<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.3 20210610//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.3/JATS-journalpublishing1-3.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" dtd-version="1.3" article-type="research-article"><front><journal-meta><journal-id journal-id-type="issn">2089-0257</journal-id><journal-title-group><journal-title>Jurnal Entomologi Indonesia</journal-title></journal-title-group><issn pub-type="epub">2089-0257</issn><issn pub-type="ppub">1829-7722</issn><publisher><publisher-name>Perhimpunan Entomologi Indonesia</publisher-name></publisher></journal-meta><article-meta><article-id pub-id-type="doi">10.5994/jei.20.3.275</article-id><article-categories><subj-group subj-group-type="toc-heading"><subject>PENDAHULUAN</subject></subj-group><subj-group subj-group-type="toc-heading"><subject>KLASIFIKASI</subject></subj-group><subj-group subj-group-type="toc-heading"><subject>MORFOLOGI</subject></subj-group><subj-group subj-group-type="toc-heading"><subject>SIKLUS HIDUP</subject></subj-group><subj-group subj-group-type="toc-heading"><subject>PATOGENESIS SKABIES</subject></subj-group><subj-group subj-group-type="toc-heading"><subject>DAYA TAHAN HIDUP DAN TRANSMISI S.scabiei</subject></subj-group><subj-group subj-group-type="toc-heading"><subject>TRANSMISI ZOONOSIS</subject></subj-group><subj-group subj-group-type="toc-heading"><subject>KESIMPULAN</subject></subj-group></article-categories><title-group><article-title>Aspek parasitologi Sarcoptes scabiei var. hominis</article-title><subtitle>Parasitological aspects of Sarcoptes scabiei var. hominis</subtitle></title-group><contrib-group><contrib contrib-type="author"><name><surname>Wahdini</surname><given-names>Sri</given-names></name><address><country>Indonesia</country><email>sri.wahdini01@ui.ac.id</email></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-1"/></contrib><contrib contrib-type="author"><name><surname>Sungkar</surname><given-names>Saleha</given-names></name><address><country>Indonesia</country><email>salehasungkar@ui.ac.id</email></address><xref ref-type="aff" rid="AFF-2"/></contrib><aff id="AFF-1">Program Studi Doktor Ilmu Biomedik, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Indonesia; Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Indonesia</aff><aff id="AFF-2">Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Indonesia</aff></contrib-group><pub-date date-type="pub" iso-8601-date="2024-1-4" publication-format="electronic"><day>4</day><month>1</month><year>2024</year></pub-date><volume>20</volume><issue>3</issue><fpage>275</fpage><history><date date-type="received" iso-8601-date="2023-3-26"><day>26</day><month>3</month><year>2023</year></date><date date-type="accepted" iso-8601-date="2024-1-3"><day>3</day><month>1</month><year>2024</year></date></history><permissions><copyright-statement>Copyright (c) 2023 Sri  Wahdini, Saleha Sungkar</copyright-statement><license license-type="open-access"><ali:license_ref xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/">https://creativecommons.org/licenses/by/4.0</ali:license_ref><license-p>This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.Authors who publish with this journal agree to the following terms:

Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).</license-p></license></permissions><self-uri xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/view/785">https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/view/785</self-uri><abstract><p><italic>Sarcoptes scabiei</italic> (Dee Geer) is the mite that causes scabies or mange. The mites live in the skin layers of humans and mammals. Nowadays,<italic> S. scabiei</italic> is classified according to their hospes and <italic>S. scabiei</italic> that lives in human is called<italic> Sarcoptes scabiei</italic> var. <italic>hominis</italic>. Controlling and eradicating human scabies, especially at the community level, requires understanding scabies as a pathogen and its interaction with humans. This paper discusses the biology of <italic>S. scabiei</italic> var.<italic> hominis</italic> and the interactions between mites and humans as hosts.</p></abstract><kwd-group><kwd>biology of mite</kwd><kwd>human</kwd><kwd>Sarcoptes scabiei var. hominis</kwd><kwd>scabies</kwd></kwd-group></article-meta></front><body><sec><title>PENDAHULUAN</title><p><italic>Sarcoptes scabiei </italic>(De Geer) adalah tungau penyebab skabies atau sarkoptosis yang merupakan salah satu penyakit kulit yang sangat menular. Skabies di manusia juga dikenal oleh masyarakat sebagai gudik, kudis, gatal agogo atau budukan.<italic>S. scabiei</italic> adalah ektoparasit obligat yang hidup dan bereproduksi di lapisan epidermis kulit manusia, hewan liar, hewan peliharaan, dan ternak.Skabies berdampak terhadap kesehatan dan kesejahteraan hewan serta manusia sehingga menimbulkan kerugian secara ekonomi, penurunan produktivitas, bahkan meningkatkan risiko terserang penyakit lain <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-5">(Currier et al., 2011)</xref> </p><p>Skabies di manusia umumnya disebabkan oleh infestasi <italic>S. scabie</italic>i var <italic>hominis</italic>, walaupun varietas lain yang menginfestasi atau hidup di hewan dapat menginfestasi kulit manusia, namun hanya bertahan selama beberapa minggu <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-17">(Niedringhaus et al., 2015)</xref> Sampai saat ini skabies di manusia menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara yang menyebabkan 400 juta individu sakit setiap tahunnya<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-31">(Organization, 2019)</xref> Pada tahun 2017, World Health Organization (WHO) menetapkan skabies sebagai penyakit tropis terabaikan <italic>(neglected tropical disease) </italic>dengan target eliminasi pada tahun 2030 <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-7">(El-Moamly, 2021)</xref> <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-31">(Organization, 2019)</xref></p><p>Di Indonesia data prevalensi skabies bervariasi dan prevalensi tinggi umumnya ditemukan di lingkungan dengan tingkat hunian yang padat dengan kontak erat berulang antara penghuni, seperti pondok pesantren <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-21">(Ratnasari &amp; Sungkar, 2014)</xref> Prevalensi skabies di Indonesia sebesar 5,60–12,95% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-12">(RI, 2016)</xref> dan prevalensi skabies pada anak yang tinggal di sekolah berasrama dilaporkan bervariasi dari 7,5% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-30">(Wahdini et al., 2019)</xref> sampai 76,9% <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-24">(Schneider et al., 2023)</xref> sehingga menempati angka tertinggi dibandingkan dengan negara lain. Tantangan pengendalian dan pemberantasan skabies di suatu kelompok populasi terkait dengan rendahnya pengetahuan mengenai skabies dan higenitas personal, sulitnya diagnosis secara klinis maupun etiologi, tatalaksana yang harus dilakukan dengan pendekatan kelompok <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-8">(Engelman et al., 2019)</xref> dan adanya risiko penularan dari hewan <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-13">(Kumar et al., 2023)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-15">(Moroni et al., 2022)</xref> Artikel ini membahas mengenai <italic>S. scabiei</italic> var. <italic>hominis</italic> ditinjau dari biologi tungau dan interaksi antara tungau dan manusia sebagai hospes.