<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.3 20210610//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.3/JATS-journalpublishing1-3.dtd"><article xml:lang="id" dtd-version="1.3" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/" article-type="research-article"><front><journal-meta><journal-id journal-id-type="issn">2089-0257</journal-id><journal-title-group><journal-title>Jurnal Entomologi Indonesia</journal-title><abbrev-journal-title>JEI</abbrev-journal-title></journal-title-group><issn pub-type="epub">2089-0257</issn><issn pub-type="ppub">1829-7722</issn><publisher><publisher-name>Perhimpunan Entomologi Indonesia</publisher-name></publisher></journal-meta><article-meta><article-id pub-id-type="doi">10.5994/jei.22.2.69</article-id><title-group><article-title>Pertumbuhan dan perkembangan ulat grayak jagung (<italic>Spodoptera frugiperda </italic>Smith) dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai (<italic>Glycine max L.</italic>)</article-title><subtitle>Growth and development of fall armyworm (<italic>Spodoptera frugiperda</italic> Smith) with soybean-based artificial diet (<italic>Glycine max L.</italic>)</subtitle></title-group><contrib-group><contrib contrib-type="author"><name><surname>Desi</surname><given-names>Isti Istiqomah</given-names></name><address><country>Indonesia</country></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-1"></xref></contrib><contrib contrib-type="author"><contrib-id contrib-id-type="orcid">https://orcid.org/0000-0002-7067-5105</contrib-id><name><surname>Kustiati</surname><given-names>Kustiati</given-names></name><address><country>Indonesia</country></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-1"></xref></contrib><contrib contrib-type="author"><name><surname>Hernowo</surname><given-names>Kukuh</given-names></name><address><country>Indonesia</country><email>kukuh.hernowo@faperta.untan.ac.id</email></address><xref rid="AFF-2" ref-type="aff"></xref><xref ref-type="corresp" rid="cor-2"></xref></contrib></contrib-group><contrib-group><contrib contrib-type="editor"><name><surname>Syahputra</surname><given-names>Edy</given-names></name><address><country>Indonesia</country></address></contrib></contrib-group><aff id="AFF-1"><institution content-type="dept">Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam</institution><institution-wrap><institution>Universitas Tanjungpura</institution><institution-id institution-id-type="ror">https://ror.org/04exz5k48</institution-id></institution-wrap><addr-line>Jalan Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak 78124</addr-line><country country="ID">Indonesia</country></aff><aff id="AFF-2"><institution content-type="dept">Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian</institution><institution-wrap><institution>Universitas Tanjungpura</institution><institution-id institution-id-type="ror">https://ror.org/04exz5k48</institution-id></institution-wrap><addr-line>Jalan Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak 78124</addr-line><country country="ID">Indonesia</country></aff><author-notes><corresp id="cor-2">Corresponding author: Kukuh Hernowo, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Jalan Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak 78124, Indonesia.  Email: <email>kukuh.hernowo@faperta.untan.ac.id</email></corresp></author-notes><pub-date iso-8601-date="2025-9-19" publication-format="electronic" date-type="pub"><day>19</day><month>9</month><year>2025</year></pub-date><pub-date date-type="collection" iso-8601-date="2025-9-19" publication-format="electronic"><day>19</day><month>9</month><year>2025</year></pub-date><volume>22</volume><issue>2</issue><issue-title>July</issue-title><fpage>69</fpage><lpage>80</lpage><history><date date-type="received" iso-8601-date="2024-12-18"><day>18</day><month>12</month><year>2024</year></date><date date-type="accepted" iso-8601-date="2025-6-30"><day>30</day><month>6</month><year>2025</year></date></history><permissions><copyright-statement>Hak Cipta (c) 2025 Isti Istiqomah Desi, Kustiati Kustiati, Kukuh Hernowo</copyright-statement><copyright-year>2025</copyright-year><copyright-holder>Isti Istiqomah Desi, Kustiati Kustiati, Kukuh Hernowo</copyright-holder><license license-type="open-access" xlink:href="https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/"><ali:license_ref xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/">https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/</ali:license_ref><license-p>Artikel ini berlisensi  Creative Commons Attribution 4.0 International License.</license-p></license></permissions><self-uri xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/view/907" xlink:title="Pertumbuhan dan perkembangan ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda Smith) dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai (Glycine max L.)">Pertumbuhan dan perkembangan ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda Smith) dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai (Glycine max L.)</self-uri><abstract><p>Ulat grayak grayak jagung (<italic>Spodoptera frugiperda </italic>Smith) merupakan hama invasif tanaman jagung di Indonesia. Pengembangan teknik pemeliharaan <italic>S. frugiperda </italic>berbasis pakan buatan penting dilakukan untuk mendukung berbagai penelitian tentang spesies ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan <italic>S. frugiperda </italic>dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai (<italic>Glycine max </italic>L.). Penelitian ini menggunakan larva instar 1 dari imago <italic>S. frugiperda </italic>yang diperoleh dari perkebunan jagung Desa Rasau Jaya. Larva yang digunakan sebanyak 800 individu untuk memperoleh data yang akurat dan representatif tentang perkembangan serangga tersebut. Variabel yang diamati meliputi beberapa aspek penting, yaitu tingkat keberhasilan hidup setiap stadium (dari larva hingga imago), morfometri pertumbuhan pada stadium larva instar 6 dan pupa untuk memahami perubahan ukuran dan bentuk tubuh, lama hidup setiap stadium untuk mengetahui durasi setiap fase perkembangan, serta nisbah kelamin untuk menentukan proporsi jantan dan betina dalam populasi. Data keberhasilan hidup imago <italic>S. frugiperda </italic>yang diperoleh dianalisis dan disajikan secara deskriptif untuk memberikan gambaran yang jelas dan terperinci tentang hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan tingkat keberhasilan hidup <italic>S. frugiperda </italic>pada setiap stadium pertumbuhan mencapai rata-rata di atas 75%. Lama hidup stadium larva 12,80 ± 1,00 hari, stadium pupa 7,80 ± 0,77 hari, dan imago betina 9,55 ± 2,42 hari, sedangkan jantan 7,39 ± 1,77 hari. Nisbah kelamin jantan dan betina adalah 1:1,02. Hasil ini tidak berbeda jauh dengan pertumbuhan dan perkembangan <italic>S. frugiperda </italic>pada pakan jagung, dan sekaligus menunjukkan potensi pakan buatan berbahan dasar kedelai sebagai media pakan alternatif untuk pemeliharaan <italic>S. frugiperda </italic>di laboratorium.</p></abstract><kwd-group><kwd>Glycine max</kwd></kwd-group><custom-meta-group><custom-meta><meta-name>File created by JATS Editor</meta-name><meta-value><ext-link ext-link-type="uri" xlink:href="https://jatseditor.com" xlink:title="JATS Editor">JATS Editor</ext-link></meta-value></custom-meta><custom-meta><meta-name>issue-created-year</meta-name><meta-value>2025</meta-value></custom-meta></custom-meta-group></article-meta></front><body><sec><title>PENDAHULUAN</title><p>Ulat grayak jagung, <italic>Spodoptera frugiperda</italic> Smith (Lepidoptera: Noctuidae), merupakan organisme pengganggu tanaman (OPT) dari Ordo Lepidoptera, Famili Noctuidae. Spesies invasif ini berasal dari negara Amerika, pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 2019 dan dilaporkan menginfestasi pertanaman jagung di wilayah Sumatera <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-12">(Pertanian, 2019)</xref>. Hama ini berpotensi besar terhadap penurunan kualitas dan kehilangan produksi pada lebih dari 80 spesies tanaman, termasuk jagung, padi, sorgum, tebu, sayuran, dan kapas (Ariani et al. 2021).</p><p>Serangga <italic>S. frugiperda</italic> saat ini merupakan salah satu hama penting di Indonesia. Selain menyerang pertanaman jagung, hama ini juga banyak menimbulkan kerusakan pada komoditas pertanian yang lain, salah satunya kedelai (<italic>Glycine max L.</italic>) <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Uleng, 2021)</xref>. Penelitian mengenai spesies ini sebagai hama penting pertanian masih relatif terbatas karena merupakan hama <italic>invasif </italic>yang relatif baru keberadaannya. Hal ini menjadi alasan diperlukan lebih banyak penelitian dan akan terus dilakukan untuk memahami perilaku hama maupun cara pengendaliannnya.</p><p>Penelitian dalam skala laboratorium biasanya terkait dengan kajian biologi, seperti informasi tentang kecepatan pertumbuhan populasi, potensi reproduksi, dan keberhasilan hidup <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-13">(Lestari et al., 2013)</xref>. Selain itu, banyak kajian-kajian pengujian efikasi insektisida maupun yang terkait dengan pengendalian hayati yang memerlukan banyak serangga uji terutama serangga pengganggu tanaman (<italic>agricultural pests</italic>) <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-25">(Taufika et al., 2022)</xref>. Permasalahan yang sering dihadapi peneliti dalam kajian hama <italic>S. frugiperda</italic> khususnya pada penelitian skala laboratorium berkaitan dengan sulitnya memperoleh serangga uji seragam dalam jumlah yang cukup <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-3">(Ambarningrum, 2001)</xref>.</p><p>Metode pemeliharaan <italic>S. frugiperda</italic> di laboratorium sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan penelitian hama ini, baik pada skala laboratorium maupun di lapangan. Pemeliharaan <italic>S. frugiperda</italic> dengan pakan alami memerlukan bahan pakan segar dalam jumlah yang cukup dan mudah diperoleh kapan saja. Berdasarkan batasan yang telah ditetapkan, prasyarat ini seringkali menjadi kendala, terutama ketika pakan alami tidak tersedia. Implementasi metode pemeliharaan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-24">(Susrama, 2018)</xref> dengan menggunakan jagung muda (<italic>baby corn</italic>) sebagai pakan alami memerlukan kontrol kualitas yang ketat terhadap bahan pakan untuk memastikan konsistensi dan keberhasilan proses pemeliharaan. Ketidakkonsistenan kualitas pakan dapat berdampak negatif pada kebugaran serangga uji dan hasil percobaan secara keseluruhan.</p><p>Serangga yang dipelihara di laboratorium idealnya diberi pakan yang sesuai dengan jenis makanannya di alam untuk menjaga pertumbuhan, perkembangan, dan keperidian yang optimal. Namun demikian, dalam banyak kasus pemberian pakan alami selain tidak mungkin secara teknis juga tidak efisien. Langkah terobosan yang dilakukan oleh para peneliti entomologi untuk mengatasi kesulitan tersebut adalah dengan melakukan pengembangan melalui pakan buatan (<italic>artificial diet</italic>). Pakan buatan yang baik, selain dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan serangga uji yang optimal, juga akan sangat memudahkan bagi peneliti untuk menyiapkannya dalam jumlah yang dibutuhkan setiap saat tanpa tergantung musim dan waktu <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">(Nurhajijah et al., 2023)</xref>.