<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.3 20210610//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.3/JATS-journalpublishing1-3.dtd"><article xml:lang="id" dtd-version="1.3" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/" article-type="research-article"><front><journal-meta><journal-id journal-id-type="issn">2089-0257</journal-id><journal-title-group><journal-title>Jurnal Entomologi Indonesia</journal-title><abbrev-journal-title>J Entomol Indones</abbrev-journal-title></journal-title-group><issn pub-type="epub">2089-0257</issn><issn pub-type="ppub">1829-7722</issn><publisher><publisher-name>Perhimpunan Entomologi Indonesia</publisher-name></publisher></journal-meta><article-meta><article-id pub-id-type="doi">10.5994/jei.22.2.81</article-id><title-group><article-title>Efektivitas ekstrak nilam (Pogostemon cablin) dengan tiga metode ekstraksi dan cara aplikasi terhadap hama gudang Tribolium castaneum (Herbst)</article-title><subtitle>The effectiveness of patchouli (Pogostemon cablin) extract using three extraction methods and application techniques against the storage pest Tribolium castaneum (Herbst)</subtitle></title-group><contrib-group><contrib contrib-type="author"><name><surname>Dellachristi</surname><given-names>Veronica Alfina</given-names></name><address><country>Indonesia</country><email>vadellachristi@apps.ipb.ac.id</email></address><xref rid="AFF-1" ref-type="aff"></xref><xref ref-type="corresp" rid="cor-0"></xref></contrib><contrib contrib-type="author"><name><surname>Dadang</surname></name><address><country>Indonesia</country></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-1"></xref></contrib><contrib contrib-type="author"><name><surname>Harahap</surname><given-names>Idham Sakti</given-names></name><address><country>Indonesia</country></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-1"></xref></contrib></contrib-group><contrib-group><contrib contrib-type="editor"><name><surname>Martono</surname><given-names>Edhi</given-names></name><address><country>Indonesia</country></address><xref ref-type="aff" rid="EDITOR-AFF-1"></xref></contrib></contrib-group><aff id="AFF-1"><institution content-type="dept">Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian</institution><institution-wrap><institution>IPB University</institution><institution-id institution-id-type="ror">https://ror.org/05smgpd89</institution-id></institution-wrap><addr-line>Jalan Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680</addr-line><country country="ID">Indonesia</country></aff><aff id="EDITOR-AFF-1"><institution content-type="dept">Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian</institution><institution-wrap><institution>Universitas Gadjah Mada</institution><institution-id institution-id-type="ror">https://ror.org/03ke6d638</institution-id></institution-wrap><country country="ID">Indonesia</country></aff><author-notes><corresp id="cor-0">Corresponding author: Veronica Alfina Dellachristi, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB University, Jalan Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia.  Email: <email>vadellachristi@apps.ipb.ac.id</email></corresp></author-notes><pub-date date-type="pub" iso-8601-date="2025-9-19" publication-format="electronic"><day>19</day><month>9</month><year>2025</year></pub-date><pub-date date-type="collection" iso-8601-date="2025-9-19" publication-format="electronic"><day>19</day><month>9</month><year>2025</year></pub-date><volume>22</volume><issue>2</issue><issue-title>JURNAL ENTOMOLOGI INDONESIA</issue-title><fpage>81</fpage><lpage>91</lpage><history><date date-type="received" iso-8601-date="2025-2-21"><day>21</day><month>2</month><year>2025</year></date><date date-type="accepted" iso-8601-date="2025-7-31"><day>31</day><month>7</month><year>2025</year></date></history><permissions><copyright-statement>Hak Cipta (c) 2025</copyright-statement><copyright-year>2025</copyright-year><copyright-holder>Copyright (c) 2025 Veronica Alfina Dellachristi, Dadang, Idham Sakti Harahap</copyright-holder><license license-type="open-access" xlink:href="https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/"><ali:license_ref xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/">https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/</ali:license_ref><license-p>Artikel ini berlisensi  Creative Commons Attribution 4.0 International License.</license-p></license></permissions><self-uri xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/view/921" xlink:title="Efektivitas ekstrak nilam (Pogostemon cablin) dengan tiga metode ekstraksi dan cara aplikasi terhadap hama gudang Tribolium castaneum (Herbst)">Efektivitas ekstrak nilam (Pogostemon cablin) dengan tiga metode ekstraksi dan cara aplikasi terhadap hama gudang Tribolium castaneum (Herbst)</self-uri><abstract><p>Serangan <italic>Tribolium castaneum</italic> (Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae) menyebabkan penurunan berat tepung, perubahan warna tepung dan menimbulkan bau apek pada bahan simpan. Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan ekstrak nilam (<italic>Pogostemon cablin</italic>) yang memiliki aktivitas antiserangga. Metode ekstraksi dan teknik aplikasi dalam pengendalian hama gudang berpengaruh terhadap keefektifan ekstrak tanaman sebagai insektisida nabati. Penelitian bertujuan untuk menguji perbedaan rendemen, komposisi, kandungan, toksisitas dan tingkat repelensi ekstrak nilam yang diekstrak dengan berbagai metode untuk mengendalikan<italic> T. castaneum</italic>. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi, distilasi uap-air, dan ultrasonik. Tiga teknik aplikasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu residu, topikal, dan fumigasi. Variabel yang diamati mencakup kandungan dan komposisi rendemen hasil ekstraksi, tingkat toksisitas, serta tingkat repelensi. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA diikuti uji lanjut Tukey pada taraf 5%. Penentuan LD/LC<sub>50</sub> dan LD/LC<sub>95</sub> dilakukan melalui analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ekstraksi menggunakan gelombang ultrasonik menghasilkan rendemen tertinggi. Namun, ekstrak nilam dari metode distilasi menghasilkan efek toksisitas tertinggi saat diaplikasikan dengan teknik topikal dan residu. Nilai LC<sub>50 </sub>dan LC<sub>95 </sub>ekstrak nilam yang diekstrak dengan metode distilasi sebesar 0,804% dan 1,541% dengan nilai LD<sub>50</sub> dan LD<sub>95</sub> sebesar 49,140 μg/imago dan 135,729 μg/imago. Ekstrak nilam hasil distilasi juga menunjukkan sifat repelen terhadap<italic> T. castaneum</italic> mulai dari konsentrasi 0,2%. Senyawa utama hasil ekstraksi nilam metode distilasi adalah patchouli alcohol, α-guaiene, δ-guaiene, dan seychellene. Ekstrak nilam dengan metode distilasi berpotensi menjadi racun kontak dan repelen terhadap <italic>T. castaneum</italic>.</p></abstract><kwd-group><kwd>distilasi</kwd><kwd>fumigasi</kwd><kwd>maserasi</kwd><kwd>residu</kwd><kwd>ultrasonik</kwd></kwd-group><custom-meta-group><custom-meta><meta-name>File created by JATS Editor</meta-name><meta-value><ext-link xlink:title="JATS Editor" ext-link-type="uri" xlink:href="https://jatseditor.com">JATS Editor</ext-link></meta-value></custom-meta><custom-meta><meta-name>issue-created-year</meta-name><meta-value>2025</meta-value></custom-meta></custom-meta-group></article-meta></front><body><sec><title>PENDAHULUAN</title><p>Aspek pascapanen seperti penyimpanan memegang peranan penting dalam upaya menjaga stok pangan secara berkelanjutan. Hama menjadi salah satu penyebab penting kehilangan hasil pascapanen. Aktivitas hama pada penyimpanan dapat memengaruhi harga jual dan nilai gizinya <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-5">(Banga et al., 2018)</xref>. Penurunan kualitas dan kuantitas komoditas pertanian mencapai 30% akibat serangan berbagai kelompok serangga <xref rid="BIBR-7" ref-type="bibr">(Chaudhari et al., 2021)</xref>.</p><p>Salah satu hama pascapanen yang paling umum ditemukan dalam penyimpanan produk pertanian adalah kumbang tepung beras Tribolium castaneum (Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae). Kumbang T castaneum menyerang tepung dari berbagai komoditas, seperti tepung dedak, kedelai, tapioka, gandum, jagung hingga tepung beras <xref rid="BIBR-2" ref-type="bibr">(Astuti &amp; Mutalaliah, 2020)</xref>. Serangan T. castaneum menyebabkan penurunan berat, perubahan warna, dan menimbulkan aroma yang tidak sedap pada bahan simpan <xref rid="BIBR-35" ref-type="bibr">(Subagiya et al., 2018)</xref>. Aktivitas T. castaneum pada bahan simpan dapat menyebabkan kerugian mencapai 10−40% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-39">(Susanti et al., n.d.)</xref>.</p><p>Upaya paling umum yang dilakukan untuk mengendalikan hama gudang adalah dengan fumigasi menggunakan bahan kimia sintetis, seperti metil bromida (CH<sub>3</sub>Br) dan fosfin (PH<sub>3</sub>) <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-3">(Arum &amp; Hasjim, 2020)</xref>. Aplikasi fumigan dengan dosis dan waktu yang tidak tepat dapat menimbulkan dampak negatif seperti resistensi hama hingga kontaminasi pada bahan simpan <xref rid="BIBR-33" ref-type="bibr">(Rianti &amp; Astuti, 2023)</xref>. Penggunaan fumigan CH<sub>3</sub>Br juga dibatasi karena dapat merusak lapisan ozon dan mengakibatkan penurunan kualitas komoditas <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">(Hayata, 2017)</xref>. Berdasarkan hal tersebut perlu dikembangkan alternatif pengendalian hama gudang yang lebih aman dan ramah lingkungan.</p><p>Salah satu bahan alami yang dapat digunakan untuk menggantikan fumigan adalah minyak atsiri yang diperoleh dari ekstrak tanaman. Senyawa bioaktif dalam tanaman dapat dimanfaatkan selayaknya insektisida sintetis <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-17">(Handayani &amp; Nurcahyanti, 2014)</xref>. Salah satu tanaman tersebut adalah nilam (Pogostemon cablin). Ekstrak nilam mengandung berbagai senyawa kimia, seperti patchouli alcohol (32,60%), α-guaiene (15,91%), δ-guaiene (23,07%), α-patchoulene (5,47%), dan seychellene (6,95%) yang memiliki aktivitas antiserangga <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-46">(Yani, 2023)</xref>. Nilam mengandung flavonoid, glikosida, triterpen, sesquiterpen, lignin, dan aldehida yang berpotensi sebagai repellent atau antifeedant <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-38">(Susanti &amp; Sari, 2019)</xref>. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa ekstrak nilam mampu menekan populasi dan menolak hama wereng cokelat, lalat buah, dan kutu kebul <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-16">(Gafur &amp; Anshary, 2022)</xref>; <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-20">(Herminanto et al., 2012)</xref>; <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-28">(Noor et al., 2020)</xref>. Tingkat toksisitas ekstrak tanaman sebagai insektisida juga dipengaruhi oleh potensi golongan senyawa yang terdapat didalamnya yang bersifat toksik <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-42">(Utami &amp; Ardiyanti, 2019)</xref>. Metode ekstraksi yang modern membantu pengembangan senyawa ini secara efisien <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-6">(Bolouri et al., 2022)</xref>. Metode isolasi yang berbeda dengan berbagai mekanisme dapat menyebabkan perbedaan komposisi senyawa yang dihasilkan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-14">(Dewi et al., 2018)</xref>. Metode distilasi digunakan dalam penelitian karena merupakan teknik yang paling umum digunakan untuk mendapatkan minyak atsiri, waktu yang dibutuhkan dalam proses distilasi relatif cepat dan menghasilkan rendemen tinggi yang bermutu baik <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-29">(Nuraeni &amp; Yunilawati, 2012)</xref>. Metode maserasi dipilih karena prosesnya yang praktis, membutuhkan pelarut yang relatif sedikit, tidak perlu pemanasan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-32">(Putra et al., 2014)</xref>. Metode ultrasonik bersifat non-destruktif, cepat dan dapat meningkatkan jumlah rendemen kasar akibat getaran gelombang yang diberikan (Handayani et al.2016).</p><p>Efektivitas ekstrak tanaman sebagai insektisida nabati dipengaruhi oleh cara penetrasinya ke dalam tubuh serangga seperti melalui kutikula atau pernafasan. Penetrasi insektisida ini tidak selalu dibatasi dengan jelas karena ekstrak tanaman dapat terdiri atas senyawa yang mudah menguap sehingga uji toksisitas kontak menghasilkan kombinasi toksisitas kontak dan fumigan <xref rid="BIBR-1" ref-type="bibr">(Achimon et al., 2022)</xref>. Penggunaan racun kontak dapat diaplikasikan pada serangga menggunakan teknik aplikasi residu untuk mengetahui konsentrasi yang mematikan, dan teknik aplikasi topikal digunakan untuk mengetahui dosis mematikan untuk setiap individu serangga uji. Teknik aplikasi fumigan digunakan untuk mengetahui efek ekstrak tanaman sebagai racun pernafasan.</p><p>Tujuan penelitian ini untuk menguji perbedaan rendemen, komposisi, kandungan, toksisitas, dan tingkat repelensi ekstrak nilam yang diekstrak dengan berbagai metode untuk mengendalikan T. castaneum. Penelitian ini memberikan informasi baru tentang penggunaan berbagai metode ekstraksi nilam dalam pengujian toksisitas terhadap T. castaneum yang belum pernah dilakukan. Penelitian ini penting dilakukan untuk menemukan metode ekstraksi yang paling efektif dan efisien dalam pengembangan pestisida nabati khususnya nilam.</p></sec><sec><title>BAHAN DAN METODE</title><sec><title>Tempat dan waktu penelitian</title><p>Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB; Laboratorium Material Fungsi- onal, Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, IPB University; dan Laboratorium Pengujian Tanaman Rempah, Obat dan Aromatik, Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian, Bogor. Penelitian dilaksanakan mulai Juni−Desember 2024.</p></sec><sec><title>Ekstraksi nilam</title><p>Tanaman nilam yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari petani lokal di Perwokerto, Jawa Tengah. Tanaman nilam tersebut diambil daunnya, dikeringanginkan, kemudian digiling untuk didapatkan serbuk nilam. Proses maserasi dilakukan berdasarkan penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-18">(Handoyo, 2020)</xref>. Sebanyak 500 g serbuk nilam dimasukkan ke dalam wadah kaca tertutup dan ditambahkan pelarut metanol dengan perbandingan 1:20 (w/v) selama 48 jam. Hasil ekstrak nilam disaring, kemudian pelarutnya diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 50 °C.</p><p>Metode ekstraksi ultrasonik dilakukan menurut <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-36">(Sukandar et al., 2022)</xref> dengan modifikasi. Sonifikator yang digunakan adalah tipe probe ultrasonic dari Cole- Parmer Ultrasonic Processor dengan frekuensi 20 kHz dan amplitudo 40% selama 60 menit. Sebanyak 500 g serbuk daun nilam kering diberi pelarut metanol dengan perbandingan 1:20 (w/v). Batang probe sonifikator dicelupkan ke dalam larutan yang telah disiapkan lalu alat sonifikasi dihidupkan. Pelarut dalam ekstrak kemudian diuapkan menggunakan rotary evaporator pada temperatur 50 °C.</p><p>Prosedur distilasi dilakukan dengan distilasi uap dan air menurut <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-37">(Supriyono et al., 2015)</xref>, dengan modifikasi. Sebanyak 1000 g potongan daun nilam dimasukkan ke dalam tabung ekstraktor pada rangkaian alat distilasi. Tabung ekstraktor dihubungkan dengan tangki air yang dipanaskan hingga mendidih untuk menghasilkan uap, yang kemudian dikondensasikan dan ditampung dalam sebuah labu.</p></sec><sec><title>Uji toksisitas ekstrak nilam</title><p>Pengujian dilakukan dengan melakukan uji pendahuluan dan uji lanjutan. Uji pendahuluan dilakukan dengan konsentrasi 0% (kontrol), 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 3%, dan 5% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-15">(Feng et al., 2019)</xref>. Uji lanjutan menggunakan konsentrasi ekstrak nilam yang setara dengan LC35, LC50, LC75, dan LC95 yang didapatkan dari uji pendahuluan. Variabel yang diamati dalam pengujian ini adalah tingkat mortalitas serangga uji. Serangga uji dinilai mengalami kematian apabila ketika ditekan lembut menggunakan pinset tidak menunjukkan tanda pergerakan. Pengujian dilakukan menggunakan imago berumur seragam (&lt;7 hari setelah menjadi imago) tanpa mempertimbangkan perbedaan jenis kelamin antara jantan dan betina.</p><p>Metode residu dilakukan berdasarkan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-10">(Darmiati, 2013)</xref> dengan modifikasi. Ekstrak nilam diencerkan dengan aseton sesuai konsentrasi uji. Sebanyak 0,5 ml formulasi ekstrak nilam dituangkan secara langsung pada cawan petri berdiameter 9 cm, kemudian pelarut dibiarkan menguap selama 3 menit. Sebanyak 10 imago T. castaneum diinfestasikan ke dalam cawan petri. Perlakuan kontrol dilakukan dengan meneteskan aseton saja. Pengujian diulang 5 kali pada setiap konsentrasi dan penghitungan kematian serangga dilakukan pada 24, 48, dan 72 jam setelah perlakuan (JSP).</p><p>Metode topikal dilakukan berdasarkan metode<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-44">(Wanna &amp; Wongsawas, 2022)</xref>. Sebanyak 0,5 µl/imago ekstrak nilam diteteskan secara topikal menggunakan microsyringe pada dorsal toraks imago T. castaneum. Perlakuan kontrol dilakukan dengan meneteskan aseton saja. Setiap cawan petri berdiameter 9 cm berisi 10 imago. Setiap perlakuan diulang 5 kali dan setiap ulangan berisi 10 imago. Penghitungan serangga yang mati dilakukan pada 24, 48, dan 72 JSP.</p><p>Metode fumigasi dilakukan berdasarkan penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-40">(Tiana et al., 2021)</xref>. Kertas saring ditempelkan pada tutup cawan petri berdiameter 9 cm kemudian ditetesi 0,5 ml sediaan ekstrak nilam dengan pelarut aseton dan didiamkan selama 3 menit. Perlakuan kontrol dilakukan dengan meneteskan aseton saja. Sebanyak 10 imago T. castaneum dimasukkan ke dalam cawan petri kemudian cawan petri dilapisi dengan kain kasa lalu ditutup. Celah pada cawan petri dilapisi dengan plastisin. Pengujian diulang sebanyak 5 kali dan serangga yang mati diamati pada 72 JSP.</p></sec><sec><title>Uji repelensi ekstrak nilam</title><p>Pengujian repelensi dilakukan menggunakan ekstrak nilam yang diperoleh dari metode ekstraksi yang menghasilkan toksisitas tertinggi terhadap T. castaneum, sesuai metode yang dilakukan <xref rid="BIBR-26" ref-type="bibr">(Mangang et al., 2020)</xref>. Ekstrak nilam yang memiliki tingkat toksisitas tinggi terhadap T. castaneum diharapkan juga memberikan efek repelen untuk mencegah kedatangan T. catsanum. Kertas saring berdiameter 9 cm dipotong menjadi dua bagian. Setengah bagian dari kertas saring ditetesi ekstrak nilam sesuai konsentrasi uji dan setengah bagian yang lain ditetesi dengan pelarut aseton masing-masing sejumlah 0,25 ml kemudian dikeringkan selama 3 menit. Sebanyak 20 imago T. castaneum diletakkan di atas kertas saring lalu cawan petri ditutup. Konsentrasi yang digunakan dimulai dari konsentrasi terendah, yaitu 0,1%, 0,2%, 0,3%, 0,4%, dan 0,5 %. Percobaan diulang sebanyak 4 kali. Perilaku penolakan T. castaneum terhadap ekstrak nilam dilihat dari jumlah serangga yang terdapat pada area kontrol setelah 1, 3, 6, dan 24 JSP. Hasil pengamatan dihitung dengan menggunakan rumus <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-26">(Mangang et al., 2020)</xref>:</p><p><inline-formula><tex-math id="math-1"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \text{Persentase repelensi} = \frac{\text{Jumlah serangga pada area kontrol}}{\text{Jumlah serangga keseluruhan}} \times 100\% \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></p></sec><sec><title>Analisis senyawa ekstrak nilam</title><p>Ekstrak nilam dari masing-masing metode ekstraksi dianalisis menggunakan gas chromatography-mass spectrometry) (GC-MS). Pengujian GC-MS dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah, Jakarta. Alat dengan gas pembawa helium diatur pada laju alir 0,6 ml/menit selama 60 menit. Suhu awal kolom 60 °C, kemudian dinaikkan 2 °C/menit hingga 150 °C dan ditahan 1 menit dan dinaikkan lagi 20 °C/menit hingga 210 °C kemudian ditahan selama 10 menit.