</p></sec><sec><title>KLASIFIKASI</title><p><italic>S .scabiei</italic> termasuk Filum Arthropoda, Subfilum Chelicerata, Kelas Arachnida, Sub kelas Acariformes (Acarina), Ordo Acarina, Subordo Astigmata atau Sarcoptiformes (bersama dengan tungau debu rumah <italic>Dermatophagoides farinae</italic>, <italic>D. pteronyssinus</italic> dan <italic>Euroglyphus maynei</italic>), Superfamili <italic>Sarcoptoidea</italic> dan Famili Sarcoptidae bersama dengan banyak tungau mamalia ektoparasit lainnya (Psoroptidae dan Cnemidocoptidae). Arachnida adalah kelas arthropoda dengan delapan kaki dan bagian tubuhnya terdiri atas segmen perut dan area kepala. Ordo Acarina (atau Acari) termasuk tungau dan caplak, terdiri atas banyak spesies yang penting secara ekonomi dan medis karena bersifat parasit bagi manusia, hewan piaraan atau liar, tanaman, dan makanan. Sub-ordo Astigmata adalah kelompok hewan yang bergerak relatif lambat, tungau dengan integumen sklerotik tipis dan tidak memiliki spirakel atau sistem trakea. Hewan kelompok ini memiliki tiga family, yaitu Sarcoptidae, Psoroptidae, dan Cnemidocoptidae. Famili Sarcoptidae memiliki ciri kaki dan kapitulum pendek, sebaliknya Psoroptidae memiliki kaki dan kapitulum panjang serta ukuran parasit yang lebih besar dibandingkan dengan Sarcoptidae, sedangkan Cnemidocoptidae (atau Knemidocoptidae) adalah parasit burung. Keluarga Sarcoptidae mencakup tiga genus, yaitu <italic>Sarcoptes, Notoedres,</italic> dan <italic>Trixacarus</italic> yang kesemuanya merupakan parasit di mamalia <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-34">(Zhang, 2013)</xref></p><p><italic>S. scabiei</italic> dibagi menjadi beberapa varietas berdasarkan habitat atau hospesnya/inangnya. Setiap varietas memiliki tingkat spesifisitas inang yang tinggi atau <italic>host specific,</italic> namun tingkat kemampuan infestasi silang yang berbeda-beda <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-23">(, 2000)</xref>.</p><p>Varietas<italic> S. scabiei</italic> antara lain <italic>S. scabiei</italic> var. <italic>hominis</italic> (hospes manusia), <italic>S. scabiei</italic> var. <italic>canis</italic> (hospes anjing dan dapat menginfestasi mamalia lain, seperti kucing, babi, rubah, kelinci), <italic>S. scabiei </italic>var.<italic> suis</italic> (hospes babi), <italic>S. scabiei</italic> var. <italic>bovis</italic>(hospes ternak), <italic>S. scabiei </italic>var<italic>. equi</italic> (hospes kuda), <italic>S. scabiei </italic>var<italic>. ovis </italic>(hospes domba), dan <italic>S. scabiei </italic>var<italic>. caprae </italic>(hospes kambing) <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-18">(Niedringhaus et al., 2019)</xref>Walaupun <italic>S. scabiei</italic> hidup di satu hospes, namun dapat terjadi transmisi <italic>S. scabiei</italic> antar hewan atau dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Infestasi <italic>S. scabiei</italic> hewan di manusia menimbulkan durasi penyakit yang singkat berupa dermatitis sementara, tidak menular ke manusia lain, dan dapat sembuh sendiri. Sifat <italic>host specific </italic>menyebabkan satu varietas <italic>S. scabiei </italic>hanya dapat hidup di satu jenis hospes tertentu dan tidak dapat berkembangbiak jika <italic>S. scabiei</italic> berada di hospes lain <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-17">(Niedringhaus et al., 2015)</xref> Sampai saat ini belum ada kesepakatan formal yang dicapai mengenai taksonomi berdasarkan karakteristik morfologi dan genetik, kecuali bahwa semua varian <italic>S. scabiei</italic> adalah spesies yang berbeda secara genetik. Akan tetapi, deteksi molekuler <italic>S. scabiei</italic> dengan penanda gen mikrosatelit dan DNA mitokondria secara konsisten dapat menentukan spesifisitas <italic>S. scabiei</italic> berdasarkan geografis atau hospes <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-18">(Niedringhaus et al., 2019)</xref>.</p><p>Mekanisme yang mendasari spesifisitas tersebut adalah interaksi dan adaptasi parasit dengan hospes, seperti faktor fisik, kimia, ketersediaan nutrisi, bau, dan respons imun <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-23">(, 2000)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Sungkar, 2016)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">(Pallesen et al., 2020)</xref> Kemampuan tungau hidup di hospes tertentu dipengaruhi perubahan dan perbedaan ekspresi gen tungau. Sementara proses adaptasi mencakup perubahan secara morfologi, perilaku, dan kemampuan menghindar dari respons imun hospes dengan menghasilkan imunomodulator yang dapat menekan respons imun hospes. Secara morfologi <italic>S. scabiei </italic>var <italic>canis</italic> memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan <italic>S. scabiei</italic> var. <italic>hominis</italic> karena tungau harus bergerak di kulit anjing yang dipenuhi folikel tempat tumbuhnya bulu <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-13">(Kumar et al., 2023)</xref>.</p></sec><sec><title>MORFOLOGI</title><p><italic>S. scabiei</italic> berwarna putih krem dengan kaki dan mulut skerotik coklat serta tidak memiliki mata. Secara anatomi struktur tubuh <italic>S. scabiei</italic> terdiri atas kepala (gnathosoma) dan badan (idiosom). Gnathosoma yang merupakan kapitalum atau daerah mulut yang terletak di anterior terdiri atas chelicerata dan pedipalps yang pendek dan gemuk.   kelisera memiliki  <italic>chelicerae</italic>, yaitu sepasang organ pelengkap untuk makan yang terdiri atas atas bagian yang tidak bergerak sebagai landasan dan bagian yang bergerak seperti prinsip pisau lipat yang berfungsi untuk mengambil, menjepit atau menggenggam. Sedangkan pedipalp merupakan badan sensori yang memiliki sensor kimia dan sensor taktil, berfungsi untuk menemukan makanan dan memberikan persepsi terhadap kondisi lingkungan <italic>S. scabiei</italic> adalah tungau yang tidak memiliki mata <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-23">(, 2000)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-11">(Gopinath &amp; Karthikeyan, 2020)</xref></p><p>Bagian badan atau idiosom yang merupakan area abdomen <italic>S. scabiei</italic> berbentuk oval lebar seperti kura-kura, rata di bagian ventral dan cembung di bagian dorsal. Bagian idiosom dapat dibagi menjadi regio anterior yang disebut podosom dan regio posterior di belakang tungkai disebut opistosom. Bagian yang merupakan pasangan kaki pertama dan kedua disebut propodosom. Bagian yang memanjang dimulai dari belakang hingga posterior badan disebut histerosom. Stadium dewasa jantan atau betina memiliki empat pasang kaki yang ukurannya pendek, terlihat gemuk dan terletak di sisi ventral abdomen, yaitu dua pasang kaki depan dibagian anterior dan dua pasang kaki belakang di bagian posterior <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref>.</p><p>Kaki I dan II yang merupakan dua pasang kaki depan terletak dekat genatosom dan bagian ujungnya berbentuk seperti bel yang berfungsi sebagai pengisap (<italic>sucker</italic>) untuk melekat. Kedua pasang kaki depan ini dapat dilihat dari sisi ventral atau dorsal tungau karena posisi dan ukurannya melebihi batas anterior-lateral propodosom. Sedangkan kaki III dan IV yang merupakan dua pasang kaki belakang hanya dapat dilihat dari sisi ventral karena ukuran dan posisinya tidak melebihi batas lateral opistosom. Kaki III dan IV betina dan kaki III jantan ujungnya membentuk untaian panjang seperti rambut <italic>(setae)</italic>. Sedangkan kaki IV tungau jantan memiliki struktur seperti kaki depan<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-18">(Niedringhaus et al., 2019)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">(Pallesen et al., 2020)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-33">(Yoshimura et al., 2009)</xref> Alat reproduksi tungau betina berbentuk celah (papilla sanggama) di bagian posterior/dorsal sedangkan alat reproduksi tungau jantan berbentuk huruf Y yang terletak di antara pasangan kaki IV. Anus tungau jantan dan betina terletak di bagian ujung posterior abdomen <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-18">(Niedringhaus et al., 2019)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Sungkar, 2016)</xref></p><p>Tungau dewasa jantan berukuran lebih kecil dibandingkan dengan tungau betina Ukuran tungau dewasa jantan, yaitu panjang 200–240 μm, lebar 150–200 μm, sedangkan tungau dewasa betina berukuran panjang 330–450 μm,lebar 250–350 μm<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-6">(Dey, 2018)</xref>  Stadium telur berbentuk agak lonjong terlihat keputih-putihan dan mengkilap, dengan ujung sedikit meruncing dan ukurannya 150–190 μm × 90–120 μm. Stadium larva memiliki tiga pasang kaki yang terdiri atas dua pasang di bagian depan dan sepasang di bagian belakang. Warna larva putih krem kecoklatan dengan ukuran 20–200 μm × 80–250 μm. Nimfa memiliki empat pasang kaki, namun ukuran nimfa lebih kecil daripada tungau dewasa. Nimfa tidak memiliki kaki yang lengkap karena tidak ada ujung seperti bantalan dan <italic>setae</italic> seperti tungau dewasa. Ukuran tubuh nimfa adalah 30–210 μm × 130–260 μm<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-25">(Setyaningrum et al., 2016)</xref></p></sec><sec><title>SIKLUS HIDUP</title><fig id="fig-a2fa3d6f"><label>Gambar 1</label><caption><p><italic>Sarcoptes scabiei </italic>dewasa jantan dan betina.