</p><p>Pengembangan pakan buatan biasanya berbahan utama produk tanaman yang menjadi inang utama di alam dengan beberapa bahan penunjang yang dapat membuat pakan tersebut bertahan lebih lama dan optimal untuk keberhasilan hidup serangga <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-14">(Mayasanti, 2012)</xref>. Tanaman kedelai merupakan salah satu tanaman inang <italic>Spodoptera </italic>yang menjanjikan sebagai bahan utama formula pakan buatan karena beberapa alasan penting. Pertama, ketersediaan kedelai yang melimpah secara lokal dan harga yang relatif murah dapat menekan biaya produksi pakan buatan sehingga meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan produksi. Selain itu, kedelai merupakan sumber protein tercerna yang sangat baik, dengan kadar protein tinggi sekitar 40% dan kadar minyak sekitar 20%, menjadikan tanaman ini salah satu yang paling produktif dalam menghasilkan protein dan lemak di antara tanaman pangan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-7">(El-Shemy, 2011)</xref>. Protein kedelai juga memiliki kualitas tinggi karena mengandung semua asam amino esensial yang dibutuhkan oleh organisme, dengan dua protein utama, yaitu glycinin dan β-conglycinin yang berkontribusi pada kualitas dan fungsi pakan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-6">(Cole, 1993)</xref>. Penggunaan pakan buatan berbasis kedelai juga menawarkan beberapa kelebihan, seperti kemudahan pembuatan, ketahanan yang lama, fleksibilitas penggunaan, serta biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan dengan pakan alami <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-16">(Ngomane et al., 2022)</xref>. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya pengembangan teknik pemeliharaan <italic>S. frugiperda</italic> berbasis pakan buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan <italic>S. frugiperda</italic> dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai.</p></sec><sec><title>BAHAN DAN METODE</title><sec><title>Waktu dan tempat</title><p>Penelitian dilakukan dari bulan Februari hingga April 2024 di Laboratorium Pestisida, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Pontianak. Pengambilan sampel serangga uji (<italic>S. frugiperda</italic>) dilakukan di lokasi perkebunan jagung, di Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.</p></sec><sec><title>Persiapan serangga uji</title><p>Persiapan serangga uji dimulai dengan tahapan pengambilan sampel larva <italic>S. frugiperda</italic> di lapangan, yaitu di perkebunan jagung Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya, Pontianak. Proses sampling larva <italic>S. frugiperda</italic> dilakukan dengan mengamati satu per satu tanaman jagung yang menunjukkan adanya kerusakan pada bagian pucuk daun. Larva <italic>S. frugiperda</italic> yang ditemukan ditempatkan dalam wadah plastik berukuran 8,5 cm × 8,5 cm × 6,5 cm.</p><p>Pemeliharaan larva <italic>S. frugiperda</italic> dari hasil sampling di lapangan dipelihara secara terpisah per individu dalam wadah plastik ukuran 2,5 cm × 2,5 cm × 3,5 cm. Larva serangga uji <italic>S. frugiperda</italic> diberi pakan alami berupa jagung muda atau <italic>baby corn</italic>. Pemberian pakan pada larva diberikan saat awal pemeliharaan hingga larva berganti ke fase pupa.</p><p>Tahapan selanjutnya, imago dipindahkan ke kurungan pemeliharaan yang berukuran 43 cm × 40 cm × 42 cm dan diberi makan larutan madu yang sudah diresapkan pada kapas. Kapas diganti setiap 2 hari atau saat kapas sudah kering. Kurungan serangga dilengkapi tanaman jali yang dimasukkan ke dalam botol vial ukuran 100 ml yang diisi air setengah volume botol agar tanaman tetap segar. Fungsi dari tanaman jali sebagai media imago meletakkan telurnya pada permukaan daun tanaman jali. Kelompok telur yang terdapat di permukaan daun tanaman jali di ambil dan diletakkan ke dalam wadah plastik ukuran 8,5 cm × 8,5 cm × 6,5 cm. Penetasan telur <italic>S. frugiperda</italic> membutuhkan waktu 2 hingga 3 hari.</p></sec><sec><title>Pembuatan pakan buatan berbahan dasar tepung kedelai</title><p>Pembuatan pakan buatan dalam penelitian ini diadopsi dari penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-25">(Taufika et al., 2022)</xref>. Pakan buatan menggunakan formulasi Poitout untuk pembiakkan <italic>Spodoptera litura</italic> (Fabricius) dengan modifikasi. Bahan pakan buatan formulasi Poitout yang digunakan terdiri atas 7 bahan, yaitu 340 ml akuades, 10 g tepung agar, 15 g fermipan, 0,6 g asam benzoat, 2 g asam askorbat, 46 g tepung jagung, dan 14 g tepung gandum. Pembuatan pakan buatan dalam penelitian ini memodifikasi formulasi Poitout dengan menambahkan dan mengganti beberapa bahan lainnya. Bahan tambahannya adalah potassium sorbat (0,3 g), tepung jagung diganti dengan biji kedelai (46 g). Bahan pelengkap lainnya tetap menyesuaikan formula Poitout, seperti akuades (340 ml), tepung agar (10 g), fermipan (15 g), asam benzoat (0,6 g), asam askorbat (2 g), dan tepung gandum (14 g). Akuades digunakan sebagai zat pelarut untuk memudahkan dalam mencampurkan semua bahan. Asam benzoat dan potassium sorbat digunakan sebagai zat pengawet dan anti jamur dalam pembuatan pakan buatan agar kualitas dan ketahanan pangan tetap terjaga. Tepung agar digunakan sebagai agen pengental untuk menciptakan tekstur padat yang memudahkan konsumsi serangga. Kedelai dan fermipan digunakan sebagai sumber protein utama yang berperan dalam pembentukan hormon dan mempercepat perkembangan larva <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">(Senthil-Nathan, 2020)</xref>. Tepung gandum digunakan sebagai sumber karbohidrat yang berperan dalam pertumbuhan organisme sebagai sumber energi <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-29">(Yadav et al., 2010)</xref>. Asam askorbat mengandung vitamin C yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan larva <xref rid="BIBR-23" ref-type="bibr">(Seth &amp; Sharma, 2002)</xref>.</p><p>Bahan utama kedelai diperoleh dari pasar swalayan dalam bentuk biji kedelai kering. Dari segi gizi kedelai utuh mengandung protein 35−38% bahkan dalam varietas unggul kandungan protein dapat mencapai 40−44% <xref rid="BIBR-21" ref-type="bibr">(Risnawanti et al., 2015)</xref>. Kandungan gizi kedelai dalam 100 g, yaitu 331,0 kkal kalori, 34,9 g protein, 18,1 g lemak, 34,8 g karbohidrat, 4,2 g serat, 227,0 mg kalsium, 585,0 mg fosfor, 8,0 mg besi, dan 1,0 mg vitamin B1 <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-17">(Nidia, 2020)</xref>. Sebelum digunakan, biji kedelai direndam dalam air selama 3 jam, kemudian dibersihkan dari kulit arinya dan dikukus selama 20 menit. Sementara itu, campuran akuades (340 ml), tepung agar (10 g), dan asam benzoat (0,6 g) dipanaskan dalam panci hingga mendidih sambil diaduk menggunakan sendok. Setelah itu, kedelai yang telah dikukus dihaluskan menggunakan blender dan dicampurkan dengan campuran bahan yang telah dimasak. Selanjutnya, asam askorbat (2 g), potassium sorbat (0,3 g), tepung gandum (14 g), dan fermipan (15 g) ditambahkan secara perlahan ke dalam adonan hingga tercampur merata. Adonan pakan buatan kemudian dituangkan ke dalam wadah plastik dengan dimensi 8,5 cm × 8,5 cm × 6,5 cm. Setelah pakan buatan mengeras dan padat, selanjutnya digunakan sebagai bahan uji untuk larva <italic>S. frugiperda.</italic></p></sec><sec><title>Pengujian dan pengamatan <italic>S. frugiperda</italic> dengan pakan buatan berbahan dasar tepung kedelai</title><p>Tahapan ini dilakukan dengan mempersiapkan wadah plastik (<italic>sauce cup</italic>) berukuran 2,5 cm × 2,5 cm × 3,5 cm untuk pemeliharaan larva <italic>S. frugiperda</italic>. Setiap wadah berisi pakan buatan yang sudah dipotong berbentuk kubus 2 cm × 2 cm × 2 cm. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan, jumlah serangga uji yang digunakan sebanyak 800 larva instar 1, masing-masing setiap ulangannya menggunakan 200−300 individu. Larva instar 1 dari wadah peneluran dipindahkan menggunakan kuas berukuran 1 inchi ke wadah pemeliharaan dan ditempatkan secara individual. Pemberian pakan buatan pada larva instar 1 dilaksanakan pada hari pertama pengujian di setiap wadah pengujian. Selanjutnya, pengamatan kondisi pakan dilakukan setiap hari untuk menentukan ketersediaan pakan. Apabila pakan telah habis maka dilakukan penambahan atau penggantian pakan baru guna memastikan ketersediaan nutrisi optimal bagi larva. Proses ini berlanjut hingga larva mencapai stadium pupa dan tidak lagi aktif makan sehingga memungkinkan penyesuaian pemberian pakan buatan dengan kebutuhan larva selama proses pengujian berlangsung.</p><p>Pengamatan terhadap larva dan pupa <italic>S. frugiperda</italic> dilakukan setiap hari. Variabel yang diamati meliputi lama waktu stadium dan keberhasilan hidup larva per instar dan pupa. Pengukuran morfometri panjang dan lebar tubuh dilakukan pada stadium larva instar ke-6 dan pupa. Panjang tubuh larva instar ke-6 diukur dari ujung kepala hingga ujung abdomen, sedangkan lebar tubuh diukur pada bagian tengah tubuh. Pengukuran serupa juga dilakukan pada pupa. Sampel yang digunakan terdiri atas 10 individu larva instar ke-6 dan pupa yang berumur 24 jam, dipilih secara acak. Pengukuran dimensi tubuh (panjang dan lebar) dilakukan menggunakan jangka sorong digital dengan satuan milimeter (mm), sedangkan pengukuran berat tubuh dilakukan menggunakan timbangan analitik dengan satuan gram (g).</p><p>Imago dipindahkan ke kurungan berukuran 43 cm × 40 cm × 42 cm, 1 kurungan berisikan 50 pasang jantan dan betina setiap ulangannya. Pakan yang diberikan berupa larutan madu 10% yang diaplikasikan pada kapas sebagai media penyerapan. Kurungan imago dilengkapi dengan tanaman jali yang ditempatkan dalam botol vial berukuran 100 ml, berisi air setengah volume botol untuk menjaga kesegaran tanaman. Tanaman jali berfungsi sebagai media untuk peletakan telur oleh imago pada permukaan daunnya sehingga memungkinkan proses reproduksi yang optimal.</p><p>Pengamatan terhadap imago <italic>S. frugiperda</italic> dilakukan setiap hari. Parameter yang diamati meliputi waktu peletakkan telur pertama kali dan peletakan telur terakhir kali, jumlah kelompok telur dan jumlah telur per kelompok yang dihasilkan per individu betina, persentase fertilisasi telur, dan lama hidup imago betina dan jantan. Penghitungan jumlah telur per kelompok dilakukan dengan pengambilan 10 kelompok telur secara acak.</p></sec><sec><title>Analisis data</title><p>Data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan perangkat lunak <italic>Microsoft Excel</italic> 2013. Data yang diolah berdasarkan pengamatan setiap stadium perkembangan meliputi keberhasilan hidup stadium larva (per instar), pupa, dan imago. Keberhasilan hidup setiap stadium perkembangan dihitung menggunakan rumus berikut berdasarkan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-5">(Cickova et al., 2015)</xref>.