284-024-00683-2</pub-id></element-citation></ref></ref-list></back></article>