<italic>(Male and female Sarcoptes scabiei adults)</italic></p></caption><graphic xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/download/785/568/7439" mimetype="image" mime-subtype="JPG"><alt-text>Image</alt-text></graphic></fig><fig id="fig-5e5e4d27"><label>Gambar 2</label><caption><p>Penampakan tungau<italic> Sarcoptes scabiei</italic> di bawah mikroskop dengan pembesaran 100× dari bahan kerokan kulit. A: telur (yang ditunjuk garis panah biru); B: stadium dewasa.<italic>(Appearance of Sarcoptes scabiei mites from skin scrapings under a microscope at 100× magnification. A: eggs (indicated by the blue arrow); B: adult stage.)</italic></p></caption><graphic xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/download/785/568/7440" mimetype="image" mime-subtype="JPG"><alt-text>Image</alt-text></graphic></fig><p><italic>S. scabiei</italic> mengalami tahap perkembangan keseluruhan atau metamorfosis lengkap di tubuh hospes yaitu telur, larva,  protonimpa, tritonimpa, dan dewasa. Siklus hidup <italic>S. scabiei</italic> dimulai ketika tungau betina gravid berpindah dari penderita skabies ke orang sehat. Tungau betina menggali terowongan sambil meletakkan 2–3 telur setiap harinya. Masa hidup tungau dewasa betina mencapai 4–6 minggu sehingga total telur yang dapat dihasilkan semasa hidupnya sekitar 40-50 butir<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Sungkar, 2016)</xref>Telur diletakkan memanjang membentuk garis horizontal sesuai jalur terowongan yang digali oleh tungau betina. Telur akan menetas setelah 3-5 hari menjadi larva dan dari sekian banyak telur yang dihasilkan, tidak lebih dari 10% yang akan menetas. Larva bermigrasi ke permukaan kulit di area kerutan kulit atau folikel rambut. Selanjutnya, larva menggali liang baru di area stratum korneum yang masih utuh menghasilkan terowongan pendek dan dangkal agar larva mudah keluar untuk makan dan mengganti kulit tubuhnya<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Sungkar, 2016)</xref> Terowongan ini hampir tidak terlihat dan disebut sebagai <italic>moulting pounch</italic> (kantung untuk berganti kulit)<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-16">(Man et al., 2020)</xref> Dua sampai empat hari kemudian larva <italic>S. scabiei</italic> berganti kulit untuk berubah menjadi protonimfa. Kemudian protonimfa akan berganti kulit lagi menjadi tritonimfa dan menjadi tungau dewasa jantan atau betina setelah empat sampai tujuh hari. Larva dan nimfa biasanya dapat ditemukan di dalam <italic>moulting pounch</italic> atau di folikel rambut. Setelah dewasa, tungau akan segera keluar dari <italic>moulting pounch</italic> ke permukaan kulit untuk mencari area stratum korneum yang masih utuh dan membuat terowongan baru<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Sungkar, 2016)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-10">(Fimiani et al., 1997)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-29">(Thomas et al., 2020)</xref> Tungau dewasa jantan hidup selama 1-2 hari dan akan mati setelah melakukan perkawinan. Tungau jantan dewasa jarang ditemukan di permukaan kulit, karena berada di dalam lubang sempit sampai siap untuk kawin. Setelah siap kawin, tungau jantan dewasa akan mencari tungau betina dewasa yang berada di dalam <italic>moulting pounch</italic>. Perkawinan terjadi ketika tungau jantan dewasa melakukan penetrasi ke dalam <italic>moulting pounch</italic> berisi tungau betina dewasa fertile dan terjadi sekali selama hidupnya. Tungau dewasa betina yang mengandung telur akan meninggalkan <italic>moulting pounch</italic> dan berada di permukaan kulit sampai menemukan tempat yang cocok atau berpindah ke hospes baru untuk menggali terowongan permanen agar dapat meletakkan telur dan siklus di atas akan berulang kembali. Perkembangan siklus hidup <italic>S.scabiei</italic> dari fase telur-larva-nimfa dan dewasa memerlukan waktu 9-15 hari, bahkan ada yang melaporkan paling cepat 7 hari sampai 21 hari.<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Sungkar, 2016)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-29">(Thomas et al., 2020)</xref> Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh sulitnya mengamati dan mengikuti perkembangan tungau langsung dari bawah kulit manusia, perbedaan suhu dan kelembapan saat pengamatan dilakukan atau pengamatan dilakukan di hospes yang berbeda <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref></p></sec><sec><title>PATOGENESIS SKABIES</title><p>Tungau dewasa betina berjalan di atas permukaan kulit dengan kecepatan kira-kita 2,5 cm per menit sampai menemukan lokasi yang sesuai untuk membuat terowongan<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-26">(Sunderkötter et al., 2021)</xref> Tungau tidak menyukai daerah kulit yang banyak mengandung kelenjer pilosebaseus dan lebih menyukai kulit lembut, memiliki lapisan korneum tipis, dan berlipat-lipat seperti area kulit pergelangan tangan, sela-sela jari, dan area genitalia<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-11">(Gopinath &amp; Karthikeyan, 2020)</xref> <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-11">(Gopinath &amp; Karthikeyan, 2020)</xref> . 2Dalam waktu 30 menit setelah berpindah, tungau betina dewasa akan menggali stratum korneum yang berada di lapisan epidermis kulit <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-26">(Sunderkötter et al., 2021)</xref> Tungau dewasa betina membutuhkan lipid yang terkandung di lapisan epidermis yaitu dari kelompok asam lemak jenuh (pentanoat, heksanoat, oktanoat, laurat, pentadekanoat, dan stearat), asam lemak tak jenuh (oleat, linoleat, dan arakidonat), metil ester asam lemak, kolesterol, squalen, dan tripalmitin <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-11">(Gopinath &amp; Karthikeyan, 2020)</xref>.</p><fig id="fig-5c398cf4"><label>Gambar 3</label><caption><p>Siklus hidup <italic>Sarcoptes scabieidari</italic> telur menjadi tungau dewasa selama 9–15 hari.