</p></sec><sec><title>Analisis data</title><p>Data hasil pengamatan ditabulasi menggunakan program Microsoft Excel 2019 kemudian dilakukan analisis probit menggunakan program POLO.Plus untuk mendapatkan nilai LD/LC50 dan LD/LC95. Data pengujian repelensi dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf signifikansi 5%.</p></sec></sec><sec><title>HASIL</title><sec><title>Rendemen ekstrak nilam</title><p>Rendemen tertinggi diperoleh pada metode ekstraksi dengan ultrasonik, yaitu 6,72%, sedangkan rendemen terendah diperoleh pada metode ekstraksi distilasi sebesar 2,81%. Hasil ekstraksi menggunakan metode distilasi berupa minyak kuning dengan bau menyengat, sedangkan metode lain berupa pasta hijau kehitaman dengan bau yang kurang menyengat (<xref ref-type="table" rid="table-1">Tabel 1</xref>).</p></sec><sec><title>Toksisitas ekstrak nilam dengan cara aplikasi residu</title><p>Persentase mortalitas T. castaneum terendah dan tertinggi pada 72 JSP berturut-turut sebesar 22% dan 100% pada perlakuan ekstrak metode distilasi dengan konsentrasi 0,55% dan 1,9%; 26% dan 100% pada perlakuan ekstrak metode maserasi dengan konsentrasi 3,4% dan 6%; dan 10% dan 92% pada perlakuan ekstrak metode ultrasonik dengan perlakuan konsentrasi 4,3% dan 9,8% (<xref ref-type="fig" rid="figure-1">Gambar 1</xref>). Berdasarkan hasil analisis probit terhadap tingkat mortalitas imago T. castaneum, metode ekstraksi distilasi menunjukkan nilaiLC<sub>50</sub> dan LC<sub>95</sub> paling rendah di antara kedua metode yang lain, yaitu berturut-turut sebesar 0,804% dan 1,541% (<xref ref-type="table" rid="table-2">Tabel 2</xref>).</p></sec><sec><title>Toksisitas ekstrak nilam dengan cara aplikasi topikal</title><p>Persentase tingkat mortalitas imago T. castaneum terendah dan tertinggi pada 72 JSP berturut-turut adalah pada metode distilasi sebesar 18% dan 92% pada dosis 31,5 µg/imago dan 120 µg/imago; metode maserasi 16% dan 96% pada dosis ekstrak 26 µg/ imago dan 262,5 µg/imago; dan metode ultrasonik 20% dan 96% dengan dosis ekstrak 27,5µg/imago dan 270 µg/imago (<xref ref-type="fig" rid="figure-2">Gambar 2</xref>). Berdasarkan hasil analisis probit terhadap tingkat mortalitas imago T. castaneum, metode ekstraksi distilasi menunjukkan nilai LD<sub>50</sub> dan LD<sub>95</sub> paling rendah dibandingkan dengan kedua metode yang lain, yaitu berturut-turut sebesar 49,140µg/imago dan 135,729 µg/imago (<xref ref-type="table" rid="table-2">Tabel 2</xref>).</p><table-wrap id="table-1" ignoredToc=""><label>Tabel 1</label><caption><p>Rendeman dan sifat ekstrak nilam yang diekstraksi dengan tiga metode</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th valign="middle" align="left" colspan="1" rowspan="2">Pengamatan (Observation)</th><th align="center" colspan="3" valign="top">Metode ekstraksi (Extraction methods)</th></tr><tr><th valign="top" align="center" colspan="1">Distilasi (<italic>Distillation</italic>)</th><th valign="top" align="center" colspan="1">Maserasi (<italic>Maceration</italic>)</th><th align="center" colspan="1" valign="top">Ultrasonik (Ultrasonic)</th></tr></thead><tbody><tr><td colspan="1" valign="top" align="left">Rendemen (Yield) (%)</td><td valign="top" align="center" colspan="1">2,81</td><td align="center" colspan="1" valign="top">6,57</td><td align="center" colspan="1" valign="top">6,72</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Bentuk (Form)</td><td valign="top" align="center" colspan="1">Minyak (<italic>Oil</italic>)</td><td valign="top" align="center" colspan="1">Pasta (<italic>Pasta</italic>)</td><td align="center" colspan="1" valign="top">Pasta (Pasta)</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">Warna (Color)</td><td valign="top" align="center" colspan="1">Kuning bening (<italic>Clear yellow</italic>)</td><td align="center" colspan="1" valign="top">Hijau kehitaman (<italic>Blackish green</italic>)</td><td align="center" colspan="1" valign="top">Hijau kehitaman (Blackish green)</td></tr><tr><td colspan="1" valign="top" align="left">Aroma nilam (Patchouli scent)</td><td valign="top" align="center" colspan="1">Kuat (<italic>Strong</italic>)</td><td valign="top" align="center" colspan="1">Sedang (<italic>Medium</italic>)</td><td align="center" colspan="1" valign="top">Sedang (Medium)</td></tr></tbody></table></table-wrap><fig id="figure-1" ignoredToc=""><label>Gambar 1</label><caption><p>Perkembangan mortalitas imago Tribolium castaneum pada perlakuan tiga metode ekstraksi nilam A: distilasi; B: maserasi; c: ultrasonik, dengan cara aplikasi residu. JSP: jam setelah perlakuan.e</p></caption><graphic mime-subtype="png" mimetype="image" xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/download/921/631/8559"><alt-text>Image</alt-text></graphic></fig><table-wrap id="table-2" ignoredToc=""><label>Tabel 2</label><caption><p>Penduga variabel regresi probit hubungan antara konsentrasi ekstrak nilam terhadap mortalitas imago <italic>Tribolium castaneum</italic> pada 72 jam setelah perlakuan</p></caption><table rules="all" frame="box"><thead><tr><th valign="top" align="left" colspan="1">Teknik aplikasi <italic>(Application technique)</italic></th><th valign="middle" align="center" colspan="1">Metode ekstraksi <italic>(Extraction methods)</italic></th><th valign="middle" align="center" colspan="1"><italic>a</italic> ± GB</th><th align="center" colspan="1" valign="middle"><italic>b</italic> ± GB</th><th align="center" colspan="1" valign="middle">LC<sub>50</sub> /LD<sub>50</sub> (SK 95%) (%)</th><th align="center" colspan="1" valign="middle">LC<sub>95</sub>/LD<sub>95</sub> (SK 95%) (%)</th></tr></thead><tbody><tr><td align="left" colspan="1" rowspan="3" valign="top">Residu <italic>(Residue)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">Distilasi(Distillation)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">0,552 ± 0,097</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">5,823 ± 0,617</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">0,804 (0,743-0,863)</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">1,541 (1,372-1,819)</td></tr><tr><td valign="middle" align="center" colspan="1">Maserasi(Maceration)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">-5,508 ± 0,676</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">8,818 ± 1038</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">4,213 (3,749-4,595)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">6,474 (5,621-9,300)</td></tr><tr><td align="center" colspan="1" valign="middle">Ultrasonik(Ultrasonic)</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">-5,209 ± 0,582</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">6,482 ± 0,707</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">6,363 (5,785-6,955)</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">11,413 (9,753-15,273)</td></tr><tr><td colspan="1" rowspan="3" valign="top" align="left">Topikal <italic>(Topical)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">Distilasi(Distillation)</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">-6,305 ± 0,776</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">3,728 ± 0,439</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">49,14 (37,160-59,882)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">135,729 (98,658-297,509)</td></tr><tr><td valign="middle" align="center" colspan="1">Maserasi(Maceration)</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">-4,874 ± 0,519</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2,590 ± 0,259</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">76,141 (65,253-87,213)</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">328,570 (259,342-459,237)</td></tr><tr><td colspan="1" valign="middle" align="center">Ultrasonik(Ultrasonic)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">-4,377 ± 0,503</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2,317 ± 0,249</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">77,494 (57,663-97,802)</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">397,349 (256,573-843,422)</td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>a: intersep garis regresi probit; b: kemiringan garis regresi probit; GB: galat baku; LC: lethal concentration; LD: lethal doses; SK: selang kepercayaan. (a: probit regression line intercept; b: slope of the probit regression; GB: standard error; LC: lethal concentration; LD: lethal doses; SK: confidence interval).</p></table-wrap-foot></table-wrap></sec><sec><title>Toksisitas ekstrak nilam dengan cara aplikasi fumigasi</title><p>Persentase tingkat kematian tertinggi dan terendah pada ekstrak nilam metode distilasi sebesar 6,88% dan 0,63% pada dosis 1310 ml/m<sup>3</sup> dan 260 ml/m<sup>3</sup>; metode maserasi sebesar 1,875% dan 0% pada dosis 1310 ml/m<sup>3</sup> dan 260 ml/m<sup>3</sup>; dan metode ultrasonik sebesar 0,625% dan 0% pada dosis 1310 ml/m<sup>3</sup> dan 260 ml/m<sup>3</sup> (<xref ref-type="fig" rid="figure-3">Gambar 3</xref>). Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak nilam tidak efektif digunakan sebagai fumigan terhadap imago T. castaneum karena memiliki tingkat mortalitas kurang dari 10% pada ketiga perlakuan metode ekstraksi.</p></sec><sec><title>Repelensi ekstrak nilam</title><p>Pengujian repelensi dilakukan dengan menggunakan ekstrak hasil metode ekstraksi distilasi karena ekstrak ini memiliki tingkat toksisitas paling tinggi terhadap T. castaneum. Pada pengamatan 1 JSP, persentase repelensi tertinggi mencapai 97,5% pada perlakuan 0,4% dan terendah sebesar 92,5% pada perlakuan 0,3%. Pada pengamatan 3 JSP, perlakuan 0,4% menunjukkan peningkatan persentase repelensi menjadi 98,75% dan pada pengamatan 6 JSP menghasilkan persentase repelensi 100%. Pada pengamatan 24 JSP, 0,2% hingga 0,5% menunjukkan persentasi repelensi 100%, sedangkan perlakuan 0,1% menghasilkan persentase repelensi 75% (<xref ref-type="table" rid="table-3">Tabel 3</xref>).</p></sec><sec><title>Senyawa dalam ekstrak nilam</title><p>Metode ekstraksi distilasi menghasilkan 9 senyawa terdeteksi, metode ekstraksi maserasi menghasilkan 11 senyawa terdeteksi, sedangkan metode ekstraksi ultrasonik menghasilkan 19 senyawa terdeteksi.