</p><p><inline-formula><tex-math id="math-1"><![CDATA[ \documentclass{article} \usepackage{amsmath} \begin{document} \displaystyle \text{Survival rate =}\frac{\text{Jumlah larva hidup akhir}}{\text{Jumlah larva hidup awal}}\times100\% \end{document} ]]></tex-math></inline-formula></p></sec></sec><sec><title>HASIL</title><sec><title>Keberhasilan hidup, pertumbuhan, perkembangan <italic>S. frugiperda</italic> pada pakan buatan berbahan dasar kedelai</title><p>Persentase keberhasilan hidup stadium larva adalah 77,56%. Persentase keberhasilan larva per instar menunjukkan sedikit penurunan pada instar akhir, terutama instar ke-4 hingga instar ke-6. Instar awal menunjukkan kematian yang rendah, yaitu pada instar ke-1 dan ke-2. Jumlah kematian larva tertinggi sebanyak 92 individu pada instar ke-6 (<xref ref-type="table" rid="table-1">Tabel 1</xref>).</p><p>Kematian larva instar akhir bisa disebabkan oleh kondisi fisik larva yang sudah rentan dan pengaruh pakan yang seiring waktu dapat mengalami penurunan kualitas atau terkontaminasi mikroorganisme. Tubuh larva menunjukkan ciri-ciri kematian yang ditandai dengan tubuh menghitam dan basah. Pembusukan tubuh larva kemungkinan terjadi akibat berbagai faktor, seperti infeksi bakteri atau mikrofungi yang menginfeksi larva lemah atau terluka. Kondisi ini menyebabkan wadah pemeliharaan menjadi lembab, dan keberadaan larva yang sudah membusuk mempercepat pertumbuhan mikrofungi (<xref ref-type="fig" rid="figure-1">Gambar 1</xref>).</p><p>Hasil pengukuran panjang larva rata-rata 29,47 ± 2,62 mm, rata-rata lebar tubuh 5,63 ± 0,39 mm, dan rata-rata berat 0,38 ± 0,07 gram. Setiap ulangan menunjukkan nilai yang bervariasi. Parameter ulangan ke-1 sedikit lebih tinggi dari ulangan ke-2 dan ke-3. Setiap sampel larva per ulangan berasal dari larva hasil penetasan telur yang berbeda. Ulangan ke-1 menggunakan larva dari penetasan awal peneluran, sedangkan ulangan ke-2 dan ke-3 penetasan telur di pertengahan masa peneluran (<xref ref-type="table" rid="table-2">Tabel 2</xref>).</p><p>Lama stadium larva berkisar 12−18 hari (rata-rata 12,80 ± 1,00 hari). Setiap instar membutuhkan waktu 2−4 hari untuk beralih ke tahap instar berikutnya. Rentang hari instar ke-1 menuju instar ke-2 membutuhkan waktu 2−3 hari. Instar ke-2 menunjukkan rentang yang sedikit lebih cepat dari instar lainnya, yaitu 1−3 hari untuk memasuki instar ke-3. Berdasarkan hasil setiap ulangan, rata-rata lama instar ke-2 adalah 2,08 ± 0,87 hari. Instar ke-6 memiliki rata-rata waktu sedikit lebih lama (3,12 ± 0,72 hari) (<xref ref-type="table" rid="table-3">Tabel 3</xref>).</p><table-wrap id="table-1" ignoredToc=""><label>Tabel 1</label><caption><p>Tingkat keberhasilan hidup larva <italic>Spodoptera frugiperda </italic>dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai</p></caption><table rules="all" frame="box"><thead><tr><th valign="middle" align="left" colspan="1" rowspan="2">Stadium larva <italic>(Larval stage)</italic></th><th valign="middle" align="center" colspan="1" rowspan="2">Variabel <italic>(Variable)</italic></th><th valign="middle" align="center" colspan="3">Ulangan <italic>(Replication)</italic></th><th align="center" colspan="1" rowspan="2" valign="middle">Jumlah (individu)<italic>(Amount (individual))</italic></th><th align="center" colspan="1" rowspan="2" valign="middle">Rata-rata <italic>(Average)</italic>(%)</th></tr><tr><th align="center" colspan="1" valign="middle">1</th><th valign="middle" align="center" colspan="1">2</th><th align="center" colspan="1" valign="middle">3</th></tr></thead><tbody><tr><td rowspan="3" valign="top" align="left" colspan="1">Instar 1</td><td align="left" colspan="1" valign="middle">Ʃ serangga uji <italic>(insects test)</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">300</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">300</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">200</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">800</td><td valign="bottom" align="center" colspan="1" rowspan="3">98,67 ± 0,34</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">Ʃ mati <italic>(death)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">4</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">3</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">9</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1"><italic>Survival </italic>(%)</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">98,67</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">99,00</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">99,33</td><td colspan="1" valign="middle" align="center"></td></tr><tr><td rowspan="3" valign="top" align="left" colspan="1">Instar 2</td><td valign="middle" align="left" colspan="1">Ʃ serangga uji <italic>(insects test)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">296</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">297</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">198</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">791</td><td rowspan="3" valign="bottom" align="center" colspan="1">98,93 ± 0,42</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">Ʃ mati <italic>(death)</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">3</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">3</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">8</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle"><italic>Survival </italic>(%)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">98,98</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">99,32</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">98,48</td><td valign="middle" align="center" colspan="1"></td></tr><tr><td valign="top" align="left" colspan="1" rowspan="3">Instar 3</td><td colspan="1" valign="middle" align="left">Ʃ serangga uji <italic>(insects test)</italic></td><td colspan="1" valign="middle" align="center">293</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">295</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">195</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">783</td><td align="center" colspan="1" rowspan="3" valign="bottom">97,67 ± 1,29</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">Ʃ mati <italic>(death)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">7</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">3</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">7</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">17</td></tr><tr><td colspan="1" valign="middle" align="left"><italic>Survival </italic>(%)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">97,61</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">98,98</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">96,41</td><td align="center" colspan="1" valign="middle"></td></tr><tr><td align="left" colspan="1" rowspan="3" valign="top">Instar 4</td><td valign="middle" align="left" colspan="1">Ʃ serangga uji <italic>(insects test)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">286</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">292</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">188</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">766</td><td valign="bottom" align="center" colspan="1" rowspan="3">96,43 ± 2,20</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">Ʃ mati <italic>(death)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">14</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">3</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">9</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">26</td></tr><tr><td colspan="1" valign="middle" align="left"><italic>Survival </italic>(%)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">95,10</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">98,97</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">95,21</td><td align="center" colspan="1" valign="middle"></td></tr><tr><td rowspan="3" valign="top" align="left" colspan="1">Instar 5</td><td align="left" colspan="1" valign="middle">Ʃ serangga uji <italic>(insects test)</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">272</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">289</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">179</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">740</td><td valign="bottom" align="center" colspan="1" rowspan="3">95,57 ± 3,26</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">Ʃ mati <italic>(death)</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">16</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">2</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">12</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">30</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle"><italic>Survival </italic>(%)</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">94,11</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">99,30</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">93,29</td><td colspan="1" valign="middle" align="center"></td></tr><tr><td align="left" colspan="1" rowspan="3" valign="top">Instar 6</td><td align="left" colspan="1" valign="middle">Ʃ serangga uji <italic>(insects test)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">256</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">287</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">167</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">710</td><td rowspan="3" valign="bottom" align="center" colspan="1">88,03 ± 7,49</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">Ʃ mati <italic>(death)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">49</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">36</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">7</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">92</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1"><italic>Survival </italic>(%)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">80,85</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">87,45</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">95,80</td><td valign="middle" align="center" colspan="1"></td></tr><tr><td rowspan="3" valign="top" align="left" colspan="1"><p>Total </p><p>Stadium larva <italic>(Larval stage)</italic></p></td><td align="left" colspan="1" valign="middle">Ʃ serangga uji <italic>(insects test)</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">300</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">300</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">200</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">800</td><td rowspan="3" valign="bottom" align="center" colspan="1">77,56 ± 7,63</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">Ʃ mati <italic>(death)</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">93</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">49</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">40</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">182</td></tr><tr><td colspan="1" valign="middle" align="left"><italic>Survival </italic>(%)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">69,00</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">83,67</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">80,00</td><td valign="middle" align="center" colspan="1"></td></tr></tbody></table></table-wrap><fig id="figure-1" ignoredToc=""><label>Gambar 1</label><caption><p>Kematian larva instar akhir dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai. A: tubuh larva instar 5 menghitam dan membusuk; B: larva instar 6 yang membusuk memicu pertumbuhan mikrofungi; C: larva yang membusuk menjadi media pertumbuhan mikrofungi dan menutupi pakan buatan.