<italic>(The life cycle of Sarcoptes scabiei, from egg to adult mites, takes 9–15 days)</italic></p></caption><graphic xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/download/785/568/7441" mimetype="image" mime-subtype="JPG"><alt-text>Image</alt-text></graphic></fig><p>Tungau masuk ke dalam kulit dan membuat terowongan dengan permukaan yang sedikit terangkat dari kulit sehingga terlihat di permukaan kulit sebagai garis tipis yang berkelok-kelok dengan panjang dapat mencapai lebih dari 1 cm.. Warna terowongan bervariasi tergantung lokasi, warna kulit, dan kebersihan penderita. Di area penis, bokong, siku, dan lutut akan tampak pucat <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-26">(Sunderkötter et al., 2021)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-29">(Thomas et al., 2020)</xref>. Tungau betina menggali terowongan terutama di waktu malam sambil meletakkan 2–3 telur setiap harinya sehingga menyebabkan timbulnya papul di permukaan kulit hospes <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-29">(Thomas et al., 2020)</xref></p><p>Berbagai sel efektor bawaan juga terdeteksi di sekitar area kulit tempat tungau hidup sebagai respons terhadap <italic>S. scabiei</italic> seperti eosinofil, sel mast, basofil, makrofag, neutrofil, dan sel dendriti<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-32">(Xu et al., 2022)</xref> Secara klinis peningkatan eosinofil menimbulkan lesi kulit eksematosa dan rasa gatal melalui produksi IL-31 yang merangsang sel saraf <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-20">(Radonjic-Hoesli et al., 2021)</xref> Kulit yang terinfestasi <italic>S. scabiei</italic> menimbulkan lesi kulit papul dan terowongan yang secara histologi terlihat banyak sel eosinofil, sel T, monosit, makrofag, dan sel mast, sehingga menyerupai reaksi alergi kronis <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-14">(Mohy et al., 2019)</xref> Pasca infestasi dan perkembangbiakan tungau, manusia merasakan keluhan gatal dan timbul iritasi atau lesi di kulit akibat reaksi hipersensitivitas terhadap tungau dan produknya</p><p>Setelah dibuahi tungau dewasa betina akan terus membuat dan memperluas terowongan di kulit dengan panjang atau kedalaman 0,5-5 mm per hari <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Sungkar, 2016)</xref> Rata-rata manusia yang terinfestasi memiliki 10 hingga 20 tungau di tubuhnya pada waktu tertentu dengan sebaran tungau yang tidak merata di setiap lokasi lesi atau kelainan kulit <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-22">(Richards, 2021)</xref>Pada kelompok lansia jumlah tungau sekitar 50-250 tungau, sedangkan pada skabies krustosa jumlah tungau dapat mencapai ribuan<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-26">(Sunderkötter et al., 2021)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-4">(Castro et al., 2018)</xref></p></sec><sec><title>DAYA TAHAN HIDUP DAN TRANSMISI S.scabiei</title><fig id="fig-fd9936e8"><label>Gambar 4</label><caption><p>Area kulit yang disukai oleh <italic>Sarcoptes scabiei</italic>. A: pergelangan tangan; B: sela jari (Sungkar 2016).<italic>(Areas of skin preferred by Sarcoptes scabiei. A: wrist; B: between fingers (Sungkar 2016).AB)</italic></p></caption><graphic xlink:href="https://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/download/785/568/7442" mimetype="image" mime-subtype="JPG"><alt-text>Image</alt-text></graphic></fig><p><italic>S. scabiei</italic> memiliki sifat ektotermik, yaitu suhu tubuhnya dapat berubah-ubah mengikuti suhu lingkungan tempat tinggalnya. Tungau hanya berpindah dengan cara merayap karena <italic>S. scabiei</italic> tidak dapat terbang atau melompat<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-23">(, 2000)</xref> Penularan skabies terjadi secara langsung maupun tidak langsung dan keduanya terjadi dengan mudah. Penularan secara langsung terjadi akibat tungau dari pasien pindah ke individu lain yang sehat melalui kontak langsung kulit ke kulit yang terjadi dalam waktu lama yaitu minimal 15-20 menit. Penularan tidak terjadi melalui berjabatan tangan atau berpelukan dalam waktu singkat<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-3">(Browne et al., 2022)</xref> Meskipun tidak memiliki mata, <italic>S. scabiei</italic> menggunakan rangsangan bau dan suhu untuk mengenali tubuh hospes. Penularan langsung misalnya saat seseorang tidur di kasur yang sama, ibu yang menyusui atau merawat bayinya, atau saat seseorang melakukan hubungan seksual dengan penderita skabies sehingga skabies termasuk salah satu penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasi<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Sungkar, 2016)</xref> Penularan tidak langsung atau penularan melalui lingkungan terjadi apabila tungau melekat di barang-barang seperti handuk, selimut, atau tempat tidur yang dipakai oleh penderita kemudian dipakai bersama oleh orang sehat. Penularan ini terjadi karena tungau memiliki kemampuan bertahan hidup dalam waktu singkat di luar hospesnya<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-3">(Browne et al., 2022)</xref> Hal tersebut dapat mengakibatkan penularan terjadi secara  cepat dalam sebuah keluarga maupun dalam sebuah komunitas yang tinggal di lingkungan padat penghuni seperti pengungsian, penjara atau asrama dengan penghuni kamar yang padat dan kontak erat dalam waktu lama <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-11">(Gopinath &amp; Karthikeyan, 2020)</xref> Selain cara dan durasi kontak, risiko penularan juga berbanding lurus dengan jumlah tungau di tubuh penderita <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Sungkar, 2016)</xref></p><p>Di luar tubuh hospes <italic>S. scabiei</italic> dapat bertahan hidup selama 24-36 jam dalam suhu ruangan (21°C) dengan kelembaban 40-80%, namun pada suhu yang lebih rendah (10- 15°C) dengan kelembaban yang lebih tinggi tungau dapat bertahan hidup lebih lama. <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">(Pallesen et al., 2020)</xref> menempatkan 30 ekor tungau di cawan petri dalam ruangan bersuhu 23,6°C dengan kelembapan 49%. Hasil observasi setelah 3, 4, 5, 6, 7, 8, 12 jam, dan 3 serta 4 hari adalah pada 3 jam pertama 95% tungau masih hidup kemudian menurun menjadi 75% setelah 8 jam, 60% setelah 12 jam. Pada hari ke-3 hanya 1 tungau yang masih hidup dan pada hari ke-4 semua tungau mati. Sehingga direkomendasikan untuk mengisolasi perlengkapan tidur, pakaian atau barang-barang lain selama 4 hari dalam plastik tertutup di suhu kamar apabila tidak dapat di jemur atau di cuci langsung agar tungau mati <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-19">(Pallesen et al., 2020)</xref> Dalam kondisi lingkungan lembab yang mencapai 97% dan suhu dingin 10°C, tungau dapat bertahan hidup di luar tubuh hospes hingga 19 hari. Tungau mengurangi pengeringan dan menurunkan tingkat metabolisme tubuhnya sehingga agar bisa bertahan hidup <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-3">(Browne et al., 2022)</xref>.</p><p>Lingkungan dengan suhu hangat akan mengurangi waktu bertahan hidup tungau karena terjadi dehidrasi di tubuh akibat ketidakmampuan tungau menjaga keseimbangan air <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-3">(Browne et al., 2022)</xref> Suhu yang dapat mematikan <italic>S. scabiei</italic> adalah 49°C (120 °F) dalam 10 menit dan 47,5°C (117,5 °F) dalam 30 menit<xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref> Kasur, pakaian dan handuk yang digunakan oleh pasien skabies harus dicuci dan dijemur dibawah sinar matahari atau jika memungkinkan dicuci menggunakan air dengan suhu di atas 50°C, atau menggunakan mesin pengering <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-27">(Sungkar, 2016)</xref>Selain pemanasan, metode pembekuan mungkin menjadi pilihan untuk membunuh tungau di barang-barang tertentu seperti boneka atau mainan keras dan barang-barang yang tidak tahan panas. Pembekuan <italic>S.Scabiei vac canis</italic> di suhu -25 °C dan kelembapan relatif 50% selama 1,5 jam mengakibatkan kematian tungau mencapai 100%. Sedangkan apabila pembekuan dilakukan hanya selama 1 jam, maka 23% tungau bertahan hidup tetapi tidak mampu melakukan penetrasi saat ditempatkan kembali di kulit <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-1">(Arlian &amp; Morgan, 2017)</xref> Oleh karena itu, selain pengobatan penderita juga diperlukan pembersihan lingkungan dan barang-barang pribadi milik penderita untuk memutus siklus hidup tungau.</p></sec><sec><title>TRANSMISI ZOONOSIS</title><p>Adanya transmisi zoonosis dari hewan ke manusia semakin menyulitkan penanggulangan skabies di masyarakat dan meningkatkan risiko terjadinya <italic>outbreaks</italic>. Faktor risiko penularan zoonosis adalah kontak dengan hewan peliharaan atau hewan ternak, kondisi tempat tinggal yang padat, dan kebersihan yang buruk. Penularan <italic>Sarcoptes scabiei</italic> secara zoonosis akan lebih banyak ditemukan di populasi yang kontak dekat dengan hewan, seperti pemilik hewan peliharaan, petani atau peternak, bahkan tenaga kesehatan yang menangani skabies di hewan. Transmisi skabies dari hewan dapat terjadi melalui kontak langsung, tidak langung atau melalui perantara gigitan artopoda lain, seperti <italic>Ornithonyssus bacoti</italic>(Hirst) <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-15">(Moroni et al., 2022)</xref><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-13">(Kumar et al., 2023)</xref>.