</p><fig id="figure-2" ignoredToc=""><label>Gambar 2</label><caption><p>Perkembangan mortalitas imago Tribolium castaneum pada perlakuan tiga metode ekstraksi nilam. A: distilasi; B: maserasi; C: ultrasonik, dengan cara aplikasi topikal. JSP: jam setelah perlakuan</p></caption><graphic mime-subtype="png" mimetype="image" xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/download/921/631/8560"><alt-text>Image</alt-text></graphic></fig><fig id="figure-3" ignoredToc=""><label>Gambar 3</label><caption><p>Perubahan tingkat mortalitas imago Tribolium castaneum seiring peningkatan dosis ekstrak nilam dengan tiga metode ekstraksi pada cara aplikasi fumigasi.</p></caption><graphic mime-subtype="png" mimetype="image" xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/download/921/631/8561"><alt-text>Image</alt-text></graphic></fig><table-wrap id="table-3" ignoredToc=""><label>Tabel 3</label><caption><p>Tingkat repelensi imago <italic>Tribolium castaneum</italic> dengan perlakuan konsentrasi ekstrak nilam yang diekstrak dengan metode distilasi</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th valign="top" align="left" colspan="1">Konsentrasi (<italic>Concentration</italic>) (%)</th><th valign="top" align="center" colspan="4">Rata-rata repelensi imago (<italic>Average of imago repellency</italic>) ± SD (%)</th></tr></thead><tbody><tr><td colspan="1" valign="top" align="left"></td><td colspan="1" valign="top" align="center">1 JSP</td><td valign="top" align="center" colspan="1">3 JSP</td><td valign="top" align="center" colspan="1">6 JSP</td><td valign="top" align="center" colspan="1">24 JSP</td></tr><tr><td colspan="1" valign="top" align="left">0,1</td><td colspan="1" valign="top" align="center">95,00 ± 6,12 b</td><td align="center" colspan="1" valign="top">91,25 ± 10,23 b</td><td colspan="1" valign="top" align="center">88,75 ± 16,72 b</td><td align="center" colspan="1" valign="top">75,00 ± 24,24 b</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">0,2</td><td align="center" colspan="1" valign="top">96,25 ± 4,15 a</td><td align="center" colspan="1" valign="top">96,25 ± 4,15 a</td><td valign="top" align="center" colspan="1">97,50 ± 2,50 a</td><td align="center" colspan="1" valign="top">100.00 ± 0,00 a</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">0,3</td><td valign="top" align="center" colspan="1">92,50 ± 5,59 a</td><td align="center" colspan="1" valign="top">96,25 ± 6,50 a</td><td valign="top" align="center" colspan="1">97,50 ± 4,33 a</td><td align="center" colspan="1" valign="top">100,00 ± 0,00 a</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">0,4</td><td align="center" colspan="1" valign="top">97,50 ± 2,50 a</td><td valign="top" align="center" colspan="1">98,75 ± 2,17 a</td><td valign="top" align="center" colspan="1">100,00 ± 0,00 a</td><td align="center" colspan="1" valign="top">100,00 ± 0,00 a</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">0,5</td><td valign="top" align="center" colspan="1">95,00 ± 3,54 a</td><td align="center" colspan="1" valign="top">96,25 ± 4,15 a</td><td colspan="1" valign="top" align="center">95,00 ± 3,54 a</td><td align="center" colspan="1" valign="top">100,00 ± 0,00 a</td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji ANOVA dilanjutkan uji Tukey pada taraf 5%. </p><p>JSP: jam setelah perlakuan (hour after treatment), SD: standart deviation.</p></table-wrap-foot></table-wrap><p>Kandungan senyawa hasil distilasi dan maserasi sangat berbeda dengan kandungan senyawa ultrasonik. Berdasarkan analisis senyawa, senyawa yang paling dominan terdapat pada ekstrak nilam dengan metode distilasi adalah patchouli alcohol (28,93%), α-guaiene (18,95%), δ-guaiene (20,72%) dan seychellene (10,36%). Pada ekstrak nilam dengan metode maserasi, senyawa dominan yang muncul adalah patchouli alcohol (34,75%), 7. beta. isopropenyl-1. (4A). -dimethyl-3, 4, (4A), 5, 6, 7, 8, 8A beta-octahydronaphthalene (17,75%), α-guaiene (10,96%), dan δ-guaiene (10,25%). Pada ekstraksi nilam menggunakan metode ultrasonik, senyawa yang dihasilkan didominasi oleh 7. beta. isopropenyl-1. (4A). -dimethyl-3, 4, (4A), 5, 6, 7, 8, 8A beta octahydro naphthalene (45,96%) dan α-guaiene (7,10%) (<xref ref-type="table" rid="table-4">Tabel 4</xref>).</p></sec></sec><sec><title>PEMBAHASAN</title><p>Rata-rata persentase minyak atsiri yang terkandung dalam daun kering nilam berkisar 0,54% hingga 5,2% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-43">(Beek TA &amp; D, 2018)</xref>. Penggunaan gelombang ultrasonik akan meningkatkan gangguan pada sel sampel yang dapat meningkatkan pelepasan minyak atsiri ke dalam larutan sehingga akan meningkatkan rendemen minyak <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-8">(Chen et al., 2021)</xref>. Gelombang ultrasonik berpotensi dimanfaatkan sebagai kombinasi perlakuan sebelum proses distilasi karena berpotensi meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi minyak atsiri <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-23">(Kumoro et al., 2021)</xref>. Namun, penggunaan gelombang ultrasonik harus hati-hati karena dapat menyebabkan hilangnya senyawa utama nilam patchouli alcohol. Hal ini karena amplitudo gelombang yang tinggi dapat menyebabkan penurunan presentasi patchouli alcohol secara signifikan bahkan menyebabkan degradasi patchouli alcohol <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-31">(Preeti et al., 2020)</xref>.</p><p>Ekstrak nilam yang diperoleh menggunakan metode distilasi menunjukkan tingkat toksisitas tertinggi terhadap imago T. castaneum pada ketiga teknik aplikasi. Hal ini karena pelarut yang digunakan dalam proses maserasi dan ultrasonik dapat melarutkan semua senyawa baik yang bersifat volatil hingga kontaminan padatan seperti zat warna yang bersifat non volatil <xref rid="BIBR-41" ref-type="bibr">(Tutuarima et al., 2018)</xref>, sedangkan distilasi umumnya digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa volatil saja sehingga hasilnya berupa senyawa murni <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-34">(Rifdah et al., 2022)</xref>.</p><table-wrap id="table-4" ignoredToc=""><label>Tabel 4</label><caption><p>Komposisi senyawa ekstrak nilam dengan tiga metode ekstraksi</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th valign="top" align="left" colspan="1" rowspan="2">Senyawa (Compound)</th><th align="center" colspan="3" valign="top">Metode ekstraksi (Extraction methods) (%)</th></tr><tr><th align="center" colspan="1" valign="top">Distilasi (Distillation)</th><th valign="top" align="center" colspan="1">Maserasi (Maceration)</th><th valign="top" align="center" colspan="1">Ultrasonik (Ultrasonic)</th></tr></thead><tbody><tr><td colspan="1" valign="top" align="left">β-Patchoulene</td><td align="center" colspan="1" valign="top">2,43</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">α-Guaiene</td><td valign="top" align="center" colspan="1">18,95</td><td align="center" colspan="1" valign="top">10,96</td><td valign="top" align="center" colspan="1">7,10</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">Caryophyllene</td><td align="center" colspan="1" valign="top">2,17</td><td align="center" colspan="1" valign="top">1,45</td><td valign="top" align="center" colspan="1"></td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">α-Patchoulene</td><td align="center" colspan="1" valign="top">5,56</td><td valign="top" align="center" colspan="1">3,19</td><td valign="top" align="center" colspan="1">3,44</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Seychellene</td><td valign="top" align="center" colspan="1">10,36</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td></tr><tr><td colspan="1" valign="top" align="left">Patchoulene</td><td colspan="1" valign="top" align="center">1,15</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Aciphyllene</td><td align="center" colspan="1" valign="top">3,26</td><td align="center" colspan="1" valign="top">1,71</td><td valign="top" align="center" colspan="1"></td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">-guaiene</td><td valign="top" align="center" colspan="1">20,72</td><td align="center" colspan="1" valign="top">10,25</td><td align="center" colspan="1" valign="top">3,22</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Patchouli alcohol</td><td align="center" colspan="1" valign="top">28,93</td><td valign="top" align="center" colspan="1">34,75</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">6,9-Guaiadene</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">1,40</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">α-Cyperone</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">17,75</td><td valign="top" align="center" colspan="1">45,96</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Methyl isohexadecanoate</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">1,61</td><td colspan="1" valign="top" align="center">-</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">Methyl ester</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">2,93</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td></tr><tr><td colspan="1" valign="top" align="left">Phytol</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">1,53</td><td align="center" colspan="1" valign="top">1,72</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Caryophyllene</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">4,22</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">Aromandendrene</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">2,61</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Rotundone</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">1,74</td></tr><tr><td colspan="1" valign="top" align="left">Butane</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td colspan="1" valign="top" align="center">2,00</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Thunbergol</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">2,23</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Ledol</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">2,80</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">5-(3,3-Dimethylbicylo[2.2.1]heptan-2-yl)pent-3-en-2-one</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td colspan="1" valign="top" align="center">-</td><td