</p></caption><graphic mime-subtype="png" mimetype="image" xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/download/907/629/8551"><alt-text>Image</alt-text></graphic></fig><p>Persentase keberhasilan pupa sebesar 94,18%. Total dari ketiga ulangan ini menunjukkan bahwa dari 618 larva instar 6 akhir, terdapat kematian sebanyak 32 individu. Jumlah kematian tertinggi terdapat pada ulangan ke-3 (17 individu), ulangan ke-1 (10 individu), dan kematian terendah pada ulangan ke-2 (5 individu) (<xref ref-type="table" rid="table-4">Tabel 4</xref>).</p><p>Hasil pengukuran morfometri tubuh pupa diperoleh masing-masing parameter, yaitu panjang rata-rata 16,87 ± 0,62 mm, lebar rata-rata 5,33 ± 0,31 mm, dan berat rata-rata 0,24 ± 0,02 g. Sampel pupa yang digunakan sebanyak 10 individu per ulangan. Pengukuran panjang pada setiap ulangan percobaan menunjukkan peningkatan, yaitu ulangan ke-1 (16,32 ± 0,58 mm), ulangan ke-2 (17,05 ± 0,32 mm), dan ulangan ke-3 (17,24 ± 0,53 mm). Pengukuran lebar dan berat juga menunjukkan adanya peningkatan pada setiap ulangannya (<xref ref-type="table" rid="table-5">Tabel 5</xref>).</p><p>Lama stadium pupa dari seluruh ulangan berkisar 5−11 hari. Ulangan ke-2 menunjukkan rentang stadium sedikit lebih lama (5−11 hari) dibandingkan dengan ulangan ke-1 (7−10 hari), sedangkan lama stadium pupa pada ulangan ke-3 sedikit lebih singkat (5−9 hari). Rata-rata lama stadium pupa pada ketiga ulangan adalah 7,80 ± 0,77 hari (<xref ref-type="table" rid="table-6">Tabel 6</xref>).</p><table-wrap id="table-2" ignoredToc=""><label>Tabel 2</label><caption><p>Morfometri larva <italic>Spodoptera frugiperda </italic>instar 6 dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th rowspan="2" valign="middle" align="left" colspan="1">Ulangan <italic>(Replication)</italic></th><th rowspan="2" valign="middle" align="center" colspan="1">n</th><th valign="middle" align="center" colspan="3">Variabel <italic>(Variable)</italic> (x̄ ± SD)</th></tr><tr><th colspan="1" valign="middle" align="center">Panjang <italic>(Length)</italic> (mm)</th><th colspan="1" valign="middle" align="center">Lebar <italic>(Width)</italic> (mm)</th><th valign="middle" align="center" colspan="1">Berat <italic>(Weight)</italic> (g)</th></tr></thead><tbody><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">1</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">10</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">31,28 ± 2,87</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">5,64 ± 0,41</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">0,46 ± 0,05</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">2</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">10</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">28,31 ± 1,94</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">5,71 ± 0,30</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">0,37 ± 0,05</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">3</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">10</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">28,83 ± 2,13</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">5,54 ± 0,47</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">0,32 ± 0,03</td></tr><tr><td colspan="2" valign="middle" align="left">Rata-rata <italic>(Average)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">29,47 ± 2,62</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">5,63 ± 0,39</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">0,38 ± 0,07</td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>n: jumlah individu <italic>(individual count)</italic>, SD: <italic>standart deviation.</italic></p></table-wrap-foot></table-wrap><table-wrap ignoredToc="" id="table-3"><label>Tabel 3</label><caption><p>Lama hidup stadium larva <italic>Spodoptera frugiperda </italic>dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th align="left" colspan="1" rowspan="2" valign="middle">Stadium larva <italic>(Larval stage)</italic></th><th align="center" colspan="3" valign="middle">Lama stadium larva (hari) <italic>(Duration of larval stage (day))</italic> (x̄ ± SD) (Ulangan <italic>(Replication)</italic>)</th><th rowspan="2" valign="middle" align="center" colspan="1">Rata-rata <italic>(Average)</italic> ± SD (hari <italic>(days)</italic>)</th><th align="center" colspan="1" rowspan="2" valign="middle">Rentang <italic>(Range)</italic> (hari <italic>(day)</italic>)</th></tr><tr><th align="center" colspan="1" valign="middle">1</th><th align="center" colspan="1" valign="middle">2</th><th valign="middle" align="center" colspan="1">3</th></tr></thead><tbody><tr><td colspan="1" valign="middle" align="left">Instar 1</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2,76 ± 0,71</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2,54 ± 0,60</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2,76 ± 0,72</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2,68 ± 0,68</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2−3</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">Instar 2</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">1,98 ± 0,66</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">1,98 ± 0,86</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2,37 ± 1,08</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2,08 ± 0,87</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">1−3</td></tr><tr><td colspan="1" valign="middle" align="left">Instar 3</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2,81 ± 0,87</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">3,09 ± 0,91</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">2,92 ± 0,96</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2,95 ± 0,92</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2−4</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">Instar 4</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2,53 ± 0,59</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">2,55 ± 0,66</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2,69 ± 0,64</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2,58 ± 0,63</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2−4</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">Instar 5</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2,49 ± 0,60</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2,09 ± 0,90</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2,71 ± 0,69</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2,38 ± 0,79</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">2−4</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">Instar 6</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">3,11 ± 0,66</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">3,21 ± 0,77</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">3,00 ± 0,69</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">3,12 ± 0,72</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">2−4</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">Total</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">13,39 ± 0,85</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">12,22 ± 0,88</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">12,97 ± 0,83</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">12,80 ± 1,00</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">12−18</td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>SD: <italic>standart deviation.</italic></p></table-wrap-foot></table-wrap><table-wrap id="table-4" ignoredToc=""><label>Tabel 4</label><caption><p>Persentase keberhasilan pupa dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai</p></caption><table rules="all" frame="box"><thead><tr><th rowspan="2" valign="middle" align="left" colspan="1"><p>Larva instar 6 akhir</p><p>(Late 6th instar larvae)</p></th><th align="center" colspan="3" valign="middle">Ulangan (<italic>Replication</italic>)</th><th align="center" colspan="1" rowspan="2" valign="middle">Jumlah (<italic>Amount</italic>)</th><th valign="middle" align="center" colspan="1" rowspan="2">Rata-rata (<italic>Average</italic>) ± SD (%)</th></tr><tr><th valign="middle" align="center" colspan="1">1</th><th align="center" colspan="1" valign="middle">2</th><th align="center" colspan="1" valign="middle">3</th></tr></thead><tbody><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">Jumlah serangga uji (individu)<italic>(Number of insect (individual))</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">207</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">251</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">160</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">618</td><td valign="bottom" align="center" colspan="1" rowspan="3">94,18 ± 4,40</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">Jumlah kematian (individu)<italic>(Number of dead (individual))</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">10</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">5</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">17</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">32</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1"><italic>Survival </italic>(%)</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">95,16</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">98,00</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">89,37</td><td align="center" colspan="1" valign="middle"></td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>SD: <italic>standart deviation</italic>.</p></table-wrap-foot></table-wrap><p>Persentase keberhasilan stadium imago pada penelitian ini sebesar 94,78%, dari 586 individu pupa, terdapat 31 individu yang mengalami kematian atau kegagalan untuk menjadi imago. Setiap ulangan menunjukkan hasil kematian yang bervariasi. Kematian terbanyak terdapat pada ulangan ke-2 (18 individu), ulangan ke-3 (9 individu). Ulangan ke-1 menunjukkan hasil kematian sedikit lebih rendah (4 individu) (<xref ref-type="table" rid="table-7">Tabel 7</xref>).</p><p>Data yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan rasio kelamin betina dan jantan sebesar 1:1,02. Setiap ulangan menunjukkan variasi rasio kelamin yang berbeda. Pada ulangan ke-3 menunjukkan rasio betina sedikit lebih tinggi (1,23:1), sedangkan rasio jantan pada ulangan ke-1 dan ke-2 sedikit lebih tinggi. Total imago yang diperoleh sebanyak 555 individu. Data imago betina sebanyak 268 individu dan jantan sebanyak 287 individu. Ulangan ke-2 menunjukkan jumlah individu tertinggi (106 betina dan 122 jantan) dibandingan dengan ulangan ke-1 dan ke-3 (<xref ref-type="table" rid="table-8">Tabel 8</xref>).