</p><p><xref ref-type="bibr" rid="BIBR-2">(Bandi &amp; Saikumar, 2013)</xref> melaporkan seorang laki-laki datang dengan keluhan gatal hebat dan lesi kulit yang timbul sejak lima hari sebelumnya dan memiliki riwayat kontak fisik erat dengan anjing peliharannya yang terinfestasi skabies. Kelainan kulit yang disebabkan oleh infestasi <italic>S. scabiei</italic> hewan di manusia dapat menimbulkan gejala penyakit kulit lain, seperti dermatitis, herpes, eksim, dermatitis kontak atau bahkan seperti kelainan akibat gigitan serangga atau disebut juga pseudoskabies <xref ref-type="bibr" rid="BIBR-15">(Moroni et al., 2022)</xref> Adanya transmisi zoonotik akan mempengaruhi strategi pengendalian skabies di tingkat komunitas. Pengontrolan dan pencegahan skabies di hewan dan manusia merupakan kunci untuk menurunkan penularan zoonotik. Edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, perilaku hidup bersih, dan kewaspadaan terhadap hewan peliharaan atau hewan ternak dengan skabies disertai diagnosis dini, pengobatan tepat, dekontaminasi lingkungan, karantina hewan sakit dan sanitasi lingkungan adalah upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka skabies.</p></sec><sec><title>KESIMPULAN</title><p><italic>Sarcoptes scabiei</italic> adalah tungau penyebab skabies atau kudis yang hidup di stratum korneum kulit manusia dan mamalia. Tungau <italic>S. scabiei</italic> dibedakan berdasarkan varietas yang menunjukkan hospes tempat hidup tungau dan di manusia disebut sebagai <italic>S. scabiei</italic> var. <italic>hominis</italic>. Tungau hidup dan menggali terowongan di lapisan kulit sampai ke stratum spinosum epidermis sehingga timbul respons tubuh yang menyerupai reaksi alergi kronik disertai dengan lesi kulit. Cara transmisi <italic>S. scabiei</italic> var. <italic>hominis</italic> antar manusia terjadi secara langsung atau tidak langsung melalui barang-barang disekitar penderita. Kedua cara transmisi tersebut terkait dengan kemampuan <italic>S. scabiei</italic> var. <italic>hominis</italic> berjalan dan bertahan hidup sementara di luar kulit manusia.</p></sec></body><back><ref-list><title>References</title><ref id="BIBR-1"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>A review of Sarcoptes scabiei: past, present and future</article-title><source>Parasit Vectors</source><volume>10</volume><issue>297</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Arlian</surname><given-names>L.G.</given-names></name><name><surname>Morgan</surname><given-names>M.S.</given-names></name></person-group><year>2017</year><pub-id pub-id-type="doi">10.1186/s13071-017-2234-1.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1186/s13071-017-2234-1." ext-link-type="doi" xlink:title="A review of Sarcoptes scabiei: past, present and future">10.1186/s13071-017-2234-1.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-2"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Sarcoptic mange: A zoonotic ectoparasitic skin disease</article-title><source>Journal of Clinical and Diagnostic Research</source><volume>7</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Bandi</surname><given-names>K.M.</given-names></name><name><surname>Saikumar</surname><given-names>C.</given-names></name></person-group><year>2013</year><fpage>156</fpage><lpage>157</lpage><page-range>156-157</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.7860/JCDR/2012/4839.2694.</pub-id><ext-link xlink:href="10.7860/JCDR/2012/4839.2694." ext-link-type="doi" xlink:title="Sarcoptic mange: A zoonotic ectoparasitic skin disease">10.7860/JCDR/2012/4839.2694.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-3"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Sustaining transmission in different host species: The emblematic case of Sarcoptes scabiei</article-title><source>BioScience</source><volume>72</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Browne</surname><given-names>E.</given-names></name><name><surname>Driessen</surname><given-names>M.M.</given-names></name><name><surname>Cross</surname><given-names>P.C.</given-names></name><name><surname>Escobar</surname><given-names>L.E.</given-names></name><name><surname>Foley</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>López-Olvera</surname><given-names>Niedringhaus</given-names></name><name><surname>KD</surname><given-names>Rossi</given-names></name><name><surname>L</surname><given-names>Carver</given-names></name><name name-style="given-only"><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>166</fpage><lpage>76</lpage><page-range>166-76</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-4"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Characterizing the growth of Sarcoptes scabiei infrapopulations</article-title><source>Experimental and Applied Acarology</source><volume>76</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Castro</surname><given-names>I.</given-names></name><name><surname>Espinosa</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Granados</surname><given-names>J.E.</given-names></name><name><surname>Cano-Manuel</surname><given-names>F.J.</given-names></name><name><surname>Fandos</surname><given-names>P.</given-names></name><name><surname>Ráez-Bravo</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>López-Olvera</surname><given-names>Soriguer</given-names></name><name><surname>RC</surname><given-names>Pérez</given-names></name><name name-style="given-only"><given-names>J.M.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>41</fpage><lpage>52</lpage><page-range>41-52</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1007/s10493-018-0287-2.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1007/s10493-018-0287-2." ext-link-type="doi" xlink:title="Characterizing the growth of Sarcoptes scabiei infrapopulations">10.1007/s10493-018-0287-2.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-5"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Scabies in animals and humans: History, evolutionary perspectives, and modern clinical management</article-title><source>Annals of the New York Academy of Sciences</source><volume>1230</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Currier</surname><given-names>R.W.</given-names></name><name><surname>Walton</surname><given-names>S.F.</given-names></name><name><surname>Currie</surname><given-names>B.J.</given-names></name></person-group><year>2011</year><fpage>50</fpage><lpage>60</lpage><page-range>50-60</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1111/j.1749-6632.2011.06364.x.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1111/j.1749-6632.2011.06364.x." ext-link-type="doi" xlink:title="Scabies in animals and humans: History, evolutionary perspectives, and modern clinical management">10.1111/j.1749-6632.2011.06364.x.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-6"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>An ancient global disease: Scabies a systematic cross-section</article-title><source>Journal of Parasitic Diseases: Diagnosis and Therapy</source><volume>3</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Dey</surname><given-names>C.</given-names></name></person-group><year>2018</year><fpage>1</fpage><lpage>3</lpage><page-range>1-3</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.4066/2591-7846.1000027.</pub-id><ext-link xlink:href="10.4066/2591-7846.1000027." ext-link-type="doi" xlink:title="An ancient global disease: Scabies a systematic cross-section">10.4066/2591-7846.1000027.