colspan="1" valign="top" align="center">2,44</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">4,4-Diallyl-cyclohexanone</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">2,33</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Corymbolone</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">3,55</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">Hexadecanoic acid</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">1,35</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Squalene</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">1,70</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Ermanin</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td colspan="1" valign="top" align="center">1,05</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="top">Trans-3’,4’,5’-Trimethoxy-4-(methylthio) chacone</td><td colspan="1" valign="top" align="center">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">1,96</td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1">Sitostenone</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td valign="top" align="center" colspan="1">-</td><td align="center" colspan="1" valign="top">1,20</td></tr></tbody></table></table-wrap><p>Ekstrak nilam menunjukkan toksisitas kontak yang kuat terhadap T. castaneum baik yang diaplikasikan secara topikal maupun residu. Toksisitas kontak P. cablin dengan cara aplikasi topikal terhadap T. castaneum lain telah dilaporkan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-15">(Feng et al., 2019)</xref>. Penelitian lain juga melaporkan bahwa minyak nilam menunjukkan efek kematian yang tinggi pada T. castaneum setelah pemaparan 72 jam dengan cara aplikasi residu mulai dari konsentrasi 0,75% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-4">(Bagade et al., 2021)</xref>. Seskuiterpen dalam ekstrak nilam yang ditemukan dapat digunakan sebagai insektisida karena dapat menghambat metamorfosis larva maupun perkembangbiakan serangga <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">(Kadarohman et al., 2013)</xref>. Insektisida racun kontak</p><p>dapat diaplikasikan pada gudang-gudang penyimpanan dengan menyemprotkan ke permukaan karung maupun ke dinding dan lantai gudang <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-30">(Nurhaedah et al., 2024)</xref>. Hal ini dapat digunakan untuk mencegah serangan hama mematikan hama tersebut sebelum mencapai produk. Ekstrak nilam kurang efektif jika diaplikasikan sebagai fumigan terhadap T. castaneum. Namun, minyak nilam dilaporkan efektif sebagai fumigan pada imago Sitophilus oryzae (Linnaeus) pada 24 dan 48 jam pemaparan dengan LD50 dan LD95 berturut-turut 198,4 dan 142,9 µl/l <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-13">(Devi et al., 2020)</xref>. Perbedaan aktivitas insektisida terhadap berbagai spesies serangga adalah hal yang umum terjadi. Hal tersebut karena setiap serangga memiliki kerentanan yang berbeda terhadap konstituen minyak atsiri yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-9">(Chen et al., 2018)</xref>. Kumbang T. cataneum lebih rentan terhadap toksisitas fumigasi beberapa monoterpenoid, seperti ketones pulegone, l-fenchone dan aldehyde perilladehyde <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-24">(Lee et al., 2003)</xref>. Aktivitas penolakan T. castaneum menggunakan ekstrak nilam disebabkan oleh adanya berbagai senyawa yang bersifat repelen, seperti patchouli alkohol, patchoulene dan α-guaiene <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-25">(Lima et al., 2022)</xref>. Dalam penelitian sebelumnya, tanaman nilam menunjukkan aktivitas repelen yang unggul terhadap T. castaneum pada konsentrasi 0,05% pada pengamatan 12 JSP <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-4">(Bagade et al., 2021)</xref>. Penggunaan ekstrak nilam dengan konsentrasi rendah (0,1%) sebagai repelen tidak menunjukkan efek repelen yang kuat setelah 24 JSP. Nilai repelensi paling efektif pada awal pengamatan dan akan terus menurun seiring bertambahnya waktu pengamatan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-40">(Tiana et al., 2021)</xref>.</p><p>Penggunaan gelombang ultrasonik menyebabkan terjadinya pemecahan sel tumbuhan yang diekstrak sehingga kandungan senyawa di dalamnya keluar dan larut bersama pelarut <xref rid="BIBR-11" ref-type="bibr">(Djamaludin &amp; Chamidah, 2021)</xref>. Hal ini menyebabkan senyawa hasil metode ekstraksi ultrasonik lebih beragam, kompleks dan berbeda dibandingkan dengan hasil metode ekstraksi yang lain. Kandungan senyawa tertinggi pada metode distilasi dan maserasi adalah patchouli alcohol. Patchouli dikenal memiliki aktivitas biologis sebagai insektisida, antioksidan, antitumor, antimikroba, dan antifungi <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-21">(Hu et al., 2017)</xref>. Senyawa ini memiliki mode of action sebagai racun saraf serta mampu menembus dan mendegradasi membran kutikula serta menyebabkan kerusakan pada jaringan serangga <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-47">(Zhu et al., 2003)</xref>. Efek insektisidal senyawa α-guaiene dan -guaiene belum dilaporkan. Namun, senyawa ini dilaporkan mampu menghambat pertumbuhan cendawan Microsporum gypseum dan Tricophyton mentagrophytes <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Maulani et al., 2022)</xref> serta mampu bekerja sebagai antimikroba pada bakteri Eschericia coli dan Pseudomonas aeruginosa <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-45">(Widyaningrum et al., 2020)</xref>. Hasil ekstrak nilam metode maserasi dan ultrasonik juga memiliki warna hijau kehitaman karena adanya senyawa-senyawa dekomposisi klorofil daun seperti phytol. Senyawa ini dilaporkan dapat mengurangi aktivitas motorik cacing dan bersifat antimikroba pada Mycobacterium tuberculosis dan Staphylococcus aureus <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-12">(Moraes J et al., 2014)</xref>.</p><p>Berdasarkan hasil penelitian, metode ekstraksi nilam dengan distilasi memiliki kelebihan menghasilkan ekstrak yang murni dan toksik bagi serangga T. castaneum, namun rendemen yang dihasilkan rendah. Metode ekstraksi maserasi memiliki kelebihan mudah dilakukan, cepat, dan menghasilkan rendemen tinggi. Kekurangan dari metode ekstraksi maserasi adalah rendemen yang dihasilakan kurang murni dan kurang toksik terhadap T. castaneum. Metode ekstraksi nilam dengan ultrasonik memiliki kelebihan dapat dilakukan sangat cepat, rendemen tinggi, dan senyawa yang dihasilkan bervariasi namun memiliki tingkat toksisitas sangat rendah.</p></sec><sec><title>KESIMPULAN</title><p>Metode ekstraksi nilam (P. cablin) dengan gelombang ultrasonik menghasilkan rendemen ekstrak paling tinggi. Ekstrak daun nilam yang diekstraksi dengan metode distilasi, maserasi, dan ultrasonik bersifat toksik terhadap imago T. castaneum yang diaplikasian secara residu dan topikal, namun tidak efektif pada cara aplikasi fumigasi. Ekstrak nilam yang diekstrak dengan metode distilasi menunjukkan tingkat toksisitas tertinggi di antara kedua metode ekstraksi yang lain dengan nilai LC50 dan LC95 berturut-turut 0,804 dan 1,541% pada metode residu dan LD50 dan LD95 berturut- turut 49,14 dan 135,73 μg/imago pada metode aplikasi topikal. Ekstrak nilam hasil distilasi juga menunjukkan sifat repelen terhadap T. castaneum mulai dari konsentrasi 0,2%. Metode ekstraksi nilam yang berbeda menghasilkan komposisi senyawa yang berbeda.</p></sec></body><back><ref-list><title>DAFTAR PUSTAKA</title><ref id="BIBR-1"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Exploring contact toxicity of essential oils against Sitophilus zeamais through a meta-analysis approach</article-title><source>Plants</source><volume>11</volume><issue>3070</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Achimon</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Peschiutta</surname><given-names>M.L.</given-names></name><name><surname>Brito</surname><given-names>V.D.</given-names></name><name><surname>Beato</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Pizzolitto</surname><given-names>R.P.</given-names></name><name><surname>Zygadlo</surname><given-names>J.A.</given-names></name><name><surname>Zunino</surname><given-names>M.P.</given-names></name></person-group><year>2022</year><pub-id pub-id-type="doi">10.3390/plants11223070</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-2"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Host preference of Tribolium castaneum (Herbst) on six kinds of flour</article-title><source>Jurnal Entomologi Indonesia</source><volume>17</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Astuti</surname><given-names>L.P.</given-names></name><name name-style="given-only"><given-names>Mutalaliah</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>149</fpage><lpage>155</lpage><page-range>149-155</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.5994/jei.17.3.149</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-3"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Pengaruh fumigasi phospine (PH3) dalam mengendalikan Tribolium castaneum (Herbst) pada tepung gandum</article-title><source>Biodiversitas</source><volume>2</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Arum</surname><given-names>R.S.</given-names></name><name><surname>Hasjim</surname><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>466</fpage><lpage>475</lpage><page-range>466-475</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.31326/jbio.v2i2.255</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-4"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Toxicity and repellency of four plant essential oils against Tribolium castaneum (Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae</article-title><source>International Journal of Tropical Insect Science</source><volume>41</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Bagade</surname><given-names>R.P.</given-names></name><name><surname>Jadhav</surname><given-names>A.D.</given-names></name><name><surname>Chavan</surname><given-names>R.V.