</p><p>Lama stadium imago betina pada penelitian ini memiliki rentang hidup 5–15 hari dan jantan 3–12 hari. Imago betina memiliki lama hidup sedikit lebih lama (5–15 hari) dari jantan (3–12 hari). Rata-rata lama hidup betina sedikit lebih lama (9,55 ± 2,42 hari) dibandingkan dengan jantan (7,39 ± 1,77 hari). Setiap ulangan menunjukkan variasi rata-rata dan rentang hari yang beragam. Pada ulangan ke-2, lama hidup jantan lebih singkat (3–9 hari) jika dibandingkan dengan ulangan ke-1 (5–12 hari) dan ulangan ke-3 (5–9 hari). Data ulangan ke-3 menunjukkan hasil rata-rata sedikit lebih lama pada individu betina (10,54 ± 2,04 hari) dan jantan (8,12 ± 1,00 hari) dibandingkan dengan ulangan ke-1 dan ke-2 (<xref rid="table-9" ref-type="table">Tabel 9</xref>).</p><table-wrap id="table-5" ignoredToc=""><label>Tabel 5</label><caption><p>Morfometri pupa <italic>Spodoptera frugiperda </italic>dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th valign="middle" align="left" colspan="1" rowspan="2">Ulangan <italic>(Replication)</italic></th><th rowspan="2" valign="middle" align="center" colspan="1">n</th><th valign="middle" align="center" colspan="3">Variabel <italic>(Variable)</italic> (x̄ ± SD)</th></tr><tr><th valign="middle" align="center" colspan="1">Panjang <italic>(Length)</italic> (mm)</th><th colspan="1" valign="middle" align="center">Lebar (Width) (mm)</th><th valign="middle" align="center" colspan="1">Berat <italic>(Weight)</italic> (g)</th></tr></thead><tbody><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">1</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">10</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">16,32 ± 0,58</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">5,14 ± 0,38</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">0,22 ± 0,02</td></tr><tr><td colspan="1" valign="middle" align="left">2</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">10</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">17,05 ± 0,32</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">5,31 ± 0,13</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">0,24 ± 0,02</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">3</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">10</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">17,24 ± 0,53</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">5,55 ± 0,24</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">0,25 ± 0,01</td></tr><tr><td align="left" colspan="2" valign="middle">Rata-rata <italic>(Average)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">16,87 ± 0,62</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">5,33 ± 0,31</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">0,24 ± 0,02</td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>n: jumlah individu <italic>(number of indovidual)</italic>, SD: <italic>standart deviation</italic>.</p></table-wrap-foot></table-wrap><table-wrap id="table-6" ignoredToc=""><label>Tabel 6</label><caption><p>Lama hidup stadium pupa <italic>Spodoptera frugiperda </italic>dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th align="left" colspan="1" valign="middle">Ulangan <italic>(Replication)</italic></th><th valign="middle" align="center" colspan="1">Lama stadium pupa (hari) <italic>(Duration of pupal stage (day))</italic> (x̄ ± SD)</th><th valign="middle" align="center" colspan="1">Rentang (Range)(hari (day))</th></tr></thead><tbody><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">1</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">7,75 ± 0,49</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">7−10</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">2</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">7,89 ± 0,95</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">5−11</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">3</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">7,72 ± 0,76</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">5−9</td></tr><tr><td colspan="1" valign="middle" align="left">Rata-rata <italic>(Average)</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">7,80 ± 0,77</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">5−11</td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>SD: <italic>standart deviation</italic>.</p></table-wrap-foot></table-wrap><table-wrap id="table-7" ignoredToc=""><label>Tabel 7</label><caption><p>Persentase keberhasilan pupa menjadi imago dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th align="left" colspan="1" rowspan="2" valign="middle">Pupa <italic>(Pupal)</italic></th><th valign="middle" align="center" colspan="3">Ulangan <italic>(Replication)</italic></th><th rowspan="2" valign="middle" align="center" colspan="1">Jumlah <italic>(Amount)</italic></th><th valign="middle" align="center" colspan="1" rowspan="2">Rata-rata <italic>(Average)</italic> ± SD (%)</th></tr><tr><th valign="middle" align="center" colspan="1">1</th><th colspan="1" valign="middle" align="center">2</th><th valign="middle" align="center" colspan="1">3</th></tr></thead><tbody><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">Jumlah serangga uji (individu)<italic>(Number of insect (individual))</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">197</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">246</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">143</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">586</td><td align="center" colspan="1" rowspan="3" valign="bottom">94,78 ± 2,80</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">Jumlah kematian (individu)<italic>(Number of dead (individual))</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">4</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">18</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">9</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">31</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1"><italic>Survival </italic>(%)</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">97,96</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">92,68</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">93,70</td><td valign="middle" align="center" colspan="1"></td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>SD: <italic>standart deviation</italic>.</p></table-wrap-foot></table-wrap><table-wrap id="table-8" ignoredToc=""><label>Tabel 8</label><caption><p>Nisbah kelamin imago <italic>Spodoptera frugiperda </italic>dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th valign="middle" align="left" colspan="1" rowspan="2">Ulangan <italic>(Replication)</italic></th><th align="center" colspan="2" valign="middle">Jumlah imago <italic>(Number of imago)</italic></th><th rowspan="2" valign="middle" align="center" colspan="1">Nisbah kelamin <italic>(Sex ratio)</italic></th></tr><tr><th valign="middle" align="center" colspan="1">Betina <italic>(Female)</italic> (individu)</th><th align="center" colspan="1" valign="middle">Jantan <italic>(Male)</italic> (individu)</th></tr></thead><tbody><tr><td colspan="1" valign="middle" align="left">1</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">88</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">105</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">1:1,19</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">2</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">106</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">122</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">1:1,15</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">3</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">74</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">60</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">1,23:1</td></tr><tr><td align="left" colspan="1" valign="middle">Total</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">268</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">287</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">3,23:3,34</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">Rata-rata <italic>(Average)</italic></td><td align="center" colspan="1" valign="middle">89,33</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">95,67</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">1:1,02</td></tr></tbody></table></table-wrap><table-wrap ignoredToc="" id="table-9"><label>Tabel 9</label><caption><p>Lama hidup stadium imago <italic>Spodoptera frugiperda </italic>dengan pakan buatan berbahan dasar kedelai</p></caption><table frame="box" rules="all"><thead><tr><th align="left" colspan="1" rowspan="2" valign="middle">Ulangan <italic>(Replication)</italic></th><th align="center" colspan="2" valign="middle">Lama hidup (hari) <italic>(Longevity (day))</italic> (x̄ ± SD)</th><th colspan="2" valign="middle" align="center">Rentang <italic>(Range)</italic> (hari (day))</th></tr><tr><th valign="middle" align="center" colspan="1">Betina <italic>(Female)</italic></th><th align="center" colspan="1" valign="middle">Jantan <italic>(Male)</italic></th><th align="center" colspan="1" valign="middle">Betina <italic>(Female)</italic></th><th valign="middle" align="center" colspan="1">Jantan <italic>(Male)</italic></th></tr></thead><tbody><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">1</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">9,82 ± 2,60</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">7,96 ± 1,78</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">7−15</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">5−12</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">2</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">8,30 ± 2,05</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">6,10 ± 1,66</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">5−14</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">3−9</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">3</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">10,54 ± 2,04</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">8,12 ± 1,00</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">5−13</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">5−9</td></tr><tr><td valign="middle" align="left" colspan="1">Rata-rata <italic>(Average)</italic></td><td valign="middle" align="center" colspan="1">9,55 ± 2,42</td><td align="center" colspan="1" valign="middle">7,39 ± 1,77</td><td colspan="1" valign="middle" align="center">5−15</td><td valign="middle" align="center" colspan="1">3−12</td></tr></tbody></table><table-wrap-foot><p>SD: <italic>standart deviation</italic></p></table-wrap-foot></table-wrap></sec></sec><sec><title>PEMBAHASAN</title><p>Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan hidup stadium larva <italic>S. frugiperda</italic> sebesar 77,56%. Data penelitian ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-26">(Taufika et al., 2022)</xref>, pada spesies <italic>S. litura</italic> dengan formulasi pakan buatan berbahan dasar tepung jagung, yaitu sebesar 74,8%. Dari data penelitian yang diperoleh menunjukkan persentase yang cukup baik dan optimal. Hasil ini sesuai dengan pernyataan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-18">(Nismah &amp; Suratman, 2018)</xref> yang menjelaskan bahwa tingkat keberhasilan hidup serangga yang optimal berkisar &gt;60%. Biji kedelai memiliki kandungan protein tercerna yang tinggi, yaitu sekitar 40%, serta kandungan minyak sekitar 20% sehingga menjadikannya salah satu sumber nutrisi yang paling potensial <xref rid="BIBR-7" ref-type="bibr">(El-Shemy, 2011)</xref>. Menurut <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-6">(Cole, 1993)</xref>, kandungan protein kedelai yang lengkap dengan asam amino esensial, seperti <italic>glycinin </italic>dan <italic>β-conglycinin</italic>, memainkan peran krusial dalam proses pertumbuhan larva. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-13">(Lestari et al., 2013)</xref> menjelaskan bahwa kandungan protein yang tinggi berperan sebagai komponen struktural tubuh yang menyediakan materi untuk pembentukan jaringan tubuh sehingga memungkinkan larva tumbuh dengan cepat dan optimal, serta mencapai tahap instar akhir dengan baik. Oleh karena itu, dengan pakan buatan yang digunakan dalam penelitiaan ini cukup optimal untuk pertumbuhan larva <italic>S. frugiperda</italic> ke tahapan selanjutnya.</p><p>Tingkat keberhasilan hidup stadium larva <italic>S. frugiperda</italic> sangat tinggi pada instar awal, dengan rata-rata di atas 98% untuk instar 1 dan 2. Kematian pada instar ini relatif rendah, hanya sekitar 1% dari total serangga uji, angka tersebut menunjukkan bahwa pakan berbahan dasar kedelai memberikan nutrisi yang cukup efektif untuk mendukung kelangsungan hidup larva pada tahapan awal pertumbuhannya. Hal ini sejalan dengan pernyataan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-10">(Hutagalung &amp; Sitepu, 2021)</xref> yang menyatakan bahwa larva instar 1 dan 2 tingkat kematiannya rendah karena masih pasif dan hanya aktif makan. Namun, mulai dari instar 3 hingga instar 6, mengalami penurunan yang konsisten, yaitu pada instar 3, tingkat keberhasilan hidup larva sedikit mengalami penurunan menjadi 97,67%, instar 4 96,43%, dan semakin menurun pada instar 5 (95,57%), hingga instar 6 (88,03%). Penurunan tingkat keberhasilan hidup pada instar 4, 5, dan 6 sangat penting untuk diperhatikan, karena faktor-faktor yang dominan terhadap keberhasilan hidup pada tingkat pertumbuhan ini perlu diidentifikasi untuk memperkecil tingkat kematian.</p><p>Kematian instar yang lebih tinggi pada penelitian ini diduga disebabkan oleh faktor pakan yang terkontaminasi mikrofungi. Dugaan ini berdasarkan hasil pengamatan selama pemeliharaan berlangsung, yaitu ditemukan tumbuhnya spora mikrofungi pada pakan buatan. Kontaminasi pakan buatan oleh mikrofungi kemungkinan disebabkan oleh kurang tepatnya takaran atau faktor lain yang tidak terduga saat proses pembuatan pakan buatan berlangsung. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kontaminasi pakan buatan oleh mikrofungi menyebabkan perilaku larva tidak makan sehingga larva mengalami kematian. Hal ini sesuai dengan pernyataan Singh (1982) yang menyatakan bahwa tumbuhnya mikrobia dan mikrofungi pada pakan buatan serangga menyebabkan larva tidak tertarik untuk memakan pakan buatan yang akhirnya menyebabkan kematian. Hipotesis ini juga didukung oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-3">(Ambarningrum, 2001)</xref> yang menyatakan bahwa mikrofungi merupakan salah satu mikroorganisme yang menentukan faktor kematian larva pada Ordo Lepidoptera. Data penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pakan buatan berbahan dasar kedelai cukup efektif untuk mendukung perkembangan larva pada tahap awal, ada kebutuhan untuk mengevaluasi dan mungkin meningkatkan formulasi pakan agar lebih sesuai dengan kebutuhan larva pada instar yang lebih tinggi.</p><p>Hasil pengukuran morfometri tubuh larva <italic>S. frugiperda</italic> (panjang, lebar, dan berat) pada larva instar 6 berturut-turut (29,47 ± 2,62 mm, 5,63 ± 0,39 mm, dan 0,38 ± 0,07 g). Parameter panjang dan lebar yang diperoleh pada penelitian ini relatif normal. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-10">(Hutagalung &amp; Sitepu, 2021)</xref> mengatakan bahwa panjang dan lebar tubuh larva <italic>S. frugiperda</italic> yang diberi pakan daun jagung rata-rata 33,17 mm dan rata-rata lebar 4,86 mm. Sementara itu berat larva menunjukkan hasil yang relatif normal dan sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-20">(Putra &amp; Wulanda, 2021)</xref> pada spesies yang sama menggunakan pakan alami, di antaranya dengan pakan daun bayam hijau (0,41 ± 0,01 g), dan pada daun bayam duri hijau (0,40 ± 0,02 g). Secara keseluruhan, data morfometri yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan pertumbuhan larva yang cukup baik dan sesuai dengan hasil temuan penelitian sebelumnya.</p><p>Lama stadium larva <italic>S. frugiperda</italic> pada penelitian ini rata-rata 12,80 ± 1,00 hari, relatif lebih singkat dibandingkan hasil penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-13">(Lestari et al., 2013)</xref> terhadap larva <italic>S. litura</italic> menggunakan pakan buatan formulasi <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-28">(Waldbauer et al., 1984)</xref>, dengan bahan utama tepung kedelai dan tepung maizena (18,97 ± 0,82 hari). Penelitian lainnya oleh <xref rid="BIBR-2" ref-type="bibr">(Alkordy, 2019)</xref>, pada spesies <italic>S. littoralis</italic> (Boisduval), dengan pakan daun jarak (19,4 ± 0,24 hari) dan daun kapas (22,6 ± 0,24 hari). Berdasarkan analisis data hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa durasi stadium larva yang relatif singkat pada penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh kandungan protein yang tinggi dalam pakan buatan. Menurut pernyataan <xref rid="BIBR-6" ref-type="bibr">(Cole, 1993)</xref> kandungan protein kedelai yang lengkap dengan asam amino esensial, seperti <italic>glycinin </italic>dan <italic>β-conglycinin</italic>, memainkan peran krusial dalam proses pertumbuhan larva.</p><p>Menurut <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-20">(Putra &amp; Wulanda, 2021)</xref> protein merupakan nutrisi yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan serangga, terutama ulat grayak sehingga lebih cepat untuk mencapai instar akhir (menuju instar 6). Hal ini sejalan dengan pernyataan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-13">(Lestari et al., 2013)</xref> yang menyatakan bahwa kandungan protein yang tinggi akan dimanfaatkan oleh serangga untuk pembentukan jaringan sehingga lama waktu stadiumnya berlangsung lebih singkat. Menurut <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Afify et al., 1970)</xref>, perbedaan periode larva ulat grayak dapat dikaitkan dengan perbedaan nutrisi dalam pakan yang diberikan. Protein merupakan salah satu nutrisi pembangun tubuh yang menyediakan banyak materi untuk pertumbuhan. Hal ini didukung oleh pernyataan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-8">(Hariyadi, 1998)</xref> yang menyatakan bahwa bagi serangga yang membutuhkan pakan dengan kandungan protein yang tinggi akan memanfaatkan ketersediaan senyawa tersebut untuk pembentukan jaringan sehingga larva lebih cepat mencapai tahap instar akhir.</p><p>Persentase tingkat keberhasilan pupa <italic>S. frugiperda</italic> pada penelitian ini sebesar 94,18%. Hasil yang diperoleh menunjukkan angka yang relatif tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-25">(Taufika et al., 2022)</xref> yang sedikit lebih rendah (88,70%) pada spesies berbeda (<italic>S. litura</italic>) menggunakan pakan buatan formulasi Poitout berbahan utama tepung jagung. Secara keseluruhan, berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa pakan buatan yang digunakan memberikan tingkat keberhasilan yang relatif tinggi (&gt;90%) dan lebih baik dalam mendukung perkembangan larva <italic>S. frugiperda</italic> hingga mencapai tahap pupa.</p><p>Hasil pengukuran morfometri panjang pupa <italic>S. frugiperda</italic> rata-rata 16,87 ± 0,62 mm. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan rata-rata panjang pupa masih dalam kisaran yang sama dengan penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-11">(Kalyan et al., 2020)</xref>, panjang pupa <italic>S. frugiperda</italic> berkisar 14,00–19,00 mm pada pakan daun jagung. Hasil pengukuran lebar pupa sedikit lebih tinggi (5,33 ± 0,31 mm) dibandingkan dengan hasil temuan <xref rid="BIBR-10" ref-type="bibr">(Hutagalung &amp; Sitepu, 2021)</xref> yang menggunakan pakan alami daun jagung (lebar 4,57 mm) pada <italic>S. frugiperda</italic>. Data yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan rata-rata (panjang dan lebar) pupa yang sesuai dan masih dalam kisaran temuan penelitian sebelumnya, bahkan sedikit lebih tinggi.</p><p>Berat pupa pada penelitian ini berkisar 0,22–0,25 g. Data ini sedikit lebih tinggi (rata-rata 0,24 ± 0,02 g) dibandingkan dengan hasil temuan <xref rid="BIBR-10" ref-type="bibr">(Hutagalung &amp; Sitepu, 2021)</xref> yang menggunakan pakan daun jagung (0,20 ± 0,03 g). Berat pupa yang besar dihasilkan oleh larva yang aktif makan dengan pakan yang memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan sesuai. Protein yang terdapat pada pakan akan melalui rangkaian proses katabolisme sehingga terbentuk monomer yang sederhana dalam bentuk asam amino. Asam amino akan dihasilkan lebih banyak jika kandungan protein pada pakan juga banyak sehingga mempengaruhi berat pupa <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-9">(Herlinda et al., 2005)</xref>.</p><p>Formulasi pakan buatan dalam penelitian ini berbahan utama kedelai. Menurut <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-25">(Taufika et al., 2022)</xref>, beberapa jenis asam amino yang terdapat pada daun dan biji kacang-kacangan (kedelai) adalah glutamat, asparagin, treonin, prolin, isoleusin, leusin, dan fenilalanin yang dibutuhkan oleh serangga. Asam amino alanin, glisin, dan serin diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan serangga, sedangkan asam amino tirosin berfungsi pada saat morfogenesis. Secara keseluruhan, pakan buatan yang digunakan dalam penelitian ini dapat mendukung pertumbuhan serangga uji dengan baik. Hal ini ditandai dengan diperolehnya data morfometri yang relatif normal atau bahkan sedikit lebih baik dibandingkan dengan temuan penelitian yang ada sebelumnya.</p><p>Lama stadium pupa pada penelitian ini rata-rata 7,80 ± 0,77 hari. Data yang diperoleh hampir serupa dengan hasil penelitian <xref rid="BIBR-10" ref-type="bibr">(Hutagalung &amp; Sitepu, 2021)</xref>, yaitu rata-rata 8,90 ± 0,64 hari dengan pakan daun jagung yang merupakan tanaman inang asli dari <italic>S. frugiperda</italic>. Menurut <xref rid="BIBR-4" ref-type="bibr">(JS et al., 2020)</xref>, stadium pupa <italic>S. frugiperda</italic> yang diberi pakan daun jagung berkisar antara 7–10 hari. Atas dasar lamanya stadium perkembangan pupa ini maka dapat dikatakan bahwa pakan buatan yang digunakan pada penelitian ini cukup optimal dan dapat mendukung perkembangan stadium pupa <italic>S. frugiperda</italic> dengan baik.