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-7"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Scabies as a part of the World Health Organization roadmap for neglected tropical diseases 2021–2030: What we know and what we need to do for global control</article-title><source>Tropical Medicine and Health</source><volume>49</volume><issue>64</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>El-Moamly</surname><given-names>A.A.</given-names></name></person-group><year>2021</year><pub-id pub-id-type="doi">10.1186/s41182-021-00348-6.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1186/s41182-021-00348-6." ext-link-type="doi" xlink:title="Scabies as a part of the World Health Organization roadmap for neglected tropical diseases 2021–2030: What we know and what we need to do for global control">10.1186/s41182-021-00348-6.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-8"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>The public health control of scabies: Priorities for research and action</article-title><source>The Lancet</source><volume>394</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Engelman</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Cantey</surname><given-names>P.T.</given-names></name><name><surname>Marks</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Solomon</surname><given-names>A.W.</given-names></name><name><surname>Chang</surname><given-names>A.Y.</given-names></name><name><surname>Chosidow</surname><given-names>O.</given-names></name><name><surname>Steer</surname><given-names>A.C.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>81</fpage><lpage>92</lpage><page-range>81-92</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/S0140-6736(19)31136-5.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1016/S0140-6736(19)31136-5." ext-link-type="doi" xlink:title="The public health control of scabies: Priorities for research and action">10.1016/S0140-6736(19)31136-5.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-9"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>A framework for scabies control</article-title><source>PLoS Neglected Tropical Diseases</source><volume>15:e0009661</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Engelman</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Marks</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Steer</surname><given-names>A.C.</given-names></name><name><surname>Beshah</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Biswas</surname><given-names>G.</given-names></name><name><surname>Chosidow</surname><given-names>O.</given-names></name></person-group><year>2021</year><pub-id pub-id-type="doi">10.1371/journal.pntd.0009661.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1371/journal.pntd.0009661." ext-link-type="doi" xlink:title="A framework for scabies control">10.1371/journal.pntd.0009661.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-10"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>The behaviour of Sarcoptes scabiei var. hominis in human skin: An ultrastructural study</article-title><source>Journal of Submicroscopic Cytology and Pathology</source><volume>29</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Fimiani</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Mazzatenta</surname><given-names>C.</given-names></name><name><surname>Alessandrini</surname><given-names>C.</given-names></name><name><surname>Paccagnini</surname><given-names>E.</given-names></name><name><surname>Andreassi</surname><given-names>L.</given-names></name></person-group><year>1997</year><fpage>105</fpage><lpage>13</lpage><page-range>105-13</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-11"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Genital scabies: Haven of an unwelcome guest</article-title><source>Indian Journal of Sexually Transmitted Diseases and AIDS</source><volume>41</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Gopinath</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Karthikeyan</surname><given-names>K.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>10</fpage><lpage>16</lpage><page-range>10-16</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.4103/ijstd.IJSTD_69_17.</pub-id><ext-link xlink:href="10.4103/ijstd.IJSTD_69_17." ext-link-type="doi" xlink:title="Genital scabies: Haven of an unwelcome guest">10.4103/ijstd.IJSTD_69_17.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-12"><element-citation publication-type="book"><article-title>Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>RI</surname><given-names>Kemenkes R.I.] Kementrian Kesehatan</given-names></name></person-group><year>2016</year><publisher-name>Kemenkes RI</publisher-name><publisher-loc>Jakarta</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-13"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>A review on zoonotic sarcoptes</article-title><source>The Pharma Innovation Journal</source><volume>12</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Kumar</surname><given-names>S.N.</given-names></name><name><surname>Jabakumar</surname><given-names>K.A.</given-names></name><name><surname>Ram</surname><given-names>S.J.</given-names></name><name><surname>Sreekanth</surname><given-names>G.N.V.</given-names></name><name><surname>Kumar</surname><given-names>V.J.A.</given-names></name></person-group><year>2023</year><fpage>497</fpage><lpage>501</lpage><page-range>497-501</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.22271/tpi.2023.v12.i6q.20666.</pub-id><ext-link xlink:href="10.22271/tpi.2023.v12.i6q.20666." ext-link-type="doi" xlink:title="A review on zoonotic sarcoptes">10.22271/tpi.2023.v12.i6q.20666.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-14"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Evaluation of eosinophilic cationic protein and some immunological markers in patients infected with Scabies</article-title><source>Journal of Pure and Applied Microbiology</source><volume>13</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Mohy</surname><given-names>A.A.</given-names></name><name><surname>Aljanaby</surname><given-names>A.A.J.</given-names></name><name><surname>Al-Hadraawy</surname><given-names>S.K.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>1737</fpage><lpage>1743</lpage><page-range>1737-1743</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.22207/JPAM.13.3.48.</pub-id><ext-link xlink:href="10.22207/JPAM.13.3.48." ext-link-type="doi" xlink:title="Evaluation of eosinophilic cationic protein and some immunological markers in patients infected with Scabies">10.22207/JPAM.13.3.48.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-15"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Zoonotic episodes of Scabies: A global overview</article-title><source>Pathogens</source><volume>11</volume><issue>213</issue><person-group person-group-type="author"><name><surname>Moroni</surname><given-names>B.</given-names></name><name><surname>Rossi</surname><given-names>L.</given-names></name><name><surname>Bernigaud</surname><given-names>C.</given-names></name><name><surname>Guillot</surname><given-names>J.</given-names></name></person-group><year>2022</year><pub-id pub-id-type="doi">10.3390/pathogens11020213.</pub-id><ext-link xlink:href="10.3390/pathogens11020213." ext-link-type="doi" xlink:title="Zoonotic episodes of Scabies: A global overview">10.3390/pathogens11020213.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-16"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Current and future strategies against cutaneous parasites</article-title><source>Pharmaceutical Research</source><volume>39</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Man</surname><given-names>E.</given-names></name><name><surname>Price</surname><given-names>H.P.</given-names></name><name><surname>Hoskins</surname><given-names>C.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>631</fpage><lpage>51</lpage><page-range>631-51</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1007/s11095-022-03232-y.