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>1505</fpage><lpage>1512</lpage><page-range>1505-1512</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1007/s42690-020-00348-9</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-5"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Techniques for insect detection in stored food grains: an overview</article-title><source>Food Control</source><volume>94</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Banga</surname><given-names>K.S.</given-names></name><name><surname>Kotwaliwale</surname><given-names>N.</given-names></name><name><surname>Mohapatra</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Giri</surname><given-names>S.K.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>167</fpage><lpage>176</lpage><page-range>167-176</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.foodcont.2018.07.008</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-6"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Applications of essential oils and plant extracts in different industries</article-title><source>Molecules</source><volume>27</volume><issue>8999</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Bolouri</surname><given-names>P.</given-names></name><name><surname>Salami</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Kouhi</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Kordi</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Asgari</surname><given-names>L.B.</given-names></name><name><surname>Hadian</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Astatkie</surname><given-names>T.</given-names></name></person-group><year>2022</year><pub-id pub-id-type="doi">10.3390/molecules27248999</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-7"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Essential oils and their bioactive compounds as eco-friendly novel green pesticides for management of storage insect pests: prospects and retrospects</article-title><source>Journal Environmental Science and Pollution</source><volume>28</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Chaudhari</surname><given-names>A.K.</given-names></name><name><surname>Singh</surname><given-names>V.K.</given-names></name><name><surname>Kedia</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Das</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Dubey</surname><given-names>N.K.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>18918</fpage><lpage>18940</lpage><page-range>18918-18940</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1007/s11356-021-12841-w</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-8"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Enhanced extraction of essential oil from Cinnamomum cassia bark by ultrasound assisted hydrodistillation</article-title><source>Chinese Journal of Chemical Engineering</source><volume>36</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Chen</surname><given-names>G.</given-names></name><name><surname>Sun</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Wang</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Wang</surname><given-names>W.</given-names></name><name><surname>Dong</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Gao</surname><given-names>F.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>38</fpage><lpage>46</lpage><page-range>38-46</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.cjche.2020.08.007</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-9"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Insecticidal and repellent activity of essential oil from Amomum villosum Lour. and its main compounds against two stored-product insects</article-title><source>International Jorunal of Food Properties</source><volume>21</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Chen</surname><given-names>Z.Y.</given-names></name><name><surname>Guo</surname><given-names>S.S.</given-names></name><name><surname>Cao</surname><given-names>J.Q.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>2265</fpage><lpage>2275</lpage><page-range>2265-2275</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1080/10942912.2018.1508158</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-10"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Uji aktivitas ekstrak daun seledri (Apium graveolens L.) terhadap kumbang kacang Callosobruchus chinensis L</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Darmiati</surname><given-names>N.N.</given-names></name></person-group><year>2013</year><comment>Coleoptera: Bruchidae). Agrotop. 3:17–22</comment></element-citation></ref><ref id="BIBR-11"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Kualitas ekstrak minyak mikroalga Spirulina sp. dengan metode ekstraksi yang berbeda</article-title><source>Jurnal Universitas Hassanudin</source><volume>8</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Djamaludin</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Chamidah</surname><given-names>A.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>215</fpage><lpage>224</lpage><page-range>215-224</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-12"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Phytol, a diterpene alcohol from chlorophyll, as a drug against neglected tropical disease Schistosomiasis mansoni</article-title><source>Plos Neglected Tropical Diseases</source><volume>8</volume><issue>2617</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Moraes J</surname></name><name><surname>Oliveira RN</surname></name><name><surname>JP</surname><given-names>Costa</given-names></name><name><surname>AL</surname><given-names>Junior</given-names></name><name><surname>Sousa DP</surname></name><name><surname>RM</surname><given-names>Freitas</given-names></name><name><surname>PL</surname><given-names>Pinto</given-names></name></person-group><year>2014</year><pub-id pub-id-type="doi">10.1371/journal.pntd.0002617</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-13"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Chemical compositions and insecticidal efficacies of four aromatic essential oils on rice weevil Sitophilus oryzae L</article-title><source>International Jorunal of Tropical Insect Science</source><volume>40</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Devi</surname><given-names>M.A.</given-names></name><name><surname>Nameirakpam</surname><given-names>B.</given-names></name><name><surname>Devi</surname><given-names>Mayanglambam</given-names></name><name><surname>S</surname><given-names>Singh</given-names></name><name><surname>KD</surname><given-names>Sougrakpam</given-names></name><name><surname>S</surname><given-names>Rajashekar Y.T.B.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>549</fpage><lpage>559</lpage><page-range>549-559</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1007/s42690-020-00102-1</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-14"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Studi perbandingan metode isolasi ekstraksi pelarut dan distilasi uap minyak atsiri kemangi terhadap komposisi senyawa aktif</article-title><source>Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan</source><volume>2</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Dewi</surname><given-names>L.K.</given-names></name><name><surname>Friatnasary</surname><given-names>D.L.</given-names></name><name><surname>Herawati</surname><given-names>W.</given-names></name><name><surname>Nurhadianty</surname><given-names>V.</given-names></name><name><surname>Cahyani</surname><given-names>C.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>13</fpage><lpage>19</lpage><page-range>13-19</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.21776/ub.rbaet.2018.002.01.03</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-15"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Bioactivities of patchoulol and phloroacetophenone from Pogostemon cablin essential oil against three insects</article-title><source>International Jorunal of Food Properties</source><volume>22</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Feng</surname><given-names>Y.X.</given-names></name><name><surname>Wang</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>You</surname><given-names>C.X.</given-names></name><name><surname>Guo</surname><given-names>S.S.</given-names></name><name><surname>Du</surname><given-names>Y.S.</given-names></name><name><surname>Du</surname><given-names>S.S.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>1365</fpage><lpage>1374</lpage><page-range>1365-1374</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1080/10942912.2019.1648508</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-16"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Pengaruh ekstrak beberapa jenis tanaman sebagai insektisida nabati untuk mengendalikan serangan lalat buah Bactrocera sp. (Diptera: Tephritidae) pada tanaman cabai rawit</article-title><source>Jurnal Ilmu Pertanian</source><volume>10</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Gafur</surname><given-names>G.</given-names></name><name><surname>Anshary</surname><given-names>A.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>322</fpage><lpage>328</lpage><page-range>322-328</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-17"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Ekstraksi minyak atsiri daun zodia (Evodia suaveolens) dengan metode maserasi dan distilasi air</article-title><source>Jurnal Bahan Alam Terbarukan</source><volume>3</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Handayani</surname><given-names>P.A.</given-names></name><name><surname>Nurcahyanti</surname><given-names>H.</given-names></name></person-group><year>2014</year><fpage>1</fpage><lpage>7</lpage><page-range>1-7</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-18"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Pengaruh lama waktu maserasi (perendaman) terhadap kekentalan ekstrak daun sirih</article-title><source>Jurnal Farmasi Tinctura</source><volume>2</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Handoyo</surname><given-names>D.L.Y.