</p><p>Persentase keberhasilan imago sebesar 94,78%. Data ini menunjukkan bahwa pupa <italic>S. frugiperda</italic> memiliki peluang yang cukup tinggi untuk berhasil menjadi imago. Penelitian serupa pada spesies <italic>S. litura</italic> menunjukkan persentase keberhasilan imago yang relatif lebih rendah dan beragam di antaranya dengan menggunakan pakan daun ubi jalar (73,81%), daun talas (69,54%), daun jarak (68,33%), daun okra (65,33%), daun kacang tolo (52,38%), daun murbei (42,59%), daun kacang tanah (39,33%), dan daun singkong (35,00%) <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-15">(Narvekar et al., 2018)</xref>. Berdasarkan data yang diperoleh dari temuan penelitian tersebut, dapat dikatakan bahwa pakan buatan yang digunakan pada penelitian ini dapat memberikan persentase keberhasilan hidup yang cukup tinggi sampai tahapan imago sebesar &gt;90%. Hal ini menunjukkan kandungan nutrisi pada pakan buatan sudah memenuhi syarat untuk pertumbuhan dan perkembangan <italic>S. frugiperda</italic>. Pertumbuhan dan reproduksi serangga sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang diperoleh baik pada stadium larva maupun imago <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-13">(Lestari et al., 2013)</xref>.</p><p>Nisbah kelamin jantan dan betina pada penelitian ini hampir mendekati rasio 1:1 (1,02:1). Data ini menunjukkan bahwa nisbah kelamin jantan dan betina yang diperoleh relatif ideal dan seimbang. Hal ini serupa dengan hasil penelitian <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-13">(Lestari et al., 2013)</xref> menggunakan serangga uji <italic>S. litura</italic> pada pakan buatan formulasi <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-28">(Waldbauer et al., 1984)</xref> dengan bahan utama tepung kedelai dan tepung maizena dengan rasio 1,04:1. Penelitian serupa menunjukkan rasio betina sedikit lebih rendah, yaitu pada spesies <italic>S. litura</italic> dengan pakan kubis cina (1:0,6) dan daun ubi jalar (1:0,7) <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-30">(Xue et al., 2010)</xref>. Berdasarkan data analisis penelitian, nisbah kelamin <italic>S. frugiperda</italic> yang diperoleh cukup ideal, yaitu 1:1 sehingga tidak tampak adanya pengaruh negatif dari pakan buatan yang digunakan terhadap rasio nisbah kelamin.</p><p>Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan pakan buatan berbahan dasar kedelai (<italic>G. max L.</italic>) memberikan hasil yang baik dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan <italic>S. frugiperda</italic>. Dengan demikian, perbanyakan larva <italic>S. frugiperda</italic> di laboratorium untuk keperluan penelitian dapat dipelihara dengan memberikan pakan buatan berbahan dasar kedelai sebagai pakan alternatif yang bisa dikembangkan di laboratorium.</p></sec><sec><title>KESIMPULAN</title><p>Pertumbuhan dan perkembangan <italic>S. frugiperda</italic> dipengaruhi oleh jenis pakan dan teknik pemeliharaan yang digunakan dilaboratorium. Hasil penelitian menunjukkan tingkat keberhasilan hidup <italic>S. frugiperda</italic> pada setiap stadium pertumbuhan mencapai rata-rata di atas 75%. Lama hidup stadium larva 12,80 ± 1,00 hari, stadium pupa 7,80 ± 0,77 hari, dan imago betina (9,55 ± 2,42 hari), sedangkan jantan (7,39 ± 1,77 hari). Hasil pengukuran morfometri larva instar 6 adalah panjang 29,47 ± 2,62 mm, lebar 5,63 ± 0,39 mm, dan berat 0,38 ± 0,07g, sedangkan untuk pupa adalah panjang 16,87 ± 0,62 mm, lebar 5,33 ± 0,31 mm, dan berat 0,24 ± 0,02 g. Nisbah kelamin jantan dan betina adalah 1:1,02. Hasil ini tidak berbeda jauh dengan pertumbuhan dan perkembangan <italic>S. frugiperda</italic> pada pakan jagung, dan sekaligus menunjukkan potensi pakan buatan berbahan dasar kedelai sebagai media pakan alternatif untuk pemeliharaan <italic>S. frugiperda</italic> di laboratorium.</p></sec></body><back><ref-list><title>DAFTAR PUSTAKA</title><ref id="BIBR-1"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Biological studies on Spodoptera (Laphygma) exigua Hbn. in Egypt, with record of five larval parasites</article-title><source>Journal of Applied Entomology</source><volume>66</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Afify</surname><given-names>A.M.</given-names></name><name><surname>El-Kady</surname><given-names>M.H.</given-names></name><name><surname>Zaki</surname><given-names>F.N.</given-names></name></person-group><year>1970</year><fpage>362</fpage><lpage>368</lpage><page-range>362-368</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-2"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Effect of host plants on the biology of Spodoptera littoralis (Boisd</article-title><source>Egyptian Academic Journal of Biological Sciences a Entomology</source><volume>12</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Alkordy</surname><given-names>M.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>65</fpage><lpage>73</lpage><page-range>65-73</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.21608/eajbsa.2019.64144</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-3"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Tabel hidup ulat grayak (Spodoptera litura) (Lepidoptera: Noctuidae) dalam kondisi laboratorium</article-title><source>Jurnal Sains dan Teknologi</source><volume>7</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Ambarningrum</surname><given-names>T.B.</given-names></name></person-group><year>2001</year><fpage>21</fpage><lpage>28</lpage><page-range>21-28</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-4"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Life table study of fall army worm Spodoptera frugiperda (Smith) on maize</article-title><source>Indian Journal of Entomology</source><volume>82</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>JS</surname><given-names>Ashok K.Kennedy</given-names></name><name><surname>V</surname><given-names>Geethalakshmi</given-names></name><name><surname>P</surname><given-names>Jeyakumar</given-names></name><name><surname>N</surname><given-names>Sathiah</given-names></name><name><surname>V</surname><given-names>Balasubramani</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>574</fpage><lpage>579</lpage><page-range>574-579</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.5958/0974-8172.2020.00143.1</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-5"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>The use of fly larvae for organic waste treatment</article-title><source>Waste Management</source><volume>35</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Cickova</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Newton</surname><given-names>G.L.</given-names></name><name><surname>Lacy</surname><given-names>R.C.</given-names></name><name><surname>Kozanek</surname><given-names>M.</given-names></name></person-group><year>2015</year><fpage>68</fpage><lpage>80</lpage><page-range>68-80</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.wasman.2014.09.026</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-6"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Separation of lipoxygenase and the major soybean proteins using aqueous two-phase extraction and poly (Ethylene Glycol) precipitation systems</article-title><source>Journal of Agricultural and Food Chemistry</source><volume>41</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Cole</surname><given-names>K.D.</given-names></name></person-group><year>1993</year><fpage>334</fpage><lpage>340</lpage><page-range>334-340</page-range><comment>DOI:</comment><pub-id pub-id-type="doi">10.1021/jf00026a039</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-7"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Soybean and Health</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>El-Shemy</surname><given-names>H.A.</given-names></name></person-group><year>2011</year><publisher-name>InTech</publisher-name><publisher-loc>Croatia</publisher-loc><comment>DOI:</comment><pub-id pub-id-type="doi">10.5772/1007</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-8"><element-citation publication-type="book"><article-title>Seleksi Makan Ulat Grayak Spodoptera exempta (Lepidoptera: Noctuidae) terhadap Kasein dan Sukrosa [Tesis</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Hariyadi</surname><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>1998</year><publisher-name>Institut Teknologi Bandung</publisher-name><publisher-loc>Bandung</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-9"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Pertumbuhan dan perkembangan Corcyra cephalonica (Stainton) (Lepidoptera: Pyralidae) pada media lokal: Pengawasan mutu inang pengganti</article-title><source>Agricultura</source><volume>16</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Herlinda</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Ekawat</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Pujiastuti</surname><given-names>Y.</given-names></name></person-group><year>2005</year><fpage>153</fpage><lpage>159</lpage><page-range>153-159</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-10"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Biologi fall amyworm (Spodoptera frugiperda Smith</article-title><source>di laboratorium. Jurnal Online Pertanian Tropik</source><volume>8</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Hutagalung</surname><given-names>R.P.S.</given-names></name><name><surname>Sitepu</surname><given-names>S.F.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>1</fpage><lpage>10</lpage><page-range>1-10</page-range><publisher-name>Noctuidae</publisher-name><publisher-loc>Lepidoptera</publisher-loc><pub-id pub-id-type="doi">10.32734/jpt.v8i1.5584</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-11"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Biological parameters of Spodoptera frugiperda (JE Smith) under laboratory conditions</article-title><source>International Journal of Current Microbiology and Applied Sciences</source><volume>9</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Kalyan</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Mahla</surname><given-names>M.K.</given-names></name><name><surname>Babu</surname><given-names>Kalyan</given-names></name><name><surname>RK</surname><given-names>Swathi</given-names></name><name name-style="given-only"><given-names>P.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>2972</fpage><lpage>2979</lpage><page-range>2972-2979</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.20546/ijcmas.2020.905.340</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-12"><element-citation publication-type="book"><article-title>Pengenalan fall armyworm (Spodoptera frugiperda JE Smith) hama baru pada tanaman jagung di Indonesia</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Pertanian</surname><given-names>Kementerian</given-names></name></person-group><year>2019</year><publisher-name>Balai Penelitian Tanaman Serelia</publisher-name><publisher-loc>Jakarta</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-13"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Tabel hidup Spodoptera litura Fabr. dengan pemberian pakan buatan yang Berbeda</article-title><source>Jurnal Sain Veteriner</source><volume>31</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Lestari</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Ambarningrum</surname><given-names>T.B.</given-names></name><name><surname>Pratiknyo</surname><given-names>H.</given-names></name></person-group><year>2013</year><fpage>166</fpage><lpage>179</lpage><page-range>166-179</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.22146/jsv.3801</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-14"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Kebutuhan nutrisi pakan alami dan buatan</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Mayasanti</surname><given-names>R.