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1007/s11095-022-03232-y." ext-link-type="doi" xlink:title="Current and future strategies against cutaneous parasites">10.1007/s11095-022-03232-y.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-17"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Sarcoptes scabiei mites in humans are distributed into three genetically distinct clades</article-title><source>Clinical Microbiol and Infection</source><volume>21</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Niedringhaus</surname><given-names>V.</given-names></name><name><surname>Ariey</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Izri</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Bernigaud</surname><given-names>C.</given-names></name><name><surname>Fang</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Charrel</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Foulet</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Botterel</surname><given-names>F.</given-names></name><name><surname>Guillot</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Chosidow</surname><given-names>O.</given-names></name><name><surname>Durand</surname><given-names>R.</given-names></name></person-group><year>2015</year><fpage>1107</fpage><lpage>1114</lpage><page-range>1107-1114</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.cmi.2015.08.002.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1016/j.cmi.2015.08.002." ext-link-type="doi" xlink:title="Sarcoptes scabiei mites in humans are distributed into three genetically distinct clades">10.1016/j.cmi.2015.08.002.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-18"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>A review of sarcoptic mange in North American wildlife</article-title><source>The International Journal for Parasitology: Parasites and Wildlife</source><volume>9</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Niedringhaus</surname><given-names>K.D.</given-names></name><name><surname>Brown</surname><given-names>J.D.</given-names></name><name><surname>Sweeley</surname><given-names>K.M.</given-names></name><name><surname>Yabsley</surname><given-names>M.J.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>285</fpage><lpage>297</lpage><page-range>285-297</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.ijppaw.2019.06.003.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1016/j.ijppaw.2019.06.003." ext-link-type="doi" xlink:title="A review of sarcoptic mange in North American wildlife">10.1016/j.ijppaw.2019.06.003.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-19"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>In vitro survival of scabies mites</article-title><source>Clinical and Experimental Dermatology</source><volume>45</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Pallesen</surname><given-names>K.</given-names></name><name><surname>Lassen</surname><given-names>J.A.</given-names></name><name><surname>Munk</surname><given-names>N.T.</given-names></name><name><surname>Hartmeyer</surname><given-names>G.N.</given-names></name><name><surname>Hvid</surname><given-names>L.</given-names></name><name><surname>Bygum</surname><given-names>A.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>712</fpage><lpage>5</lpage><page-range>712-5</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1111/ced.14209.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1111/ced.14209." ext-link-type="doi" xlink:title="In vitro survival of scabies mites">10.1111/ced.14209.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-20"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Eosinophils in skin diseases</article-title><source>Seminars in Immunopathology</source><volume>43</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Radonjic-Hoesli</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Brüggen</surname><given-names>M.C.</given-names></name><name><surname>Feldmeyer</surname><given-names>L.</given-names></name><name><surname>Simon</surname><given-names>H.U.</given-names></name><name><surname>Simon</surname><given-names>D.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>393</fpage><lpage>409</lpage><page-range>393-409</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1007/s00281-021-00868-7.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1007/s00281-021-00868-7." ext-link-type="doi" xlink:title="Eosinophils in skin diseases">10.1007/s00281-021-00868-7.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-21"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Prevalensi skabies dan faktor-faktor yang berhubungan di Pesantren X, Jakarta Timur</article-title><source>EJournal Kedokteran Indonesia</source><volume>2</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Ratnasari</surname><given-names>A.F.</given-names></name><name><surname>Sungkar</surname><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>2014</year><fpage>7</fpage><lpage>12</lpage><page-range>7-12</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.23886/ejki.2.3177.</pub-id><ext-link xlink:href="10.23886/ejki.2.3177." ext-link-type="doi" xlink:title="Prevalensi skabies dan faktor-faktor yang berhubungan di Pesantren X, Jakarta Timur">10.23886/ejki.2.3177.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-22"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Scabies: Diagnostic and therapeutic update</article-title><source>Journal of Cutaneous Medicine and Surgery</source><volume>25</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Richards</surname><given-names>R.N.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>95</fpage><lpage>101</lpage><page-range>95-101</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1177/1203475420960446.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1177/1203475420960446." ext-link-type="doi" xlink:title="Scabies: Diagnostic and therapeutic update">10.1177/1203475420960446.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-23"><element-citation publication-type="book"><article-title>Roberts’ Foundations of Parasitology</article-title><person-group person-group-type="author"/><year>2000</year><publisher-name>McGraw-Hill</publisher-name><publisher-loc>Boston</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-24"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Prevalence of scabies worldwide-An updated systematic literature review in 2022</article-title><source>Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology</source><volume>37</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Schneider</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Wu</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Tizek</surname><given-names>L.</given-names></name><name><surname>Ziehfreund</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Zink</surname><given-names>A.</given-names></name></person-group><year>2023</year><fpage>1749</fpage><lpage>1757</lpage><page-range>1749-1757</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1111/jdv.19167.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1111/jdv.19167." ext-link-type="doi" xlink:title="Prevalence of scabies worldwide-An updated systematic literature review in 2022">10.1111/jdv.19167.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-25"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Life cycle Sarcoptes scabiei and pathogenicity mite in boarding school Malang, Indonesian</article-title><source>International Journal of ChemTech Research</source><volume>9</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Setyaningrum</surname><given-names>Y.I.</given-names></name><name><surname>Amin</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Hastuti</surname><given-names>U.S.</given-names></name><name><surname>Suarsini</surname><given-names>E.</given-names></name></person-group><year>2016</year><fpage>384</fpage><lpage>389</lpage><page-range>384-389</page-range></element-citation></ref><ref id="BIBR-26"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Epidemiologie, diagnostik und therapie der skabies</article-title><source>Deutsches Arzteblatt International</source><volume>118</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Sunderkötter</surname><given-names>C.