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>34</fpage><lpage>41</lpage><page-range>34-41</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.35316/tinctura.v2i1.1546</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-19"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Respons hama Lasioderma serricorne terhadap pemberian fosfin formulasi pada biji pinang</article-title><source>Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari</source><volume>14</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Hayata</surname><given-names>H.</given-names></name></person-group><year>2017</year><fpage>87</fpage><lpage>92</lpage><page-range>87-92</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-20"><element-citation publication-type="chapter"><article-title>Kajian pemanfaatan nilam dan jamur entomopatogen untuk mengendalikan wereng cokelat (Nilaparvata lugen Stal.) di Kabupaten Banyumas</article-title><source>Seminar Nasional Pengembangan Sumber Daya Pedesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan II</source><person-group person-group-type="author"><name><surname>Herminanto</surname><given-names>Wiyantono</given-names></name><name><surname>SU</surname><given-names>Darini</given-names></name><name name-style="given-only"><given-names>Sudjarwo</given-names></name></person-group><year>2012</year><fpage>96</fpage><lpage>103</lpage><page-range>96-103</page-range><publisher-name>Universitas Jenderal Soedirman</publisher-name><publisher-loc>Purwokerto</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-21"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Availability, pharmaceutics, security, pharmacokinetics, and pharmacological activities of patchouli alcohol</article-title><source>Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine</source><volume>4850612</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Hu</surname><given-names>G.</given-names></name><name><surname>Peng</surname><given-names>C.</given-names></name><name><surname>Xie</surname><given-names>X.</given-names></name><name><surname>Zhang</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Cao</surname><given-names>X.</given-names></name></person-group><year>2017</year><fpage>1</fpage><lpage>7</lpage><page-range>1-7</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1155/2017/4850612</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-22"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Biolarvicidal of vetiver oil and ethanol extract of vetiver root distillation waste (Vetiveria zizanoides) effectiveness toward Aedes aegypti, Culex sp., and Anopheles sundaicus</article-title><source>Journal of Essential Oil Bearing Plants</source><volume>16</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Kadarohman</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Sardjono</surname><given-names>R.E.</given-names></name><name><surname>Aisyah</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Khumaisah</surname><given-names>L.L.</given-names></name></person-group><year>2013</year><fpage>749</fpage><lpage>762</lpage><page-range>749-762</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1080/0972060X.2013.862075</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-23"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Extraction of essential oil from ultrasound pre-treated citronella grass (Cymbopogon nardus) leaves by hydro-distillation method</article-title><source>Chemical Engineering Transactions</source><volume>87</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Kumoro</surname><given-names>A.C.</given-names></name><name><surname>Wardhani</surname><given-names>D.H.</given-names></name><name><surname>Retnowati</surname><given-names>D.S.</given-names></name><name><surname>Haryani</surname><given-names>K.</given-names></name><name><surname>Yustika</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Fajar</surname><given-names>T.A.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>643</fpage><lpage>648</lpage><page-range>643-648</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-24"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Fumigation toxicity of monoterpenoids to several stored product insects</article-title><source>Jorunal of Stored Products Research</source><volume>39</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Lee</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Peterson</surname><given-names>C.J.</given-names></name><name><surname>Coats</surname></name></person-group><year>2003</year><fpage>77</fpage><lpage>85</lpage><page-range>77-85</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/S0022-474X(02)00020-6</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-25"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Bioinsecticidal and pharmacological activities of the essential oil of Pogostemon cablin benth leaves: A review</article-title><source>Pharmacognosy Reviews</source><volume>16</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Lima</surname><given-names>S.L.</given-names></name><name><surname>Barreto</surname><given-names>B.L.</given-names></name><name><surname>Costa</surname><given-names>P.</given-names></name><name><surname>Luiz</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Lopes</surname><given-names>M.R.</given-names></name><name><surname>Lobato</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>S</surname><given-names>Moreira</given-names></name><name><surname>Almeida</surname><given-names>S.S.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>139</fpage><lpage>145</lpage><page-range>139-145</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.5530/phrev.2022.16.18</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-26"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Comparative laboratory efficacy of novel botanical extracts against Tribolium castaneum</article-title><source>Journal of the Science of Food and Agriculture</source><volume>100</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Mangang</surname><given-names>I.B.</given-names></name><name><surname>Tiwari</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Rajamani</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Manickam</surname><given-names>L.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>1541</fpage><lpage>1546</lpage><page-range>1541-1546</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1002/jsfa.10162</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-27"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Uji aktivitas antijamur pada guaiene minyak nilam terhadap jamur Microsporum gypseum ATCC 14683 dan Tricophyton mentagrophytes ATCC 16404</article-title><source>Journal of Tropical Agricultural Engineering and Biosystems</source><volume>10</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Maulani</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Nurjanah</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Lembong</surname><given-names>E.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>74</fpage><lpage>83</lpage><page-range>74-83</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.21776/ub.jkptb.2022.010.01.09</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-28"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Pengaruh ekstrak daun nilam Pogostemon cablin (Benth.), daun kayu putih Melaleuca leucadendra (Linn.) dan daun serai wangi Cymbopogon citratus (DC ex Nees.) terhadap repellensi kutu kebul (Bemisia tabaci Genn</article-title><source>Jurnal Pendidikan Biologi</source><volume>8</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Noor</surname><given-names>K.S.</given-names></name><name><surname>Rachmawati</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Kukuh</surname><given-names>U.B.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>25</fpage><lpage>30</lpage><page-range>25-30</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.25157/jpb.v8i2.4378</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-29"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Identifikasi komponen kimia minyak asiri temugiring (Curcuma heyneana) dan temukunci (Kaempheria pandurata Roxb.) hasil distilasi air-uap</article-title><source>J Kimia dan Kemasan</source><volume>34</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Nuraeni</surname><given-names>C.</given-names></name><name><surname>Yunilawati</surname><given-names>R.</given-names></name></person-group><year>2012</year><fpage>187</fpage><lpage>191</lpage><page-range>187-191</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.24817/jkk.v34i1.1851</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-30"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Upaya pengendalian hama serangga terhadap kualitas beras di gudang bulog Pangkajene Kabupaten Sidenreng Rappang</article-title><source>Jurnal Agribisnis Sistem Pertanian Terpadu</source><volume>1</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Nurhaedah</surname><given-names>N.</given-names></name><name><surname>Ayu</surname><given-names>A.D.P.</given-names></name><name><surname>Nurhapsa</surname><given-names>N.</given-names></name></person-group><year>2024</year><fpage>19</fpage><lpage>27</lpage><page-range>19-27</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-31"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Enrichment of patchouli alcohol in patchouli oil by aiding sonication in hydrotropic extraction</article-title><source>Industrial Crops and Products</source><volume>158</volume><issue>13011</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Preeti</surname><given-names>L.B.J.</given-names></name><name><surname>Sanjaykumar</surname><given-names>R.P.</given-names></name><name><surname>Meghal</surname><given-names>A.D.</given-names></name></person-group><year>2020</year><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.indcrop.2020.113011</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-32"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Ekstraksi zat warna alam dari bonggol tanaman pisang (Musa paradiasciaca L.) dengan metode maserasi, refluks, dan sokletasi</article-title><source>Jurnal Kimia</source><volume>8</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Putra</surname><given-names>A.B.</given-names></name><name><surname>Bogoriani</surname><given-names>N.W.</given-names></name><name><surname>Diantariani</surname><given-names>N.P.</given-names></name><name><surname>Sumadewi</surname><given-names>N.L.U.