</given-names></name></person-group><year>2012</year><comment>Available at: Web publicationhttps://www.scribd.com/doc/82092108/Kebutuhan-Nutrisi-Pakan-Alami-Dan-Buatan.[accessed 10 Juli 2024</comment></element-citation></ref><ref id="BIBR-15"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Comparative biology of Spodoptera litura (Fab.) on different host plants under laboratory condition</article-title><source>International Journal of Chemical Studies</source><volume>6</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Narvekar</surname><given-names>P.F.</given-names></name><name><surname>Mehendale</surname><given-names>S.K.</given-names></name><name><surname>Golvankar</surname><given-names>G.M.</given-names></name><name><surname>Karmarkar</surname><given-names>M.S.</given-names></name><name><surname>Desai</surname><given-names>S.D.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>65</fpage><lpage>69</lpage><page-range>65-69</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-16"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Formulation of artificial diets for mass-rearing Eldana saccharina Walker (Lepidoptera: Pyralidae) using the carcass milling technique</article-title><source>Insects</source><volume>13</volume><issue>316</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Ngomane</surname><given-names>N.C.</given-names></name><name><surname>Pieterse</surname><given-names>E.</given-names></name><name><surname>Woods</surname><given-names>M.J.</given-names></name><name><surname>Conlong</surname><given-names>D.E.</given-names></name></person-group><year>2022</year><pub-id pub-id-type="doi">10.3390/insects13040316</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-17"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Pengaruh substitusi tepung kedelai (Glycine max (L.) merill) terhadap mutu organoleptik dan kadar zat gizi makro brownies sebagai alternatif snack bagi anak penderita kurang energi protein</article-title><source>Jurnal Ilmu Gizi Indonesia</source><volume>1</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Nidia</surname><given-names>G.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>1</fpage><lpage>13</lpage><page-range>1-13</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.57084/jigzi.v1i1.297</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-18"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Kemampuan berbagai tingkatan stadium larva kumbang Tenebrio molitor L</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Nismah</surname><given-names>N.</given-names></name><name><surname>Suratman</surname><given-names>U.</given-names></name></person-group><year>2018</year><comment>Coleoptera: Tenebrionidae) dalam mengkonsumsi styrofoam (Polystyrene). Jurnal Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati. 5:2–7. DOI:</comment><pub-id pub-id-type="doi">10.23960/jbekh.v5i1.56</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-19"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Pandangan Petani terhadap Konsep PHT dalam Mengendalikan Spodoptera frugiperda pada Tanaman Jagung di Desa Kuta Tengah, Kabupaten Deli Serdang</article-title><source>Jurnal Pertanian Agros</source><volume>25</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Nurhajijah</surname><given-names>N.</given-names></name><name><surname>Khair</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Harazhap</surname><given-names>W.U.</given-names></name><name><surname>Fadhillah</surname><given-names>W.</given-names></name><name><surname>Kurniawan</surname><given-names>H.A.</given-names></name><name><surname>Gurning</surname><given-names>R.N.S.</given-names></name></person-group><year>2023</year><fpage>2577</fpage><lpage>2583</lpage><page-range>2577-2583</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-20"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Siklus hidup Spodoptera frugiperda Smith dengan pakan daun bayam cabut hijau dan daun bayam duri hijau di laboratorium</article-title><source>Bioma: Jurnal Ilmiah Biologi</source><volume>10</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Putra</surname><given-names>I.L.I.</given-names></name><name><surname>Wulanda</surname><given-names>A.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>201</fpage><lpage>216</lpage><page-range>201-216</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.26877/bioma.v10i2.7928</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-21"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Komposisi Proksimat Tempe yang Dibuat dari Kedelai Lokal dan Kedelai Impor</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Risnawanti</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>Sarbini</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Rauf</surname><given-names>R.</given-names></name></person-group><year>2015</year><publisher-name>Universitas Muhammadiyah Surakarta</publisher-name><publisher-loc>Surakarta</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-22"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>A review of resistance mechanisms of synthetic insecticides and botanicals, phytochemicals, and essential oils as alternative larvicidal agents against mosquitoes</article-title><source>Frontiers in Physiology</source><volume>10</volume><issue>1591</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Senthil-Nathan</surname><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>2020</year><pub-id pub-id-type="doi">10.3389/fphys.2019.01591</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-23"><element-citation publication-type="chapter"><article-title>Growth, development, reproductive competence and adult behavior of Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae) reared on different diets</article-title><source>Evaluation of Lepidoptera Population Suppression by Radiation Induced Sterility. IAEA-TECDOC-1283</source><person-group person-group-type="author"><name><surname>Seth</surname><given-names>R.K.</given-names></name><name><surname>Sharma</surname><given-names>V.P.</given-names></name></person-group><person-group person-group-type="editor"><name><surname>Bloem</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Carpenter</surname><given-names>J.E.</given-names></name><name><surname>Hendrichs</surname><given-names>J.</given-names></name></person-group><year>2002</year><fpage>15</fpage><lpage>28</lpage><page-range>15-28</page-range><publisher-loc>Vienna, Austria</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-24"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Variasi komposisi pakan buatan untuk serangga: Suatu Kajian Pustaka</article-title><source>Jurnal Biologi Udayana</source><volume>22</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Susrama</surname><given-names>I.K.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>59</fpage><lpage>65</lpage><page-range>59-65</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.24843/JBIOUNUD.2018.v22.i02.p02</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-25"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Pengujian dua formulasi pakan berbeda pada perbanyakan massal serangga ulat grayak (Spodoptera litura F.) pada skala laboratorium</article-title><source>Jurnal Agroteknika</source><volume>5</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Taufika</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Erawati</surname><given-names>D.N.</given-names></name><name><surname>Cahyaningrum</surname><given-names>D.G.</given-names></name><name><surname>Fatimah</surname><given-names>T.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>161</fpage><lpage>171</lpage><page-range>161-171</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.55043/agroteknika.v5i2.162</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-26"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Pemeliharaan ulat grayak (Spodoptera litura Fabricius</article-title><source>menggunakan pakan buatan pada skala laboratorium. Jurnal Agromix</source><volume>13</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Taufika</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Sumarmi</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Hartatie</surname><given-names>D.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>47</fpage><lpage>54</lpage><page-range>47-54</page-range><publisher-name>Noctuidae</publisher-name><publisher-loc>Lepidoptera</publisher-loc><pub-id pub-id-type="doi">10.35891/agx.v13i1.2866</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-27"><element-citation publication-type="journal"><article-title>Pertumbuhan dan Perkembangan Ulat Grayak Spodoptera frugiperda JE Smith</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Uleng</surname><given-names>A.N.T.</given-names></name></person-group><year>2021</year><comment>Lepidoptera: Noctuidae) pada Pakan Buatan (Artificial Diets) Berbahan Dasar Kacang Hijau (Vigna radiata) di Laboratorium [Disertasi], Makassar: Universitas Hasanuddin</comment></element-citation></ref><ref id="BIBR-28"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>An improved procedure for laboratory rearing of the corn earworm Heliothis zea (Lepidoptera: Noctuidae</article-title><source>The Great Lakes Entomologist</source><volume>17</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Waldbauer</surname><given-names>G.P.</given-names></name><name><surname>Cohen</surname><given-names>R.W.</given-names></name><name><surname>Friedman</surname><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>1984</year><fpage>113</fpage><lpage>118</lpage><page-range>113-118</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.22543/0090-0222.1502</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-29"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Spatial variation in foliar chemicals within radish (Raphanus sativus) plants and their effects on the performance of Spodoptera litura</article-title><source>Environmental Entomology</source><volume>39</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Yadav</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Tan</surname><given-names>C.W.</given-names></name><name><surname>Hwang</surname><given-names>S.Y.</given-names></name></person-group><year>2010</year><fpage>1990</fpage><lpage>1996</lpage><page-range>1990-1996</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1603/EN10118</pub-id></element-citation></ref><ref id="BIBR-30"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Effects of four host plants on biology and food utilization of the cutworm, Spodoptera litura</article-title><source>Journal of Insect Science</source><volume>10</volume><issue>22</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Xue</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Pang</surname><given-names>Y.H.</given-names></name><name><surname>Wang</surname><given-names>H.T.</given-names></name><name><surname>Li</surname><given-names>Q.L.</given-names></name><name><surname>Liu</surname><given-names>T.X.</given-names></name></person-group><year>2010</year><pub-id pub-id-type="doi">10.1673/031.010.2201</pub-id></element-citation></ref></ref-list></back></article>