</given-names></name><name><surname>Wohlrab</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Hamm</surname><given-names>H.</given-names></name></person-group><year>2021</year><fpage>695</fpage><lpage>704</lpage><page-range>695-704</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.3238/arztebl.m2021.0296.</pub-id><ext-link xlink:href="10.3238/arztebl.m2021.0296." ext-link-type="doi" xlink:title="Epidemiologie, diagnostik und therapie der skabies">10.3238/arztebl.m2021.0296.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-27"><element-citation publication-type="book"><article-title>Skabies: Etiologi, Patogenesis, Pengobatan, Pemberantasan dan Pencegahan</article-title><person-group person-group-type="author"><name><surname>Sungkar</surname><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>2016</year><publisher-name>Badan Penerbit FKUI</publisher-name><publisher-loc>Jakarta</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-28"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Control of scabies in a boarding school using 5% Permethrin applied on lesion only</article-title><source>ASEAN Journal of Community Engagement</source><volume>6</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Sungkar</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Wahdini</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Kekalih</surname><given-names>A.</given-names></name><name><surname>Rilanda</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Angkasa</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Widaty</surname><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>76</fpage><lpage>97</lpage><page-range>76-97</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.7454/ajce.v6i1.1083.</pub-id><ext-link xlink:href="10.7454/ajce.v6i1.1083." ext-link-type="doi" xlink:title="Control of scabies in a boarding school using 5% Permethrin applied on lesion only">10.7454/ajce.v6i1.1083.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-29"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Ectoparasites: Scabies</article-title><source>Journal of the American Academy of Dermatology</source><volume>82</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Thomas</surname><given-names>C.</given-names></name><name><surname>Coates</surname><given-names>S.J.</given-names></name><name><surname>Engelman</surname><given-names>D.</given-names></name><name><surname>Chosidow</surname><given-names>O.</given-names></name><name><surname>Chang</surname><given-names>A.Y.</given-names></name></person-group><year>2020</year><fpage>533</fpage><lpage>548</lpage><page-range>533-548</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.jaad.2019.05.109.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1016/j.jaad.2019.05.109." ext-link-type="doi" xlink:title="Ectoparasites: Scabies">10.1016/j.jaad.2019.05.109.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-30"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Penyakit parasitik pada anak sekolah berasrama di Kabupaten Bogor</article-title><source>eJournal Kedokteran Indonesia</source><volume>6</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Wahdini</surname><given-names>S.</given-names></name><name><surname>Sudarmono</surname><given-names>P.</given-names></name><name><surname>Wardhana</surname><given-names>A.W.</given-names></name><name><surname>Irmawati</surname><given-names>F.P.</given-names></name><name><surname>Haswinzky</surname><given-names>R.A.</given-names></name><name><surname>Dwinastiti</surname><given-names>Y.A.</given-names></name><name><surname>Sungkar</surname><given-names>S.</given-names></name></person-group><year>2019</year><fpage>207</fpage><lpage>211</lpage><page-range>207-211</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.23886/ejki.6.10109.</pub-id><ext-link xlink:href="10.23886/ejki.6.10109." ext-link-type="doi" xlink:title="Penyakit parasitik pada anak sekolah berasrama di Kabupaten Bogor">10.23886/ejki.6.10109.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-31"><element-citation publication-type="paper-conference"><article-title>WHO Informal Consultation on a Framework for Scabies Control</article-title><source>Meeting Report Regional Office for the Western Pacific</source><person-group person-group-type="author"><name><surname>Organization</surname><given-names>W.H.O.] World Health</given-names></name></person-group><year>2019</year><publisher-name>World Health Organization</publisher-name><publisher-loc>Manila</publisher-loc></element-citation></ref><ref id="BIBR-32"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Immunomodulatory effects of two recombinant arginine kinases in Sarcoptes scabiei on host peripheral blood mononuclear cells</article-title><source>Frontiers in Immunology</source><volume>13</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Xu</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>Xu</surname><given-names>Z.</given-names></name><name><surname>Gu</surname><given-names>X.</given-names></name><name><surname>Xie</surname><given-names>Y.</given-names></name><name><surname>He</surname><given-names>R.</given-names></name><name><surname>Xu</surname><given-names>J.</given-names></name><name><surname>Jing</surname><given-names>B.</given-names></name><name><surname>Peng</surname><given-names>X.</given-names></name><name><surname>Yang</surname><given-names>G.</given-names></name></person-group><year>2022</year><fpage>1</fpage><lpage>15</lpage><page-range>1-15</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.3389/fimmu.2022.1035729.</pub-id><ext-link xlink:href="10.3389/fimmu.2022.1035729." ext-link-type="doi" xlink:title="Immunomodulatory effects of two recombinant arginine kinases in Sarcoptes scabiei on host peripheral blood mononuclear cells">10.3389/fimmu.2022.1035729.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-33"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Sarcoptes scabiei var. hominis: Three-dimensional structure of a female imago and crusted scabies lesions by X-ray micro-CT</article-title><source>Experimental Parasitology</source><volume>122</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Yoshimura</surname><given-names>H.</given-names></name><name><surname>Ohigashi</surname><given-names>T.</given-names></name><name><surname>Uesugi</surname><given-names>M.</given-names></name><name><surname>Uesugi</surname><given-names>K.</given-names></name><name><surname>Higashikawa</surname><given-names>T.</given-names></name><name><surname>Nakamura</surname><given-names>R.</given-names></name></person-group><year>2009</year><fpage>268</fpage><lpage>272</lpage><page-range>268-272</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.exppara.2009.04.015.</pub-id><ext-link xlink:href="10.1016/j.exppara.2009.04.015." ext-link-type="doi" xlink:title="Sarcoptes scabiei var. hominis: Three-dimensional structure of a female imago and crusted scabies lesions by X-ray micro-CT">10.1016/j.exppara.2009.04.015.</ext-link></element-citation></ref><ref id="BIBR-34"><element-citation publication-type="article-journal"><article-title>Animal biodiversity: An outline of higher-level classification and survey of taxonomic richness (Addenda 2013</article-title><source>Zootaxa</source><volume>3703</volume><person-group person-group-type="author"><name><surname>Zhang</surname><given-names>Z.Q.</given-names></name></person-group><year>2013</year><fpage>1</fpage><lpage>82</lpage><page-range>1-82</page-range><pub-id pub-id-type="doi">10.11646/zootaxa.3703.1.</pub-id><ext-link xlink:href="10.11646/zootaxa.3703.1." ext-link-type="doi" xlink:title="Animal biodiversity: An outline of higher-level classification and survey of taxonomic richness (Addenda 2013">10.11646/zootaxa.3703.1.</ext-link></element-citation></ref></ref-list></back></article>