</given-names></name></person-group><year>2014</year><fpage>113</fpage><lpage>119</lpage><page-range>113-119</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-33"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Keanekaragaman dan kelimpahan hama pascapanen di gudang beras perum bulog kantor cabang Cianjur</article-title><source>Jurnal Hama Penyakit Tumbuhan</source><volume>11</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Rianti</surname><given-names>P.S.</given-names></name><name><surname>Astuti</surname><given-names>L.P.</given-names></name></person-group><year>2023</year><fpage>11</fpage><lpage>19</lpage><page-range>11-19</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.21776/ub.jurnalhpt.2023.011.1.2</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-34"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Pengaruh Saccharomyces cerevisiae terhadap kadar etanol dari kulit nanas secara fermentasi</article-title><source>Jurnal Teknik Patra Akademika</source><volume>13</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Rifdah</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Kalsum</surname><given-names>U.</given-names></name><name><surname>Anugrah</surname><given-names>I.S.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>115</fpage><lpage>126</lpage><page-range>115-126</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.52506/jtpa.v13i02.176</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-35"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Toksisitas biji srikaya terhadap kumbang tepung (Tribolium castaneum) pada gandum</article-title><source>Jurnal Penelitian Agronomi</source><volume>20</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Subagiya</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Sulistyo</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Nurchasanah</surname><given-names>U.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>19</fpage><lpage>23</lpage><page-range>19-23</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.20961/agsjpa.v20i1.19352</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-36"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Profil senyawa kimia minyak atsiri sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) hasil hidrodistilasi dengan optimasi perlakuan awal sonikasi</article-title><source>Jurnal Penelitian Kimia</source><volume>18</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Sukandar</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Sulaswatty</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Hamidi</surname><given-names>I.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>221</fpage><lpage>233</lpage><page-range>221-233</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.20961/alchemy.18.2.60007.221-233</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-37"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Minyak nilam (Patchouli alcohol) sebagai antioksidan dengan metode DPPH</article-title><source>Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik</source><volume>12</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Supriyono</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Gunawan</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>Wulan</surname><given-names>A.H.</given-names></name></person-group><year>2015</year><fpage>33</fpage><lpage>37</lpage><page-range>33-37</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-38"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Inventarisasi ragam tumbuhan obat berpotensi sebagai antinyamuk</article-title><source>Jurnal Vektor Penyakit</source><volume>13</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Susanti</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Sari</surname><given-names>A.N.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>7</fpage><lpage>20</lpage><page-range>7-20</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.22435/vektorp.v13i1.447</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-39"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Aplikasi suhu terhadap mortalitas hama Sithophilus zeamais dan Tribolium castaneum pada Jagung</article-title><source>Agrotecnology Research Journal</source><volume>6</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Susanti</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Risnawati</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Fadillah</surname><given-names>W.</given-names></name><name><surname>Lisdayani</surname><given-names>L.</given-names></name><name><surname>Tahun</surname><given-names>Puspita R.</given-names></name></person-group><fpage>16</fpage><lpage>20</lpage><page-range>16-20</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.20961/agrotechresj.v6i1.55423</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-40"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Fumigant effect of essential oils from citronella (Cymbopogon nardus) and lemongrass (Cymbopogon citratus) against pest red flour beetle (Tribolium castaneum</article-title><source>Jurnal Agroqua: Media Informasi Agronomi dan Budidaya Perairan</source><volume>19</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Tiana</surname><given-names>D.O.</given-names></name><name><surname>Heviyanti</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Marnita</surname><given-names>Y.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>263</fpage><lpage>272</lpage><page-range>263-272</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.32663/ja.v19i2.1980</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-41"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Optimasi proses maserasi hasil samping industri sirup jeruk kalamansi (Citrofortunella microcarpa</article-title><source>Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian</source><volume>3</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Tutuarima</surname><given-names>T.</given-names></name><name><surname>Dewi</surname><given-names>K.H.</given-names></name><name><surname>Sinambela</surname><given-names>N.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>359</fpage><lpage>364</lpage><page-range>359-364</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.24843/JITPA.2018.v03.i02.p07</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-42"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Analisis aktivitas toksisitas beberapa minyak atsiri dengan metode brine shrimp lethality test</article-title><source>Jurnal Holistic and Health Sciences</source><volume>3</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Utami</surname><given-names>M.R.</given-names></name><name><surname>Ardiyanti</surname><given-names>Y.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>14</fpage><lpage>20</lpage><page-range>14-20</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.51873/jhhs.v3i1.34</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-43"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Minyak atsiri nilam, Pogostemon cablin: A review</article-title><source>Jurnal Rasa dan Wangi</source><volume>33</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Beek TA</surname></name><name><surname>D</surname><given-names>Joulain</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>6</fpage><lpage>51</lpage><page-range>6-51</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1002/ffj.3418</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-44"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Toxicity and bioactivity of essential oil of cilantro (Eryngium foetidum L.) against red flour beetle Tribolium castaneum (Herbst</article-title><source>Australian Jorunal of Crop Science</source><volume>16</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Wanna</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Wongsawas</surname><given-names>M.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>259</fpage><lpage>26</lpage><page-range>259-26</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.21475/ajcs.22.16.02.3414</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-45"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Aktivitas antibakteri α-guaiene minyak nilam terhadap bakteri Eschericia coli dan Pseudomonas aeruginosa</article-title><source>Gontor Agrotech Science Journal</source><volume>6</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Widyaningrum</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Nurjanah</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Lembong</surname><given-names>E.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>403</fpage><lpage>412</lpage><page-range>403-412</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.21111/agrotech.v6i3.4951</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-46"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Uji efektivitas ekstrak daun nilam (Pogostemon cablin Benth) sebagai repelen semprot lalat hijau (Chrysomya megacephala</article-title><source>Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya</source><volume>3</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Yani</surname><given-names>S.W.</given-names></name></person-group><year>2023</year><fpage>9</fpage><lpage>18</lpage><page-range>9-18</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.54883/28093151.v3i1.37</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-47"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Toxicity and repellency of patchouli oil and patchouli alcohol against formosan subterranean termites Coptotermes formosanus Shiraki (Isoptera: Rhinotermitidae</article-title><source>Journal of Agricultural and Food Chemistry</source><volume>51</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Zhu</surname><given-names>B.C.R.</given-names></name><name><surname>Henderson</surname><given-names>G.</given-names></name><name><surname>Yu</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>Laine</surname><given-names>R.A.</given-names></name></person-group><year>2003</year><fpage>4585</fpage><lpage>4588</lpage><page-range>4585-4588</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1021/jf0301495</pub-id></element-citation></ref></ref-list></back></article>